← Back to list

Menjaga Hakikat Manusia di Tengah Kecerdasan Buatan Berlandaskan Nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan

Kok bisa remaja merasa lebih nyaman mengadukan perasaannya kepada algoritma daripada manusia atau bahkan kepada Tuhannya?

Muhammad Fauzan Akbar · 2026-07-09 14:53 · 0 claps · 4.9 min read
#kecerdasan-buatan #kesehatan-mental #remaja #pancasila #makna-hidup
Open on Medium ↗

Menjaga Hakikat Manusia di Tengah Kecerdasan Buatan Berlandaskan Nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan

Kok bisa remaja merasa lebih nyaman mengadukan perasaannya kepada algoritma daripada manusia atau bahkan kepada Tuhannya?

Hakikat manusia bukan hanya terletak pada kemampuan berpikir, melainkan juga memiliki nurani, relasi sosial, dan spiritualitas. Lompatan teknologi kecerdasan buatan (AI) belakangan ini memicu sebuah ironi besar. Di satu sisi, sistem AI kian mahir meniru cara berpikir manusia. Namun di sisi lain, semakin banyak remaja mulai bergantung pada aplikasi AI seperti ChatGPT, Gemini, dan Meta AI sebagai pelarian cepat untuk meredakan kecemasan mereka (Pentina et al., 2023).

Grafik Data Krisis Kesehatan Mental di Kalangan Remaja Indonesia Sumber: https://digdata.id/baca/krisis-kesehatan-mental-di-kalangan-remaja-indonesia/

Grafik Data Krisis Kesehatan Mental di Kalangan Remaja Indonesia Sumber: https://digdata.id/baca/krisis-kesehatan-mental-di-kalangan-remaja-indonesia/

Data dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (INAMHS) mencatat bahwa 1 dari 3 remaja Indonesia usia 10–17 tahun mengalami gangguan kesehatan mental. Gawai pun akhirnya diposisikan layaknya “psikolog saku” pribadi. Padahal, AI generatif mempunyai kelemahan bawaan berupa halusinasi data (hallucination) dan tidak memiliki kesadaran jiwa (consciousness) untuk benar-benar memahami beratnya penderitaan manusia (Aithal & Aithal, 2024). Sayangnya, kebijakan literasi digital kita sekarang, termasuk aturan main penggunaan AI di sekolah, hanya sebatas membatasi urusan plagiarisme. Aturan tersebut masih abai dalam memetakan batasan etis penggunaan AI dalam ruang psikologis dan spiritual siswa (Kemenkominfo, 2023). Ketika AI mulai menggantikan ruang hubungan dengan Tuhan dan sesama, saat itulah hakikat manusia sebagai makhluk spiritual dan sosial mulai terancam.

Sebagai manusia, diri kita adalah satu kesatuan utuh antara raga (fisik) dan rasa (emosional). Secara fisik, obrolan psikologis yang hanya terjadi lewat perantara layar membuat kita abai terhadap kebutuhan dasar biologis manusia akan kehadiran fisik orang lain. Padahal, kedekatan interpersonal langsung sudah terbukti secara ilmiah mampu memicu keluarnya hormon oksitosin (hormon kasih sayang) sekaligus menurunkan kadar kortisol yang memicu stres melalui kontak mata langsung, intonasi suara, hingga bahasa tubuh yang jujur (Baumeister & Leary, 1995). Secanggih apa pun algoritma suara yang dibuat oleh AI, aplikasi tersebut tetaplah benda mati yang memancarkan radiasi visual. Jika kita gunakan secara berlebihan, hal itu justru merusak pola tidur dan memicu kelelahan fisik.

Dalam dimensi emosional, AI hanya menebak susunan kata yang dirasa paling menenangkan berdasarkan hitungan probabilitas statistik (Turkle, 2015). AI sengaja dirancang untuk memberikan respons suportif dan selalu siap mendengarkan kapan saja tanpa batas. Pola interaksi seperti ini berisiko melahirkan generasi yang lemah secara emosional. Akibatnya, remaja akan menjadi gagap dan canggung saat harus menghadapi konflik atau perbedaan pendapat di dunia nyata yang jalannya tidak seideal respons algoritma komputer.

