Risalah; Abadi
Aku mengimani cintaku ialah cintaNya yang oleh engkau sebagai perwujudannya, Kekasihku.

Potret: dhia | Mekkah
Risalah; Abadi
Aku mengimani cintaku ialah cintaNya yang oleh engkau sebagai perwujudannya, Kekasihku.
Kepada cahaya hatiku.…
Yaa Zein … kudapati kebaikan Rabb menjelmakan doa-doaku serupa tenangnya wajahmu kala kutatap kau berdansa dengan bunga tidur. Pada kelopak matamu nan bermekaran, kumengais tenang di antaranya—dalam rengkuh yang menjaga kita menjadi sepasang kekasih. Jalan-jalan sunyi tak lagi berwajah seram sebab kutahu tatapmu adalah pelita—manikmu mengejawantahkan samudera berkilauan indurasmi. Ketakutan tak lagi tumbuh sebagai duri yang mengganggu bentangan jalan sebab t’lah kukhatamkan seluruh peta dan arah mata angin yang bergerak menuntunku pada jiwamu. Sebagaimana yang jiwaku menyadari hanya padamu aku dapat bernaung.
Kususuri garis pipimu menuju pelataran kening tempat kupulangkan rindu; tempat doa-doa khusyuk berdiam diri merengkuh namaku; selasar cinta merebahkan puisi yang melantun syahdu. Tempat bersujud kini tak hanya pada tanah yang Rabb bentangkan, yaa ruuhi, pada keningmu jua aku dapat bermunajat—yang kuyakini pada pelataran tempatku memulangkan kecup, Ia bermurah hati mengabulkan pinta. Kuharap, kala malam kupanjatkan asmamu, kubah langit terbuka menerima—sebagaimana kuimani di dalam surga t’lah disuratkan namamu. Kuimani takkan ada khianat dan pengingkaran pabila kupercayakan kau dalam genggamanNya. Tidakkah dengan berserah atas nama cinta kepada Mahacinta ialah kemenangan yang menjelma niscaya?
Gemetar jemariku tak lagi disebabkan oleh kekalutan maupun ketakutan akan ketiadaanmu. Aku hidup bernapaskanmu, Cintaku. Engkau hidup menjadi separuhku berupa memori-memori menenteramkan yang oleh karenanya aku tak lagi patah arang; berpasrah dalam meminta. Engkau t’lah menjadi jiwaku dan karenanya aku percaya. Sebab tak hanya di tanganmu aku merasakan aman, aku menjadi pecinta yang diselimuti hamparan kasih sayang. Sebagaimana kau adalah kausa kumeminta Rabb sedikitnya lagi memanjangkan napasku, memberkahi usiaku, maka kuharap kau jua ‘kan hidup bergelimang berkat dan rahmat yang kupanjatkan selalu—sebab dalam peribadatanku kau selalu ada dan pada keberkatan yang diberikanNya kau ‘kan merasakannya. Dari serat kehidupan yang masih menjadikan bumi menjalani takdirnya terus berotasi; mentari dengan hangat dan pijar cahayanya menyinari; rembulan serupa wajahmu yang berpendar kala malam, kuharap kau di bawahnya merasakan kebesaran Rabb; kebaikanNya yang barangkali perwujudanku ialah yang ditetapkan padamu. Kutahu kau ‘kan terus merasakan cintaNya sebab kau jua perlunya mengetahui bahwa engkau adalah perwujudan cintaNya yang digariskan padaku.
Yaa hayaatirruuh … atas nama pengampunan Rabb yang luasnya melebihi penciptaannya alam semesta, kuluruhkan sekujur amarah yang dahulunya menggelapkan mata; memenjara cinta; pula menenggelamkan kebesaran jiwa. Sebelum aku bermunajat meminta segala keberkahan untukmu serupa dua sungai nan saling merindu bertemu pada muara yang sama, kulangitkan ketetapan Rabb tiada lagi memaktubkanku kalam yang tak seharusnya jatuh dari bibirku—doa-doa sumbang yang penuh dengan keserakahan, yang bertintakan genderang perang. Nestapa takkan lagi tercipta dari kedua tanganku. Kutukan takkan lagi tergurat selayak ayat yang akan membayangi jejak langkahmu sebab t’lah kudapati pula pasrahnya mencinta seorang kekasih ialah berserah kepada Rabbnya. Bermekaranlah sebagaimana engkau sepatutnya. Mewangilah sebagaimana indah kelopakmu memanja mata; sebagaimana engkau ialah penyejuk jiwa.
Barangkali, yaa ruuhi, kau adalah pengampunan yang diturunkan langit—manifestasi kebesarhatian Rabb atas nelangsa yang kuterima tiada berakhiran. Kitab tak hanya dianuguerahkan sebagai rahmat di tanah tandus tak bernyawa yang kini menjelma menjadi dua kota yang dirindukan manusia, padaku juga Rabb memberikannya. Sebagaimana kuketahui, pada mukadimah termaktub samar namamu dan di sudutnya Rabb memberi sebuah tanda. Tetapi tak kutemukan tintaNya, maka kutuliskan sendiri ayat-ayat renjana. Harap-harap akan perjalananku yang kubawa kau dengan izinNya, kau ‘kan bermekaran serupa khuzama di gurun gersang; tumbuh serupa ghaf yang abadi; mengalir serupa zam-zam yang menghapus dahaga.
Abadilah, Sayangku. Kumengamini kau yang abadi tak hanya pada syair-syairku nan mengukuhkan dinding ratapan cinta, tetapi pada dunia yang terus bergilir dalam penentuan takdir. Kumengamini kau yang selalu diteduhkan kala gersang menerpa selayak satu musim. Kumengamini kau ‘kan selalu dilimpahkan harsa serupa gulungan ombak yang tak lelah memulangkan dirinya pada bibir pantai. Kumengamini kau yang menjelma kekasih hatiku, jiwaku, kepulanganku, hidupku … dalam lini masa hingga kita bertemu pada keabadian yang sesungguhnya.
Tuqburni, yaa ruuhi. Dengan cintaku kusuratkan kalam-kalam, dengan Cintanya Ia mengamini. Pada bengkok rusukmu kuguratkan, dengan ketetapanNya Ia menggariskan. Pada tundukku yang dalam, dengan kasih sayangNya Ia merengkuh nama kita pada secarik yang sama.
Allah ykhalik lii. Abadilah. Abadilah. Abadilah.
Ala ad-Dawaami, Ruuhaki, Bian.
[Radeska Bian — 28 Juli & 6 Agustus 2026]
메타데이터
- post_id
- fc00911e4649
- slug
- risalah-abadi-fc00911e4649
- url
- https://medium.com/@bahutuan/risalah-abadi-fc00911e4649
- canonical_url
- https://medium.com/@bahutuan/risalah-abadi-fc00911e4649
- author_url
- https://medium.com/@bahutuan
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-07 21:52:05