Waktu: Sang Misteri Sejati
Muhamad Ilham Nurhakiki
Waktu: Sang Misteri Sejati
Muhamad Ilham Nurhakiki
8 Juli 2021
Definisi yang tak terdefinisikan
“Apakah waktu itu? Jika tak seorang pun mengajukan pertanyaan itu, aku tahu (jawabannya). Tapi jika seseorang mengajukan pertanyaan itu dan aku mau memberi penjelasan, aku tidak tahu lagi.”
~Santo Agustinus, Filsuf sekaligus Teolog Kristen~
Semakin kita menjelaskan definisi waktu secara panjang lebar, maka kita akan semakin jauh dari definisi yang sebenarnya. Mengapa? Karena waktu adalah sebuah konsep yang sangat abstrak. Waktu hanya dapat dipahami ketika kita merenung, kemudian biarkanlah akal kita mencerna secara alamiah. Setelah dicerna, maka engkau akan merasakan keberadaannya. Waktu itu sama seperti cinta. Kita mampu merasakan kehadirannya, tapi ketika kita hendak menjelaskannya, akal menjadi lemah tak berdaya dan mulut terkunci tak bisa berkata-kata.
“Seorang ahli astronomi bertanya: Guru, bagaimanakah perihal waktu?
Dijawab oleh sang guru: engkau ingin mengukur sang waktu yang tiada ukur dan tanpa ukuran. Dan bukankah sang waktu itu sebagaimana hakikat cinta, tiada mengenal batas ukuran, serta tidak dapat dibagi? Tapi apabila ada keharusan dalam pikiran untuk membagi sang waktu ke dalam ukuran musim demi musim, maka biarkanlah tiap musim merangkum musim lainnya. Serta biarkanlah masa kini selalu memeluk masa lampau dengan kenangan.”
~Kahlil Gibran dalam “The Prophet”~
Biarkanlah waktu berjalan sebagaimana adanya. Engkau tidak akan bisa lari dari waktu, meskipun engkau menghindar. Dan engkau tidak akan bisa mengejar waktu, meskipun engkau berlari. Pikiranmu lah yang mengontrol waktu!
“Waktu adalah sungai yang mengalir ke seluruh penjuru sejak dahulu kala; melintasi pulau, kota, dan desa. Membangkitkan semangat atau meninabobokan manusia. Ia diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakannya, walaupun segala sesuatu ―selain Tuhan― tidak akan mampu melepaskan diri darinya.”
~Malek Bennabi, Filsuf Islam~
Berhati-hatilah dengan waktu
Dalam mitologi Yunani Kuno terdapat sebuah kisah, yang dimana tokoh utamanya adalah Kronos dan anaknya, Zeus. Kronos adalah dewa penguasa waktu. Suatu ketika, ia bertemu dengan seorang peramal. Peramal itu meramalkan nasib Kronos yang akan dibunuh oleh anaknya, dan akan mengambil alih kerajaannya. Sehingga ia pun ketakutan, kemudian muncul lah hasrat untuk memakan keenam anaknya. Ia pun mulai memakan anaknya satu persatu, dari mulai Demeter; Hera; Hades; Hestia; dan Poseidon. Ketika ia hendak memakan putera keenamnya, Zeus, sang istri yang bernama Rea pun dengan cekatan menyembunyikan Zeus ke gunung Olimpus. Zeus dirawat dan dibesarkan di sana, hingga ia pun tumbuh dewasa dan menjadi seorang yang digdaya. Kemudian ramalan itu pun terjadi, hingga akhirnya Kronos pun berhasil ditaklukan Zeus.
Pelajaran dari kisah tersebut: berhati-hatilah dengan waktu. Engkau dilahirkan oleh waktu, dan engkau dibesarkan oleh waktu. Engkau senantiasa diliputi waktu, namun jika engkau kalah oleh waktu, maka waktu akan memakanmu. Taklukan lah waktu. Jangan sampai ia membuatmu terlena, sehingga ia pun menjadi sebab dari kebinasaanmu!
Awal dan akhirnya pun penuh misteri
Kapan waktu pertama kali muncul? Ada dua filsuf besar yang berdebat mengenai hal ini. Dia adalah Plato dan juga muridnya, Aristoteles.
Plato beranggapan bahwa waktu itu ada berbarengan dengan adanya alam semesta. Karena alam semesta berputar, maka lahirlah waktu. Dengan kata lain, ketika Allah menciptakan alam semesta, seketika itu pula alam semesta itu langsung berputar, kemudian perputaran itu melahirkan waktu. Baginya, tidak ada jarak antara kelahiran alam semesta dan kelahiran waktu.
Tapi kritik pedas disampaikan oleh muridnya sendiri, Aristoteles. Aristoteles beranggapan bahwa waktu itu sudah ada “sebelum” alam semesta ada. Baginya, kata “ sebelum” itu menunjukan waktu. ―Contoh lainnya, “sebelum kita makan, kita berdoa terlebih dahulu.” Kita dapat membagi kalimat tersebut ke dalam dua waktu. Yang pertama adaah waktu berdoa, dan yang kedua adalah waktu makan. Berdoa dan makan memiliki waktu yang berbeda. “sebelum makan, kita berdoa” dan “sesudah berdoa, kita makan”. Kata “sebelum” dan kata “sesudah” itu menunjukan waktu.― karena Aristoteles menggunakan logika seperti ini, ia pun tidak menjawab secara jelas pertanyaan tersebut.
Tapi bagi saya, ―saya tidak tahu apakah orang lain pernah berpikir seperti ini atau tidak― waktu itu adalah dua dari dua puluh sifat wajib bagi Allah. Dan sifat Allah itu Qadim―pembahasan Qadim akan dijelaskan dikemudian hari dalam bab ilmu kalam, insha Allah―. Sifat yang dimaksud adalah Qidam dan Baqa. Qidam artinya terdahulu, sementara Baqa artinya kekal. Sehingga dengan demikian, awal dan akhir dari waktu itu tidak dapat kita ketahui. Misal, di dalam ayat suci al-Quran disebutkan bahwasannya orang kafir itu akan kekal di neraka, dan orang-orang mu`min akan kekal di surga. Ketika Allah menggunakan kata “kekal”, bukankah itu menunjukkan waktu? Dan ketika kita coba menyelami, apa itu kekal? Apakah kekal itu memiliki batas akhir?, kita tidak bisa menjawab itu. Dan kalau pun hal ini diteruskan,maka akan lahir dua pertanyaan, yakni “Apakah sebelum ada waktu itu telah ada waktu?” dan “Apakah sesudah waktu tiada akan ada waktu lagi?”. Oleh karena itu, awal dan akhirnya pun misteri.
메타데이터
- post_id
- fa7bcb2b8514
- slug
- waktu-sang-misteri-sejati-fa7bcb2b8514
- url
- https://medium.com/@pmiiberisik/waktu-sang-misteri-sejati-fa7bcb2b8514
- canonical_url
- https://medium.com/@pmiiberisik/waktu-sang-misteri-sejati-fa7bcb2b8514
- author_url
- https://medium.com/@pmiiberisik
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-22 22:12:02