Kalung “T”
(Cerpen) KAU BANGKIT dari pemakaman masa lalu. Selayaknya Dewi Ayu yang magis dalam cerita reka “Cantik Itu Luka” karya Mas Eka. …
Kalung “T”

tokopedia.com
KAU BANGKIT dari pemakaman masa lalu. Selayaknya Dewi Ayu yang magis dalam cerita reka “Cantik Itu Luka” karya Mas Eka. Namun, hadirmu kini tak begitu berdampak, sepertinya. Tak ada kencing di celana, tak ada domba berlarian, apalagi rasa penasaran gerombolan orang-orang — atas bangkitmu pagi ini. Aku sendiri hanya bergeming. Aku bingung. Aku membisu. Saat ini, hanya satu yang kutahu, kau hadir di waktu yang tak kusangka.
Sejujurnya, rumah Hanafi adalah persinggahan terakhir yang patut kuziarahi. Kediaman yang kemudian menjadikan kita tak pernah lagi ada rasa, kecuali secuil. Hanya saja secuil itulah yang mengerak bagai noda, bagai getah, bagai nyawa yang tak lekang kecuali kemudian aku yang usang.
Sejak hari, kau memilih mati kubunuh. Bayanganmu pun selalu kuusir bagai nyamuk yang mengganggu di malam hari. Dan kau kuikhlaskan bagai sandal biruku yang raib digondol orang tak kukenal, tempo hari. Kau selayaknya udara yang keluar-masuk rongga tubuhku, yang mengisi tapi, tak pernah berhenti untuk menetap. Namun, di sini aku harus mengucapkan terima kasih: kamu telah memberi hidup, kamu memberi cerita yang kemudian menjadi bahan-bahan mimpi-mimpi terlarang.
Kamu: aku tak pernah mau menyebut namamu. Karena dengan ‘kamu’ aku selalu berpikir bahwa kau akan selalu menjadi pasangan ‘aku’ dalam hidup ini. Meski kutahu, pasanganmu kini adalah ‘dia’. Tapi, tak pernah ada ‘kamu’ kecuali ada ‘aku’, dan ‘aku’ yang menghadirkan ‘kamu’ sebagai pasangan dari diriku.
Seperti tersihir diriku ini. Aku memasuki portal dimensi waktu yang mengaliri saraf-sarafku di pagi hari. Kamu seketika hadir seperti biasa, seperti teman-teman kampusku yang sedikit berbincang dan bercanda. Kau hadir dan tertawa di hadapanku. Namun, aku diam saja.
Kamu kemudian ikut terdiam, lalu mencoba tertawa lagi berharap aku merespons walau hanya setarik senyum. Namun, kali ini usahamu sia-sia. Tak ada reaksi dari diriku. Lamat-lamat, kemudian kamu menatapku begitu sendu. Aku melihat dari sorot matamu yang tiba-tiba redup. Ada kesedihan terpatri usai tak berhasil membuatku tertawa.
Aku gagu dilanda bingung. Kamu hadir secara tiba-tiba dan aku hanya bisa melotot. Entah mengapa? Aku merasa begitu asing denganmu. Padahal, dahulu, di saban hari yang selalu kutangisi. Kehadiran senyum dan tawamu adalah obat yang selalu ingin kukonsumsi. Agar penyakitku segera sembuh seperti sedia kala.
Mungkin karena kabut tipis itu telah kurajut menjadi selimut tebal, yang menghalangi keinginan — yang bahkan, itulah keinginan yang sangat kumaui. Tawamu. Senyummu.
Aku memang terdiam. Namun, tak pernah terbesit dalam diriku membenci dirimu, apalagi membuatmu bermuram durja. Kaulah cinta yang bagiku — entah kau benar menetap, ataukah jauh terbawa orang yang kau pilih — hatiku tetap taman yang tenang, lengang, dan berharap sesekali kau mengunjungi untuk memugar tanah, menyiangi rumput, dan menyapu daun keringnya.
Seperti pagi ini, kamu hadir membawa sebuah kalung dengan liontin inisial “T”. Dalam diamku, dalam diammu, kamu langsung mengalungkannya kepadaku. Di leherku, terasa dingin kalung itu. Aku tak memberontak, kecuali dadaku yang sesak. Sesak karena kau benar-benar menjelma sosok yang kuinginkan, padahal, kau sepenuhnya sudah kubunuh, wahai, kekasihku yang malam.
Di taman yang mati ini, kamu telah menumbuhkan setidaknya satu pohon kerinduan dan keinginan untuk mendekapmu kembali.
Masih jelas di mataku, kalung dengan inisial T itu begitu manis kupandangi. Berkilau-kilau ditimpa cahaya yang entah dari mana? Apa maksudnya ini? Pikirku. Namun, sepintas terlintas. T = “Tak pernah terlupakan.”
“Te, tak pernah terlupakan, yah?” ucapku untuk pertama kalinya padamu.
Kamu terkekeh sebagai balasan. Begitu manis, yang kemudian menghadirkan penyesalan dalam diriku telah membunuh dan menguburmu di masa lalu. Kamu tidak menjawab, memberiku kesimpulan abu-abu. Kasih, mengapa kamu begitu sulit kuterka?
