— Perlahan Sembuh.
Dan hidup tidak lagi terasa seperti sesuatu yang harus mereka lawan sendirian.
— Perlahan Sembuh.
Dan hidup tidak lagi terasa seperti sesuatu yang harus mereka lawan sendirian.
Libur semester datang seperti napas panjang yang akhirnya berhasil mereka ambil setelah bertahun-tahun hidup dalam sesak.
Tidak ada lagi deadline yang mengejar setiap pagi. Tidak ada dosen pembimbing yang tiba-tiba menghubungi tengah malam. Tidak ada layar laptop yang menyala sampai subuh sambil ditemani kopi dingin dan kepala yang hampir pecah.
Dan akhirnya, hidup mereka melambat.
Dan justru di dalam pelan itulah, luka-luka yang selama ini mereka kubur mulai terasa kembali.
Namun anehnya kali ini tidak lagi terasa seperti sesuatu yang ingin membunuh mereka.
Melainkan sesuatu yang akhirnya bisa disentuh tanpa takut hancur.
Di Yogyakarta, Deru berdiri cukup lama di depan jendela kontrakannya pada pagi terakhir sebelum liburan.
Langit masih pucat. Jalanan depan gang belum terlalu ramai. Juanda masih tidur setengah mati di kamar sebelah sambil mendengkur tanpa dosa, sementara koper mereka sudah tergeletak di dekat pintu sejak semalam.
Deru menatap keluar tanpa benar-benar fokus pada apa pun.
Lalu perlahan, ia menyadari sesuatu yang sederhana sekali.
Dadanya tidak sesak pagi itu.
Tidak ada perasaan hampa yang biasanya langsung menyambutnya setiap bangun tidur.
Tidak ada rasa bersalah yang tiba-tiba menekan tenggorokannya hanya karena mengingat nama Arutala.
Yang tersisa hanya rindu.
Dan ternyata, rindu terasa jauh lebih ringan ketika tidak lagi dibarengi kebencian terhadap diri sendiri.
Deru menunduk pelan sambil tersenyum kecil.
Karena akhirnya ia mengerti, selama ini yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan Arutala.
Melainkan kenyataan bahwa ia terus hidup sambil percaya dirinya tidak pantas dimaafkan.
Namun sekarang, Arutala sudah menatap matanya sendiri dan berkata bahwa semuanya tidak apa-apa.
Dan kalimat itu perlahan menyelamatkannya.
Pintu kamar terbuka kasar.
Juanda keluar dengan rambut acak-acakan sambil mengucek mata.
“Jam berapa sih ini…”
Deru langsung menoleh sambil terkekeh kecil. “Jam delapan.”
“Manusia normal masih tidur.”
“Bus kita jam sepuluh.”
Juanda mendengus sambil menyeret langkah ke dapur kecil kontrakan. Namun di tengah jalan, ia berhenti lalu menoleh ke arah Deru.
“Eh.”
“Hm?”
“Lu akhir-akhir ini keliatan lebih hidup ya?”
Deru diam sebentar.
Angin pagi bergerak pelan masuk dari jendela yang terbuka.
Dan untuk beberapa detik, ia hanya memandangi langit Jogja yang pucat kebiruan.
“Gua capek ngehukum diri sendiri,” jawabnya pelan.
Kalimat itu sederhana.
Namun ada sesuatu di dalam suaranya yang membuat Juanda ikut diam. Deru tertawa kecil setelahnya.
“Kayaknya… gua juga pengen hidup bahagia.”
Juanda menatapnya lama sebelum akhirnya tersenyum kecil.
“Nah.”
Ia mengambil botol air minum di meja lalu menunjuk Deru malas-malasan. “Berarti akhirnya otak lu sembuh juga.”
Deru tertawa.
Dan suara tawanya terdengar jauh lebih hidup dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Mereka tiba ke rumah orang tua Deru beberapa jam setelahnya.
Rumah itu berada di pinggiran kota kecil yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk Jogja. Udara di sana lebih dingin, pohon-pohon tumbuh lebat di halaman, dan sore hari selalu dipenuhi suara serangga serta aroma tanah basah.
Ibu Deru langsung memeluk anaknya lama begitu pintu terbuka.
“Aduh kurusan banget…”
Deru tertawa kecil sambil membalas pelukan itu.
Sementara Juanda langsung diseret masuk dan diperlakukan seperti anak sendiri bahkan sebelum sempat melepas sepatu.
Hari-hari di rumah itu berjalan lambat.
Mereka membantu ayah Deru membersihkan halaman, membeli gorengan sore-sore, bermain gitar di teras malam hari, dan sesekali pergi ke kota kecil dekat rumah hanya untuk membeli kopi.
Namun yang paling berbeda adalah Deru mulai terlihat benar-benar hadir di hidupnya sendiri.
Ia tidak lagi terlalu sering melamun.
Tidak lagi diam berjam-jam sambil menatap kosong.
Bahkan suatu malam, ibunya memperhatikan Deru yang sedang tertawa mendengar cerita Juanda di meja makan.
Dan tanpa sadar, matanya langsung berkaca-kaca.
Karena sudah lama sekali ia tidak melihat anaknya setenang itu.
Sementara di sisi lain Indonesia, Arutala memilih menghabiskan liburan dengan cara yang berbeda.
