← Back to list

Tips & Trik menghindari pungli 99% ampuh

Oke langsung aja pada kesempatan kali ini penulis ingin berbagi unek-unek karena pernah kena pungli di salah satu samsat ketika ingin…

vero arneal octora · 2024-10-10 17:14 · 0 claps · 4.5 min read
#pungli #birokrasi #samsat
Open on Medium ↗
Wiki topics: 📋 · Product Management

Tips & Trik menghindari pungli 99% ampuh

Oke langsung aja pada kesempatan kali ini penulis ingin berbagi unek-unek karena pernah kena pungli di salah satu samsat ketika ingin mengurus penarikan berkas untuk mutasi kendaraan dari satu kota ke kota lainnya.

Jadi singkat cerita penulis sudah melengkapi dokumen-dokumen yang dibutuhkan seperti bpkb asli, stnk asli, dan fotokopi ktp (iya, kalian ga salah baca yang kita sebut ktp elektronik itu tapi masih difotokopi 😁).

Oke lanjut, jadi setelah semua dokumen lengkap, penulis langsung menyerahkan berkas ke loket A, kebetulan di loket A ini dijaga oleh ibu-ibu. Setelah semua berkas diserahkan ke ibu tersebut untuk diverifikasi, selanjutnya penulis diarahkan ke loket di sebelahnya, kita sebut saja loket B. Tapi sebelum pindah ke loket B, si ibu ini berpesan untuk mennyiapkan uang sebesar 550 ribu rupiah. Pada waktu itu saya masih positive thinking dan mengira bahwa ini adalah biaya resmi untuk pengurusan mutasi kendaraan roda dua.

Singkat cerita, penulis meng-iya-kan pesan si ibu karena pada saat itu juga kebetulan penulis memang sudah menyiapkan uang tunai dengan jumlah tersebut. Selanjutnya setelah berkas dikembalikan, penulis langsung pindah ke loket B untuk menyerahkan kembali dokumen-dokumen tadi. Di loket B ini kebetulan yang jaga bapak-bapak dan kelihatannya ramah. Setelah antri beberapa orang dan tiba giliran penulis, dengan penuh semangat penulis langsung menyerahkan dokumen tersebut ke bapak yang jaga di loket tersebut. Setelah dicek kembali oleh bapak tadi, bapak itu langsung menginfokan bahwasanya untuk penarikan berkas butuh waktu sekitar 2 bulan dan biaya 500 ribu (nah loh, padahal tadi pas sama ibu di loket A katanya bayar 550 ribu), awalnya penulis masih belum curiga dan masih positive thinking kalau biaya resminya itu memang 500 ribu, dan si ibunya yang mau pungli 50 ribunya.

Jadi setelah bapaknya bilang kalau biayanya 500 ribu, penulis langsung percaya dan menganggap kalau si bapaknya ini yang jujur karena biaya yang disebutin lebih murah 50 ribu dibandingkan yang diinfo oleh si ibu sebelumnya. Singkat cerita karena penulis percaya kalau 500 ribu itu biaya resmi, akhirnya penulis menyerahkan uang tunai 500 ribu ke bapak di loket B tadi.

Kemudian hal aneh terjadi di sini, setelah semua berkas diserahkan + uang 500 ribu tadi, penulis hanya diberikan tanda terima yang bisa digunakan untuk mengambil berkasnya kembali di 2 bulan ke depan. Setelah mengucapkan terima kasih dan balik badan alias mau otw pulang sambil melihat-lihat lagi secara lebih detail tanda terimanya, penulis baru sadar bahwa di tanda terima itu tidak ada tercantum biaya 500 ribu tadi dan dari sananya juga tidak memberikan kuitansi untuk pembayaran 500 ribu tadi. Seketika di saat itu juga penulis langsung sadar bahwa sudah terkena pungli oleh petugas di samsat tersebut. Sambil menggerutu dan sambat, penulis juga sudah malas kalau harus balik lagi ke loketnya hanya untuk konfirmasi dan meminta kuitansi dari pembayaran 500 ribu tadi. Ya intinya pada saat itu penulis hanya bisa ikhlas sambil sambat dan sambil berdoa semoga yang makan uang haram nanti akan diazab oleh Allah dengan azab yang pedih, minimal perutnya akan buncit seperti orang hamil 9 bulan.. Aamin…

Jadi begitulah pengalaman penulis ketika terkena pungli dengan nominal yang tidak sedikit yang kesalnya masih kerasa sampai saat ini. Rasa-rasanya ingin kesana lagi untuk “mencuri” uang yang sudah penulis serahkan sebelumnya. Eh tapi kalau mencuri uang curian itu hukumnya gimana ya? mungkin dari anak-anak hukum ada yang bisa menjelaskan konsep hukumnya seperti apa? 😁

Terus untuk tulisannya cuma segini aja? ya enggak dong.. tips dan triknya kan belum dijelaskan. Atau apa kita lanjut ke part 2 aja ya? hehehe..

