Candaan Mesum
Cara malas untuk memancing tawa
Candaan Mesum
Cara malas untuk memancing tawa
Photo by Lucas Dudek on Unsplash
Saya kadang kikuk sendiri saat ada di tengah lingkungan yang candaannya mesum. Kalau ikut ketawa nanti malah mewajarkan omongan mesum, tidak ikut ketawa nanti malah dianggap enggak asyik, kaku, atau sok alim.
Kadang saya ikut ketawa — saya tidak memungkiri hal ini — ketika candaannya saya pikir di taraf wajar. Tapi kadang pula saya menahan diri dari tawa, paling banter cuma senyum kecut. Saat saya pikir cadaannya sudah keterlaluan, tersenyum saja sudah tidak sanggup. Yang ada malah dongkol dalam hati.
Candaan mesum begini kadang dilontarkan dalam sebuah rapat. Kadang bisa sevulgar itu. Saya resah. Candaan tipe rendah begitu kerap dianggap wajar.
Saya sadar, candaan dalam lingkungan kerja berfungsi sebagai mekanisme koping — menurunkan tensi darah yang meningkat akibat beban kerja yang kadang berat secara fisik dan psikologis. Apalagi, dosen dan guru adalah pekerjaan yang dikenal sebagai profesi yang underpaid. Jadi kami memang perlu ketawa dan bercanda saat di kantor.
Keresahan itu muncul di benak saya kala hal-hal yang tidak pantas dijadikan candaan. Misalnya saat perempuan memegang mikrofon yang dibecandain seperti memegang anunya laki-laki. Menurut saya, ini candaan yang keterlaluan. Bagi pelakunya, ini adalah cara memancing tawa khalayak yang ampuh. Untuk melepas penat psikologis, kenapa kita harus menabrak kepantasan? Begitu pikir saya.
Orang punya batasan berbeda-beda soal kepantasan. Ini sudah jelas. Bagi sebagian orang, candaan cabul dan mesum seperti itu masih tergolong dalam batas wajar. Bagi sebagian yang lain, kemesuman dan kecabulan adalah tabu yang tidak sepantasnya diucapkan secara vulgar.
Saya sendiri merasa berada di posisi kedua. Menyatakan kecabulan secara vulgar menimbulkan rasa risih di hati saya. Saat berada di tempat nongkrong yang candaannya mesum, kemudian saya ikut menyumbang candaan yang sama, kadang terbersit rasa sesal di hati saya. Buat apa sih saya ikut-ikutan menyumbang candaan seperti itu?
Komitmen saya adalah tidak mewajarkan kecabulan dengan topeng candaan. Makanya saya kadang memilih memantapkan hati untuk tidak turut ketawa, meski efeknya mungkin akan dicap kurang asyik. Peduli setan, pikir saya. Rasanya lebih mending tidak asyik ketimbang mewajarkan kemesuman.
Memancing tawa dengan kecabulan adalah cara malas. Tidak ada kecerdasan yang dicerminkannya. Sialnya, candaan cabul adalah salah satu jenis candaan yang paling berhasil. Ini diakui oleh para pelawak tunggal. Candaan cabul hampir selalu pasti pecah. Tapi candaan semacam ini adalah jenis candaan yang mencerminkan kemalasan untuk menulis jokes dengan baik. Untuk konsumsi umum, para pelawak tunggal itu memilih jalan sulit dengan menghindari lawakan yang kurang pantas. Sementara di lingkungan mereka sendiri, bisa jadi lawakan mereka sangat barbar.
Demikian pula dalam kehidupan sehari-hari. Kita bisa melepas penat dan beban psikologis dengan candaan yang labih sesuai kepantasan. Mengambil jalan candaan mesum untuk melepas penat adalah pelarian yang kurang baik. Ini berlaku di lingkungan yang terbuka ya. Kalau di lingkungan yang tertutup dan hanya berisi mereka yang ‘menggemari candaan mesum’, itu terserah mereka mau bercanda seperti apapun.[]
메타데이터
- post_id
- fb0bd591f17e
- slug
- candaan-mesum-fb0bd591f17e
- url
- https://medium.com/@hilalalify/candaan-mesum-fb0bd591f17e
- canonical_url
- https://medium.com/@hilalalify/candaan-mesum-fb0bd591f17e
- author_url
- https://medium.com/@hilalalify
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 03:39:16