You said we’re just friends, but friends don’t do the things we do.
“Are we still friends?”
You said we’re just friends, but friends don’t do the things we do.

“Are we still friends?”
[embed]
CW//KISSING.
Kalisha datang dengan membawa beberapa bungkus makanan di tangannya. ia tak mengetuk pintu terlebih dahulu, namun Kairo tahu bahwa sang puan yang datang menghampiri. ia segera bangun dari tidurnya, dan duduk di tepi ranjang. menghiraukan wanita yang memakai almet yang biasa disebut osis sekbid kesehatan di sebelahnya, dan menyambut hangat pujaan hati dengan senyuman.
Kalisha menutup pintu pelan, ia menatap sekeliling dan menghirup udara UKS yang khas dengan wangi obat-obatan, mendapati kairo yang tengah duduk ditepi ranjang. “Lama” ucap Kairo sambil menatapnya dengan tatapan memelas.
Yang di tatap hanya terkekeh kecil, kemudian menaruh barang bawaannya di meja. “Antri tadi kai, itu hidung kamu udah di obatin? mana lagi yang luka-luka?” tanya Kalisha khawatir, Kairo mengangguk kemudian menunjuk hidungnya yang telah di plaster. “Cuma ini sih untungnya” ucapnya.
Kalisha hanya bernafas lega, syukurlah lukanya tak begitu banyak. kemudian ia mengambil kursi dan duduk di depan ranjang Kairo, sementara Kairo menatap osis sekbid kesehatan itu dengan sinis. “Gue udah ada yang jagain. lo bisa pergi.” ucapnya sedikit ketus.
Kemudian wanita itu permisi dan pergi meninggalkan ruangan, diikuti langkah Kairo yang menutup pintu setelah osis itu pergi meninggalkan mereka berdua.
Ia menghampiri Kalisha, namun kali ini ia duduk di sofa yang disediakan di ruangan. Kalisha menyiapkan makanan yang ia beli agar Kairo bisa memakannya. “Suapin..” ucapnya, nadanya sedikit manja.
Kalisha memutar bola matanya malas, namun tak bisa menolak permintaan pria yang sedang memanyunkan bibir di depannya ini dengan wajah yang lesu dan sedikit kotor akibat bermain bola di lapangan tadi. kemudian ia menghadapkan kursinya ke arah Kairo, dan duduk sembari memegang sendok yang mendarat di mulut Kairo. kemudian Kalisha tertawa kecil, ia mengusap dahi Kairo yang tertutup anak rambutnya. “Apa kata temen-temen satu tim sepak bola kamu ya, kalo tau kaptennya masih disuapin gini?” ucap Kalisha, meledek.
Kairo mengerutkan dahinya “Biarin aja, iri tuh berarti mereka. karna gak bisa kayak gini kalo sama ceweknya.” balasnya sambil mengunyah makanan yang ada dalam mulutnya.
Saat Kalisha hendak menyuapinya lagi, ia menggeleng pelan. “Udah ca, nanti lagi. aku mau di sayang-sayang kamu dulu.” ia menahan tangan Kalisha, kemudian menaruh makanan dan sendok yang Kalisha pegang. ia taruh di atas meja. “Baru sesuap loh itu Kai, emang gak laper?” tanya Kalisha. Kairo menggeleng pelan, wajahnya cemberut. kemudian mengisyaratkan Kalisha agar duduk di pahanya.
Ia menuntun langkah Kalisha, memegangi pinggang Kalisha yang hendak duduk di pangkuan. wangi khas ruangan UKS kini tak lagi menyengat, tergantikan dengan wangi parfum Kairo yang tercium oleh indra penciuman Kalisha. “Aku ambil P3K dulu, kamu gak sadar ya ada luka gores di dagu kamu?” ucap Kalisha, ia menyadari ada luka yang belum di obati. kemudian meraih P3K di meja sebelah Kairo tanpa bangun dari pangkuannya.
Ia mengambil alkohol dan kapas, mengobati memar Kairo dengan hati — hati. Kairo hanya menurut, membiarkan Kalisha mengobatinya. “Shh — ” Kairo mendesis saat Kalisha menekan lukanya, ia mendiamkan kapas dengan air alkohol di dagu Kairo yang luka. “Sakit ya?” tanyanya dengan khawatir, gerakannya telaten dan sangat hati-hati. “Emang harus diginiin, biar lukanya kering. kalo gak nanti infeksi.” Kairo hanya mengangguk patuh, membiarkan Kalisha mengobatinya, ia mengeratkan pelukan tangannya pada pinggang kecil milik sang puan.