Lalu, tibalah kita di negeri antah-berantah. Kita duduk pada kursi plastik di sebuah teras, di rumah tak asing. Ini adalah rumahku, rumah yang pernah kau pijaki, tempati makan, tempati bersenda gurau bahkan tertidur walau hanya sejenak. Lalu meluncurlah pertanyaan itu dari mulutku untuk kesekian kalinya.
“Sebenarnya? Kamu mencintaiku, tidak? Mengapa kau selalu hadir dengan dua sosok yang tak mampu kuterka. Kau hadir dengan ucapan penolakan, tapi dengan sikap yang menerima. Aku sungguh tidak mengerti?”
“Tidak,” balasmu dingin.
Sudah kuduga, kau selalu seperti itu. Kau selalu berkata “tidak.” Tidak pernah berkata iya untuk membahagiakanku.
“Kenapa tidak? Kau jahat. Kau selalu berlaku manis, seolah menerimaku dalam hidupmu. Tapi kau selalu menolak cintaku padamu. Aku ini sangat sayang padamu, Dik.”
“Tapi, aku tidak bisa mencintaimu seperti yang kamu mau.”
“Kenapa?” Aku mengusap wajah gusar dan prustasi. Balasan macam apa itu?
“Kau tahu kita sama. Hanya saja kau selalu ingin mengikuti impian-impian terlarangmu. Sudah kukatakan, kita tidak akan pernah bersama. Aku tidak pernah bisa ada di hidupmu.” Tegasmu kemudian. Wajahmu tegang, tegas menandakan kamu sedang serius padaku.
“Tapi kamu tahu bedanya mencintai dan menyayangi, kan?”
“Kakak selalu mengatakan itu. Aku tidak mengerti mengapa Tuhan menyiksamu seperti ini? Mengapa Tuhan menghadirkan ujian yang melemahkan kedudukanmu, Kak. Kau berusaha membiarkan musuh-musuhmu mendekat dan bertepuk tangan dengan mengikuti malam jahannammu di hari lalu.”
“Tapi kamu tahu bedanya mencintai dan menyayangi.”
“Ah, payah. Kau terlalu tersihir padaku sehingga buta pada jalan yang kau tapaki. Kita ini sama … tapi oke, kalau itu yang kau inginkan, kukatakan aku cinta kepadamu. Tapi aku katakan pula, aku tak akan pernah bisa bersamamu.” Kamu menghela napas kasar.
“Aku tahu kamu mencintaiku, bahkan sangat menyayangiku. Tapi tidak seperti yang kau katakan pada semua orang. Kutahu kamu adalah pembohong besar. Cintamu tak seperti itu, Kak. Kau ingin memilikiku sepenuhnya, jujur pada dirimu,” lanjutmu berusaha menerangkan. Aku tergagu. Perlahan kucerna lalu kuiyakan dalam diamku. Aku memang tak pernah ikhlas kehilanganmu.
Ya, kau lagi-lagi menolakku. Lalu apa alasanmu bangkit dan hadir di hidupku pagi ini? Hanya ingin memberiku oleh-oleh yang kelak akan menghancurkanku jua? Kenapa? Kenapa kamu begitu jahat.
“Entah siapa yang jahat sebenarnya? Sejujurnya, aku hadir hanya untuk menghargai kamu mencintaiku,” balasmu.
“Tapi tak begini caranya.”
“Kau menginginkan seperti apa? Mengapa kau tidak pernah ikhlas melepaskanku. Di mana janji-janji untuk melepaskan itu? Di mana sumpah serapah dan deklarasi tegas bahwa kau akan berhenti mengingatku. Di manaaa?!!”
Aku tertegun.
“Asal kakak tahu, aku tak pernah tenang dalam malam yang kau hadir dan selalu mengecup keningku, memeluk tubuhku, dan bahkan menyetubuhiku hingga lemas dan kau puas. Aku tidak mengerti mengapa seperti itu. Aku sudah cukup menderita dengan bayanganmu.” Air matamu tiba-tiba meluruh seolah perkataanmu adalah pengakuan terdalam di lubuk hati yang selama ini kau tutupi.
Aku semakin gelam dalam diam. Lebih tepatnya speechless mendengar pengakuanmu. Ternyata cintaku bisa menyiksamu sebrutal itu? Belum sempat aku menjawab, kamu kembali berkata;
“Jadi … aku hadir menyelesaikan semuanya, agar kita berdua bisa tenang. Kamu bisa bebas memilih orang lain. Ambillah kalung itu. Percayalah aku menerima cintamu, aku menerima kasih-sayangmu, tapi aku tak pernah bisa menerima bayangmu dalam malam-malamku. Jadikan saja pemberianku itu sebagai tanda bahwa kamu pernah jatuh cinta di masa lalu, di masa kelam.”
“Tapi ….”
Terlambat, tanganku tiba-tiba keram, pintu di hadapanku terbuka dan kamu sirna begitu saja. Kau hilang tanpa mendengar sepatah kata dariku, bersama dengan itu, kalung T yang kau berikan, perlahan raib dari leherku. Dan aku hanya bisa mengingat. Kau benar-benar tersiksa oleh cintaku. Maaf *[].**
메타데이터
- post_id
- fc741f16412e
- slug
- kalung-t-fc741f16412e
- url
- https://medium.com/m%C3%A9dium-bercerita/kalung-t-fc741f16412e
- canonical_url
- https://medium.com/m%C3%A9dium-bercerita/kalung-t-fc741f16412e
- author_url
- https://medium.com/@sanssastra
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-22 09:03:43