Negara Membasuh Tangan dengan Darah Rakyat
Negara ini berdiri di atas darah dan air mata warganya sendiri, negara ini menukar darah rakyat dengan pesta kekuasaan. Aparat yang…
Negara Membasuh Tangan dengan Darah Rakyat

Negara ini berdiri di atas darah dan air mata warganya sendiri, negara ini menukar darah rakyat dengan pesta kekuasaan. Aparat yang seharusnya melindungi, kini menjelma menjadi palu besi yang memukul siapa pun yang berani bersuara. Tragedi Affan Kurniawan adalah bukti paling telanjang: seorang pekerja kecil, yang menjadi bagian memperjuangkan keadilan, dipaksa membayar dengan nyawanya. Ini bukan sekadar peristiwa, ini adalah sebuah pola kekerasan yang dilembagakan. Setiap kali rakyat bersuara, negara merespons dengan gas; pentungan; dan peluru. Setiap kali rakyat menagih janji, negara menjawab dengan represi.
Di balik pagar tinggi, Dewan Penindas Rakyat duduk nyaman di kursi empuknya. Mereka tidak lagi menjadi wadah suara rakyat, melainkan mesin pemutus leher kepercayaan publik. Mereka mengatasnamakan mandat, tetapi kenyataannya yang mereka jaga hanyalah privilege. Mereka bicara tentang etika, tetapi tingkahnya memalukan dan menohok nurani bangsa. Mereka tahu rakyat sedang marah, tetapi memilih menutup telinga dengan bantal berisi uang dan tunjangan. Mereka adalah simbol penindasan sekaligus pengkhianatan terhadap arti “wakil rakyat” itu sendiri.
Rakyat sudah menuliskan daftar luka yang jelas: hentikan pemborosan, buka tabir gelap anggaran, usut pengkhianat mandat, bebaskan jalanan dari segala bentuk tindakan represif, dan kembalikan negara pada akal sehat. Rakyat tidak meminta istana, hanya keadilan. Rakyat tidak menuntut tahta, hanya perlakuan manusiawi. Tetapi jawaban yang rakyat terima selalu sama: pembungkaman, intimidasi, dan kekerasan. Tuntutan yang lahir dari nurani dianggap subversif, padahal itu adalah denyut kehidupan demokrasi. Inilah wajah negara yang lebih takut pada warganya sendiri ketimbang pada kebusukan elite.
Maka jangan heran apabila kepercayaan rakyat telah hancur. Bagaimana mungkin rakyat percaya pada aparat yang menembak, memukul, dan membungkam? Bagaimana mungkin rakyat percaya pada dewan yang hanya tahu menindas dan memenggal suara rakyat demi kelanggengan privilege? Mobil rantis itu menjelma menjadi mesin pembunuh sehingga Affan harus meregang nyawa. Jika kekuasaan terus dipelihara dengan represi dan kebisuan, maka yang akan runtuh bukan hanya kursi pejabat, melainkan fondasi negara itu sendiri. Ketika rakyat bergerak, sejarah selalu menunjukkan: tidak ada pentungan yang bisa menghentikan gelombang perubahan.

Sumber: Geotimes.id
Membiru di Tanah yang Pilu
Di jalanan yang retak, jatuhlah tubuh-tubuh yang tak bersalah. Mereka hanya ingin keadilan, namun dibalas dengan gas, pentungan, dan peluru.
Aparat yang lahir untuk menjaga, menjelma mesin pembungkam, memalu suara, merampas kebebasan
Sementara di balik pagar tinggi, mereka yang disebut wakil menikmati kursi empuknya, menutup telinga dengan uang, dan mengkhianati janji yang dulu diteriakkan.
Rakyat tak menagih singgasana, tak meminta mahkota; yang dipinta hanya keterbukaan, keadilan, dan perlakuan manusiawi. Namun jawaban yang datang selalu sama: represi, ancaman, kekerasan.
Wahai penguasa, sadarilah, kesabaran rakyat ada batasnya. Darah yang tumpah di tanah ini adalah peringatan paling lantang. Jika kekuasaan terus dijaga dengan luka, maka yang runtuh bukan rakyat, melainkan negara yang berdiri di atas pengkhianatan.
Dan ketika rakyat bergerak, tak ada pagar besi, tak ada peluru, tak ada pentungan, yang sanggup menghentikan gelombang perubahan.
메타데이터
- post_id
- fb080feb51f9
- slug
- negara-membasuh-tangan-dengan-darah-rakyat-fb080feb51f9
- url
- https://medium.com/@sosialpolitikbemfsm/negara-membasuh-tangan-dengan-darah-rakyat-fb080feb51f9
- canonical_url
- https://medium.com/@sosialpolitikbemfsm/negara-membasuh-tangan-dengan-darah-rakyat-fb080feb51f9
- author_url
- https://medium.com/@sosialpolitikbemfsm
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-06 21:07:18