Kemunduran selanjutnya merembet ke dimensi intelektual. Kebiasaan mengandalkan jawaban instan dari chatbot AI bisa menjebak remaja ke dalam kemalasan berpikir kritis (cognitive laziness). Padahal, esensi dari pemulihan jiwa yang sehat adalah proses berpikir kita sendiri untuk mengenali letak akar masalah, mengevaluasi kesalahan, lalu mengambil keputusan secara bijak. Sementara itu, AI sering kali langsung menyodorkan solusi siap saji atau saran psikologis yang sifatnya umum.

Dampak buruk ini kemudian merusak dimensi sosial. Sila Kedua Pancasila sudah mengingatkan kita jika memanusiawikan diri adalah melalui hubungan tenggang rasa dengan sesama manusia. Ketika remaja memilih mengurung diri bersama asisten virtual mereka, pondasi pendukung sosial yang paling penting di sekitar kita seperti kehangatan keluarga, bimbingan guru, hingga solidaritas teman sebaya otomatis menjadi lumpuh.

AI tidak punya kapasitas spiritual untuk mengalirkan kedamaian batin yang sesungguhnya ke dalam hati kita. Padahal, dimensi spiritualitas merupakan jangkar tertinggi dalam hakikat hidup manusia. Di Indonesia, hal tersebut termanifestasi dalam Sila Pertama Pancasila. Dalam perspektif Islam, ketenangan jiwa yang sejati datang langsung dari hubungan vertikal antara seorang hamba dengan Penciptanya melalui zikir, sebagaimana yang tertulis dalam Al-Qur’an:

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

AI tidak boleh ditempatkan sebagai pengganti hubungan manusia dengan Tuhan, atau bahkan menggantikan hangatnya interaksi antarmanusia. Oleh karena itu, usaha menyembuhkan luka jiwa dengan pergi ke psikolog, psikiater, atau sekadar bersandar pada pelukan hangat orang tua sejatinya adalah bentuk ibadah dan perwujudan nyata dari kemanusiaan yang adil dan beradab.

Menyelesaikan masalah penurunan karakter remaja akibat ketergantungan pada AI dapat dilakukan dengan cara menata ulang aturan main yang aplikatif. Di lingkungan pendidikan, gagasan ini dapat direalisasikan dengan memaksimalkan kebijakan lokal yang ada, ketimbang menyusun regulasi baru dari awal yang belum tentu bisa diterapkan sekolah lain. Praktik baik ini telah dicontohkan melalui agenda “Senin Siaga” dan “Jumat Berseri” di SMA Negeri 1 Kota Malang. Di awal pekan, kegiatan Senin Siaga mengombinasikan upacara, literasi, dan pembinaan wali kelas yang sangat relevan untuk membangun kesadaran cara berpikir siswa sebelum memulai rutinitas belajar.

Pada dimensi intelektual dapat dilakukan dengan menyulap agenda Literasi Senin Siaga menjadi ruang diskusi bertajuk “Literasi Etika AI dan Kesehatan Mental”. Di sini, siswa tidak lagi sekadar membaca buku bacaan, tetapi dibekali sudut pandang baru untuk memahami batas kemampuan teknologi, mengenali bias sistem, dan sadar bahwa respons dari chatbot hanyalah empati tiruan (simulated empathy) yang tidak punya kesadaran moral (Turkle, 2015).

Langkah ini kemudian diperkuat melalui agenda Pembinaan Wali Kelas. Melalui obrolan santai di kelas, wali kelas membimbing siswa untuk menyepakati batasan fungsi AI secara mandiri. AI hanya diposisikan sebagai asisten belajar sekunder, tetapi dilarang keras dijadikan tempat pelarian emosional yang justru membuat siswa menjauh dari realitas sosial.

