SBMPTN ke ITB Tanpa Les? Kenapa Tidak?
Singkat cerita, aku mengikuti program pertukaran pelajar selama satu tahun di SMA dan entah apa yang kemudian terjadi dengan akunku di…
SBMPTN ke ITB Tanpa Les? Kenapa Tidak?
Singkat cerita, aku mengikuti program pertukaran pelajar selama satu tahun di SMA dan entah apa yang kemudian terjadi dengan akunku di sistem SNMPTN (penerimaan perguruan tinggi melalui jalur rapor) saat itu, hingga aku dinyatakan tidak terdaftar dan tentunya tidak lolos SNMPTN 2017 bahkan ketika masih pada tahap awal yaitu tahap berkas. Apakah di sistemnya aku terdaftar sebagai pelajar 4 tahun dan dianggap tidak naik kelas? Atau karena sekolahku yang terbilang sebagai sekolah baru sehingga kasus sepertiku ini belum dapat tertangani dengan baik?
Jawabannya: entahlah.
Eitttsss, meskipun begitu, bukan jadi alasan bagi kamu pelajar SMA untuk takut mengikuti pertukaran pelajar, ya! Selain dapat menambah pengalaman yang sungguh berharga, ternyata ada banyak teman pertukaran pelajarku yang juga lolos di SNMPTN, kok! Jadi, tentunya ada banyak faktor yang memengaruhi lolos tidaknya siswa pertukaran pelajar pada SNMPTN. Lalu bagaimana?
Tentunya tetap harus bersiap menyingsingkan lengan baju kita dan bertempur untuk SBMPTN, kan? Hehe.
Nah, di hari saat aku mengetahui aku tidak lolos SNMPTN, aku langsung memantapkan hati untuk belajar SBMPTN.
Kalau mau bicara soal pengalamanku belajar SBMPTN, wah, sebetulnya banyak yang seharusnya tidak ditiru, haha. Selama tiga tahun di SMA, aku belajar kurikulum luar negeri yaitu Cambridge International Examinations atau CIE, nah jadi, di tahun terakhir aku juga harus mengejar ketertinggalan materi KTSP 2006 untuk Ujian Nasional. Ditambah, di tengah semua ke-hectic-an ku itu, aku juga harus belajar untuk SBMPTN.
Ketika banyak orang memilih untuk memenuhi kebutuhan akademik untuk SBMPTN-nya dengan mendaftarkan diri di berbagai lembaga bimbingan belajar, sayang sekali, SMA-ku berbasis asrama dan izin keluar sekolah hanya diberikan dua kali tiap bulannya. Jadi, aku tidak bisa pergi ke tempat les hampir tiga kali seminggu layaknya siswa SMA biasa. Lalu?
Yap, aku belajar SBMPTN sendiri.
“Serius? Ingin masuk ITB tapi gak les?”, “Masa sih?”, “Kok bisa?”, “Gila, pake guna-guna ya lu, Gith?”. Nope, semuanya MUNGKIN. Keinginanku untuk masuk salah satu sekolah terbaik di negeri ini, Institut Teknologi Bandung (ITB), memang memberikan beban yang lebih pada pundakku untuk menunjukkan performa lebih di SBMPTN ini. Tapi bukan berarti semuanya tidak mungkin. Nah, dalam proses mengejar Sang Kampus Impian, inilah senjata jitu yang membantuku lolos di SBMPTN 2017…
Mungkin banyak yang sudah mengenal buku ini, tapi bagi yang belum, ini adalah Buku Wangsit Education yang ditulis oleh seorang anonim yang terkenal dengan sebutan jeroanayam atau akrab disebut sebagai Om Jero. Nah, Om Jero ini sudah dari tahun ke tahun membantu siapapun yang ingin lolos pada tes-tes masuk perguruan tinggi seperti SBMPTN, SIMAK UI, UTUL UGM, dll. melalui buku-bukunya. Aku membeli bukunya di Tokopedia, dan karena aku berasal dari jurusan IPA, aku mengambil Paket Platinum untuk SAINTEK. Dengan berbagai paket yang tersedia, aku kurang paham detail perbedaan antara paket-paket buku Om Jero. Yang jelas, common sense-ku mengatakan bahwa pasti Paket Platinum memiliki fitur dan kelebihan yang paling banyak dibandingkan paket-paket dibawahnya seperti Gold dan Bronze.