Setelah selesai di obati, Kairo menenggelamkan wajahnya di pelukan Kalisha, ia menghirup aroma parfum segar wangi buah-buahan yang menjadi wangi khas milik sang empunya. tangannya erat memeluk pinggang Kalisha, seolah tak mau melepaskan. sementara yang dipeluk mengusap rambut Kairo dengan lembut, memainkan rambutnya yang masih setengah lepek karna keringat. ia membiarkan Kairo bermanja-manja di pelukannya, jarak tubuh mereka begitu dekat hingga Kalisha bisa merasakan detak jantung Kairo yang berdetak stabil, seperti nyaman dengan posisinya kali ini.
Selagi Kalisha mengusap dan bermain dengan rambut Kairo, ia bergumam “Lain kali, kalo main bola tuh hati-hati. kalo kayak gini sekarang gimana? sembuhnya lama tau.” ia menasehati, kemudian satu tangannya meraih wajah Kairo dan melihat luka-lukanya dengan seksama.
Kairo menatap Kalisha yang sedang fokus pada luka miliknya. kemudian dengan suara pelan dan sedikit berat, ia membalas “Di cium aja, nanti juga cepet sembuhnya.” Kalisha menatap Kairo, kemudian mengecup luka di dagunya tanpa pikir panjang. “Cup.”
Kairo tersenyum dan terkekeh kecil saat Kalisha memenuhi permintaannya. “Lagi..” pintanya. “Cup. cup. cup.” Kalisha mengecup luka di hidung dan dagu milik Kairo tiga kali, secara bergantian. ia tersenyum saat melihat Kairo menyukainya. “Cup — ” dan pada kecupan keempat, ia terbungkam.
Kairo mendaratkan bibirnya pada bibir Kalisha. sementara Kalisha membeku, membiarkan Kairo menuntunnya. ia menutup matanya, merasakan bibir Kairo yang melumat bibirnya pelan. jantungnya berdebar cepat saat Kairo memperdalam ciumannya, meraih pinggangnya agar mendekat. tanpa sadar Kalisha mengalungkan tangannya pada leher Kairo, seolah menikmati permainannya. sehingga sang empunya tersenyum penuh kemenangan di sela-sela ciumannya.
Mereka bisa merasakan hembusan nafas hangat saat bibir mereka saling melumat lembut. “Mhmm..” Kalisha terdengar sedikit melenguh pelan di telinga Kairo hampir seperti bisikan. itu terjadi tanpa sadar, tanpa paksaan. membuat Kairo semakin hilang kendali. ia tak dapat berfikir jernih, ia ingin semua ini tak cepat berakhir.
Kairo menahan tubuh Kalisha, tangannya meraih tengkuk sang puan. ciumannya lembut, sehingga Kalisha terbuai lemah dan tak dapat menolak. suara kecupan mereka menggema di ruangan.
Kalisha tiba-tiba berhenti, nafasnya terengah-engah. “Kenapa berhenti?” tanya Kairo saat Kalisha melepaskan ciumannya, ia tertunduk, wajahnya memerah. namun Kairo meraih dagunya, mengarahkannya agar menatap matanya.
Kalisha tampak ragu saat berbicara, ia berfikir sejenak. “Bukan gitu, i just don’t think we can do this when we’re just… friends.” ucapnya pelan, dengan nada sedikit kecewa. ia nampak resah, kemudian menunduk diatas pangkuan Kairo, tak mampu menatap mata lawan bicaranya.
Kairo mengambil nafas panjang, dan menghembuskannya. “If we kissed, are we still friends ca?” tanya Kairo, ia terlihat penuh harap. suasana menjadi hening, ia menunggu jawaban dari sang puan yang terlihat kebingungan. ruangan UKS kini menjadi lebih dingin dari sebelumnya dengan keadaan mereka yang kacau.
Kairo memijit pelipisnya, kemudian hendak berbicara lagi. “Friends don’t kiss their friends, right?” tanyanya, menatap Kalisha dengan tatapan seolah ia ingin jawaban yang memuaskan.
Kalisha menggigit bibir bawahnya dengan ragu, sebelum akhirnya menjawab. “But we do.” balas Kalisha, Kairo mengangkat wajahnya sang puan yang masih menunduk dan memainkan jarinya. ia menatapnya dalam. mencoba memahami situasi yang terjadi saat ini. menurut Kairo, mencium seorang teman bukanlah suatu kesalahan baginya. ia tak keberatan, karna orang itu adalah Kalisha. orang yang memang sungguh-sungguh ia cintai semenjak ia pindah ke sekolah ini.
