Sweet Tooth.
Sweet Tooth.

Aku menyukai dua hal dalam hidup:
-
Kerapian sayatan bedah yang sempurna.
-
Dan lapisan gula di atas donat.
Kedengarannya kontradiktif. Tapi otakku bekerja begini: struktur, simetri, konsistensi. Itu sebabnya aku bisa berdiri berjam-jam di ruang operasi tanpa kehilangan fokus. Itu pula alasan kenapa aku bisa menatap permukaan crème brûlée selama lima menit penuh, hanya untuk mendengar bunyi crack saat sendokku menghantam lapisan karamel. Bagi orang lain hanya sekadar makanan penutup, tapi bagiku itu adalah tekstur musik yang dimainkan di mulut.
Sayangnya, rahangku sering menolak ikut berpartisipasi dalam konser itu. Gigi belakangku kerap memberontak, seakan mereka mengadakan protes serikat buruh setiap kali aku melahap tiramisu.
Itulah mengapa setiap bulan aku harus berkunjung ke dokter gigi — Jasmine selalu ikut.
Hari ini pun sama. Aku duduk di ruang tunggu dengan tangan di saku jas, sementara Jasmine menyandarkan kepalanya ke bahuku sambil memainkan ponsel. Aku tahu dia sebenarnya ogah-ogahan. Tidak ada orang waras yang mau menjadikan ‘menemani pacar ke dokter gigi’ sebagai kencan rutinan. Tapi Jasmine melakukannya. Entah karena cinta, atau karena dia ingin memastikan aku tidak kabur ke toko kue di seberang klinik.
“Aku masih nggak paham kenapa dokter spesialis jantung bisa kecanduan gula.” Suaranya terdengar datar, tapi matanya menghakimiku. “It’s like a firefighter addicted to flame.”
Aku menatapnya serius. “Itu logika yang salah, Jazz. Api menghancurkan. Gula membangun.”
“Membangun apa?”
“Membangun serotonin. Membangun motivasi kerja. Membangun alasan buat nggak ketiduran sehabis shift tiga puluh jam.”
“You sound like you’re defending a mistress.”
“Kalau gitu,” aku menatap lurus ke depan dengan nada suara penuh implikasi, “dia mistress yang selalu manis.”
“Zayne, bisa-bisanya kamu lebih romantis ke donat daripada ke aku?”
“Bukan donat,” aku mengoreksi. “Boston cream donut. Ada perbedaan fundamental.”
Senyumnya melebar. Too much information, tiap kali Jasmine tertawa, semua argumenku mendadak sah-sah saja. Bahkan kalau aku bilang eclair sebanding dengan keindahan Michelangelo, dia mungkin hanya akan mendengus, lalu tetap membantuku memesan dua kotak.
Sebenarnya Jasmine benci manis. Dia tipe perempuan yang lebih memilih air mineral dibanding cokelat panas. Tapi sejak kami mulai berkencan, dia sering terjebak bersamaku di kafe-kafe, menatapku menilai struktur macaron.
“Ini salah kamu, Zayne.” Nah, kan. Dia sungguhan mendengus. “Gara-gara kamu, gigiku kadang ngilu, padahal dulu nggak pernah.”
“That’s called character development.”
“Or corruption.”
“If that’s corruption, then I’ll gladly be the mastermind.”
Dia menyentil bibirku dengan tangannya. “Curang.”
Aku memang begitu. Tapi bersamanya, semua kecurangan ini jadi kredibel.
Dentist akhirnya memanggilku masuk. Jasmine berdiri bersamaku bagaikan momen besar—padahal hanya pertemuan bulanan dengan bor dan fluoride. Tapi saat aku duduk di kursi dan mendapati lampu menyilaukan wajah, aku menangkap bayangan Jasmine di sampingku. Dia menggenggam tanganku sejenak. Seperti pasienlah aku, bukan dokter.
Anehnya, aku bisa menghabiskan hidupku dengan dua obsesi—cinta pada gula, dan cinta pada Jasmine. Bedanya, satu membuat gigiku nyut-nyutan, yang lain membuat hatiku cenat-cenut.
Tapi kalau harus memilih satu, kupikir bahkan crème brûlée tidak akan bisa menang melawan senyuman Jasmine.
Walaupun, ya… aku tetap akan memesannya nanti sepulang dari sini—tanpa sepengetahuannya.
메타데이터
- post_id
- fc00e2e477ff
- slug
- sweet-tooth-fc00e2e477ff
- url
- https://medium.com/@petalpavlova/sweet-tooth-fc00e2e477ff
- canonical_url
- https://medium.com/@petalpavlova/sweet-tooth-fc00e2e477ff
- author_url
- https://medium.com/@petalpavlova
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-22 17:31:34