Ia, Nicole, Keenan, dan Adinda mendaftar sebagai volunteer guru di Pulau Siau .
Mereka naik kapal cepat dan selama 8 jam di bawah matahari, melewati laut luas yang nyaris tidak berujung. Ombak sesekali menghantam sisi kapal, sementara angin asin terus menerbangkan rambut merah Arutala ke mana-mana.
Nicole sudah mengeluh sejak tiga puluh menit pertama.
“Kalau gua jatuh ke laut, tolongin gua ya. Takut tenggelam”
Keenan langsung tertawa keras. “Lu nggak bakal tenggelam. Laut takut sama mulut lu.”
Adinda hampir jatuh karena terlalu banyak tertawa.
Dan di tengah semua keributan itu, Arutala duduk di sisi kapal sambil memandangi laut diam-diam.
Biru, luas dan tenang.
Beberapa tahun lalu, laut selalu terasa seperti sesuatu yang menyakitkan baginya.
Karena laut mengingatkannya pada kehilangan.
Pada seseorang yang pernah sangat ia cintai lalu hilang begitu saja dari hidupnya.
Namun sekarang, ketika angin laut menyentuh wajahnya lagi, yang ia rasakan bukan lagi sakit.
Melainkan tenang.
Sangat tenang.
Mungkin karena akhirnya ia sadar: laut tidak pernah benar-benar meninggalkannya.
Ia hanya terlalu lama tersesat di tengah badai.
Anak-anak di sana menyambut mereka dengan mata berbinar dan kaki-kaki kecil yang berlari tanpa alas. Sekolah sederhana menjadi tempat mereka mengajar selama liburan.
Dan anehnya, Arutala sangat cocok berada di sana.
Anak-anak cepat sekali menyukainya.
Mungkin karena cara bicaranya lembut.
Mungkin karena rambut merahnya membuat mereka penasaran.
Atau mungkin karena anak-anak selalu bisa merasakan siapa orang yang pernah terluka.
Hari-hari mereka sederhana.
Mengajar membaca.
Menggambar bersama anak-anak.
Mendengar cerita warga.
Tertawa sampai malam di tepi pantai.
Dan tanpa sadar, Arutala mulai merasa hidupnya ringan lagi.
Suatu sore, ia duduk di dermaga kayu setelah kelas selesai.
Matahari hampir tenggelam. Laut berubah jingga.
Seorang anak kecil duduk di sampingnya sambil menggoyang-goyangkan kaki.
“Kak Tala.”
“Hm?”
“Kakak bahagia ya sekarang?”
Arutala menoleh kecil.
Anak itu tersenyum polos.
“Awal datang mata Kakak sedih.”
Kalimat itu membuat dada Arutala terasa sesak tiba-tiba.
Karena bahkan anak kecil pun bisa melihat betapa hancurnya ia sebelumnya.
Arutala menatap laut lama sekali sebelum akhirnya tersenyum kecil.
“Sekarang nggak?”
Anak itu menggeleng cepat.
“Sekarang mata Kakak kayak orang yang mau hidup terus cantik.”
Dan Tuhan…
kalimat itu hampir membuat Arutala menangis saat itu juga.
Malamnya, Deru menelponnya.
Suara ombak memenuhi sambungan telepon mereka.
Tidak banyak yang dibicarakan sebenarnya.
Deru hanya bercerita tentang ibunya yang terlalu sering memberinya makan dan Arutala bercerita tentang anak-anak di pulau.
Hal-hal kecil, sangat kecil.
Namun justru itu yang terasa menyembuhkan.
Karena setelah bertahun-tahun hubungan mereka dipenuhi luka besar dan emosi yang terlalu berat, akhirnya kini mereka bisa mencintai satu sama lain dengan sederhana.
Dan ternyata cinta memang seharusnya seperti itu.
Bukan sesuatu yang membuatmu tenggelam sendirian.
Melainkan sesuatu yang perlahan mengajarkanmu bernapas lagi.
Sebelum telepon ditutup malam itu, Deru tiba-tiba berkata pelan,
“Tal.”
“Hm?”
“Terima kasih, karena masih memilih untuk tetap hidup.”
Angin malam berhenti terasa sesaat.
Arutala memejamkan mata perlahan sambil menahan sesuatu yang kembali memenuhi dadanya.
Karena ia tahu kalimat itu bukan sekadar kalimat.
Deru tahu.
Deru tahu betapa beratnya tahun-tahun yang ia lewati sendirian.
Dan sekarang, rasanya seperti diselamatkan pelan-pelan.
Arutala tersenyum kecil sambil menatap laut gelap di depannya.
“Aku juga seneng kamu masih ada, Laut.”
Di dua tempat yang berjauhan itu, mereka sama-sama memandangi langit malam yang berbeda.
Dan hidup tidak lagi terasa seperti sesuatu yang harus mereka lawan sendirian.
메타데이터
- post_id
- faa8a85c6589
- slug
- perlahan-sembuh-faa8a85c6589
- url
- https://medium.com/@thepuppeteers/perlahan-sembuh-faa8a85c6589
- canonical_url
- https://medium.com/@thepuppeteers/perlahan-sembuh-faa8a85c6589
- author_url
- https://medium.com/@thepuppeteers
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 14:51:46