Hujan Pukul Tiga
16 November 2024, dalam kepala yang sibuk bertikai.
Hujan Pukul Tiga
16 November 2024, dalam kepala yang sibuk bertikai.

Malam ini suhu lebih rendah dari biasanya, pesan konyol yang biasa bersahutan di layar ponsel tiba-tiba sunyi senyap. Terakhir kali adalah sedikit lebih dari dua minggu yang lalu, tepat ketika yang dirindukan berulang tahun. Silih setelah itu, minggu depan adalah harinya memperingati satu lagi tahun bertambah dalam hidup. Namun, bahkan sekadar sapaan hangat seolah tak bisa dirnya harapkan untuk datang.
Pukul sepuluh lebih empat belas menit, laki-laki itu keluar rumah dengan ponsel di tangan kirinya dan kunci mobil di tangan kanan. Pergerakannya terlampau halus untuk dicerna otak, bak robot dengan pengaturan tetap, dia berjalan ke arah mobil yang terparkir di pekarangan rumah tanpa atap. Merasa persetan dengan rintik hujan yang membabi-buta turun dari awan di atas kepala.
Mesin menyala, membelah sunyi di sekitar dan bersautan dengan suara air yang mengetuk-ngetuk kaca mobil. Fajri, dengan pandangan kosong yang menerawang jauh kedepan, menusuk tiap-tiap bayangan malam yang bertemu tatap dengannya, menjalankan mobilnya entah kemana.
Pikirannya melanglang buana, kesana kemari, tanpa kehendaknya memainkan seni peran tentang apa yang sudah dan belum terjadi di hidupnya, soal apa yang mungkin dan bahkan tidak mungkin dilaluinya. Gelap. Hanya itu satu kata yang bisa menggambarkan isi kepalanya saat ini.
“Alana, apa kabarnya?”
Penggalan lagu tentang jok kiri mobil yang kosong tak berpenumpang, serta rute perjalanan harian yang tiba-tiba terlihat memuakan, seolah menyindirnya. Masih ada di memori Fajrian, potongan kejadian tentang Alana yang dengan ledekannya menyombongkan SIM barunya.
“Fa, aku udah ada SIM, kamu kapan bikin? Ya kali ga buat SIM mobil?”
“Lah kenapa emang? Anehhh.”
Ujung-ujung bibirnya sedikit terangkat ketika mengingat rasa di telapak tangannya kala membelai surai hitam itu, belaian yang dibalas dengusan setalahnya.
Fajrian terus menginjak pedal gas mobilnya. Setirnya di putar ke kanan dan ke kiri mengikuti arah jalan, berputar-putar di sepinya malam, di pinggir kota. Entah akan berujung kemana ia pergi.
“Tujuan pertama abis kamu dapet SIM, harus rumahku.”
“Dih, pengen banget?”
“Ga juga, tapi sebagai bukti aja apakah seorang Fajri SIMnya hasil nembak atau bukan.” kalimat dari sang puan sukses membuat perutnya tergelitik kala itu. Padahal jika disuruh memilih, mungkin tiga porsi nasi di rumah makan Padang lebih menjanjikan, ketimbang membayar mahal untuk satu lempeng plastik.
“Aku ke rumah kamu, terus kita jalan?”
“Jalan kemana?”
“Ke … keliling kota?”
Pekik kecil persetujuan di dalam kepalanya melunturkan senyum yang sedari tadi terpatri. Memori berganti pada hari ketika dirinya mendengar kalimat yang selalu berusaha ia tepis dari benaknya.
“Kita … udahan, ya?”
Terlalu banyak “Karena” di pundaknya, membuat “Kenapa?” di bibirnya tertahan. Asumsi tentang diri yang, “Ah … dia menemukan yang lebih baik.” membawanya pada anggukan setuju.
Mobil yang melaju tak tentu arah dibawa tak tahu ke mana. Ke tempat apa saja yang bukan ‘tempat mereka’. Napas yang terputus, tubuh yang bergetar. Tak jelas apakah sebab dimakan dingin atau karena isi kepala yang dijejalkan fakta menyedihkan.
“Dua tahun ga pulang, aku masih inget jalan ini, Al. Pertigaan yang paling kamu kenal.”
Fajrian tahu, saat ini Alana sedang dekat dengan kolega kantornya. Laki-laki jangkung berperawakan rapi dengan—berdasarkan cerita 15 detik media sosial Alana—bunga dan hadiah-hadiah kecil di hari tak terduga. Satu dua hal sederhana yang menenggelamkan Fajrian dalam genangan penyesalan, dalam kubangan yang membuat dirinya kian terpuruk dimakan rendah diri.
“Kalau tadi aku ke sana, apa kita bisa ketemu lagi? Atau jalan-jalan kesukaanmu itu bukan lagi punya kita? Sekarang cuma ada namanya di sepanjang cerita rute favoritmu, Al?”
Dunia yang paling mengerikan sejatinya ada di dalam kepala tiap-tiap orang. Menyusun skenario pahit setiap jam dua malam, membentuk mimpi buruk tersendiri bagi mereka. Over thinking katanya, hanya ada di pikiran katanya, cuma ketakutan biasa katanya.
