← Back to list

Dikirim dengan Cinta, Tapi Bisa Berbahaya: Cerita di Balik Pesan Kesehatan di Grup Keluarga

Kalian pernah dapat pesan seperti ini di grup keluarga? Kelihatannya sederhana, bukan? Tapi, sebenarnya ini hal yang cukup serius, loh…

Farahdiah · 2026-05-20 11:54 · 51 claps · 4.4 min read
#hoax #misinformasi #pengobatan-herbal #dukun #grup-keluarga
Open on Medium ↗

Dikirim dengan Cinta, Tapi Bisa Berbahaya: Cerita di Balik Pesan Kesehatan di Grup Keluarga

Kalian pernah dapat pesan seperti ini di grup keluarga? Kelihatannya sederhana, bukan? Tapi, sebenarnya ini hal yang cukup serius, loh! Banyak dari informasi itu disebarkan oleh keluarga karena niat baik, tapi justru bisa berbahaya kalau langsung dipercaya tanpa dicek lagi faktanya.

[Ilustrasi: Pesan di Grup Keluarga]

[Ilustrasi: Pesan di Grup Keluarga]

Era digital saat ini, telah merombak dasar cara manusia berinteraksi dengan membuat komunikasi dan pertukaran informasi jauh lebih mudah, termasuk dalam lingkungan keluarga. Namun, di balik kemudahan tersebut, perkembangan era digital juga menimbulkan tantangan baru, terutama dalam penyebaran informasi yang belum tentu benar. Munculnya fenomena dan istilah “informasi di ujung jempol keluarga” menjadi hal biasa pada zaman sekarang. Sebuah informasi mengenai isu politik, gosip selebritis maupun tips kesehatan, dapat menyebar ke seluruh anggota antar generasi hanya dalam beberapa detik setelah tombol forward ditekan. Masalah utama terjadi ketika motivasi untuk membagikan pesan didorong oleh kasih sayang atau kepedulian, tanpa adanya proses penyaringan terhadap kebenaran informasi itu. Hal ini terlihat jelas dalam maraknya penyebaran misinformasi kesehatan di grup keluarga, di mana berbagai informasi tentang pengobatan atau tips kesehatan beredar luas tanpa verifikasi.

Grup Keluarga sebagai Sumber Informasi

Saat ini, grup keluarga bukan hanya tempat bertukar kabar. Tetapi, juga jadi “pusat informasi” bagi banyak orang berbeda generasi di dalamnya. Masalahnya, semua anggota keluarga bisa jadi sumber informasi dan membagikan berita, tips atau pengalaman mereka dengan sangat cepat hanya lewat pesan. Sayangnya, tidak semua informasi yang dibagikan sudah dipastikan kebenarannya.

Informasi dari Keluarga Lebih Mudah Dipercaya Informasi dari keluarga terasa lebih meyakinkan karena ada rasa percaya dan hormat di dalam hubungan keluarga. Ketika orang tua, tante, atau kakek-nenek membagikan informasi kesehatan, banyak anggota keluarga merasa tidak enak untuk mempertanyakannya. Padahal, justru di sini letak bahayanya, informasi yang salah bisa diterima tanpa filter.

Selain itu, hubungan emosional membuat pesan terasa lebih personal. Kalimat seperti, “Ini demi kesehatan kamu” atau “Mama cuma khawatir” membuat informasi terlihat lebih tulus dan mudah dipercaya. Kedekatan emosional dalam media komunikasi digital membuat masyarakat cenderung menerima informasi tanpa proses verifikasi yang mendalam, terutama jika informasi berasal dari lingkungan yang dipercaya (Arya, 2020). Dalam kondisi ini, batas antara fakta dan hoaks menjadi semakin tidak jelas. Karena berasal dari lingkungan yang penuh kepercayaan, informasi tersebut cenderung diterima begitu saja, meskipun berpotensi menyesatkan dan membahayakan.

Misinformasi Kesehatan Mudah Menyebar di Grup Keluarga

Informasi kesehatan yang dibagikan di grup keluarga dianggap lebih “menyentuh emosi” dibandingkan logika. Akibatnya, misinformasi pun lebih mudah menyebar dan banyak anggota keluarga yang tertarik pada informasi tersebut. Testimoni seperti, “Saya sudah coba dan sembuh” seringkali lebih dipercaya daripada data ilmiah.

Selain itu, budaya tradisional juga memiliki pengaruh besar dalam cara masyarakat memahami kesehatan. Banyak keluarga percaya bahwa metode tradisional lebih aman karena dianggap alami dan diwariskan turun-temurun. Kepercayaan ini bukan berarti semuanya salah. Namun, masalahnya muncul ketika kepercayaan ini menggantikan pengobatan medis tanpa dasar yang jelas. Masih banyak masyarakat yang menggunakan obat tradisional dalam swamedikasi karena dianggap lebih aman dan sudah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari (Supriadi et al., 2022). Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya mempertimbangkan fakta ilmiah, tetapi juga dipengaruhi oleh nilai budaya dan pengalaman emosional yang sudah lama dipercaya.

Fear-Based Messages dan Efeknya pada Cara Orang Berpikir Banyak pesan kesehatan dibuat dengan kalimat yang memicu panik, misalnya “Kalau tidak coba sekarang, bisa berbahaya.” Rasa takut membuat orang lebih fokus pada solusi cepat, bukan pada kebenaran informasinya. Dalam kondisi takut, seseorang cenderung langsung menyebarkan informasi tanpa mengecek sumbernya terlebih dahulu.

