Hegemoni “Jokowi Effect” Pada Kegiatan Safari Indonesia
Istilah “Efek Jokowi” mulai dikenal luas sejak Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta tahun 2012. Pengaruh tersebut kemudian terus…
Hegemoni “Jokowi Effect” Pada Kegiatan Safari Indonesia
Istilah “Efek Jokowi” mulai dikenal luas sejak Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta tahun 2012. Pengaruh tersebut kemudian terus berlanjut dalam kontestasi Pilpres 2014, 2019, hingga 2024. Fenomena ini merujuk pada meningkatnya elektabilitas figur maupun partai politik secara signifikan akibat dukungan dan kuatnya daya tarik pribadi Joko Widodo. Kehadiran Jokowi dinilai memiliki pengaruh besar dalam meningkatkan perolehan suara partai maupun tokoh politik tertentu dalam berbagai momentum politik nasional.
Gerakan sosial yang dilakukan Jokowi dapat membekas kepada lapisan masyarakat karena berdampingan secara langsung dengan masyarakat, atau biasa dikenal dengan metode blusukan. Inilah yang menciptakan pesona positif masyarakat kepada Bapak Jokowi.
Tidak hanya disitu, Pasca lengser atau demisionernya Presiden Ke-7 yaitu Bapak Joko Widodo, kerap kali disebut “Pria Solo” oleh beberapa kalangan khususnya para netizen Indonesia. Jokowi selalu saja membuat sebuah gerakan-gerakan politik yang unik, dan abstrak. Tujuannya, untuk tetap eksis dan mempertahankan elektabilitas politiknya. Berangkat dari isu Ijazah palsu yang sampai saat ini isu tersebut belum selesai atau tuntas. Ada juga isu tembok ratapan Solo sebuah fenomena yang menyerupai kebiasaan di “ Western Wall Yerusalem” yang identik dengan tempat orang datang membawa harapan dan doa yang pada akhirnya netizen menyebut tempat tersebut adalah Yerussolo.
Hingga pekan baru ini, dilansir dari laman TribunNews Rizki (2026) mengungkapkan bahwa ada rencana kegiatan baru beliau (Jokowi) yaitu Safari Indonesia, dengan dibungkus narasi silaturahmi persahabatan, sapa masyarakat dan sekaligus ingin mengenang momen masa-masa ketika masih menjabat sebagai Presiden Indonesia.
Dikutip dari laman Pojok Papua Yoku (2026), rencana kegiatan tersebut ditanggapi oleh Guntur Romli sebagai Juru Bicara dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Guntur Romli menyatakan:
“Dulu bilang kalau sudah tidak jadi presiden akan kembali ke Solo jadi warga biasa, tapi faktanya dia masih tinggi syahwat politiknya dengan keliling ke seluruh Indonesia” ucapnya.
Dilaporkan dari laman detiknews Muliawati (2026), tanggapan tersebut dibantah kembali oleh Bestari Barus Ketua DPP, tidak lain tidak bukan dari Partai Solidaritas Indonesia, Bestari Barus membantah bahwa:
“Perlu dicatat dan disampaikan bahwa Pak Jokowi itu turun memang dari dulu senang sama rakyat, kalau perlu Pak Jokowi mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa beliau sudah bukan anggota PDI-P tapi sekarang sudah bersama PSI” ujarnya.
Dapat dipahami bahwa rencana kegiatan safari Indonesia yang dilakukan oleh Joko Widodo bukan tentang agenda silaturahmi kebangsaan biasa, bahkan bisa lebih dari itu. Kenapa hal tersebut patut kita bahas, karena di dalam kegiatan Safari Indonesia atau Silaturahmi Kebangsaan atau apapun itu pembungkusannya. Terdapat beberapa upaya politik yang akan terjadi misalnya: upaya mempertahankan pengaruh-pengaruh dan dominasi sosial-politik di tengah masyarakat meskipun kekuasaan formal telah berakhir.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pertarungan politik hari ini tidak hanya terjadi pada perebutan kekuasaan formal, tetapi juga pada perebutan hegemoni publik. Dalam perspektif Antonio Gramsci, hegemoni bekerja melalui kemampuan membangun persetujuan sosial dan menguasai kesadaran masyarakat melalui narasi, simbol, serta kedekatan emosional dengan publik.
Tentang Hegemoni: Antonio Gramsci
Istilah hegemoni merupakan konsep pemikiran yang dikemukakan oleh Antonio Gramsci, seorang pemikir sosial asal Italia yang hidup pada tahun 1891–1937. Pemikiran Gramsci banyak dipengaruhi oleh gagasan Marx dan Lenin, terutama mengenai kelas sosial, perjuangan kelas, serta kesadaran sosial dalam proses perubahan masyarakat. Gramsci kemudian mengembangkan pemikiran tersebut dengan menyoroti bagaimana dominasi kelas borjuis bekerja dalam masyarakat sipil, sebagaimana pernah dibahas oleh Marx dan Engels dalam German Ideology. Melalui konsep hegemoni, Gramsci menjelaskan bahwa sistem kapitalisme tidak hanya bertahan melalui kekuatan atau paksaan, tetapi juga melalui pembentukan persetujuan dan penerimaan masyarakat terhadap nilai, budaya, serta ideologi yang dibangun oleh kelompok dominan (Ali, 2017).
