← Back to list

Basis Nilai : Kasihan vs Realitas

Akhir tahun, ketika sebagian warga menikmati libur panjang, ada sebagian lainnya yang masih berkutat dengan pekerjaan.

Rina Rakhmawati · 2025-12-31 03:48 · 0 claps · 1.6 min read
#nilai #belajar #mahasiswa #dosen #realita
Open on Medium ↗

Basis Nilai : Kasihan vs Realitas

Akhir tahun, ketika sebagian warga menikmati libur panjang, ada sebagian lainnya yang masih berkutat dengan pekerjaan.

Ketika mahasiswa libur semester, apakah dosen juga ikutan libur?

Ya libur, tapi bukan tanpa meletakkan pekerjaan. Selain pekerjaan administratif pelaporan kinerja, nilai akhir pembelajaran juga harus diselesaikan. Di sinilah keinginan untuk bisa berlibur dengan tenang dan damai, kadang berbalik menjadi arena pertarungan kesabaran vs makian yang bisa jadi membabat habis akal sehat.

Itu juga yang terjadi beberapa waktu lalu, antara aku dengan sekelompok mahasiswa yang merasa tidak puas dengan nilai yang kuberikan. Dalihnya? Sudah mengerjakan dengan BAIK dan BENAR.

Sebentar, baik dan benar versi siapa? Seumur aku jadi mahasiswa, bahkan aku tidak berani melabeli diri baik dan benar dihadapan dosen, bahkan selama studi S3-ku sampai sekarang.

Soal berikutnya adalah, kenapa mahasiswa sebegitu mengejar harus nilai A? atau paling minimal A-? Seakan jika mendapat selain dua nilai itu, maka menjadi beban negara. Tapi pertanyaannya, bagaimana jika nilai A dan A- adalah sebentuk rasa kasihan dosen kepada mahasiswa, alih-alih benar-benar merefleksikan kualitas per individu? Atau kemungkinan lain, memberikan nilai A dan A- secara seragam untuk satu kelas atau satu angkatan mahasiswa. Pertanyaan yang sama juga aku kira harus ditujukan kepada dosen, apa dasar kita memberikan nilai yang sedemikian sempurna kepada mahasiswa? Kasihan? Kemudahan dan kecepatan? Atau memang sudah selayaknya mahasiswa mendapatkan nilai sempurna? Apa motivasi kita sebetulnya? Apakah dengan memberikan nilai sempurna lantas menjadi pemacu mahasiswa untuk terus belajar? Semakin naik daya kritisnya? Semakin beradab akhlaknya?

Sekumpulan pertanyaan yang berputar di lintasan pikiranku sepanjang aku me-review pekerjaan mahasiswa di hari lain. Sebab menurutku, sebagai hasil refleksiku juga atas pekerjaan mengoreksi selama jadi dosen, memberikan nilai tertentu termasuk nilai yang dikategorikan sempurna, diartikan juga kita harus siap dengan risiko yang akan ditanggung mahasiswa pemegang nilai sempurna. Semakin mendekati 100, semakin tinggi pula ekspektasi yang kita bangun untuk mahasiswa itu, dan semakin memuncak juga harapan lingkungan sekitar atas hasil pekerjaannya manakala mereka lulus nanti. Nilai sempurna, lulus tepat waktu, dari PTN bergengsi, apa yang diharapkan? Tentu saja, bisa menyelesaikan segala bentuk pekerjaan. Bagaimana jika ternyata tidak bisa? “Lho IPKmu segini, lulusan univ anu, mosok gini aja gak bisa!”

Tujuanku bukan untuk demotivasi ya, tapi untuk belajar realistis. Bahwa nilai sempurna, termasuk yang mendekati sempurna, bukan tanpa konsekuensi. Konsekuensi yang harus dihadapi mahasiswa, juga konsekuensi yang harus dibawa dosen.

Dapat nilai A/A-, bersyukur harus, tapi wajib juga bersiap, konsekuensi apa saja yang akan aku dan dosenku tanggung. Bagaimana aku dan dosenku mempertanggungjawabkan nilai (mendekati) sempurna yang sudah dibuat?


메타데이터
post_id
fb9b8ae30757
slug
basis-nilai-kasihan-vs-realitas-fb9b8ae30757
url
https://medium.com/@rinararsip/basis-nilai-kasihan-vs-realitas-fb9b8ae30757
canonical_url
https://medium.com/@rinararsip/basis-nilai-kasihan-vs-realitas-fb9b8ae30757
author_url
https://medium.com/@rinararsip
status
ok
fetched_at
2026-06-27 18:37:17