Paketku berisi 7 buku per mata pelajaran (Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, TPA) dan 1 buku bonus yang berisi passing grade perguruan tinggi di tahun-tahun sebelumnya. Setiap buku berisi kumpulan soal yang dipisahkan per bab dan ditulis informasi tahun keluarnya soal. Menurut pendapatku pribadi, kelebihan dari buku-buku ini adalah soal-soalnya yang banyak dan cukup tepat sasaran. Aku pun tidak perlu membawa satu buku tebal langsung ketika misal aku hanya ingin belajar fisika dan matematika saat itu, karena bukunya dipisahkan per mata pelajaran. Selain itu, entah ini scientifically benar atau tidak, tapi mataku lebih tahan belajar dengan waktu yang lama saat menatap buku berkertas putih seperti Buku Wangsit ini dibandingkan buku-buku berkertas buram atau kekuningan seperti buku-buku SBMPTN lainnya. Ohiya, dan sebelumnya, percayalah aku tidak dibayar untuk mempromosikan buku ini, haha.
Aku membeli paket buku ini sudah sejak bulan Oktober 2016, tapi sayang, karena kehidupan akademikku yang hectic, aku baru benar-benar sempat membuka Buku Wangsitku setelah Ujian Nasional atau kurang lebih satu bulan sebelum SBMPTN. Jadi, waktu total yang kuhabiskan untuk belajar SBMPTN adalah kurang lebih satu bulan saja! Itu pun sebetulnya kurang, karena di rentang waktu antara Ujian Nasional dan SBMPTN, aku masih harus mengikuti rangkaian ujian Cambridge. Nah, sekarang semuanya adalah soal: belajar secara efektif dan efisien!
Menurutku, belajar dengan bimbingan belajar juga tidak ada salahnya, kok! Malah sebetulnya, bimbingan belajar banyak memberikan bantuan dan fasilitas berupa modul berisi ringkasan materi, kumpulan soal-soal, try-out, dan tentunya kelas tambahan. Ditambah, beberapa lembaga bahkan menyediakan layanan tutor, seperti tempat bertanya jika kesulitan dalam menyelesaikan sebuah soal. Mengikuti bimbingan belajar juga memberikan semacam driving force yang lebih untuk belajar, karena les akan menjadi semacam kewajiban yang serupa dengan kewajiban untuk pergi ke sekolah.
Tapi kembali lagi, tiap orang memiliki cara belajarnya masing-masing. Berdasarkan pengalamanku ikut bimbingan belajar saat SMP, ternyata aku pribadi lebih suka untuk meluangkan waktu lebih banyak di materi yang aku rasa belum terkuasai dengan cukup. Beberapa bab yang bagiku terbilang mudah akan aku skip dan di review di kemudian hari. Nah, hal inilah yang akan sulit dilakukan di tempat les. Terkadang tempat les bisa saja mengulang-ngulang materi yang sebetulnya sudah sangat kita kuasai dan jatuhnya malah menghabiskan waktu kita yang dapat digunakan untuk belajar materi yang lain. Intinya, kita tidak dapat mengatur sendiri porsi dan waktu belajar. Belajar dengan bimbingan belajarpun tetap perlu disertai dengan motivasi untuk mengulang dan belajar di luar jam les agar kita tidak cenderung mengandalkan tempat les saja. Apalagi, biaya les yang cukup mahal juga sayang, kan, kalau tidak memberikan hasil yang baik di akhir hanya karena kita tidak memanfaatkan semuanya dengan baik?
Nah, berikut aku sebutkan apa saja sih trik cara belajar SBMPTN tanpa les secara efektif dan efisien yang aku terapkan sendiri pada 2017 lalu.
-
Kenali mimpimu! Maksudnya apa? Tekadkan hati pada pilihan yang kita sudah pilih pada SBMPTN. Pilihan ini sama dengan mimpi atau tujuan akhir dari semua perjalanan SBMPTN ini alias fakultas atau jurusan impian. Pilihan pertamaku adalah FTTM ITB, kedua FTMD ITB, dan yang terakhir adalah Teknik Mesin UGM. Nah, karena ITB ada di pilihan pertama dan kedua, aku menyadari bahwa aku harus memiliki performa lebih dalam menjawab soal-soal SBMPTN, terutama di mata pelajaran Matematika dan Fisika.
-
Analisis kemampuan kita sendiri saat ini dengan mendefinisikan kita “lebih” dan “kurang” di bagian mana. Terkadang kita tidak melakukan analisis kondisi sebelum mulai belajar dan belum mengenali apa yang perlu ditambah dan ditunda. Yang aku lakukan untuk mengenali aku merasa lebih dan kurang di materi yang mana, adalah dengan meng-scanning tiap-tiap babnya. Memilah dan memilih mana bab yang sekiranya aku sudah mantap, lupa sedikit, kurang paham, dan yang aku tidak ingat dan tidak paham sama sekali. Nah, dari sini kita dapat menyimpulkan, bahwa bab-bab yang kita sudah lupa atau kurang paham inilah yang harus lebih diperhatikan dan diluangkan waktu lebih banyak untuk dipelajari.
