Surat
Sarana untuk memulai dan mengakhiri
Surat
Sarana untuk memulai dan mengakhiri
Photo by Towfiqu barbhuiya on Unsplash
Saya baru sadar kalau selama ini saya punya ketertarikan terhadap hal-hal yang berbau klasik. Sebagai contoh, saya pernah bilang kepada seorang teman, seandainya saya adalah perokok, saya pasti akan lebih memilih rokok kretek daripada rokok filter.
Alasannya, saya merasa merokok dengan kretek itu terasa seru dan estetis. Ada semacam proses atau ritual yang mesti dilakukan sebelum bisa menikmati rokok tersebut. Mulai dari mengambil tembakau, menata tembakau di atas kertas, melinting, membakar ujung rokok, sampai akhirnya menikmati isapan pertama. Beda dengan rokok filter yang terasa instan buat saya. Alasan lainnya adalah saya suka aroma asap rokok kretek yang terasa wangi.
Bukan cuma soal rokok, saya juga suka hal yang sifatnya klasik dalam dunia perkopian. Kalau orang-orang lebih suka kopi kekinian yang dicampur dengan berbagai macam condiment kayak latte, saya justru sebaliknya. Saya lebih suka rasa kopi yang jujur dan apa adanya, kayak americano, kopi tubruk, atau seduhan manual V60.
Selain karena alasan kenyamanan lambung, alasan saya suka ketiga varian kopi tersebut mirip kayak alasan saya suka rokok kretek. Dari segi estetika, untuk menghasilkan segelas kopi V60 yang nikmat, ada proses yang mesti dilewati. Mulai dari menggiling biji kopi, menghirup aroma wangi hasil gilingannya, menyiapkan dan membasahi paper filter, melakukan proses pouring, sampai akhirnya bisa menikmati tegukan pertama.
Dari segi rasa, kopi klasik itu unik. Di bayangan banyak orang, karena kopi klasik rasanya pahit, pasti aftertaste-nya juga bakal pahit. Padahal nggak selalu begitu. Malah yang saya rasakan, kebanyakan aftertaste kopi klasik itu manis kayak rasa buah-buahan atau bunga, apalagi kalau pakai biji kopi arabika. Beda sama kopi kekinian yang menurut saya rasanya manis di awal tapi aftertaste-nya pahit.
Tapi sebenarnya, jauh sebelum saya menyukai kopi klasik dan rokok kretek, ada hal klasik yang paling pertama saya sukai. Bisa dibilang ini menjadi cikal bakal kenapa saya suka hal klasik, hal klasik itu adalah menulis surat.
Bisa dibilang saya tumbuh di zaman peralihan cara manusia berkomunikasi. Saya sempat berada di era surat-menyurat, merasakan suasana menelepon di bilik wartel, mengalami praktisnya berkomunikasi pakai telepon gengam, sampai akhirnya melihat dunia yang tanpa batas karena kehadiran internet.
Untuk zaman surat-menyurat, karena saya lahir di penghujung era tersebut, saya sebenarnya nggak pernah mengalami langsung asyiknya berkomunikasi dua arah lewat surat-menyurat. Seingat saya, saya cuma pernah mengirimkan surat ke Majalah Bobo dalam rangka mengikuti kuis. Jadi bisa dibilang saya cuma merasakan sisa remahan saja dari zaman tersebut, berupa hawa kalau saat itu masih ada orang yang berkomunikasi dengan surat, walaupun jumlahnya sudah semakin sedikit.
Walaupun saya merasakan era surat-menyurat sangat singkat, nggak tahu kenapa zaman itu meninggalkan bekas yang mendalam di hidup saya. Bentuk bekas itu berupa saya sangat suka berkomunikasi dengan orang lain lewat tulisan, terutama dalam hal menyampaikan perasaan.
Momen pertama saya menulis surat terjadi pada tahun 2015. Waktu itu, saya menulis surat cinta untuk seorang adik kelas. Surat itu saya selipkan di halaman buku yang saya pinjam darinya. Hasilnya? Nggak ada balasan surat darinya. Otomatis, perasaan saya juga nggak berbalas.
Saya nggak tahu apa alasan dia nggak balas surat saya. Apakah karena tulisan saya yang jelek makanya dia nggak paham isi surat itu, atau karena memang sudah ada orang lain di hatinya. Dugaan saya sih karena alasan yang kedua. Sejelek-jeleknya tulisan saya, nggak mungkin dia nggak bisa baca. Kan dia sudah kelas 1 SMA.
Pada tahun 2015 itu, teknologi komunikasi sebenarnya sudah berkembang pesat. Waktu itu, aplikasi BBM lagi ngetren. Orang berlomba-lomba saling tukar PIN BBM dengan tujuan yang beragam. Mulai dari yang tujuannya untuk pamer koleksi kontak, sampai yang niatnya dapatin PIN BBM si doi biar bisa pdkt.
Sebagai orang yang normal, seharusnya saya mengikuti cara yang kebanyakan orang lakukan: minta PIN BBM, PDKT, dan sampaikan perasaan lewat chat. Tapi karena mungkin saya bukan orang yang normal, saya nggak memilih cara itu. Mungkin itu juga yang membuat adik kelas itu nggak membalas surat saya. Di mata dia, mungkin saya adalah orang yang aneh. Manusia macam apa yang di tengah maraknya kemudahan komunikasi lewat digital, justru memilih cara kuno berupa surat untuk menyatakan cinta, kalau bukan orang itu adalah orang aneh?
Buat saya, menyatakan perasaan adalah hal yang intim. Ketika menyatakan perasaan lewat digital, rasa intim itu hilang. Bentuk keintiman yang hilang adalah prosesnya yang begitu instan. Beda dengan menyatakan perasaan lewat surat. Keintiman itu terjaga lewat proses menulis surat.
Dari sisi penulis surat, keintiman itu terjaga lewat proses yang bermula dari hati yang bergejolak, memilih tone kertas yang sesuai dengan isi pesan, merasakan sensasi goresan pensil atau pulpen di atas secarik kertas, sampai akhirnya ditutup dengan hati harap cemas apakah surat itu akan berbalas.
Dari sisi penerima surat, keintiman itu terjaga lewat proses yang bermula dari hati yang bergejolak ketika menerima surat, merasakan sensasi memegang dan membuka lipatan kertas, dan ditutup juga dengan gejolak hati yang tak karuan setelah selesai membaca isi surat.
Keintiman itulah yang membuat saya, sampai saat ini di tahun 2026, masih mempertahankan cara kuno tersebut untuk kembali menyampaikan perasaan kepada seseorang. Tapi bedanya, di tahun 2026 ini, saya menulis surat bukan untuk tujuan memiliki, tapi untuk melepaskan.
메타데이터
- post_id
- fca60b39acb7
- slug
- surat-fca60b39acb7
- url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/surat-fca60b39acb7
- canonical_url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/surat-fca60b39acb7
- author_url
- https://medium.com/@dhafinyu
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-17 08:20:12