Femisida di Meksiko : Impunitas atau Tutup Mata?
Penulis: Clara Kayana Zalika
Femisida di Meksiko : Impunitas atau Tutup Mata?
Penulis: Clara Kayana Zalika

Mothers of victims, survivors of femicide denounce institutional violence in Mexico
Sejak tahun 2015, Jaksa di Meksiko telah membuka 1,7 juta penyelidikan kriminal atas pemukulan, luka bakar, pencekikan, cedera dengan pisau atau senjata api terhadap perempuan. Dengan kata lain, kegagalan perlindungan terhadap perempuan sebenarnya telah diakui secara hukum di Meksiko. Namun, dari jumlah tersebut hanya 781 yang dimulai sebagai percobaan pembunuhan terhadap perempuan. Sisanya dikategorikan sebagai cedera jahat atau kekerasan dalam rumah tangga, suatu kejahatan yang memiliki sanksi lebih rendah (OHCHR, 2023). Hal ini secara gamblang menunjukkan bagaimana Meksiko memang sudah memiliki kerangka hukum formal, tetapi realita penegakan hukum femisida dinilai sangat kurang.
Apa itu Femisida? Femisida adalah istilah yang merujuk pada pembunuhan perempuan yang dilakukan secara langsung atau tidak langsung karena jenis kelamin mereka. Aksi ini dianggap sebagai bentuk kejahatan kebencian berbasis gender, di mana pembunuhan tersebut didorong oleh faktor-faktor seperti superioritas, dominasi, hegemoni, agresi, dan misogini terhadap perempuan. Hak perempuan penting untuk dilindungi karena perempuan adalah manusia, yang berarti hak perempuan adalah hak asasi manusia. Jika keamanan manusia didefinisikan secara luas sebagai “kebebasan dari rasa takut dan kebebasan dari keinginan”, keamanan dari ancaman kronis seperti kelaparan, penyakit, dan penindasan serta perlindungan dari gangguan mendadak dan berbahaya dalam pola kehidupan sehari-hari, baik di rumah, dalam pekerjaan, maupun dalam masyarakat (UNDP, 1994: 23), maka keamanan perempuan juga dapat didefinisikan sebagai hal yang serupa. Perempuan berhak untuk tidak hidup dalam ketakutan akan diserang lagi oleh pelaku yang sama, yang masih bebas atau sedang menunggu pengadilan.
Momok Femisida di Meksiko Pada tahun 2015, jumlah korban yang tercatat mengalami femisida di Meksiko sebanyak 413 orang. Di tahun 2016 naik menjadi 608, kemudian di 2017 menjadi 742, dan terus naik hingga mencapai puncak di angka 981 korban di tahun 2021. Di tahun-tahun selanjutnya kasus femisida yang terlaporkan mulai mengalami penurunan hingga 797 di tahun 2024 (Statista, 2025). Meskipun sempat ada penurunan, jumlah femisida yang berhasil dilaporkan tetap tinggi setiap tahun, belum lagi masih ada banyak korban yang tidak berani melapor karena takut akan stigmatisasi, atau untuk menghindari proses hukum yang mahal dan rumit yang dapat berlangsung selama bertahun-tahun tanpa adanya hukuman bagi pelaku. Beberapa faktor yang menyebabkan sulitnya penanganan femisida di Meksiko antara lain tingginya tingkat impunitas, budaya machismo yang mengakar, dan sistem dukungan yang tidak memadai bagi korban.
Sudah Adakah Langkah dari Pemerintah? Semenjak dikeluarkannya United Nations Security Council Resolution (UNSCR) Nomor 1325 yang menekankan pentingnya partisipasi perempuan dalam upaya perdamaian dan keamanan, serta perlunya perlindungan terhadap perempuan dalam situasi konflik menjadikan ini sebagai bagian dari agenda “Women, Peace and Security” (WPS) yang mencakup empat pilar utama: pencegahan, partisipasi, perlindungan, dan pemulihan. Kerangka hukum Meksiko mengenai femisida sebenarnya telah dibentuk oleh keputusan-keputusan penting. Meksiko telah membentuk Undang-Undang Umum federal tentang Akses Perempuan terhadap Kehidupan Bebas dari Kekerasan (2007). Pengadilan Antar-Amerika: González dan Lainnya v Meksiko (“Campo Algodonero,” 2009) menetapkan doktrin uji tuntas untuk menanggulangi dan menyelidiki kekerasan terhadap perempuan. Mahkamah Agung (SCJN), Mariana Lima Buendía (2015) juga telah mewajibkan penyelidikan perspektif gender terhadap kematian perempuan dan menyatakan bahwa klasifikasi awal kematian seorang perempuan sebagai “bunuh diri” memerlukan penyelidikan yang ketat sebelum diterima. Selain itu, Karla Pontigo (2018) telah menegaskan dan memperluas kewajiban perspektif gender di Meksiko. Upaya hukumnya sebenarnya sudah ada, tetapi impunitas hukumnya juga ada.
Impunitas sudah seperti makanan pokok yang mudah ditemukan dalam penanganan kasus femisida di Meksiko. Pemerintah dinilai masih kurang serius dalam menangani isu femisida. Terlalu banyak kasus yang tidak benar-benar diselidiki, kegagalan investigasi, perilaku menyalahkan korban sebagai “playing victims”, serta korupsi terang-terangan menyebabkan angka impunitas tinggi hingga berada di angka 95% (Human Rights Experts, 2026). Isu femisida di Meksiko memerlukan perhatian serius dan tindakan yang lebih efektif dari pemerintah, serta perubahan budaya dan sosial untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan.
Fakta bahwa isu femisida telah meningkat sejak tahun 2015 dan terus ada hingga saat ini telah secara jelas menggambarkan bagaimana femisida di Meksiko sebenarnya memerlukan perhatian sebagai prioritas sosial. Perangkat hukum yang diciptakan seharusnya tidak hanya dijadikan sebagai kerangka formalitas karena di setiap putusannya terhadap nyawa perempuan yang terancam, nyawa seorang manusia. Impunitas yang ternormalisasi tidak menutup luka yang ada. Kebebasanmu saat ini belum tentu ada di esok hari.
메타데이터
- post_id
- fb024f234aba
- slug
- femisida-di-meksiko-impunitas-atau-tutup-mata-fb024f234aba
- url
- https://medium.com/@diplomacystudies-upnvy/femisida-di-meksiko-impunitas-atau-tutup-mata-fb024f234aba
- canonical_url
- https://medium.com/@diplomacystudies-upnvy/femisida-di-meksiko-impunitas-atau-tutup-mata-fb024f234aba
- author_url
- https://medium.com/@diplomacystudies-upnvy
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-09-04 04:43:22