TANGKUBAN ROKET
~oOo~
TANGKUBAN ROKET
~oOo~
“Men in rage strike those that wish them best.” ― **William Shakespeare, [Othello](https://www.goodreads.com/work/quotes/995103)**
Sebutlah sebuah negeri yang menyandang nama Shan Kruyan. Semenjak jaman leluhur telah digadang-gadang bakal menjadi negeri adigdaya. Sebuah lontar berisikan ramalan leluhur peluhur negeri, dikatakan negeri itu akan dibawa ke era kemajuan pesat di tangan seorang anak yang lahir dari darah serigala.
Banyak yang menentang ramalan tersebut. Mana ada manusia lahir dari mani serigala? Ah mungkin orang-orang itu lupa, di dunia ini mana ada yang mustahil.
Dalam kumpulan kalangan misterius yang tak menampakkan diri ke permukaan, ada rumor yang jadi buah bibir. Ramalan itu belumlah lengkap, ada lontar terakhir yang terobek kemudian disembunyikan dari sejarah. Mereka percaya, anak serigala itu memang bakal memajukan negeri, namun pula akan menghancurkannya.
Seperti yang sudah-sudah, mitos hanyalah mitos, seiring waktu akan terlupa, walau segelintir tetap percaya.
Mari kita tengok negeri Shan Kruyan itu. Sebuah negeri yang dikeliling gunung-gunung. Hijau makmur berudara sejuk sedap dihirup. Di pelosok desa di kaki gunung, hiduplah seorang putri punggawa desa yang amat jelita.
Namanya Shumbi. Kejelitaannya itu tidak lantas membuatnya kemayu dan mendekam saja di rumah sambil berhias. Tidak. Shumbi adalah putri petualang. Sejak kecil sudah diajak ayahnya menjelajah hutan berburu kijang.
Akibat tempaan ayahnya yang tak mengikuti aturan kolot leluhur bahwa sejatinya wanita harus diam di rumah, Shumbi tumbuh menjadi gadis tangguh. Dia jago panah, jago melempar pisau, jago mengayunkan kapak, jago menguliti binatang dan jago-jago lainnya.
Ibunya meski ngeri-ngeri khawatir, senantiasa ditenangkan oleh sang ayah. “Dengan keahlian yang ia kuasai, khawatir mengenai keselamatannya adalah tindakan yang tak perlu. Shumbi dapat menjaga diri.”
Kekhawatiran si ibu memuncak ketika sebuah rumor ganas menerkam desa. Dikatakan ada serigala jadi-jadian yang gentayangan di hutan. Di tiap malam purnama senantiasa menampakkan diri dan menyerang warga, terutama hewan-hewan ternak. Hal ini amat meresahkan.
Sebagai punggawa desa, ayah Shumbi bersama pengikutnya menyatroni hutan tersebut. Ibunya menjelma tegas tak terbantahkan, Shumbi tak boleh ikut. Meski keselamatan Shumbi terjamin, namun nasib yang berbeda menimpa ayah Shumbi.
Tiga hari tiga malam mereka tidak kembali. Pada purnama berikutnya, warga geger. Di mulut hutan, tergantung kepala ayah Shumbi dan lima pengikutnya.
Shumbi baru pertama kali itu jatuh terpuruk ditimpa kesedihan kehilangan ayah tercinta. Shumbi menyalahkan ibunda. Maka ia pergi dari rumah.
Teror kian meningkat. Kini giliran para gadis yang kerap hilang. Shumbi gelisah sendiri, dengan tekad bulat ia putuskan untuk menuntaskan teror ini. Ia harus mengatasi serigala jadi-jadian ini. Maka tengah malam bulan purnama, ia berjalan menembus kelamnya hutan seorang diri.
“Kau yang menghuni hutan kelam, siapa kau dan apa maumu? Jangan teruskan terormu terhadap desaku. Cukupkan. Katakanlah padaku apa maumu dan sebisaku akan menebusnya.” Seru Shumbi di dalam hutan.
Shumbi terus mengatakan itu berkali-kali sampai terdengar jawaban dari balik kegelapan.
“Aku haus. Aku lapar. Jiwaku separuh. Minta dipenuhi.” Jawab sebuah suara yang menggeram, menggetar di tengah malam.
“Apa maksudnya itu?”
“Aku adalah titipan leluhur atas negeri ini. Tugasku untuk meneruskan keturunan. Namun belum ada rahim yang cocok untuk benihku.”
