Injil dan Kontradiksi
Dalam pembacaannya atas Roma 1:16–17, teolog Reformed kondang Karl Barth (1886–1968) mesti berhadapan dengan fakta pelik bahwa kematian dan…
Injil dan Kontradiksi

Dalam pembacaannya atas Roma 1:16–17, teolog Reformed kondang Karl Barth (1886–1968) mesti berhadapan dengan fakta pelik bahwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus belum menimbulkan perubahan substansial yang berarti di tengah dunia. Ia berkata bahwa sekalipun Injil “adalah pertanda, alarm bagi suatu dunia baru yang sedang datang” (bdk. 2 Kor. 5:17), “seluruh beban dosa dan seluruh kutukan maut masih memberi tekanan besar atas kita” (hlm. 38). “Kita tidak boleh berada dalam ilusi,” serunya, sebab “realitas eksistensi masa kini kita berlanjut sebagaimana adanya!” (ibid).
Mengapa fakta pelik tersebut signifikan? Jawabnya adalah karena sejak awal, Barth meyakini bahwa kedatangan Kristus telah menyebabkan perubahan radikal dalam sejarah manusia. Tatkala membaca frasa “Yesus Kristus Tuhan kita” dalam Roma 1:4, ia berkata bahwa, “Nama Yesus mendefinisikan suatu kejadian historis dan menandai titik di mana dunia yang tidak dikenal memotong dunia yang dikenal” (hlm. 29). Perpotongan ini mentransformasi “waktu dan segala sesuatu” (hlm. 31), dan ia memuncak pada peristiwa kebangkitan, yang di dalamnya “dunia baru Roh Kudus menyentuh dunia kedagingan yang lama” (hlm. 30). Layaknya “garis tangen yang menyentuh sebuah lingkaran,” dunia baru ini sama sekali tidak menimbulkan “peleburan atau percampuran antara Allah dan manusia” (ibid). Tetapi, Barth tidak memungkiri bahwa suatu perubahan penting sudah terjadi di dalam semesta. Melalui kehadiran Kristus “di dunia dan dalam hidup kita,” katanya, “kita telah hancur sebagai manusia dan diteguhkan di dalam Allah” (ibid). Manusia tidak lagi menjadi tuan atas dirinya sendiri, dan jerat dosa serta maut tidak lagi mengikat mereka.
Kembali ke pokok persoalan: dalam cara pandang dialektis yang khas bagi para intelektual Jerman abad ke-20, Barth lantas melihat bahwa kesuraman dunia yang belum terselesaikan selepas kebangkitan Kristus itu menyiratkan secercah pengharapan. “Persis karena seruan ‘tidak’ dari Allah mencakup semuanya, itu juga adalah ‘ya’ dari-Nya” (hlm. 38). Ketika kondisi kita masih tertahan oleh peristiwa kebangkitan (Barth berkata bahwa, “Kebangkitan, yang adalah tempat keluar, juga menghalangi kita, sebab ia adalah jalan keluar sekaligus penghalang”), Injil mendorong kita untuk hidup dalam antisipasi atas datangnya Kerajaan Allah layaknya penjaga yang mengantisipasi datangnya fajar (ibid). Barth memperkuat anjuran tersebut dengan mengutip Habakuk 2:1–3.
Aku akan berdiri di tempat penjagaanku dan bertahan di menara; aku akan meninjau untuk melihat apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya terhadap pengaduanku. TUHAN menjawab aku, kata-Nya, ‘Tuliskanlah penglihatan ini dan ukirkanlah itu pada loh-loh batu, supaya orang sambil lalu dapat membacanya. Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi dengan segera menuju kesudahannya, dan bukan tipuan. Meskipun lambat, nantikanlah itu, sebab hal itu pasti akan datang dan tidak akan tertunda’. (TB2 LAI)
Mengingat situasi dunia saat ini, sulit memungkiri bahwa anjuran tersebut masuk akal dan cukup berguna bagi kita, umat Kristen. Akan tetapi, kita tidak bisa mengatakan hal yang sama tentang premis yang mendahuluinya; dan Barth pun tampaknya sadar akan hal itu. Mungkin kesadaran inilah yang menyebabkan ia segera mengalihkan perhatiannya pada kontradiksi yang meliputi penjelasannya tentang Injil. Barth mengutip pernyataan Søren Kierkegaard (1813–1855) bahwa watak asing Kristus merupakan bukti dari keilahian-Nya, dan ia mengikuti pernyataan tersebut dengan argumen bahwa kuasa Allah yang menyelamatkan kita pun begitu asing, hingga “ia hanya bisa muncul di tengah kita, diterima dan dipahami oleh kita, sebagai kontradiksi” (hlm. 38). Argumen ini lantas dilanjutkan dengan kutipan yang cukup panjang atas amatan Martin Luther (1483–1546) tentang tindakan Allah yang paradoksal di sepanjang Kitab Suci. Tepat setelah mengutip Luther, Barth menyajikan argumen intinya mengenai kontradiksi dalam Injil.
