Like Hephaestion who died, Alexander’s lover.
Tidak ada sesuatu yang benar-benar pasti di dunia ini kecuali kematian. Kalimat itu memenuhi kepala Skyler belakangan, setelah ia…
Like Hephaestion who died, Alexander’s lover.

Tidak ada sesuatu yang benar-benar pasti di dunia ini kecuali kematian. Kalimat itu memenuhi kepala Skyler belakangan, setelah ia memberanikan diri dan memutuskan untuk keluar dari pekerjaan lamanya demi memulai kesempatan-kesempatan baru.
Ada banyak kesempatan yang ia miliki, tetapi tidak satupun diantaranya yang berjalan sesuai dengan rencananya. Laki-laki itu kini duduk pada kursi belajar yang berada di pojok kamarnya, berusaha melakukan sesuatu yang bisa membuat semangat dan tekadnya kembali.
“I don’t know, sometimes I just feel like we’ve lost our footing”
Nafasnya kini terasa berat tepat setelah membaca pesan yang dikirim Sparda semalam. Belakangan ini mereka memiliki waktu yang terbatas untuk satu sama lain karena Sparda memiliki jadwal yang padat dengan pekerjaan barunya, dan Skyler dengan hal-hal yang sedang ia usahakan.
Di tengah bising kepalanya, yang terbersit pada pikiran Skyler adalah Sparda meminta hubungan mereka selesai. Sparda sudah pernah membahas itu sebelumnya, tepat saat keadaan mereka terasa sedikit berjarak seperti sekarang, dan Skyler menolak karena ia merasa baik-baik saja dengan Sparda yang lebih dari cukup untuknya meski dengan waktu yang terbatas.
Sementara di sudut ruangan yang lain, ada banyak kekhawatiran yang kini kembali menghantui Sparda. Bayangan saat tiba-tiba Skyler datang dan memintanya untuk melepaskan Skyler pergi, menyudahi hubungan mereka. Sparda hanya ketakutan, takut jika kejadian yang sama akan terulang kembali meskipun ia tahu bahwa Skyler sudah berubah dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
“I’m a bit sad when I read your message, but I couldn’t control what’s inside your mind, how you feelin, even tho I thought everything was fine about us”
Pesannya sampai pada Sparda, dibalas dengan paragraf panjang yang membuat Skyler langsung menyambar kendaraanya menuju kediaman Sparda. Skyler sampai dengan wajahnya yang memerah karena tak kuasa menahan amarah. Bukan pada Sparda, tetapi pada dirinya sendiri karena sebenarnya ia menentang penuh sesuatu yang ada dalam fikirannya saat ini.
“You knew it’s hurts to read, I clearly don’t understand”
Sparda meminta hubungan mereka untuk selesai karena ia merasakan banyak sesuatu yang hilang di antara mereka. Waktu, perasaan, seperti tidak ada lagi hal yang menarik dan penting dari satu sama lain, seperti tiba-tiba saja hubungan mereka berubah dan terasa asing. Setidaknya itulah yang dipahami Skyler tentang pesan panjang Sparda. Dan dengan berat hati, ia akan menerima itu. Meski dalam diamnya ia menentang segalanya, tetapi pada realita ia akan menerima keputusan Sparda. Apapun itu.
Hidup terasa begitu kacau dan tidak terarah belakangan ini, maka ia akan melepaskan segalanya. Ia akan membiarkan segalanya untuk menjadi seperti semestinya. Ia akan melepaskan apapun, bahkan satu-satunya manusia yang tidak akan pernah ingin ia lepaskan.
“I don’t really understand it either..”
Mata biru itu lurus menatapnya dengan linang air mata yang tampaknya tertahan, wajah indahnya juga memerah menahan hal yang sama seperti Skyler.
“So what do you want now?”
Suara Skyler terdengar bergetar.
“I don’t know anymore, maybe just need to sleep for a while”
“Gatau, aku gatau”
“Aku cuma ngerasa gitu”
“Setiap kali kita begini, kurang waktu untuk satu sama lain, aku selalu ngerasa takut. Aku takut, oke?”
“I’m just scared, Skyler”
Air matanya jatuh bersamaan dengan nada bicaranya yang semakin bergetar. Skyler memeluk tubuh Sparda, erat, sangat erat, sampai mereka bisa merasakan detak jantung satu sama lain. Sparda luruh dalam pelukan Skyler, menumpahkan segala khawatir dan ketakutannya selama ini.
Mereka hanya sepasang kekasih yang terlalu takut kehilangan satu sama lain, tidak kurang dari itu.
Skyler membawa tubuh Sparda ke atas sofa, tubuhnya bergetar dengan wajahnya yang bersembunyi pada dada Skyler yang masih erat mendekapnya.
“I’m sorry baby, It’s okay, I’m sorry, I understand now”
“Sorry I overreacted, I was just scared too. I’m sorry. I love you”
“I’m just scared, Skyler”
Suaranya terdengar bersamaan dengan wajah indahnya yang mendongak menatap Skyler. Matanya memerah karena mengeluarkan banyak air mata, membuat Skyler semakin kelimpungan merasa bersalah karenanya. Skyler yang membuat Sparda ketakutan seperti ini.
Satu sisi dalam dirinya yang lain mulai bertanya-tanya, apakah selama ini dirinya tidak cukup untuk Sparda? Apakah seluruh perasaanya dan semua yang telah ia lakukan tidak pernah cukup untuk membuat Sparda percaya dan mulai melihatnya sebagai seseorang yang berbeda. Seseorang yang lebih baik.
“I’ve been trying so hard, and I know you do too”
“But it doesn’t mean you couldn’t see me too. Please baby for once, can you please try and trust me?”
And it all silence. Until Sparda fell asleep on his arms. And Skyler carry him to bed carefully. And he still wondering does Sparda get what he’d really means. Untill tomorrow comes and everything just seems better like there’s no anything happened last night. Between them. Like they will die and live to the fullest for each other.
메타데이터
- post_id
- fa764d4e1a80
- slug
- like-hephaestion-who-died-alexanders-lover-fa764d4e1a80
- url
- https://medium.com/@skyler_56417/like-hephaestion-who-died-alexanders-lover-fa764d4e1a80
- canonical_url
- https://medium.com/@skyler_56417/like-hephaestion-who-died-alexanders-lover-fa764d4e1a80
- author_url
- https://medium.com/@skyler_56417
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-27 08:12:58