Sementara itu, program “Jumat Berseri” di akhir pekan bisa menjadi momen untuk memulihkan (healing) dimensi fisik, sosial, dan spiritual siswa. Solusi ini mencoba menyatukan Sila Kesatu dan Sila Kedua ke dalam dua pilar gerakan nyata:

  1. Jumat Religi Agenda ini dikemas menjadi gerakan “Digital Detox & Spiritual Roaming”. Siswa diajak untuk mengalihkan perhatian terhadap gawai mereka selama acara berlangsung dan kembali kepada ketenangan batin sejati melalui ajaran kitab suci masing-masing.
  2. Jumat Sehat dan Jumat Bersih Kegiatan senam bersama dan gotong royong membersihkan lingkungan sekolah dimanfaatkan sebagai cara agar siswa tidak mengurung diri bersama asisten virtual mereka.

Kecerdasan buatan memang menjadi teman berpikir yang luar biasa, tetapi ia bukan pengganti bagi jiwa dan kemanusiaan kita. Membiarkan AI mengambil alih ruang curhat psikologis remaja tanpa batasan etika berisiko melahirkan generasi baru yang terisolasi secara sosial, kehilangan daya pikir kritis, dan rapuh dalam dimensi spiritual. Aktualisasi Pelajar Pancasila di era kecerdasan buatan bukanlah bentuk permusuhan terhadap teknologi. Sebaliknya, hal ini adalah upaya menyelaraskan pemanfaatan AI berdasarkan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai fondasi hubungan vertikal dengan Tuhan, serta nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab untuk menjaga hubungan horizontal antarmanusia. Dengan demikian, kehadiran teknologi diharapkan tetap dapat menjaga martabat serta hakikat manusia seutuhnya.

حَبْلٍ مِنْ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنْ النَّاسِ

Habblim minallah wa habblim minannas

Artinya: “Hubungan baik dengan Allah Swt. dan hubungan baik dengan sesama manusia.” (QS. Ali ‘Imran: 112)

DAFTAR RUJUKAN

Amann, J., Blaimmeier, S., & Vayena, E. (2023). The Ethical Limits of AI in Mental Health: ChatGPT as a Virtual Counselor. Journal of Medical Internet Research, 25, e48312.

Aithal, P. S., & Aithal, Shubhrajyotsna. (2024). The Ethics and Realities of Generative AI in Mental Health Support. International Journal of Management, Technology, and Social Sciences (IJMTS), 9(1), 112–130.

Baumeister, R. F., & Leary, M. R. (1995). The Need to Belong: Desire for Interpersonal Attachments as a Fundamental Human Motivation. Psychological Bulletin, 117(3), 497–529.

Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kemenkominfo). (2023). Surat Edaran Menteri Kominfo Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Buatan. Jakarta: Kemenkominfo.

Ministry of Health Republic of Indonesia. (2022). Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (INAMHS): Laporan Nasional Kesehatan Mental Remaja. Jakarta: Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK).

Pentina, I., Hancock, T., & Xie, T. (2023). Exploring the Psychology of Human-AI Relationships: Parasocial Interaction and Emotional Attachment with Chatbots. Computers in Human Behavior, 148, 107901.

Spitzer, M. (2023). Artificial Intelligence and Mental Health: Risks and Virtues of Digital Companionship. Frontiers in Psychiatry, 14, 1145620.

Turkle, S. (2015). Reclaiming Conversation: The Power of Talk in a Digital Age. New York: Penguin Press.


메타데이터
post_id
fabe3e3f4ee5
slug
menjaga-hakikat-manusia-di-tengah-kecerdasan-buatan-berlandaskan-nilai-ketuhanan-dan-kemanusiaan-fabe3e3f4ee5
url
https://medium.com/@ozanakbar/menjaga-hakikat-manusia-di-tengah-kecerdasan-buatan-berlandaskan-nilai-ketuhanan-dan-kemanusiaan-fabe3e3f4ee5
canonical_url
https://medium.com/@ozanakbar/menjaga-hakikat-manusia-di-tengah-kecerdasan-buatan-berlandaskan-nilai-ketuhanan-dan-kemanusiaan-fabe3e3f4ee5
author_url
https://medium.com/@ozanakbar
status
ok
fetched_at
2026-07-13 12:09:53