Injil keselamatan hanya bisa dipercayai; ia adalah perkara iman semata. Ia menuntut pilihan. Inilah keseriusannya. Untuk orang yang tidak cukup dewasa untuk menerima sebuah kontradiksi dan berdiam di dalamnya, Injil menjadi sebuah skandal — untuk dia yang tidak mampu menghindar dari keniscayaan kontradiksi, Injil menjadi perkara iman. Iman adalah perasaan kagum di hadapan kehadiran ilahi yang samar-samar (the divine incognito); itulah kasih kepada Allah yang sadar akan perbedaan kualitatif antara Allah dan manusia serta Allah dan dunia; itulah afirmasi kebangkitan sebagai titik balik dunia; dan karenanya itulah afirmasi dari ‘Tidak’ ilahi di dalam Kristus, dari penghentian menghancurkan di hadapan Allah. (hlm. 39)
Dengan demikian, Barth berargumen bahwa Injil dan kontradiksi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ketidakmampuan dalam menerima kontradiksi logis adalah penghalang mendasar dalam penerimaan Injil; dan solusinya adalah memilih untuk percaya. Inilah yang membedakan antara mereka yang memperoleh rahmat keselamatan dan yang tidak memperolehnya. Ketika orang yang tidak percaya mencap Injil sebagai sebuah “skandal,” umat percaya…
…meletakkan rasa percayanya pada Allah sendiri; yang berarti, orang-orang itu, memandang kesetiaan Allah dalam fakta bahwa Ia telah meletakkan kita dalam suatu area yang berkontradiksi terhadap arah dunia ini, merespons kesetiaan Allah dengan kesetiaan yang sesuai, dan bersama Allah berkata ‘Walaupun begitu’ dan ‘Sekalipun demikian’. (ibid)
Daya persuasif dari rentetan argumen di atas memang cukup tinggi. Sebagian umat Kristen yang membacanya mungkin akan segera menganggukkan kepala mereka; apalagi ketika mengingat pernyataan rasul Paulus bahwa “Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan” (1 Kor. 1:20 TB2 LAI).
Namun, bila kita membongkar retorika yang mengemas alur pemikiran di atas, kita akan mendapati bahwa strategi Barth sejatinya bermasalah. Ia meninggikan problem yang tidak bisa ia atasi dan menghimbau agar kita menerima dan percaya begitu saja akan kuasa kebangkitan Kristus. Himbauan ini diikuti pula dengan upaya mengecilkan hati — jika kita tidak mampu melakukan keduanya, jika kita masih terobsesi dengan ketepatan logika dan tidak membuka diri pada Injil yang secara logis problematik, maka kita bukanlah bagian dari umat yang diselamatkan oleh Allah.
Kecenderungan Barth untuk memahami Injil dan situasi pelik dunia dalam kerangka berpikir dialektis juga tidak kalah problematik. Pasalnya, fondasi yang membuktikan kebenaran metodologi dan klaimnya belum jelas. Teks Kitab Suci mana yang menekankan bahwa kebangkitan Kristus adalah “jalan keluar sekaligus pembatas”? Apa dasar Barth untuk berkata bahwa kejahatan yang masih merajalela saat ini adalah jawaban “tidak” dari Allah — dan bahwa jawaban “tidak” ini menyiratkan jawaban “ya” di masa depan? Bukankah Paulus sendiri berkata bahwa di dalam Kristus “hanya ada ‘ya’,” karena Ia “adalah ‘ya’ bagi semua janji Allah” (2 Kor. 1:19–20 TB2 LAI)? Mengingat Paulus yang sama juga menulis surat Roma, bukankah itu berarti penafsiran dialektis Barth sudah menyimpangkan makna yang dimaksud oleh penulisnya? Pada gilirannya, pertanyaan ini membuka persoalan yang lebih mendasar, yaitu anakronisme. Benarkah Paulus menulis surat-suratnya dengan memanfaatkan kerangka berpikir dialektis?
Beberapa di antara kita mungkin akan berargumen bahwa kerangka berpikir dialektis, sekalipun populer di kalangan pemikir Jerman modern, bukanlah produk intelektual baru. Georg W. F. Hegel (1770–1831), tokoh yang memopulerkan dan mengembangkannya, menyadur kerangka berpikir ini dari para filsuf Yunani kuno yang sudah berkarya jauh sebelum Paulus, seperti Sokrates dan Plato (429–347 SM). Namun, kita perlu mengingat juga bahwa Paulus sejatinya adalah seorang Yahudi tulen yang merevisi teologinya seturut peristiwa kebangkitan Kristus (Barth sendiri berkata bahwa Paulus adalah seorang Farisi dari “ordo yang lebih tinggi,” lih. hlm. 27). Dengan demikian, teologi Paulus berasal dari kultur yang sama sekali berbeda dengan kultur yang menghasilkan kerangka berpikir dialektis, kendatipun keduanya sama-sama hadir di abad pertama.