Tapi jangan deh, langsung aja kita selesaikan di tulisan ini biar ga mencar-mencar pembahasannya.

Oke kita lanjut ya.. Jadi, setelah 2 bulan dari kejadian penulis terkena pungli 500 ribu sebelumnya, akhirnya setelah 2 bulan itu penulis kembali lagi ke b̶a̶n̶g̶s̶a̶t̶ samsat itu untuk mengmbil berkas yang sudah dijanjikan akan beres maksimal di sekitar 2 bulan.

Langsung aja ketika penulis tiba di samsat tersebut, penulis langsung menuju ke loket B untuk menyerahkan tanda terima yang sebelumnya diberikan untuk ditukarkan dengan berkas berkas yang sudah ditarik. Singkat cerita sebelum berkas tersebut diserahkan kepada penulis, bapak-bapak petugas di loket B tadi berpesan untuk mampir dulu di loket Arsip untuk proses verifikasi akhir. Baiklah, seperti biasa dengan tidak ada kecurigaan apapun dan berharap tidak ada pungli lagi setelah 500 ribu sebelumnya itu, penulispun bergegas menuju ke loket Arsip.

Di loket Arsip ini pada saat itu sedang ada antrian satu orang, dan penulispun menunggu giliran dengan sabar. Setelah akhirnya tiba giliran penulisan, dengan sat set penulis langsung menyerahkan berkas tersebut ke bapak yang menjaga di loket Arsip tadi. Sambil penulis perhatikan, bapak-bapak tersebut hanya membolak balikkan berkas-berkas yang ada tanpa ada action apapun (minimal ada stempel atau tanda tangan gitu). Terus kemudian setelah bapak-bapak tersebut selesai mengecek dokumennya dan menyerahkan kembali ke penulis, bapak tersebut dengan penuh percaya diri ngomong “biaya adminnya 10 ribu ya mas”.

Jujur aja dalam hati kembali kesal karena harapannya sudah cukup kena pungli 500 ribu, eh ternyata masih ada lagi diminta 10 ribu, ya walaupun 10 ribu nominal kecil, tapi tetap aja kesal dan sakit hati 😂.

Kemudian pada saat itu juga penulis teringat pesan dari teman kalau mengurus dokumen-dokumen seperti itu usahakan jangan bawa uang tunai dan siapkan uang digital (debit card, transfer, ataupun qris). Jadi singkat ceritanya ketika bapak tadi minta lagi uang 10 ribu itu, terjadilah percakapan sebagai berikut:

penulis: “waduh pak, mohon maaf, saya enggak bawa uang cash, boleh transfer atau qris aja ga ya?”

bapak loket arsip dengan senyuman getir: “oh yaudah enggak apa apa, bawa pulang aja langsung berkasnya”

nah loh, tau gitu dari awal pas di loket B penulis bisa nyobain trik “enggak ada uang cash”, dan minta transfer atau qris aja, secara kalau emang biayanya resmi, pasti harusnya mereka bisa siapkan nomor rekening atau qris resmi. Ataupun kalau mereka nekat menggunakan rekening atau qris pribadi atas nama petugasnya, hal ini bisa jadi bukti untuk melacak aktifitas pungli tersebut, dan sepertinya merekan paham di bagian ini.

Jadi, sampai pada intinya jika teman-teman ada keperluan pada birokrasi, usahakan jangan langsung mau jika diminta uang tunai, tapi bisa dengan coba “mancing” dulu dengan tanya apakah bisa transfer atau qris gitu, jadinya kalau memang dari sananya tidak disiapkan dan ternyata memang beneran pungli, pasti mereka akan kelabakan sendiri dan mau tidak mau mereka akan mengikhlaskan untuk tidak dibayarkan pungli-nya. Jadi begitulah pengalaman ketika penulis berhasil terlepas dari pungli 10 ribu tadi. Kebetulan untuk pungli nominal kecil ini berhasil dengan cara “tidak bawa uang cash”, tapi penulis sendiri masih belum mencoba untuk yang nominalnya lebih besar.

Semoga ke depannya birokrasi di Indonesia bisa bebas dari pungli-pungli haram ini dan kita sebagai masyarakat bisa nyaman dan aman dalam mengurus birokrasi.

Mungkin dari pembaca di sini ada yang mempunyai pengalaman serupa atau mungkin ada tips dan trik lain untuk menghindari pungli, boleh kita sharing-sharing di kolom komentar ya..

makasih semuanya..


메타데이터
post_id
fb5eea0ce23e
slug
tips-trik-menghindari-pungli-99-ampuh-fb5eea0ce23e
url
https://medium.com/@orev1897/tips-trik-menghindari-pungli-99-ampuh-fb5eea0ce23e
canonical_url
https://medium.com/@orev1897/tips-trik-menghindari-pungli-99-ampuh-fb5eea0ce23e
author_url
https://medium.com/@orev1897
status
ok
fetched_at
2026-07-22 14:06:51