Mungkin Aku Tidak Gagal Menjadi Guru
Beberapa pekan terakhir, aku sering merasa khawatir sebagai guru PAUD.
Mungkin Aku Tidak Gagal Menjadi Guru

Beberapa pekan terakhir, aku sering merasa khawatir sebagai guru PAUD.
Apakah anak-anak yang aku dampingi sudah mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan?
Apakah aku sudah mendidik dengan benar?
Pertanyaan itu semakin terasa ketika ada satu anak didikku yang beberapa kali mendapat evaluasi dari pendidik lain, terutama tentang emosinya.
Aku tahu, ia memang masih belajar mengelola emosi. Tetapi semakin sering mendengar evaluasi tentangnya, tanpa sadar aku mulai merasa bahwa evaluasi itu juga sedang ditujukan kepadaku.
Apakah aku gagal mendampinginya?
Sampai suatu hari, emosinya benar-benar memuncak.
Ia menangis. Ia tidak ingin mengikuti kegiatan dan mengatakan bahwa ia ingin melakukan kegiatan tersebut di rumah.
Aku mencoba mengajaknya berbicara.
“Tadi kamu dipanggil Kakak A, tapi kamu nggak merespons. Kenapa?”
Tidak ada jawaban.
Aku bertanya lagi.
Masih tidak ada jawaban.
Sampai akhirnya, setelah beberapa kali ditanya, ia mulai mengatakan bahwa ia sedang kesal dan belum mau mengikuti kegiatan.
Aku tidak memaksanya untuk langsung mengikuti kegiatan. Aku mengajaknya ke calming corner untuk menenangkan diri.
Kami menarik napas menggunakan lima jari, seperti yang biasa kami lakukan di kelas ketika emosi mulai terasa terlalu besar.
Setelah ia lebih tenang, aku kembali mengajaknya berbicara.
“Kamu belum bisa ikut kegiatan di kelas?”
“Iya.”
Ia masih mengatakan bahwa ia ingin melakukan kegiatan itu di rumah.
Kemudian aku bertanya,
“Sekarang kamu sedang di mana?”
“PAUD.”
“Karena kamu di PAUD, berarti kamu harus ikut aturan mana?”
Aku tidak menyangka jawabannya.
“Aturan Allah.”
Aku terdiam.
“Ini kan di PAUD, kenapa aturan Allah?”
Kemudian ia menjawab,
“Kan aku di sini belajar sama Kakak tentang Allah. Berarti aturan di sini adalah aturan Allah.”
Saat itu, air mataku menggenang.
Emosiku yang sebelumnya ikut naik, tiba-tiba luluh.
Bukan karena setelah itu ia langsung menjadi anak yang mampu mengelola emosinya dengan sempurna.
Bukan.
Ia masih belajar.
Masih akan marah. Masih akan menangis. Masih akan membutuhkan bantuan untuk memahami dan mengelola emosinya.
Tetapi hari itu aku menyadari sesuatu.
Selama ini aku terlalu fokus pada apa yang belum bisa ia lakukan.
Aku lupa bahwa mungkin ada hal-hal yang sudah tumbuh di dalam dirinya, meskipun belum selalu terlihat.
Kalimat-kalimat yang menurutku sederhana, ternyata bisa menjadi sesuatu yang ia ingat ketika sedang berada dalam keadaan sulit.
Dan mungkin, begitulah cara anak-anak belajar.
Tidak selalu langsung terlihat hasilnya.
Kadang mereka hanya menyimpan apa yang kita sampaikan, sampai suatu hari mereka mengeluarkannya kembali dengan cara yang bahkan tidak pernah kita duga.
Hari itu aku datang dengan rasa takut bahwa mungkin aku belum cukup baik menjadi guru.
Tapi seorang anak yang sedang belajar mengelola emosinya justru mengingatkanku:
Tidak semua yang kita tanam harus langsung terlihat tumbuh.
Kadang tugas kita sebagai guru hanya terus menanam, mendampingi, dan percaya.
Karena kita tidak pernah tahu, kalimat mana yang suatu hari akan tinggal paling lama di dalam diri mereka.
메타데이터
- post_id
- fb71874f65f8
- slug
- mungkin-aku-tidak-gagal-menjadi-guru-fb71874f65f8
- url
- https://medium.com/@mauliadhea10/mungkin-aku-tidak-gagal-menjadi-guru-fb71874f65f8
- canonical_url
- https://medium.com/@mauliadhea10/mungkin-aku-tidak-gagal-menjadi-guru-fb71874f65f8
- author_url
- https://medium.com/@mauliadhea10
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-10-03 14:39:02