← Back to list

Love Hate Relationship

Marsha Adani · 2024-05-12 14:26 · 0 claps · 4.1 min read
#karen-horney #parents #love-hate-relationship #family #psychology
Open on Medium ↗
Wiki topics: PSY · Psychology 💑 · Relationships 👨‍👩‍👧 · Family & Parenting

Love Hate Relationship

Sebelum akhirnya selesai S1 dengan judul skripsi Resiliensi Perempuan Sandwich Generation (the biggest gratitude untuk alm. Ibu Budi Handayani, yang selalu mudah untuk dijangkau dan memberikan semua kalimat-kalimat baiknya), hampir satu semester gua berusaha berjuang (serius, deh) dengan tema love hate relationship antara anak orang tua. Premis utamanya adalah anak bisa saja merasakan kebencian yang hebat pada orang tuanya, meskipun tidak menyangkal bahwa ia pun mencintai dengan sama hebatnya. Teori pertama yang mendasari premis ini adalah teori lawas milik Horney (dibaca “horn-eye”) tentang basic hostility dan basic anxiety (Feist & Feist, 2017).

Sebelum kita lanjut pembahasan tentang teori ini, gua perlu menegaskan bahwa sepetik teori yang akan gua paparkan di sini tidak akan memvalidasi apapun, meskipun rasanya menggambarkan hubungan lo dan orang tua, oke?

Sependek yang gua pahami, Horney merumuskan bahwa seseorang dapat mengalami perkembangan yang sehat jika terpenuhi dua aspek; safety dan satisfaction. Dan saat kedua hal ini gagal dipenuhi oleh orang tua, anak bisa saja mengembangkan basic hostility atau kebencian pada orang tuanya, tetapi seringkali tidak disadari dan direpresi. Represi ini gua kemudian kaitkan dengan norma filial piety, yaitu sebuah keharusan untuk menghormati dan berbakti pada orang tua dalam budaya di negara-negara Asia. Secara logika, tentu saja anak (terutama dalam budaya Asia) tidak akan (bisa) mengekspresikan kebencian ini di saat sejak kecil yang diajarkan adalah bagaimana seorang anak hadir untuk berbakti pada orang tua. Basic hostility kemudian bisa menjadi basic anxiety, yang didefinisikan sebuah perasaan terisolasi dan tidak berdaya di dunia.

Horney pada dasarnya adalah salah satu tokoh aliran psikodinamika, salah satu murid Freud yang akhirnya punya pandangan berbeda. Satu hal yang cukup lazim di kalangan anak psikologi (S1 terutama), gua rasa adalah kita cenderung menghindari menggunakan teori-teori psikodinamika sebagai teori utama di skripsi. Pertama, teori-teori psikodinamika dari nama-nama besar seperti Sigmund Freud, Carl Jung, Alfred Adler, dan Karen Horney tentu sudah sangat lama (mereka adalah pioneer dari aliran itu sendiri). Kedua, segala hal yang terbentuk di alam bawah sadar, tentu tidak bisa dibuktikan dengan mudah dan sembarangan. Gua rasa, mahasiswa S1 (kecuali mungkin yang pintar dan idealis luar biasa), atau paling tidak gua saat itu, tidak punya kapabilitas untuk mengungkap hal itu.

Alasan selanjutnya yang membuat tema menarik ini gugur adalah sedikitnya literatur yang bisa gua temukan untuk mendukung premis utama gua. Gua saat itu menggunakan variabel ambivalent attitude, dan sebenarnya variabel ini cukup banyak diteliti terkait dengan kelompok sosial tertentu, isu-isu kontroversial, dan dalam konteks perilaku konsumen. Ambivalent attitude juga punya alat ukur, menggunakan skala semantic differential yang sebenarnya adalah skala umum yang biasa digunakan untuk mengukur sikap atau attitude. Sisi baiknya, alat ukur ini gratis dan sangat mudah diakses untuk digunakan. Sisi buruknya, ambivalent attitude terhadap orang tua hampir tidak pernah diteliti, gua hanya menemukan satu literatur Jepang (atau mungkin Amerika, lupa) yang publikasi tahun 2001. Sisi buruknya lagi, penelitian itu tuanya hampir seumur gua, jelas bukan literatur ideal untuk dijadikan latar belakang, sendirian pula.

