← Back to list

Di Wajahmu Kulihat Bulan (atau Mengapa Kita Merindukan yang Tak Bisa Dimiliki)

Barangkali manusia adalah satu-satunya makhluk yang dapat merindukan sesuatu yang bahkan tidak pernah dimilikinya. Kita merindukan masa…

Lokakarta · 2026-05-31 12:17 · 46 claps · 3.4 min read
#lacanian-psychoanalysis #yearning #moon #semiotics
Open on Medium ↗
Wiki topics: 📟 · Gadgets & IoT 🔭 · Astronomy & Space

Di Wajahmu Kulihat Bulan (atau Mengapa Kita Merindukan yang Tak Bisa Dimiliki)

Barangkali manusia adalah satu-satunya makhluk yang dapat merindukan sesuatu yang bahkan tidak pernah dimilikinya. Kita merindukan masa lalu yang telah berubah, masa depan yang belum terjadi, tempat yang belum pernah dikunjungi, dan orang-orang yang hanya sebentar singgah dalam hidup kita.

Tulisan ini berangkat dari gagasan bahwa kerinduan terdalam manusia sering kali tidak diarahkan pada kepemilikan, melainkan pada sesuatu yang berada di luar jangkauan. Kita tertarik bukan hanya pada apa yang dapat dicapai, tetapi juga pada apa yang terus memanggil dari kejauhan.

Dalam beberapa tahun terakhir, internet menemukan kembali pengalaman emosional ini dan memberinya sebuah nama: yearning. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan ketertarikan terhadap sesuatu yang jauh, belum tercapai, atau mungkin memang tidak dapat dicapai sama sekali. Dalam pengalaman inilah konsep yearning menemukan bentuknya: hasrat yang hidup karena jarak, kemungkinan, dan ketaktercapaian.

Kerinduan semacam ini sering kali berpusat pada hal-hal yang jauh. Ada pengalaman emosional yang justru tumbuh dari jarak; dari hal-hal yang terasa dekat dalam imajinasi, namun pada nyatanya berada di luar jangkauan. Sepanjang sejarah, manusia selalu mencari simbol untuk menggambarkan perasaan tersebut. Dan dari semua simbolisme yearning yang ada, bulan menjadi salah satu metafora yang paling sering digunakan.

Ada alasan mengapa bulan begitu sering muncul dalam puisi-puisi, lagu-lagu, dan kisah-kisah cinta. Lebih dari karena ia indah — banyak hal lain yang juga indah — bulan bertahan sebagai simbol karena ia menggabungkan dua kualitas yang jarang ditemukan secara bersamaan: kehadiran dan ketidakmungkinan.

Alasan itu cukup untuk menobatkan bulan sebagai salah satu metafora paling persisten dalam sejarah kebudayaan manusia. Ia tidak melambangkan kepemilikan dan pemenuhan, melainkan jarak kemungkinan. Kita menatap bulan dari bumi dengan kesadaran bahwa ia akan selalu berada di luar jangkauan, dan sialnya, justru di sanalah daya tariknya terletak.

Pembacaan ini relevan ketika mendengarkan lagu Di Wajahmu Kulihat Bulan yang dipopulerkan oleh Sam Saimun sekitar tahun ‘6o-an. Lagu ini terdengar seperti lagu cinta Melayu — atau dalam versi Sam, jazz — pada umumnya. Namun di balik metafora yang sederhana, lagu ini menyimpan sesuatu yang terasa sangat kontemporer. Jauh sebelum internet mengenalkan istilah yearning untuk menggambarkan hasrat terhadap sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya diraih, lagu ini tampaknya telah berbicara tentang pengalaman emosional yang sama melalui satu simbol yang telah berusia ribuan tahun: bulan.

Dalam lagu Di Wajahmu Kulihat Bulan, bulan dapat dibaca bukan terutama sebagai simbol cinta, melainkan sebagai metafora yearning. Berbeda dari banyak metafora romantik yang menekankan kedekatan dan kepemilikan (e.g. bunga dapat dipetik, tangan dapat digenggam, rumah dapat dihuni), bulan tidak menawarkan kemewahan semacam itu. Justru, bulan memperoleh makna simboliknya dari jarak yang memisahkannya dari subjek yang memandang.