Mereka bukan sekedar teman, mereka adalah dua insan yang saling menunggu untuk waktu yang tepat. Kairo tak perduli, sungguh demi Tuhan. sekali lagi, ia mengecup bibir mungil dan manis milik perempuan berparas cantik di depannya yang masih nyaman duduk di pangkuan.
Ia menatap Kalisha, mencoba meyakinkan. “Can we ignore whatever the relationship between us, ca? cuma buat sekarang aja. aku mohon. please… ” Mereka kini hanya saling bertatapan, tak tahu harus melakukan apa. tak berani mengambil langkah, namun tak mau juga kehilangan. sebenarnya, Kalisha selalu siap kapanpun untuk Kairo, tapi Kairo tak pernah bertanya.
Hingga akhirnya mereka terjebak dalam situasi yang membuat hubungan mereka sebagai ; just friends, but too romantic to be called as friends. atau bisa disebut juga sebagai dua orang yang menjalin hubungan tanpa status, begitu kata orang-orang jaman sekarang.
Ia tak mendapat jawaban apapun dari perempuan yang masih duduk di atas pangkuannya dengan tenang “Kalo kamu gak jawab apapun, aku anggap kamu setuju.” Kairo masih menunggu, hingga beberapa detik kemudian Kalisha masih terdiam. maka ia merasa bahwa Kalisha tak menolak. dan Kairo pun melanjutkan —
Ciumannya.
Kairo kembali meraih tengkuk Kalisha, memposisikan agar Kalisha nyaman diatas pangkuannya lebih lama lagi. satu tangannya melingkar di pinggang Kalisha, meremas seragam yang dikenakan sang empunya. kemudian satu tangannya meraih tengkuk Kalisha, Kairo mendekatkan wajahnya. menempelkan kembali bibirnya dengan bibir lembut sang pujaan hati.
Kalisha tak tahu harus berbuat apa, ia tak bisa berbohong kalau ia juga ingin melakukan ini dengan Kairo, ia menutup matanya, tangannya kembali melingkar di leher Kairo secara naluriah. satu tangannya menahan dada bidang Kairo. ia menikmati sensasi ciuman yang membuat pikirannya melayang, tak dapat berfikir hal lain selain tentang pria yang ada di depannya.
Suara kecipak ciuman kembali bergema diruangan UKS yang sempit ini. “Gimana nanti kalo ada yang liat..” ucap Kalisha, ia sedikit terbata-bata karna Kairo tak mau melepaskan ciumannya. “Nggak ada yang liat, cuma ada kita berdua. pintu udah aku kunci.” balasnya.
Mereka menikmati ciuman, cukup lama. Kairo merasa bahwa perasaan di hatinya ini mau meledak. seperti tak dapat menampung rasa bahagia yang ia rasakan saat ini. siapa yang percaya ia akan berciuman dengan Kalisha di ruang UKS. memang terdengar terlalu beresiko, tapi lihat apa yang terjadi sekarang.
Untuk sesaat, mereka berdua lupa bahwa mereka hanya seorang teman.
Kairo belum menyatakan apapun, sehingga Kalisha hanya berfikir bahwa Kairo tak serius padanya. dan merasa bahwa mungkin memang hanya sebagai teman saja. but what kind of friend kisses their own friend?
Ruangan UKS kini tak terdengar suara kegiatan lain selain suara gema ciuman kecipak yang disalurkan oleh kedua orang yang sedang jatuh cinta. mereka tak perduli jika tertangkap basah. entah bagaimana kedepannya, tak perduli tentang resiko yang mereka ambil.
Untuk kali ini, Kairo dan Kalisha menyalurkan rasa sayangnya tanpa sepatah kata apapun, tanpa kata-kata romantis lainnya, mengubur perasaan takut akan hubungan yang sebatas teman ini hidup-hidup. mereka saling mencintai, dan mereka tau itu.
You said we’re just friends, but friends don’t do the things we do.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
메타데이터
- post_id
- fa8be32f5d57
- slug
- you-said-were-just-friends-but-friends-don-t-do-the-things-we-do-fa8be32f5d57
- url
- https://medium.com/@maxelshawnforth/you-said-were-just-friends-but-friends-don-t-do-the-things-we-do-fa8be32f5d57
- canonical_url
- https://medium.com/@maxelshawnforth/you-said-were-just-friends-but-friends-don-t-do-the-things-we-do-fa8be32f5d57
- author_url
- https://medium.com/@maxelshawnforth
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 19:34:48