Mungkin beberapa berpikir, loh ya ini kesempatan bagus buat mengembangkan ilmu pengetahuan atau itu kan keliatan research gap-nya, malah bisa dipake untuk latar belakang, sumpah, i tried. Gua berpikir berulang-ulang selama hampir satu semester bagaimana caranya berangkat dari optimisme itu. It was nothing simple, dan percaya deh, gua nggak seidealis itu untuk hal-hal seperti ini. Buat gua, penelitian yang bisa mengantarkan gua untuk wisuda Agustus tanpa harus membebankan UKT dua digit itu ke nyokap bokap lebih lama lagi adalah prioritas utama.

Jadi, kenapa kok tiba-tiba gua bahas tentang tema yang sudah hampir setahun gua kubur ini?

Gua rasa, kita akan selalu terdiri dari ketidakpuasan terhadap orang tua, kebencian malah kalau mau versi ekstrimnya. Itu adalah alasan utama gua tertarik dengan teori Horney, yang jadi bahan melamun utamanya di tahun 2020. I was too, merasa sangat relate dengan konsep basic hostility. Kadang juga, kita bisa berempati sebagai sesama manusia, tetapi sebagai anak, kita marah karena diperlakukan tidak adil. Ada sebuah pandangan untuk cut them some slack, because it’s their first time to be alive, tapi kita juga. It’s our first time to be alive, too.

Dalam kasus gua, lebih mudah untuk berempati, karena gua beruntung punya orang tua yang tingkahnya mudah dilogika meskipun komunikasi mereka pun tidak bagus-bagus amat. Meskipun keduanya punya temperamen yang jelek, gua dibuat paham bahwa they are more than dua figur otoriter yang ribut kalau gua pulang malam. Mereka bukan orang tua yang galak, mereka meninggikan suara (seringkali banting pintu juga) karena mereka memang selalu punya kecenderungan untuk melampiaskan emosinya ke orang sekitar.

Mereka sama, punya hari-hari dimana kepala rasanya mau meledak dan sakit hati yang luar biasa sampai rasanya mau mati. Gua beruntung, karena mereka selalu bangun besok paginya, dengan pikiran bahwa anak-anak yang mereka lahirkan adalah tanggung jawab mereka seumur hidup. Mereka selalu berdiri setegak-tegaknya meskipun pijakannya pun tidak pasti, dan hanya menunduk di hadapan Tuhan.

Gua tidak menyangkal bahwa beberapa orang tua di luar sana, beberapa mungkin milik teman-teman gua, justru adalah sebab pertama patah hati yang terus-terusan. Gua tidak akan bicara tentang detailnya, atau penghakiman yang tidak perlu , atau beberapa teori tanpa dasar yang hadir di kepala tentang bagaimana beberapa orang tua sebenarnya belum selesai dengan apa-apa yang terjadi di masa lalu dan dirinya sendiri (but again, who has?), sehingga kemudian sakit hati dan ketidakpuasannya terhadap hidup diproyeksikan dalam perilakunya ke kita.

For some reason, gua ingin membenarkan bahwa it’s okay to feel rage on our parents, karena kita pun punya rasa, karena mereka adalah representasi dunia pertama yang kita kenal. Sakit ya sakit, marah ya marah. Tidak bisa benci karena di saat yang sama mereka yang buat kita tetap hidup sampai hari ini, atau karena norma sosial, ya begitulah adanya. Kita memang suka terjebak dalam ambivalensi, yang membuat kita pun menumbuhkan ambivalensi. And it’s okay. And it’s okay too to think beyond yourself, berusaha memahami bahwa ini pun adalah pertama kalinya mereka ada di bumi, bahwa mereka sama tersesatnya dengan kita (much easier to find peace this way, at least for me).

It’s okay if some days we really want to run away, leave the house and book a flight to another side of world and never come back. Nggak masalah juga kalau kadang kita berharap mereka ada selamanya di sini. No perfect family exist, tidak ada cemara di dunia ini. And it’s just the world with its imperfectness.

It doesn’t define us. Beberapa ambivalensi gua rasa tidak perlu diurai, cukup diterima dan dilogika kalau memang mau.

Untuk semua yang patah hati pertama kali karena orang tua sendiri, semoga cepat ketemu damainya ya.


메타데이터
post_id
fad2dce5adf7
slug
love-hate-relationship-fad2dce5adf7
url
https://medium.com/@adani.marshaputri/love-hate-relationship-fad2dce5adf7
canonical_url
https://medium.com/@adani.marshaputri/love-hate-relationship-fad2dce5adf7
author_url
https://medium.com/@adani.marshaputri
status
ok
fetched_at
2026-07-11 20:10:18