Dampak yang Sering Tidak Disadari

Dampak dari misinformasi ini sering kali tidak langsung terlihat. Banyak orang menunda pengobatan medis karena merasa sudah menemukan “solusi alternatif” dari grup keluarga. Ada juga yang mencoba berbagai obat herbal tanpa memahami dosis atau efek sampingnya. Selain itu, penggunaan obat herbal bersamaan dengan obat medis tanpa pengetahuan yang cukup dapat menimbulkan reaksi yang berbahaya. Penyakit yang seharusnya ditangani secara medis juga bisa menjadi lebih parah karena terlambat mendapatkan penanganan yang tepat. Hal-hal seperti ini sering dianggap sepele, padahal dampaknya bisa sangat serius bagi kesehatan.

Dilemanya Generasi Muda di Tengah Keluarga

Generasi muda sering berada dalam posisi yang sulit. Di satu sisi, mereka menyadari bahwa informasi yang dibagikan di grup keluarga belum tentu benar. Tapi di sisi lain, mereka juga takut dianggap tidak sopan jika mencoba meluruskan informasi tersebut. Ada tekanan untuk tetap menghormati orang yang lebih tua, meskipun informasi yang diberikan salah. Akibatnya, banyak anak muda memilih diam karena takut menimbulkan konflik atau dianggap “sok tahu.” Secara tidak langsung, situasi ini membuat misinformasi terus beredar tanpa ada yang berani mengoreksi.

Cara Menyikapi dengan Bijak Tanpa Memicu Konflik Menghadapi situasi seperti ini perlu pendekatan yang bijak. Solusinya bukan dengan langsung menyalahkan, tetapi memberikan penjelasan secara sopan. Sebelum mempercayai informasinya, penting untuk memeriksa sumbernya terlebih dahulu, terutama dari tenaga medis atau sumber terpercaya. Menurut Asian Health Litteracy Association (AHLA) kantor perwakilan Indonesia tahun 2025, menjelaskan bahwa literasi digital kesehatan sangat penting agar masyarakat mampu memilah informasi dan tidak mudah percaya pada berita palsu.

Penutup

Pada akhirnya, fenomena penyebaran pesan yang sangat cepat dalam grup keluarga bisa diibaratkan pedang yang tajam kedua sisinya. Di satu sisi, teknologi menjamin informasi tersampaikan dalam waktu singkat dan cepat. Namun, kecepatan itu seringkali menjadi kesempatan bagi masuknya disinformasi yang membahayakan. Kepercayaan antar anggota keluarga yang seharusnya menjadi kekuatan, justru sering kali menjadi titik lemah yang memungkinkan penyebaran informasi tanpa verifikasi. Untuk itu, diperlukan kesadaran bersama dalam etika berkomunikasi. Memberikan jeda sejenak untuk mencerna lebih teliti sebelum menyebarkannya, serta mencocokkan dengan sumber-sumber lain apakah berita tersebut layak untuk dibagikan atau tidak. Kecepatan bukanlah faktor utama dalam menyampaikan informasi. Namun, kebenaran dan manfaat dari isi pesan harus lebih diutamakan. Literasi digital dalam lingkungan rumah tangga kini bukan sekadar pilihan, tetapi sebuah keharusan. Memastikan kualitas informasi yang kita sebar adalah wujud cinta di zaman digital karena melindungi keluarga dari berita palsu sama pentingnya dengan menjaga mereka di kehidupan nyata. Lain kali, jika kalian mendapatkan pesan atau informasi mengenai kesehatan di grup keluarga, jangan langsung percaya lalu di share. Usahakan cek dulu faktanya! Karena peduli itu bukan cuma soal berbagi, tapi juga soal memastikan kebenarannya.

Referensi

M.KM, H. S.K. (2025, August 28). AHLA Indonesia. Mengusir Hoax dari dunia kesehatan. https://ahla-indonesia.dinus.ac.id/2025/08/28/

Soetanto, L. D. (2021, April 28). Repository Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Penyebaran informasi di media digital dan pengaruhnya terhadap masyarakat. https://repository.uajy.ac.id/id/eprint/23842/

Supriadi dkk. (2021, December). Jurnal Kesehatan. Analisis penggunaan obat tradisional dan obat modern dalam penggunaan sendiri (swamedikasi) oleh masyarakat., 14(2), 138–148. https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/kesehatan/article/view/20347/13154


메타데이터
post_id
fbb96bdbedb0
slug
dikirim-dengan-cinta-tapi-bisa-berbahaya-cerita-di-balik-pesan-kesehatan-di-grup-keluarga-fbb96bdbedb0
url
https://medium.com/@farahdiah13_40776/dikirim-dengan-cinta-tapi-bisa-berbahaya-cerita-di-balik-pesan-kesehatan-di-grup-keluarga-fbb96bdbedb0
canonical_url
https://medium.com/@farahdiah13_40776/dikirim-dengan-cinta-tapi-bisa-berbahaya-cerita-di-balik-pesan-kesehatan-di-grup-keluarga-fbb96bdbedb0
author_url
https://medium.com/@farahdiah13_40776
status
ok
fetched_at
2026-06-17 08:20:12