← Back to list

Melepas Rasa Terpaksa Berkat Seporsi Pecel Madiun

Waktu masih umur empat tahunan di Malang, almarhum Papa sering mengajak kami sekeluarga ke warung makan khas Jawa Timur. Selain makanannya…

Permata Hisra · 2024-05-10 17:07 · 0 claps · 1.6 min read
#freewriting #slice-of-life #pecel #pecel-madiun #emotional-regulation
Open on Medium ↗

Melepas Rasa Terpaksa Berkat Seporsi Pecel Madiun

Waktu masih umur empat tahunan di Malang, almarhum Papa sering mengajak kami sekeluarga ke warung makan khas Jawa Timur. Selain makanannya enak, ibu pemilik warung yang suka memberi nama ajaib untuk masakannya jadi hiburan tersendiri. Misalnya, sate yang disebut “Sapi menek pring” — alias sapi memanjat bambu.

Saya lupa persisnya warung makan ini di Malang bagian mana. Tapi Papa suka sekali rawonnya. Sedangkan yang cukup memorable buat saya adalah sayur asemnya, yang pada akhirnya di-recook Mama di rumah dengan resep yang persis sama.

Selain rawon, di Malang ini lidah saya berkenalan juga dengan nasi jagung, tahu petis, tahu tek, tahu campur, rujak cingur, bakwan malang, dan pecel.

Nah, selain rawon yang disebutkan tadi, makanan khas Jawa Timur lain yang jadi favorit Papa adalah pecel Madiun. Apalagi pecelnya disajikan dalam pincuk dari daun jati.

Sayangnya khusus pecel Madiun ini, saya paling sering kabur-kaburan dan ogah kalau disuruh makan.

Selain bungkus daun jatinya meninggalkan rasa pahit, saya benci banget rasa pedas di bumbu pecelnya. Apalagi, ada orang (di luar keluarga inti) yang sering memaksa saya makan pecel buatannya. Bukan masalah nggak enak, tapi bumbu pecel buatannya terlalu pedas dan tidak kids friendly. Sejak itu, pokoknya saya sangat anti pecel.

Pecel adalah musuh paling menyebalkan!

Tak dinyana, kebencian saya terhadap pecel berubah di akhir tahun 2023.

Saat itu, saya sedang bosan dengan makanan di sekitar kos. Lalu berbekal review sana-sini, akhirnya saya memberanikan diri mencoba pecel juga. Tidak usah sebut merek, tapi saya bisa bilang kalau ini pecel Madiun di Jakarta dengan bumbu tidak pedas yang saya idam-idamkan waktu kecil! Yeay!

Menikmati setiap suap pecel kali ini membuat saya berefleksi. Ternyata, setelah puluhan tahun berlalu, yang saya benci bukan pecelnya. Melainkan orang yang pernah memaksa saya makan pecel saja. Sebab di usia TK waktu itu, saya berpersepsi kalau disuruh makan pecel sama artinya dengan dipaksa makan pedas.

Toh pada akhirnya, saya tahu kalau rasa bumbu pecel tidak seburuk yang saya perkirakan dulu.

Bersamaan dengan suapan pecel terakhir, saya pun sudah selesai dengan emosi masa kecil berupa rasa kesal karena dipaksa makan pedas itu.

Sudah bisa menikmati pecel Madiun sambil bergumam, “Maaf ya Pa kalau dulu nggak pernah bisa makan pecel bareng…”

Gumaman yang sesungguhnya agak tidak berguna karena yang diajak bicara juga sudah beda alam. Hehehe.


메타데이터
post_id
fc2ee8af2393
slug
melepas-rasa-terpaksa-berkat-seporsi-pecel-madiun-fc2ee8af2393
url
https://medium.com/@hisrapermata/melepas-rasa-terpaksa-berkat-seporsi-pecel-madiun-fc2ee8af2393
canonical_url
https://medium.com/@hisrapermata/melepas-rasa-terpaksa-berkat-seporsi-pecel-madiun-fc2ee8af2393
author_url
https://medium.com/@hisrapermata
status
ok
fetched_at
2026-07-23 21:35:45