Tentu, terdapat kemungkinan bahwa, sebagai rasul bagi bangsa-bangsa non-Yahudi, Paulus memanfaatkan kerangka berpikir dialektis untuk membuat Injil yang diberitakannya lebih familiar bagi para pendengarnya. Akan tetapi, beban pembuktian (burden of proof) kemungkinan ini ada di atas pundak Barth; dan keenam kata pengantar yang ia tulis untuk tafsiran surat Roma-nya sama sekali tidak memberikan pembuktian yang demikian, sekalipun ia merespons beragam kritik yang dilontarkan padanya.
Hal ketiga yang juga bermasalah dari justifikasi Barth atas kontradiksi Injil adalah rujukan berulangnya pada watak Allah sebagai sosok yang tak dikenal. Tentu, watak ini memang terindikasi dalam Kitab Suci, sebagaimana terlihat dalam khotbah Paulus di Atena (Kis. 17:23–25). Pemaparan Barth atasnya pun sangat komprehensif dan apik. Saya bahkan sempat menduga bahwa ia mengutip pseudo-Dionysius Areopagita (kira-kira abad keenam), bapak gereja misterius yang dikenal sebagai orang Kristen pertama yang mengembangkan teologi apofatik.
Allah adalah Allah yang tak dikenal, dan, persis karena Ia tak dikenal, Ia melimpahkan hidup dan napas dan segala sesuatu. Dengan demikian, kuasa Allah tidak bisa dideteksi di dunia alami ataupun dalam jiwa manusia. Ia tidak boleh dicampuradukkan dengan kuasa tinggi manapun yang bisa dikenali. Kuasa Allah bukanlah kuasa tertinggi dari semua kuasa yang bisa diamati, ataupun gabungan dari seluruh kuasa itu. Karena perbedaan totalnya, ia adalah KRISIS dari semua kuasa, yang dengannya semua kuasa diukur, dan melaluinya ia disebut sebagai sesuatu dan — ketiadaan, ketiadaan dan — sesuatu. …Kuasa Allah tidak berdiri di samping ataupun di atas — supranatural! — kuasa-kuasa terbatas itu. Ia murni dan terkemuka dan — melampaui mereka semua. (hlm. 36)
Masalahnya terletak pada cara Barth memakai premis ini. Karena Allah dan kuasa-Nya tak bisa dikenali oleh manusia, ia berargumen bahwa Injil pun semestinya tak bisa dikenali oleh manusia — dan karenanya mendapatkan dispensasi khusus dari pemeriksaan logis. “Injil tidak masuk ke dalam persaingan dengan banyak upaya untuk menyingkapkan dalam dunia yang dikenal suatu bentuk eksistensi yang lebih tinggi dan kurang lebih tidak dikenal serta membuatnya bisa diakses oleh manusia,” ujarnya (hlm. 35). Lebih lanjut, “Injil bukanlah satu di antara banyak kebenaran. Melainkan, ia menempatkan sebuah tanda tanya melawan semua kebenaran” (ibid). Karena Injil tidak bisa dikenali oleh manusia, wajar bila berita tentang kebangkitan Kristus terbebas dari tuntutan untuk menjelaskan secara koheren alasan peristiwa itu belum menimbulkan perubahan substansial di tengah dunia hingga kini. Kontradiksi lantas menjadi tameng konseptual yang sangat nyaman untuk digunakan di sini — sebab bukankah sesuatu yang tidak dapat dikenali selaras dengan sesuatu yang kontradiktif ketika dipertimbangkan secara rasional?
Terdapat setidaknya dua kritik yang bisa kita ajukan perihal masalah di atas. Pertama, dengan mengenakan watak “tak bisa dikenali” pada Injil, Barth telah membantah pernyataannya sendiri bahwa Injil merupakan “persepsi yang jelas dan objektif tentang apa yang belum dilihat oleh mata dan belum didengar oleh telinga” (hlm. 28). Nyatanya, satu-satunya yang “jelas” dan “objektif” dalam Injil menurut Barth adalah kontradiksi yang meliputinya — yang mesti diterima bila kita ingin terhitung di antara umat Allah yang diselamatkan. Injil yang Barth paparkan jelas-jelas kabur, dan pembelaan dialektis yang ia berikan tidak membantu mengatasi kekaburan itu sama sekali. Kedua, dengan menautkan dua sifat turunan pada watak “tak bisa dikenali” itu — yaitu bahwa Injil mempertanyakan semua kebenaran dan bahwa ia kontradiktif — Barth secara tersirat telah menambahkan konten positif pada watak yang bersifat negatif. Dengan kata lain, ia mengetahui aspek-aspek apa saja yang tidak bisa dikenali dari Injil. Bukankah ini berarti Barth secara tersirat memiliki suatu pengenalan akan Injil, dan pada gilirannya, akan Allah yang darinya Injil itu berasal? Dari mana pengenalan itu bersumber? Apa tolok ukur dan basisnya?
메타데이터
- post_id
- fa346b95c2e7
- slug
- injil-dan-kontradiksi-fa346b95c2e7
- url
- https://medium.com/@thescrapbook/injil-dan-kontradiksi-fa346b95c2e7
- canonical_url
- https://medium.com/@thescrapbook/injil-dan-kontradiksi-fa346b95c2e7
- author_url
- https://medium.com/@thescrapbook
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13