← Back to list

Blok M dan Cara Kota Dipakai Ulang

Blok M terletak di kawasan Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Hari ini ia kembali ramai. Orang turun dari MRT, berjalan kaki…

sywuland · 2026-02-06 07:59 · 0 claps · 4.6 min read
#jakarta #urban-planning #henri-lefebvre #blok-m
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🎮 · Gaming ⚖️ · Law & Justice 🚆 · Urban & Transport

Blok M dan Cara Kota Dipakai Ulang

Blok M terletak di kawasan Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Hari ini ia kembali ramai. Orang turun dari MRT, berjalan kaki, mengantre kopi dan jajanan, singgah sebentar sebelum pulang. Keramaian ini kerap dibaca sebagai tren pascapandemi, bahkan tak jarang dicibir sebagai gejala FOMO. Namun jika dilihat lebih dalam, apa yang terjadi di Blok M hari ini bukan sekadar soal ramai atau sepi, melainkan tentang bagaimana ruang kota diproduksi ulang — dan oleh siapa.

Kebayoran Baru sendiri bukan kawasan yang tumbuh spontan. Menurut sejarawan Asep Kambali, sekitar tahun 1940 kawasan selatan Jakarta mulai dirancang pada akhir masa kolonial Belanda sebagai kota satelit untuk merespons kepadatan Batavia. Gagasan ini tertunda oleh perang dan perubahan politik, tetapi pascakemerdekaan dilanjutkan di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno. Untuk menghidupkan poros selatan, sentra ekonomi secara bertahap dipindahkan dan dikembangkan di kawasan ini.

Pelaksana awal pembangunan Kebayoran Baru adalah perusahaan Belanda Centrale Stichting Wederopbouw (CSW), yang namanya hingga kini masih hidup dalam ingatan kota lewat sebutan perempatan CSW. Sejarawan Alwi Shahab mencatat bahwa proyek Kebayoran Baru menjadi tonggak penting karena menandai upaya awal Jakarta menyediakan fasilitas perkotaan yang dirancang secara terencana dan terpadu. Setelah Belanda hengkang, pembangunan kawasan ini ditangani langsung oleh Kementerian Pekerjaan Umum yang baru dibentuk.

Sebagai kota satelit, Kebayoran Baru dibagi ke dalam blok-blok berhuruf A hingga S. Blok M ditempatkan di posisi sentral dan sejak awal dirancang sebagai pusat kegiatan ekonomi, perbelanjaan, serta simpul transportasi dalam kota Jakarta. Pada akhir 1950, sekitar dua pertiga wilayah Kebayoran Baru telah dibuka, ribuan unit rumah dibangun, jaringan jalan dan saluran air dipasang, serta sekolah-sekolah didirikan. Blok M mulai berfungsi sebagai jantung aktivitas kawasan sejak awal 1950-an.

Pada dekade-dekade berikutnya, peran ini semakin menguat. Terminal Blok M menjadikannya simpul transportasi penting Jakarta Selatan. Sejak 1970-an hingga 1990-an, kawasan ini berkembang pesat sebagai pusat bisnis, perbelanjaan, dan hiburan. Pasaraya Blok M dibuka pada awal 1980-an, disusul Aldiron Plaza — yang kemudian menjadi Blok M Plaza — serta Mal Blok M yang terintegrasi dengan terminal. Pada fase ini, Blok M menjadi ruang budaya populer: tempat anak muda berjanji temu, nongkrong, dan menghabiskan waktu.

Pada periode yang sama, kawasan Melawai dan sekitarnya juga menjadi hunian banyak ekspatriat Jepang yang bekerja di Indonesia. Restoran, bar, karaoke, panti pijat, dan klub malam bernuansa Jepang tumbuh seiring berkembangnya Blok M sebagai pusat perbelanjaan. Subkultur urban yang dikenal sebagai Little Tokyo pun terbentuk. Sejak awal 2010-an, festival makanan, budaya, hingga cosplay rutin digelar di kawasan Blok M Square dan menjadi agenda tahunan yang menarik pengunjung.

Namun sejarah Blok M tidak bergerak lurus. Krisis ekonomi akhir 1990-an, disusul menjamurnya pusat perbelanjaan modern di berbagai penjuru Jakarta, perlahan menggeser posisinya. Memasuki dekade 2000-an, Blok M semakin jarang menjadi tujuan utama. Banyak orang masih melewatinya, tetapi tidak lagi berhenti. Kawasan ini menyempit menjadi ruang transit — tempat turun, pindah, lalu pergi.

Sepi dan Reduksi Ruang

Kesepian Blok M terbentuk secara bertahap dan dipercepat oleh pembangunan MRT Jakarta. Selama masa konstruksi, akses kawasan terganggu, jalan-jalan dipenuhi tiang pancang, dan arus pengunjung terputus. Sejumlah pusat perbelanjaan mengalami penurunan pengunjung yang signifikan.

Pada fase ini, Blok M tetap berfungsi, tetapi semakin impersonal. Orang datang seperlunya atau justru menghindarinya karena dianggap merepotkan. Ruko-ruko menua, papan nama memudar, dan beberapa titik terasa gelap pada malam hari. Kawasan ini tidak mati secara fisik, tetapi kehilangan makna sebagai tempat yang dialami.

