Mari Beri Jeda Pada Setiap Percakapan
Hari raya idul fitri merupakan salah satu momentum, khususnya bagi umat Islam, untuk melakukan silaturahmi dan bermaaf-maafan dengan…
Mari Beri Jeda Pada Setiap Percakapan

Sumber: Gemini AI
Hari raya idul fitri merupakan salah satu momentum, khususnya bagi umat Islam, untuk melakukan silaturahmi dan bermaaf-maafan dengan sesamanya. Pada momen tersebut, timbullah percakapan-percakapan satu sama lainnya. Pekerjaan, pendidikan, atau tentang keluarga adalah topik yang biasanya menjadi percakapan umum dalam momen tersebut.
Ada mereka yang menanyakan suatu hal sebagai bentuk etika basa-basa, ada juga yang memang benar-benar ingin mengetahui informasi tersebut. “Kapan nikah?”, “Pacarnya kok nggak dibawa ke rumah?”, “Kerja di mana?”, dan lain sebagainya. Namun, itu semua masih kalah horor ketika ditanyakan kapan skripsi atau wisuda, terlebih-lebih bagi mahasiswa semester akhir.
Terkadang, sangking asyiknya untuk bercakap-cakap dengan sanak keluarga atau tetangga, kita terlalu banyak bercerita atau dalam istilah sekarang disebutnya oversharing. Hal-hal yang harusnya menjadi percakapan internal dalam keluarga kecil, turut “diumbar” kepada banyak orang.
Percakapan yang kebablasan tersebut terkadang dapat menimbulkan gosip, menyakiti orang yang menjadi bahan pembicaraan, dan berakibat pada upaya untuk merendahkan martabat orang lain. Hari yang suci tiba-tiba bisa menjadi kotor dan buruk akibat segelintir orang, meskipun saya tidak menggeneralisir semuanya.
Mungkin, sangking hangatnya pembicaraan sehingga kita melupakan satu hal penting, jeda. Menggunakan jeda (pause) adalah teknik kecerdasan emosional (EQ) utama untuk mengontrol bicara saat emosi tinggi. Jeda memberi waktu otak rasional (prefrontal cortex) mengambil alih dari otak emosional (amygdala).
Jeda memang sederhana, tidak memerlukan effort tinggi untuk melakukannya. Masalahnya adalah kita tidak membiasakan diri untuk berlaku demikian. Kita lebih cepat untuk merespons ketimbang melakukan kontemplasi sebelum mengutarakan sesuatu. Ini juga merupakan salah satu dampak brain root akibat video-video pendek yang bertebaran di sosial media
Dengan memberi jeda dapat mencegah respons impulsif yang menyebabkan terjadinya oversharing. Jeda juga memungkinkan komunikasi yang lebih empatik, bijak, dan terukur. Biarkan otak rasional untuk mengambil alih keputusan dari otak emosional kita. Masalah yang timbul akibat ucapan tidak terkontrol dapat dicegah dengan satu jurus ampuh, jeda.
메타데이터
- post_id
- fa804e8ac7e5
- slug
- mari-beri-jeda-pada-setiap-percakapan-fa804e8ac7e5
- url
- https://medium.com/@ubaymz/mari-beri-jeda-pada-setiap-percakapan-fa804e8ac7e5
- canonical_url
- https://medium.com/@ubaymz/mari-beri-jeda-pada-setiap-percakapan-fa804e8ac7e5
- author_url
- https://medium.com/@ubaymz
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 04:09:36