Seketika Shumbi teringat bisik-bisik yang pernah ia dengar di padepokan. Tentang ramalan leluhur itu. Tentang anak serigala yang mampu menjadikan negeri Shan Kruyan unggul.
“Kau serigala yang disebut dalam legenda.” Kata Shumbi.
“Itu aku. Bersediakah kau menampung benihku?”
Shumbi mempertimbangkan, “jika aku bersedia, apa kau akan berhenti meneror desa? Sudah banyak darah kau tumpahkan di sana.”
“Tergantung apakah kau memiliki rahim yang sanggup menampung benihku atau tidak.”
Pilihan ini sulit. Peluangnya separuh banding separuh. Shumbi menilik ke dalam diri, di dasar dirinya itu ia meyakini ia adalah termasuk kalangan unggul. Darahnya darah punggawa. “Aku bersedia.”
“Kau mengorbankan dirimu demi keselamatan warga desa. Sungguh tindakan mulia. Aku meyakini kau mampu menampung benihku. Kita bisa berbahagia memiliki anak bersama.”
Apa yang diucap lelaki serigala ini bikin geleng kepala. Tapi demi keselamatan warga, Shumbi tak masalah.
Maka tengah malam buta itu Shumbi mengangkang menyerahkan rahimnya kepada lelaki serigala. Lucu, sekali berbuat seperti ini dengan lawan jenis, lawan jenisnya adalah dari golongan serigala. Tak mengapa. Demi keselamatan warga. Shumbi berdoa dalam hati supaya rahimnya cocok dan anaknya nanti menjadi pewujud ramalan.
Setelah melakukan itu si lelaki serigala berubah wujud menjadi lelaki biasa. Di luar dugaan Shumbi, dia tampan dan ramah. Di dalam hutan Shumbi diajak tinggal di rumah pohon. Di sana lelaki ini mengungkapkan banyak hal, termasuk tabu-tabu yang tak boleh dilanggar.
“Jika anak kita lahir, aku akan pergi sementara. Dia tidak boleh tahu tentang jati diri ayahnya sampai usianya cukup. Karena itu akan memunculkan kekuatan hebat yang menggemparkan dunia.”
“Tapi apakah aku akan tetap bertemu denganmu?”
“Tentu, aku akan senantiasa mengunjungimu. Namun tidak pada malam bulan purnama.”
“Baiklah. Berjanjilah kau tidak membuat teror di tempat lain selama kau pergi.”
“Tidak akan. Keinginanku sudah terkabul. Rahimmu adalah wadah yang kuat untuk menampung benihku.”
Singkat cerita. Shumbi mengandung, selama sembilan bulan ia bertempat tinggal di hutan, ditemani lelaki serigala. Mendekati persalinan ia mau tak mau harus menuju desa. “Kini aku tak bisa sepanjang waktu menemanimu. Aku harus pergi. Suatu saat aku akan datang, membayar rindu. Namai anak kita Tangkuban.”
Bayi lelaki itu jerit tangisnya membelah malam, banyak warga desa terbangun karena itu. Banyak dari mereka pun teringat kembali ramalan leluhur. Yang disebut anak serigala itu tidaklah seperti dugaan mereka. Bayi Shumbi mungil lucu, hanya di punggungnya terdapat sejumput bulu yang menyerupai bulu serigala.
“Terberkatilah negeri Shan Kuryan. Negeri kita akan makmur.” Doa banyak orang.
Shumbi tinggal bersama dukun beranak yang membantu persalinannya. Dukun itu dengan senang hati menerima Shumbi. Kehadiran Shumbi dan bayi Tangkuban makin menyemarakkan bilik praktik si dukun. Kisah anak serigala pewujud ramalan beredar cepat.
Shumbi pun belajar aneka keahlian obat-obatan dari si dukun yang kelak ia ketahui bernama Nyinyi Gawuran, kerabat jauh penyihir putih Warugan yang melegenda. Shumbi membesarkan Tangkuban dengan penuh kasih.
Namun yang bikin hati Shumbi kadang melilit adalah pertanyaan Tangkuban tentang ayah. Anak lelakinya sudah berumur tujuh, sudah bersekolah bersama anak-anak lain. Pertanyaan tentang ayah adalah pertanyaan yang kian diutarakan. “Ibu, ayahku siapa?”