-
Buat target beserta perencanaan belajar. Nah, kalau ini, saatnya kita berhitung dengan jumlah soal yang ingin diselesaikan dan waktu tersisa yang kita punya. Kalau aku, dengan waktu belajar yang sangat terbatas, targetku satu hari belajar 3 mata pelajaran dan untuk tiap mata pelajaran aku harus menyelesaikan masing-masing minimal 10 soal, jadi total 30 soal perhari. Untuk mata pelajarannya aku gilir setiap harinya biar gak bosen hehe dan aku sesuaikan juga dengan mata pelajaran yang kurang aku pahami agar frekuensi belajar mata pelajaran ini lebih banyak dibandingkan yang lainnya.
-
Tapi jangan terlalu kaku juga, hehe. Meskipun kita punya target, bukan berarti kita tidak boleh belajar lebih dari yang sudah direncanakan. Misal, ternyata saat mengerjakan soal-soal TPA, aku merasa suka sekali mengerjakan soal-soal ini karena tentu lebih seru daripada mengerjakan soal fisika (iya, kan?), atau misal aku merasa aku memiliki kemampuan lebih dan bisa mengerjakan banyak soal dalam sekali duduk untuk Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Nah, untuk kasus-kasus khusus seperti inilah, di mana kita lebih baik tidak membatasi diri kita. Jika memang kita mampu membabat habis 1 bab atau bahkan lebih secara langsung, just let it flow, asalkan kita tidak keasyikan dan malah menelantarkan mata pelajaran lainnya.
-
Selama belajar, aku sebisa mungkin mencoba untuk meng-cover seluruh materi. Jadi setiap belajar dan menemukan soal yang tidak dapat aku jawab, aku juga kerap kembali membuka buku dan me-review materi. Sehingga, di buku belajarku tidak ada soal yang aku tinggalkan kosong sebelum aku membaca materinya. Tapi ingat, karena SBMPTN menggunakan sistem minus, bukan berarti semua soal harus dijawab ketika di tes SBMPTN yang betulan ya. Isi soal-soal yang kamu yakin atau setidaknya sedikit yakin itu jawabannya, kalau tidak yakin dan tidak tahu lebih baik dikosongkan.
-
Ikuti try-out massal berbayar, try-out online gratis, dan try-out di aplikasi-aplikasi komputer atau ponsel pintar yang dapat diunduh secara gratis. Jangan lupa untuk selalu me-review jawaban kita dengan kunci jawaban. Percaya deh, semakin banyak mengerjakan soal dan melakukan simulasi apalagi me-review kesalahan kita di mana, akan semakin kita tahu kemampuan kita sudah sejauh apa dan bagian mana saja yang perlu ditambah alokasi waktu belajarnya.
-
Jangan lupa untuk track progress kita setiap habis melakukan try-out. Kalau dulu aku bikin satu file di Microsoft Excel yang isinya merangkum performaku tiap try-out termasuk mencatat tanggal try-out, jumlah soal yang berhasil dijawab untuk masing-masing mata pelajaran, dan jumlah soal yang aku jawab benar, serta skor akhir. Dengan nge-track progres, kita bisa evaluasi diri kira-kira proses dan hasil belajar kita selama ini mengalami peningkatan atau tidak.
-
Istirahat yang cukup! Ini penting, karena jangan sampai kita sakit di hari-H SBMPTN akibat sering begadang hingga larut karena belajar. Sekalinya badan kita memberi tahu bahwa kita sedang lelah, tidak perlu memaksakan diri memenuhi target harian belajar kita. Istirahat saja dulu, agar selanjutnya kita bisa lanjut belajar setelah fit kembali dan mengejar target yang belum dipenuhi.
Nah, itulah cara-caraku belajar SBMPTN tanpa les. Hasilnya? Yap, aku lolos masuk ke FTTM ITB alias pilihan pertamaku. Seneng? Banget! Rasanya semua perjuanganku terbayar, ditambah lagi rasa pede yang sempat hilang karena aku tidak ikut les itu kembali datang. Begitu pula kalian-kalian pejuang SBMPTN, tentunya pasti bisa melakukan lebih dari yang aku lakukan. Selamat belajar!
메타데이터
- post_id
- fc2dbd02cd2d
- slug
- sbmptn-ke-itb-tanpa-les-kenapa-tidak-fc2dbd02cd2d
- url
- https://medium.com/@rizkianigitha/sbmptn-ke-itb-tanpa-les-kenapa-tidak-fc2dbd02cd2d
- canonical_url
- https://medium.com/@rizkianigitha/sbmptn-ke-itb-tanpa-les-kenapa-tidak-fc2dbd02cd2d
- author_url
- https://medium.com/@rizkianigitha
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-09-04 01:51:07