Tapi mengapa seluruh bayang bodoh itu menjadi kenyataan untuknya? Kenyataan tentang Alana yang memilih pergi darinya. Baru tahun ini Fajrian tidak merayakan ulang tahun Alana, setelah entah untuk berapa lama mereka bersama. Ah, jelas benar Alana bersama laki-laki itu di hari bahagianya. Tak apa, lagi pula sekarang ini ... Fajrian siapa?
Pedal gasnya dilepas. Tuas rem tangan di tarik seolah menempatkan mobilnya di tengah jalan. Hujan yang semakin deras beradu suara dengan lagu di radio mobil. Fajrian berhenti tepat di lampu merah, rintik hujan yang tidak disapu dari kaca depan dengan pasi membuat pandangannya kabur.
Karena air di kaca, atau di matanya?
Lampu merah berubah menjadi kuning, tidak lama berganti hijau. Namun, Fajrian tetap bergeming. Cahaya di sudut kanan matanya kembali pada warna merah, tapi siapa peduli? Tidak ada satu pun kendaraan di sana selain miliknya. Ini hampir pukul tiga pagi, jalanan dan hawa sendu seakan miliknya.
“Al, inget waktu kamu bilang mau di jemput? Tadi aku lewat rumah kamu, tapi kenapa sakit ya, Al?”
Fajrian memejamkan mata, membanting kepalanya ke belakang untuk bersandar. Masih di lampu merah, mobil putihnya terparkir.
“Minggu lalu aku dapet SIMku, Al. Aku mau pamer, ajak kamu jalan-jalan keliling kota rayain ulang tahun kamu. Tapi tiba-tiba kamu bilang mau nyanyiin lagu kita ke pacar baru ….”
Tawanya keluar dari mulut. Terlalu hambar untuk dirasakan lucunya, terlalu perih untuk dilihat bahagianya.
“Bukannya kamu bilang itu lagu untuk aku ya, Al? Yang katanya bakal selamanya? Oh … atau waktu itu cuma guyon? Hahahah … hahah ….”
Teriakan dengan lantang memenuhi isi mobil setelah tawa hambarnya menipis, mungkin perihnya sedikit terdengar dari luar. Napasnya terputus, tanpa petunjuk mengapa oksigen seolah enggan masuk ke dalam rongga dada. Sesak, kain yang menutup dada kirinya diremas kuat, seolah meminta pertolongan pada siapa saja untuk menghentikan kegelisahan yang seakan ingin membunuhnya.
Tangan kanannya dengan tak karuan memukul-mukul setir mobil, gerakannya seolah menutup isakan yang dapat kapan saja keluar dari mulutnya. Air di pelupuk mata tak lagi dapat dibendung, satu kali mata terpejam dan—
“Brengsek!!!” Air mata Fajrian terjatuh.
“Al … aku masih sayang ....” lucu. Bahkan akal sehatnya dulu tidak mampu mengatakan itu di depan wajah sang puan. Sekarang getir suaranya memohon untuk dapat berbisik lirih pada dunia dan seisinya, betapa diri ingin kembali.
Matahari tersenyum atas kemenangannya, berhasil menetap lebih lama. Ada rangkuman tentang aku dalam rangkulmu. Semua buku cerita tentang kita terbakar hangus oleh entah salah siapa. Denganmu, kekal bahagiaku. Maaf aku bukan alasan bahagiamu.
“Alana … aku lagi di pinggir kota. Jalan-jalan setelah dapet SIM. Tapi aneh, biasanya tiap menit, tiap langkah, semua punya warna masing-masing. Kenapa sekarang cuma abu-abu ya, Al?”
Saat itu, terlukis jelas bagi Fajrian tentang kesamaan malam dengan jok kiri mobil.
“Aku ganti cat mobil, Al. Kamu bilang lebih suka mobil putih, ‘kan?” matanya masih terpejam dengan kepala yang dibawa menunduk, keningnya beradu dengan setir bersama tangan yang masih memeluk benda itu erat. Dipeluk erat setelah tanpa perasaan memukulnya membabi-buta.
“Kamu mirip buku yang kebuka, Al. Aku bisa baca kamu dengan jelas, aku paham tata bahasa yang kamu tulis. Tapi temen-temenku ga kenal kamu.”
Persamaan itu terlihat jelas. Kosongnya jalan dalam dinginnya gelap malam, juga isi mobil dengan jok kulit tak berpenumpang, yang dimakan dingin.
“Lagu kita yang waktu itu belum rampung, sekarang udah sempurna dan jadi punya dia, ya? Alana … maaf, dan selamat ulang tahun.” kalimatnya menutup hari, tersampaikan walau hanya pada kalung yang tergantung di spion depan. Kalung yang entah apa kabar setengah liontinnya.
Persamaan itu tampak jelas. Air yang jatuh dari langit, juga dari pelupuk mata—sama derasnya.
메타데이터
- post_id
- fa48161cd98c
- slug
- hujan-pukul-tiga-fa48161cd98c
- url
- https://medium.com/@dialxgsega/hujan-pukul-tiga-fa48161cd98c
- canonical_url
- https://medium.com/@dialxgsega/hujan-pukul-tiga-fa48161cd98c
- author_url
- https://medium.com/@dialxgsega
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-22 03:47:22