Shumbi memutar otak dan berakhir dengan jawaban. “Ayahmu adalah orang hebat. Dia sedang berkeliling dunia. Suatu saat nanti dia akan datang dan menggendongmu. Mari kita bersama-sama menantikan masa itu ya.”
Itu pun yang selalu Tangkuban katakan kepada teman-temannya.
Sejak itu Shumbi makin ketat memperhatikan tumbuh kembang Tangkuban. Ia teringat perkataan lelaki serigala itu. “Jangan sampai dia salah arah. Bisa gawat akibatnya. Dia menanggung takdir yang berat. Dia anak terpilih.”
Setiap pertanyaan Tangkuban dengan hati-hati Shumbi jawab. Sebuah pertanyaan yang mengejutkan dan mengoyak hati Shumbi Tangkuban sampaikan waktu ia menginjak umur dua belas.
“Ibu, apakah aku ini anak serigala?”
“Tangkuban, kok kamu bertanya begitu? Kamu anak ibu. Bukan anak serigala.”
Tangkuban membuka baju dan menunjukkan bulu pada punggung. “Ini seperti bulu serigala.” Kata Tangkuban sedih.
Shumbi mengusap punggung Tangkuban. “Ini adalah tanda lahir, nak. Bukan berarti kamu anak serigala. Kamu anak ibu.”
Tak pernah muncul lagi pertanyaan seperti itu selama bertahun-tahun ke depan.
Sampai suatu malam yang mengawali perwujudan ramalan leluhur, termasuk ramalan lontar terakhir yang robek itu.
Shumbi sudah membangun rumah gedek sendiri tak jauh dari rumah dukun nyi Gawuran. Suatu malam pintu diketuk keras-keras. Shumbi segera membukakan. Betapa terkejutnya ia mendapati lelaki serigala penanam benih berada di depan pintunya dengan kondisi terluka.
Secepat itu juga, Tangkuban keluar kamar dan menerjang lelaki serigala. “Serigala jadi-jadian! Mau apa kau sama ibuku!”
Shumbi tak kuasa menghadang Tangkuban. Tangkuban menghajar lelaki serigala habis-habisan. Terdengar rintih pelan seperti anjing habis dilindas kereta.
“Tangkuban hentikan!” jerit Shumbi.
“Tidak. Ini siluman serigala. Harus ditumpas!” Tangkuban yang berumur lima belas sudah sanggup memainkan golok. Ia membacok lelaki serigala itu dengan buas.
“Tangkuban hentikan!” jerit Shumbi.
Tangkuban seperti tidak dengar. Ia sudah dikuasai setan. Tangannya mengayunkan golok dengan kekuatan yang mengerikan. Dihunjamkannya golok itu ke jantung lelaki serigala yang tak sempat melawan.
“Tangkuban hentikan! Itu ayahmu!” jeritan Shumbi bersahutan dengan gelegar petir yang tiba-tiba muncul, padahal langit sedang cerah.
Tangkuban berhenti seketika. Golok jatuh dari tangannya. Syok mendengarkan pernyataan ibunya sendiri. Shumbi mendorong Tangkuban dan memangku tubuh lelaki serigala yang penuh darah. Sesenggukan Shumbi memohon agar lelaki serigala tidak meninggal. “Maafkan aku sudah melanggar tabumu.”
Tangkuban sendiri menjatuhkan diri pada lutut. “Ibu, jadi benar aku ini anak serigala?”
Pertama Shumbi tidak menggubris.
“Ibu, jawab pertanyaanku.”
“Ini ayahmu. Ayahmu adalah manusia serigala. Ke mana ajaranku tentang welas asih kepada sesama makhluk hidup?” suara Shumbi meninggi.
“Kata orang siluman serigala suka membunuh.”
“Peduli setan sama kata orang! Kau sudah membunuh! Ayahmu sendiri kau bunuh!” Shumbi mengambil golok yang tergeletak. “Lelaki yang kucintai. Kau bunuh!”
Gelegar petir di malam purnama mengiringi lemparan jitu golok ke dada Tangkuban.
Yang terjadi berikutnya samar-samar. Karena kedua belah pihak sama-sama tak mengingat kejadian itu. Ada ledakan cahaya di gubuk yang menyebabkan gubuk tersebut hancur berkeping-keping. Jasad manusia serigala terbakar habis dan Shumbi sendiri tak sadarkan diri, terpental jauh sekali. Mengenai Tangkuban, tidak ada jejaknya di gubuk itu. Hanya golok berdarah yang menancap di tanah dan tak ada siapa pun yang mampu mencabutnya. Sampai akhirnya dijadikan prasasti.