Di titik ini, pemikiran Henri Lefebvre membantu membaca Blok M lebih tajam. Bagi Lefebvre, ruang kota bukanlah wadah netral, melainkan hasil produksi sosial yang selalu melibatkan relasi kuasa. Ia membedakan ruang dalam tiga lapis yang saling bertaut: praktik spasial, representasi ruang, dan ruang representasional.

Pada masa kemunduran, Blok M didominasi oleh praktik spasial yang minimal: turun, lewat, pindah, pulang. Representasi ruangnya dikuasai oleh logika transit dan infrastruktur — terminal, jalan, arus kendaraan. Sementara ruang representasional, yakni ruang yang dihidupi secara emosional dan simbolik, hampir sepenuhnya menghilang. Blok M direduksi menjadi fungsi sisa: ruang ada, tetapi kehidupan sebagai pengalaman kolektif nyaris lenyap.

Dipakai Ulang, Bukan Sekadar Ramai

Perubahan mulai terasa setelah pandemi, terutama ketika Blok M kembali terhubung langsung dengan stasiun MRT. Arus orang mengalir lagi, bukan hanya untuk berbelanja, tetapi untuk singgah. Blok M menjadi titik berhenti yang masuk akal: turun dari MRT atau bus, makan, jajan, menonton, lalu berpindah.

Menjelang sore, pola ini berulang. Antrean muncul di banyak titik — gerai kopi, jajanan kaki lima, restoran Jepang di Melawai, hingga kuliner legendaris seperti Gultik dan Ayam Goreng Bulungan. Blok M tidak lagi dikunjungi untuk satu tujuan, melainkan dirangkai sebagai rute singgah. Dari praktik yang berulang ini, muncul jasa antre dan open trip Blok M, yang sering dianggap berlebihan atau sekadar mengejar tren.

Namun dalam kerangka Lefebvre, praktik-praktik inilah yang menandai produksi ruang. Antre, jajan, dan singgah bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan cara warga kota memproduksi ulang ruang melalui penggunaan sehari-hari. Ruang tidak dihidupkan kembali oleh satu proyek besar atau ikon monumental, melainkan oleh ritme kecil yang diulang terus-menerus.

Di sini, praktik spasial berubah. Representasi ruang sebagai sekadar transit mulai digeser oleh pengalaman konkret pengunjung. Blok M kembali menjadi ruang representasional — ruang yang dialami, diingat, dan dibicarakan. Kota hidup kembali bukan lewat rencana, tetapi lewat penggunaan.

Ruang yang Hidup dan Bertentangan

Namun Lefebvre juga mengingatkan bahwa ruang modern selalu bersifat kontradiktif. Produksi ruang tidak pernah netral. Ruang yang hidup di satu sisi dapat menindas di sisi lain.

Keramaian Blok M hari ini berjalan berdampingan dengan konflik yang lebih material. Kritik tidak berhenti pada budaya antre atau stigma “overrated”, tetapi mengarah pada persoalan pengelolaan: kenaikan harga sewa kios, tekanan terhadap pedagang lama, dan orientasi komersial jangka pendek. Ruang yang tampak hidup di permukaan ternyata rapuh di belakang layar — ramai bagi pengunjung, tetapi tidak selalu berkelanjutan bagi pelaku usahanya.

Ketimpangan ini juga tampak secara spasial. Keramaian terkonsentrasi di titik-titik tertentu — sekitar MRT, taman, dan koridor kuliner — sementara area lain tetap sepi dan menua. Blok M menjadi ruang publik yang terfragmentasi: terbuka secara visual dan naratif, tetapi selektif secara ekonomi. Ia lebih mudah dinikmati oleh mereka yang memiliki waktu luang, daya beli, dan fleksibilitas, sementara pedagang lama, pekerja informal, dan pengunjung non-target perlahan terdorong ke pinggir.

Dalam istilah Lefebvre, Blok M hari ini adalah contradictory space: ruang yang sekaligus hidup dan timpang, inklusif di permukaan tetapi eksklusif dalam praktik.

Kota yang Terus Dinegosiasikan

Blok M hari ini tidak sepenuhnya pulih, juga tidak benar-benar runtuh. Ia bertahan melalui praktik sehari-hari yang sederhana dan berulang: orang yang memilih turun dari MRT dan berjalan kaki, yang mau mengantre, yang singgah sebentar sebelum pulang. Bukan satu rencana besar yang menghidupkan Blok M, melainkan rangkaian keputusan kecil yang dilakukan bersama, hari demi hari.

Namun ketahanan ini rapuh dan tidak merata. Keramaian terkonsentrasi, akses bersifat selektif, dan kehidupan ruang bergantung pada waktu luang serta daya beli. Blok M menunjukkan bahwa kota bisa hidup kembali tanpa proyek ambisius, tetapi tidak otomatis menjadi adil. Ia bertahan bukan karena telah selesai ditata, melainkan karena terus dinegosiasikan.

Selama masih ada alasan untuk berhenti, menunggu, dan berinteraksi, kota akan terus dipakai ulang — hingga ritmenya kembali berubah.


메타데이터
post_id
fc2260e82867
slug
blok-m-dan-cara-kota-dipakai-ulang-fc2260e82867
url
https://medium.com/@sywuland/blok-m-dan-cara-kota-dipakai-ulang-fc2260e82867
canonical_url
https://medium.com/@sywuland/blok-m-dan-cara-kota-dipakai-ulang-fc2260e82867
author_url
https://medium.com/@sywuland
status
ok
fetched_at
2026-07-13 06:23:13