Mimpi basah disiang bolong
Seseorang pernah berkata kepadaku, “in this economy, kita mungkin tidak akan pernah punya rumah yang benar-benar milik sendiri.”
Mimpi basah disiang bolong
Seseorang pernah berkata kepadaku, “in this economy, kita mungkin tidak akan pernah punya rumah yang benar-benar milik sendiri.”
Anehnya, kalimat itu tidak membuatku marah. Ia justru mengingatkanku pada cerita-cerita Papa tentang hidup beberapa puluh tahun lalu. Tentang bagaimana sesuatu yang dulu terasa mungkin, perlahan berubah menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan berkali-kali lebih keras.
Makin ke sini, aku semakin sulit membedakan mana suara perut yang lapar, mana suara pekerja yang merasa kurang dibayar, mana suara orang-orang yang terhimpit pajak, harga yang terus naik, dan hidup yang terasa semakin mahal. Semua terdengar seperti teriakan yang saling bertumpuk di kota yang terlalu sibuk untuk mendengarkan.
Kadang aku bertanya, apa yang sebenarnya harus dilakukan?
Dulu, berkeliling Indonesia terasa seperti rencana sederhana. Hari ini, rasanya seperti mimpi basah yang muncul di siang bolong terlihat jelas, tapi sulit disentuh.
Mungkin karena itu aku belajar menerima bahwa tidak semua hal harus segera dimiliki. Ada perjalanan yang untuk sementara hanya bisa disimpan sebagai harapan. Dan ada harapan yang tetap hidup, meski dunia terus memberi alasan untuk meragukannya.
메타데이터
- post_id
- faabedc399ea
- slug
- mimpi-basah-disiang-bolong-faabedc399ea
- url
- https://medium.com/@miraclefromeast/mimpi-basah-disiang-bolong-faabedc399ea
- canonical_url
- https://medium.com/@miraclefromeast/mimpi-basah-disiang-bolong-faabedc399ea
- author_url
- https://medium.com/@miraclefromeast
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30