Ke mana perginya Tangkuban?
Ke ibu kota Shan Kruyan jawabnya.
Segala ingatannya hilang digantikan kemampuan-kemampuan ajaib. Tangkuban merintis kehidupan baru dengan memanfaatkan kemampuan yang setiap hari semakin banyak ia sadari dan kuasai. Kemampuan pertama yang ia miliki adalah “bujukan”. Ia mampu menyuruh orang melakukan apa yang dia maui.
Segala bujukan yang ia lontarkan kepada setiap orang yang ia temui menjadikan hidupnya bergerak mulus. Berharta melimpah. Semua pemberian dari orang-orang yang di”bujuk”nya. Rumah besar bagai istana, didapat secara cuma-cuma.
Lalu ia pun mampu berpindah tempat sekejap. Ditambah lagi kulit yang anti peluru, lalu bogem spektakuler yang mampu menghancurkan dinding. Tidak hanya itu, ia mampu berbincang dengan bangsa jin!
Posisinya melambung tinggi. Dengan mudah ia masuk ke jajaran kalangan pejabat. Bisik-bisik kepada raja jin pun ia lakukan, membasmi siapa pun yang terlihat menghalangi. Banyak kemampuan itu membuatnya mampu menekuk lutut para bos mafia. Padahal Tangkuban hanya bergerak seorang diri. Ya tentu saja, dengan kemampuan “bujuk” begitu, siapa yang dapat menghalangi?
Gerakannya bagai tanjakan. Satu per satu posisi penting kota ia rebut. Ia nikmati keistimewaan dan kemewahannya. Ia bangun kota supaya menarik simpati masyarakat. Ia perluas jangkauan sampai merangkul semua wilayah. Tanjakannya semakin tinggi dan mengantarkannya menjadi ujung tombak negeri Shan Kruyan. Tangan besi dan bujuk mautnya menekuk lutut negeri-negeri seberang. Kedaulatan negeri Shan Kruyan melesat di atas negeri-negeri lain.
Kelimpahan itu ia salurkan ke kota-kota dan desa-desa sepenjuru negeri.
Hanya satu yang belum ia punyai. Pasangan sejati. Segala kemampuan ini tidak dibarengi dengan hati yang mampu mencinta tulus. Selalu saja ada niat di balik itu. Tangkuban memiliki kehampaan yang sulit untuk diisi.
Sampai pada giliran ia berkunjung ke sebuah desa di kaki gunung. Debar-debar aneh muncul begitu saja ketika bertemu seorang perempuan jelita yang menemani nyinyi sepuh punggawi desa. Nama perempuan itu adalah Shumbi. Dia adalah kejelitaan yang beda dari jelita-jelita yang Tangkuban pernah nikmati.
Dan satu hal yang Tangkuban tahu ia tak dapat lakukan. Memaksakan cinta.
Kepada Shumbi-lah ia menjatuhkan hatinya. Ia ikuti naluri yang menggebu ganjil ini. Getar-getar membahagiakan yang membikinnya jadi lebih positif dan tidak bertangan besi lagi.
Desa itu dibangun menjadi lebih modern. Perairan menuju sawah-sawah jadi lancar. Dibangunkan sebuah pabrik yang mampu menyokong perekonomian desa. Semata-mata Tangkuban lakukan untuk merebut hati Shumbi.
Tangkuban berlama-lama di desa itu. Ia ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama Shumbi.
“Bolehkan aku meminangmu. Kepala negara butuh pendamping hidup.” Kata Tangkuban kepada Shumbi.
Shumbi sendiri kaget mendengar itu. “Tidakkah terlalu cepat? Tidakkah aku ini terlalu rendah bagi seorang presiden?”
“Tentu saja tidak. Tidak masalah bila kau hanya seorang perempuan desa. Rakyatku pasti setuju, kau adalah perempuan jelita. Rakyat suka dengan perempuan jelita sebagai ibu negara.”
Shumbi tampak ragu.
“Atau kau memiliki syarat? Demi desamu lebih maju lagi? Atau kehendak terpendammu? Sebut saja. Aku penuhi.”