Dalam kajian semiotika, simbol tidak pernah bekerja secara netral. Makna sebuah simbol terbentuk melalui asosiasi budaya yang melekat padanya. Bulan hampir selalu diasosiasikan dengan paradoks: ia hadir namun jauh, terlihat namun tak tersentuh, menerangi namun tidak menghangatkan. Karena itu, bulan memiliki kualitas yang berbeda dari simbol-simbol romantik lainnya. Ia tidak mengundang kepemilikan. Ia mengundang kontemplasi.

Potongan lirik seperti “hati gelap rawan” dan “haus akan belaian” memperkuat kesan bahwa lagu ini tidak sedang menggambarkan cinta yang stabil atau mapan. Yang muncul justru kondisi kekurangan (lack), suatu keadaan di mana subjek merasa ada sesuatu yang belum terpenuhi.

Dalam teori psikoanalisis Jacques Lacan, hasrat manusia sering kali mengorbit pada sesuatu yang terasa kurang dan tidak pernah sepenuhnya hadir. Karena itu, objek hasrat memperoleh daya tariknya bukan semata karena sifat intrinsiknya, melainkan karena selalu menyisakan ruang kemungkinan. Logika yang sama tampak dalam berbagai estetika digital kontemporer: foto jalanan kosong pada malam hari, lampu-lampu gedung dari kejauhan, kereta menuju kota yang tidak dikenal, atau seseorang sedang memandangi laut lepas. Yang memikat bukan penyelesaian atau kepemilikan, melainkan sensasi akan sesuatu yang masih terbuka dan belum tercapai.

Dalam konteks ini, bulan menjadi metafora yang sangat efektif. Ia berfungsi seperti objek hasrat Lacanian sekaligus seperti citra-citra yearning di internet.

Sampai hari ini, metafora bulan masih terus digunakan, bahkan di era layar, algoritma, dan konektivitas tanpa henti. Sepertinya, semakin banyak hal menjadi dapat diakses, semakin kuat pula daya tarik sebuah simbol yang mengingatkan kita pada batas keterjangkauan. Bulan mengungkap sesuatu yang mendasar tentang hasrat modern: sering kali kita menginginkan apa yang sulit kita miliki.

Pada akhirnya, bulan bukan sekadar lambang keindahan atau cinta, melainkan gambaran paling jelas tentang konsep dan cara kerja yearning. Ia hadir di depan mata tetapi menolak untuk sepenuhnya dimiliki. Karena itu, daya tariknya tidak lahir dari kemungkinan untuk mencapainya, melainkan dari jarak yang terus dipertahankannya. Dalam lagu Di Wajahmu Kulihat Bulan, sebagaimana dalam banyak pengalaman manusia, yang dirindukan bukan selalu objek itu sendiri, melainkan ruang antara diri kita dan sesuatu yang tak pernah benar-benar tergapai. Di sanalah hasrat bertahan hidup, dan di sanalah bulan memperoleh kekuatan metaforisnya yang paling mendalam: sebagai pengingat bahwa sebagian kerinduan justru bermakna karena tidak pernah selesai.


메타데이터
post_id
fa4c67bf6ec9
slug
di-wajahmu-kulihat-bulan-atau-mengapa-kita-merindukan-yang-tak-bisa-dimiliki-fa4c67bf6ec9
url
https://medium.com/@lokakarta/di-wajahmu-kulihat-bulan-atau-mengapa-kita-merindukan-yang-tak-bisa-dimiliki-fa4c67bf6ec9
canonical_url
https://medium.com/@lokakarta/di-wajahmu-kulihat-bulan-atau-mengapa-kita-merindukan-yang-tak-bisa-dimiliki-fa4c67bf6ec9
author_url
https://medium.com/@lokakarta
status
ok
fetched_at
2026-06-25 16:53:31