← Back to list

— Leowon

Beberapa menit telah berlalu dalam keheningan yang mulai terasa damai.

reyhart · 2025-11-01 16:06 · 50 claps · 3.8 min read
#writing #history #lifestyle #leowon #bxb
Open on Medium ↗
Wiki topics: HIS · History ✨ · Lifestyle · General 👗 · Fashion

— leowon

beberapa menit telah berlalu dalam keheningan yang mulai terasa damai.

​"AAAKH!"

​triakan sangwon yang nyaring itu mendadak mengoyak keheningan. ​leo tersentak, rasa waspada langsung mengambil alih. ia bangkit dan bergegas menuju sumber suara, membuka pintu kamar dengan cepat.

pemandangan di depannya membuat langkah leo terhenti di ambang pintu.

​sangwon berada di tepi ranjang. kaki kanannya tertekuk, diletakkan di atas tepatnya tepi kasur, sementara kaki kirinya masih menapak di lantai.

​sangwon memakai sebuah kemeja putih kebesaran, kain katun yang merosot perlahan dari bahu, menyisakan jejak kosong di kulit.

kancing-kancing depan dibiarkan terlepas, menciptakan jurang samar yang mengintip ke dalam, menuntun pandangan ke lekukan leher yang halus dan tulang selangka yang samar.

lengan panjangnya menutupi ujung jemari, seolah menyembunyikan sentuhan terakhir, sementara bagian bawah kemeja itu menggantung bebas, melayang tipis di atas paha.

ada janji kehangatan di setiap lipatan longgarnya. ini bukan hanya pakaian, melainkan selubung sensual yang membungkus keintiman, sebuah gambaran tentang kebebasan yang menggoda dan hasrat yang tertahan diantara kain dan kulit.

​leo terperangah.

dalam benaknya berputar pertanyaan. sialan, dia pake kemeja gua? kenapa cuma atasannya doang? gua terlanjur masuk kesini.

​mata sangwon yang biasanya penuh goda kini tampak berkaca-kaca, memancarkan rasa terkejut dan sedikit kesakitan.

​"leo ihhh... my leg..." rintih sangwon.

​sangwon segera mendekati leo. pemandangan itu, ditambah kemeja yang seolah sengaja terbuka dibagian atas, membuat telinga leo mulai memerah. ini tidak bisa dibiarkan, pikir leo. ini terlalu dekat, terlalu menggoda, terlalu berbahaya untuknya menahan diri.

​leo spontan memalingkan wajahnya, menutupi mata dengan satu tangan. "awon," katanya dengan suara berat. "dipake dulu bawahannya."

​sangwon tidak menyerah. "ihhh, just look at my thigh! ada scratch disini, it hurts!" sangwon menunjuk ke arah paha kirinya yang terlihat jelas di bawah lipatan kemeja.

​leo tetap kekeuh, menggelengkan kepala tanpa melihat. "ambil celana dulu."

​tiba-tiba, kedua tangan sangwon terulur, menangkup pipi leo yang memerah, memaksa wajah leo menghadapnya. kelembutan telapak tangan sangwon, ditambah jarak yang kembali menghimpit, membuat leo hampir kehilangan napasnya.

​"leooo, just look for a sec!" sangwon mendesak, matanya yang berkaca-kaca menuntut perhatian.

​leo menghela napasnya pasrah. ia menurunkan tangannya, pandangannya akhirnya jatuh ke paha sangwon. dan benar saja, ada goresan tipis memanjang, mungkin tergores sudut furnitur yang tajam. goresan itu kecil, tapi cukup untuk meninggalkan garis merah yang tampak perih di kulit sangwon. tanpa berpikir panjang lagi, leo bergerak cepat. ia meraih tubuh sangwon, menggendongnya bridal style secara mendadak.

hal itu sukses membuat sangwon sedikit terkejut.

​"diem. jangan banyak gerak."

​leo mendudukkan sangwon di tepi ranjang. ia segera mencari kotak P3K, lalu kembali. ia mengambil kapas, mengoleskan cairan antiseptik, lalu menempelkan plester kecil, leo harus mengerahkan seluruh sisa kendalinya.

ia fokus pada luka, menghindari tatapan sangwon dan juga siluet tubuhnya, yang hanya berbalut kemeja longgar. setiap sentuhan pada kulit paha sangwon, setiap hembusan napas zangwon yang dekat, itu adalah ujian tersulit…

​leo hanya bergumam pelan, "lain kali, langsung panggil aja, jangan pake triakan, bikin orang kaget aja."