Shumbi tahu segala permintaannya pasti akan mudah dikabulkan. Namun ada satu yang belum pernah ia ungkapkan kepada siapa pun dan sampai sekarang belum tercapai. “Aku ingin pergi ke bulan.”
“Nah, kubuatkan kau roket. Kita pergi ke bulan bersama-sama.”
Sampai saat syarat itu disebutkan, Shumbi masih belum ingat Tangkuban adalah anaknya sendiri, begitu sebaliknya. Mereka berdua sama-sama lupa. Tapi tunggu saja…
Sekali sambungan telepon Tangkuban meminta tim litbang antariksa membangun sebuah roket. Tidak tanggung-tanggung, Tangkuban memberi waktu hanya satu pekan.
“Satu pekan terlalu singkat, pak presiden.”
“Jangan khawatir. Saya kirim bala bantuan.” Yang dimaksud adalah bangsa jin.
Sembari menunggu satu pekan itu, Tangkuban dan Shumbi melewati waktu bersama-sama. Di pinggir danau yang telah berubah jadi taman rekreasi warga. Modern namun tidak meninggalkan kesan arif.
“Roket sehari lagi siap. Nanti sore kita akan berangkat ke ibukota. Kita pergi ke bulan.”
“Aku gugup sekali. Menjejakkan kaki ke bulan? Sungguh impian mustahil yang menjadi nyata.”
“Bersamaku tidak ada yang mustahil.”
Mereka beradu ciuman. Ciuman itu disiarkan media ke seluruh negeri. Tajuk “PRESIDEN MENEMUKAN CINTA SEJATI”
Malam hari mereka sudah menginap di istana kepresidenan. Esok pagi mereka akan meroket ke bulan. Malam ini mereka ingin menumpaskan hasrat.
Ciuman membara, kecupan di sekujur tubuh, keduanya adalah dua manusia spesimen sempurna. Gagah tampan dan molek jelita. Dan inilah yang terjadi…
Shumbi mengusap punggung Tangkuban. Terdapat bulu-bulu. Pada momen itu keduanya sudah tanpa benang sehelai pun. Kelamin sudah hampir bertemu. Lalu Shumbi menyentak dan mendorong Tangkuban jauh-jauh.
“Ada apa?”
“Aku ingat segalanya!” Shumbi histeris. Ia gelagapan memakai kembali bajunya.
“Apa maksudnya?”
“Hubungan kita terlarang! Kau anakku!”
“Tidak mungkin!”
“Anakku punya tanda bulu serigala di punggungnya dan bekas hunjaman golok di dadanya.” Shumbi menunjuk, menjauhi Tangkuban. Dia sudah bergerak menuju pintu hendak kabur.
Tangkuban meraba dadanya, benar di sana ada bekas luka. Benar juga ada bulu di punggungnya. Tapi ingatannya tak kunjung kembali. “Kau bohong!”
“Tidak aku tidak bohong. Kau anakku, Tangkuban. Aku ingat semuanya. Ya Sang Hyang Tunggal. Aku berdosa. Aku hampir bersenggama dengan anakku sendiri. Ampuni aku.” Shumbi mendobrak pintu.
Tangkuban menggunakan “bujuk”nya, “berhenti!” Shumbi pun berhenti, mematung.
Esok harinya. Tangkuban Roket akan tetap menembus langit. Tangkuban berdiri di samping tim litbang antariksa. Tangannya sudah siap di tombol peluncuran.
Bunyi-bunyi uap dan reaksi elektronik memenuhi sekitarnya. Shumbi terikat dengan baju ketat yang sulit diajak bergerak. Shumbi panik. Terdengar suara menghitung mundur. Tiga dua satu…. Shumbi merasakan getaran hebat.
Hempasan tenaga nuklir mengantarkan roket itu membumbung tinggi menanjaki udara. Lalu menukik turun menuju desa di kaki gunung.
Ledakan dahsyat melumatkan seluruh negeri. Ramalan terwujud. Terima kasih.
메타데이터
- post_id
- fb2f3d8c7cd6
- slug
- tangkuban-roket-fb2f3d8c7cd6
- url
- https://medium.com/@haditha/tangkuban-roket-fb2f3d8c7cd6
- canonical_url
- https://medium.com/@haditha/tangkuban-roket-fb2f3d8c7cd6
- author_url
- https://medium.com/@haditha
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-16 17:37:03