“Kutub Qu yang Mandiri?
(9 Agustus 2018)
“Kutub Qu yang Mandiri?
(9 Agustus 2018)

Masih melanjutkan edisi tulisan yang kemaren mengenai santri-santri yang tinggal di kutub, secara realistis memang seharusnya setiap anak muda harus sudah bisa mandiri dalam arti memutus mata rantai keuangan dari setiap orang tuanya.
Nah, Kutub menanamkan itu sejak awal, sejak saya pertama datang, saya disuguhi cerita-cerita tentang bagaimana kaka-kaka dulu berjuang di Kutub, mengayuh sepeda untuk kuliah ke UIN. Kampus yang sangat diminati oleh santri kutub, mengingat uang ukt nya yang relatif sangat terjangkau.
Santri kutub mendapatkan pesan yang sangat berharga dari pengasuhnya, bahwa “Jika mau tinggal dikutub, kalian harus Mandiri”
Saya dapat cerita dari Tsabit bagaimana santri-santri di kutub banyak yang berjuang untuk bisa menerbitkan tulisan terbaiknya di media online maupun ofline. Ini pernah disampaikan juga oleh Kyai Zaenal pengasuh Kutub (alm), santri kutub disarankan agar hidup mandiri.
Maka, tidak heran jika menemui santri Kutub yang berangkat pagi setelah shalat subuh, dan mereka langsung bekerja di Pom Bensin berjualan koran, untuk sekadar menambah pemasukan.
Saya kira mental seperti ini sungguh luar biasa. Apa menarik disini adalah mereka kan penulis Cerpen, Novel atau Essai. Disaat tulisannya sendiri dimuat dihari ia berjualan. suatu kebahagian bagi mereka, dan mereka bilang ke orang-orang. Bu, koran-koran, disini ada tulisan saya terbit juga. Nyatanya ternyata koran habis. Namun, jika tema/judul berita hari ini tidak menarik, biasanya koran laku hanya sedikit bahkan pernah tidak ada yang membeli. Tapi mereka retap maju terus dan berjuang.
Intinya saya tetap terharu, atas perjuangan yang dilakukan oleh teman-teman santri Kutub.
Sungguh ini pelajaran yang istimewa bagi siapa saja. Ada pepatah yang menggugah bahwa “pelaut yang tangguh adalah tidak pernah hidup diombak air yang tenang”.
Di kutub juga kita akan menemukan orang yang spesialis per layout an, desain cover buku, Editor, bahkan hingga penerbitan. Oh, sungguh ini semua salah satu bentuk usaha untuk meningkatkan kualitas perbukuan di Indonesia. Betapapun kita tidak menapikan, bahwa yang demikian merupakan bentuk aktivita pemasukan dalam hal materi. Sehingga santri kutub bisa hidup mandiri.
Di sisi yang lain, santri kutub sangat bersemangat jika menemukan perlombaan dalam hal literasi. Mengapa demikian, karena itulah dunia mereka. Hadiahnya juga sangat menjanjikan..oh, betapa senangnya jika juara. Bisa buat tasyakuran dan 2 bulan hidup di Kutub.
Ada juga santri kutub yang menerima pesanan tulisan — tulisan yang sekiranya bisa menambah untuk pemasukan. Projek ini biasanya lumayan lama pengerjaannya. Dibandingkan dengan hanya menulis essai, cerpen di koran.
Ditambah lagi, jika ada garapan-garapan yang sipatnya projek, selagi itu mampu dikerjakan oleh santri kutub, santri mengerkannya seperti misalnya Sablon baju.
Saya berusaha menggali lagi bagaimana aktivita santri kutub sehari-hari nya.
Semua perihal yang dilakaukan di atas, merupakan upaya untuk bisa survive dan lolos dari seleksi alam hingga menjadi santri kutub yang berkualitas lebih ++.
Selamat berkarya…santri kutub cermin trend anak muda saat ini. Jika saja ini dirawat sepanjang masa, saya yakin kutub akan melahirkan mutiara-mutiara yang berlian yang bisa berkontribusi untuk bangsa Indonesia. Siapakah dia, dia adalah kamu, iya kamu yang pernah bersinggungan dengan kutub.
Sekian.
Ditulis di kutub, Subuh 05.00 (aktivitas rutin kutub untuk membiasakan menulis setiap harinya sampai jam 07.00.
Kalau meminjam bahasanya Tsabit, ini merupakan aktivitas olah raga tangan yang baik setiap pagi.
Salam dahsyat
Hidup bermakna
Penuh cinta
메타데이터
- post_id
- fb7c7fd4c3a7
- slug
- kutub-qu-yang-mandiri-fb7c7fd4c3a7
- url
- https://medium.com/@syuabulhikmah/kutub-qu-yang-mandiri-fb7c7fd4c3a7
- canonical_url
- https://medium.com/@syuabulhikmah/kutub-qu-yang-mandiri-fb7c7fd4c3a7
- author_url
- https://medium.com/@syuabulhikmah
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-30 01:27:04