​leo slesai menempelkan plester kecil di paha sangwon. ia segera menarik tangannya kembali. ia menutup kotak P3K, menggunakan momen itu untuk mengambil jarak emosional.

​"udah.” kata leo singkat.

ia tidak berani menatap sangwon, pandangannya tertuju pada plester di paha.

​sangwon tidak segera menjawab. ia menatap leo, senyumnya kini menghilang, digantikan oleh tatapan yang mendalam dan serius. ia mengangkat tangannya dan menyentuh rahang leo, memaksanya untuk mendongak.

​"look at me.”

​saat mata keduanya bertemu, leo tau ia dalam masalah besar.

kemeja putih kebesarannya itu, kulit yang terekspos, keintiman yang baru saja mereka bagi, semua menjadi kombinasi yang sempurna.

​"ah… gua... gua mau ngambil minuman.” leo mencoba berdiri, mencari alasan untuk melarikan diri dari intensitas tatapan sangwon.

​namun, sangwon justru bertindak lebih cepat. ia mengaitkan kedua kakinya di pinggang leo, menarik leo kembali ke posisinya semula, berlutut di antara kedua kaki sangwon. sangwon mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak secara drastis.

​"leo…," bisik sangwon, napasnya menerpa bibir leo.

​belum leo sempat memproses, sangwon sudah menyatukan bibir mereka. ciuman itu intens dan menuntut, tidak seperti ciuman biasa, melainkan ciuman yang sarat dengan gejolak emosi dan hasrat yang terpendam selama hari-hari kesalahpahaman keduanya.

leo, yang awalnya kaku, pada akhirnya menyerah juga. ia membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama, tangannya mulai naik, mencengkeram pinggang sangwon.

​ciuman itu semakin dalam dan panas. tangan leo mulai bergerak, menjelajahi punggung sangwon dibawah kemeja longgar itu.

sangwon mendesah pelan, ia mendorong leo, memaksa leo untuk berbaring telentang di ranjang. sangwon menindih tubuh leo, kemeja putihnya yang longgar itu kini menjadi tirai tipis yang menjanjikan lebih banyak lagi.

​leo merasakan semua kendalinya terlepas. aroma sangwonsentuhan kulitberat tubuh sangwon diatasnya… semuanya berteriak untuk dilanjutkan.

tangan leo semakin brani, ia menarik kemeja sangwon dari bahu, ingin melihat dan merasakan kulit tubuh yang masih tersembunyi.

​namun, saat tangan leo menyentuh bagian leher, ia merasakan detak jantungnya sendiri mulai menggila, sebuah alarm berbunyi keras di benaknya.

​tidak… masih belum.

​leo teringat lagi pada janjinya ke diri sendiri, pada batasan yang coba ia tegakkan.

ini adalah sangwon, orang yang selalu berhasil membuatnya plin-plan, orang yang selalu membuatnya jatuh lagi setiap kali mereka dekat. kali ini, ia harus sadar.

leo membalikkan keadaan dengan gerakan tiba-tiba yang lembut.

ia menahan pergelangan tangan sangwon, menghentikan tangan sangwon yang mulai menjelajahi kerah bajunya.

leo menatap lurus ke netra sangwon yang kini penuh kabut hasrat.

"awon…" leo menahan dorongan kuat dari dalam dirinya sendiri.

"mau… leo, mau…” bisik sangwon, mencoba melepaskan tangannya.

​"gua tau," potong leo. "gua tau kita sama-sama mau. tapi ga sekarang, ya?"

sangwon mengerucutkan bibirnya, tampak kecewa. tapi di sisi lain, dia juga mengerti. "ihhh, dikit lagi padahal, loeleleoleo" keluh sangwon.

leo hanya menghela napas. "tidur, ya? udah malem." katanya tanpa menoleh.

leo mengambil selimut dan meletakkannya di samping sangwon. ia berusaha mengembalikan kewarasannya setelah lolos dari jurang yang amat sangat dalam.


메타데이터
post_id
fc57a6043517
slug
leowon-fc57a6043517
url
https://medium.com/@reyhart.hvn/leowon-fc57a6043517
canonical_url
https://medium.com/@reyhart.hvn/leowon-fc57a6043517
author_url
https://medium.com/@reyhart.hvn
status
ok
fetched_at
2026-07-15 21:47:15