Sederhananya, pemikiran Marx menyatakan bahwa dominasi kekuasaan bertumpu pada ekonomi, antara kaum bourjuis dan proletar. Sedangkan, pandangan Antonio Gramsci menyatakan bahwa dominasi kekuasaan bukan dari ekonomi, tapi dari sisi budaya.
Hegemoni dapat diartikan sebagai kemampuan mempengaruhi dan menggerakkan individu atau kelompok agar sesuai dengan yang diinginkan oleh penggerak tersebut. Dengan kata lain, hegemoni bekerja secara tidak langsung melalui penanaman ideologi dominan yang kemudian diterima masyarakat sebagai suatu kebenaran yang dianggap wajar dan alamiah. Oleh sebab itu, hegemoni berlangsung secara halus dan terselubung, sehingga individu maupun kelompok yang berada di bawah pengaruhnya sering kali tidak menyadari bahwa pola pikir dan kesadarannya telah dibentuk oleh kekuatan kekuasaan tertentu (Putri et al., 2025).
Dalam konteks ini, Safari Indonesia yang dilakukan Jokowi dapat dipahami sebagai bentuk hegemoni reproduksi melalui pendekatan sosial dan emosional kepada masyarakat. Kunjungan ke daerah, pertemuan dengan lawan, serta interaksi langsung dengan masyarakat bukan hanya aktivitas sosial biasa, melainkan bagian dari proses menjaga legitimasi moral dan kedekatan simbolik dengan rakyat.
Kehadiran tersebut menciptakan citra bahwa Jokowi masih menjadi figur sentral yang dekat dengan masyarakat dan tetap relevan dalam dinamika politik nasional. Inilah yang ada dalam pemikiran Gramsci disebut sebagai praktik hegemoni: dominasi yang dibangun bukan melalui paksaan, tetapi melalui penerimaan sosial.
Di sisi lain, kritik PDIP dapat dibaca sebagai bentuk kekhawatiran terhadap tetap kuatnya pengaruh simbolik Jokowi di tengah masyarakat, sementara dukungan PSI menunjukkan upaya memanfaatkan modal sosial tersebut untuk membangun legitimasi politik baru.
Pada akhirnya, masyarakat perlu melihat fenomena ini secara kritis. Sebab dalam politik, pengaruh yang terus dipelihara melalui citra, kedekatan sosial, dan dominasi narasi dapat membentuk kesadaran masyarakat tanpa disadari. Di titik inilah hegemoni Jokowi Effect bekerja bagaimana Jokowi membangun legitimasi dan basis massa baru secara halus dalam kehidupan demokrasi Indonesia saat ini.
HIDUP JOKOWI!!!
DAFTAR PUSTAKA
Ali, ZZ (2017). PEMIKIRAN HEGEMONI ANTONIO GRMSCI ( 1891-. Yaqzhan , 3 (2), 63–81.
Muliawati, A. (2026). PSI Balas PDIP yang Singgung Ijazah Jokowi Jelang Safari Keliling Indonesia . Detik News. https://news.detik.com/berita/d-8494060/psi-balas-pdip-yang-singgung-ijazah-jokowi-jelang-safari-keliling-indonesia
Putri, SS (2025). Hegemoni Kekuasaan Dalam Novel Peternakan Hewan Karya George Orwell (Teori Gramsci). Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia , 5 (2), 223–233. https://doi.org/10.30739/peneroka.v5i2.4149
Rizki, A. (2026). Agenda Politik Rencana Jokowi Keliling Indonesia, Yunarto Wijaya: Kekuatan Elektoral Untungkan PSI . Tribunnews.Com. https://www.tribunnews.com/nasional/7831140/agenda-politik-rencana-jokowi-keliling-indonesia-yunarto-wijaya-kekuatan-elektoral-untungkan-psi?page=2
Yoku, S. (2026). PDI-P Sebut Rencana Safari Jokowi Berpotensi Ancam Pemerintahan Prabowo . Pojok Papua. https://www.pojokpapua.id/pdip-sebut-safari-jokowi-ancam-prabowo
메타데이터
- post_id
- fa7c747f0bcb
- slug
- hegemoni-jokowi-effect-pada-kegiatan-safari-indonesia-fa7c747f0bcb
- url
- https://medium.com/@laskhashakiera7/hegemoni-jokowi-effect-pada-kegiatan-safari-indonesia-fa7c747f0bcb
- canonical_url
- https://medium.com/@laskhashakiera7/hegemoni-jokowi-effect-pada-kegiatan-safari-indonesia-fa7c747f0bcb
- author_url
- https://medium.com/@laskhashakiera7
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 14:51:46