← Back to list

Setiawan Djodi: Menyepi dari Tahta, Merapat ke Rakyat

Lintas Fenomena — Di antara nama-nama agung yang tercetak dalam silsilah Keraton Surakarta, ada satu nama yang memilih menepi dari arus…

Lintas Fenomena · 2025-05-26 14:37 · 0 claps · 1.7 min read
#biography #artist #seniman #kantata #takwa
Open on Medium ↗
Wiki topics: PHI · Philosophy

Setiawan Djodi: Menyepi dari Tahta, Merapat ke Rakyat

Setiawan Djodi: Menyepi dari Tahta, Merapat ke Rakyat

Setiawan Djodi: Menyepi dari Tahta, Merapat ke Rakyat

Lintas Fenomena — Di antara nama-nama agung yang tercetak dalam silsilah Keraton Surakarta, ada satu nama yang memilih menepi dari arus kehormatan kebangsawanan: Setiawan Djodi.

Lahir dengan nama lengkap Kanjeng Pangeran Haryo (K.P.H) Salahuddin Setiawan Djodi Nur Hadiningrat, ia justru lebih nyaman dikenal sederhana, tanpa embel-embel gelar yang mengangkat martabat di mata dunia.

“Untuk apa?” katanya lirih, namun tegas, ketika ditanya tentang pilihan hidupnya meninggalkan gelar kebangsawanan.

Keputusan itu tidak datang tanpa riak. Suatu hari di dekade 1980-an, WS Rendra—penyair dan sahabat seninya—menyampaikan pesan dari sang raja, Pakubuwono XIII.

Ibu Djodi sendiri yang meminta sang raja untuk membujuk anaknya agar tak menolak warisan darah biru. Tapi Djodi kukuh. Ia bukan sedang memberontak, melainkan sedang merunduk—mencari makna dalam kesederhanaan.

Bagi Djodi, ajaran Islam menempatkan manusia sejajar di hadapan Tuhan. Dalam ihram yang sama, tak ada perbedaan antara raja dan rakyat. Itulah tafsir keislamannya: Islam yang merangkul, bukan memisah; yang menyatukan, bukan meninggikan diri.

“Islam yang saya pahami adalah Islam yang egaliter,” ucapnya.

Di tengah arus zaman yang keruh oleh kekerasan atas nama agama, Djodi berdiri di sisi yang lain. Ia menolak kekerasan, menolak cara dakwah yang menakutkan.

Rasulullah, katanya, tidak pernah memaksa dengan pedang, melainkan membimbing dengan akhlak. Piagam Madinah menjadi cerminnya: Islam yang memberi jaminan, bukan ancaman.

“Kalau ingin mendirikan negara Islam, silakan. Tapi mengapa harus membakar orang hidup-hidup?” tanyanya getir.

Sebagai seniman, Djodi menyuarakan keyakinannya melalui nada dan lirik. Di panggung Kantata Takwa, bersama WS Rendra, Virgiawan Listanto (Baca : Iwan Fals) dan kawan-kawan, ia melantangkan nilai-nilai Islam dalam bentuk yang membumi: keadilan, kesetaraan, dan keberpihakan pada yang tertindas (Mustadh’afin).

Seni menjadi medan dakwah, bukan mimbar kemarahan. Djodi percaya, masa depan Islam Indonesia bukan terletak pada bentakan, tapi pada pendidikan.

Bukan pada pemaksaan, melainkan pada pemahaman. Ia ingin Islam tumbuh di tanah air ini seperti pohon yang akarnya menancap kuat pada bumi, tapi daunnya rindang menaungi semua makhluk.

“Mari kita cintai Islam, agar cinta pula pada Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945,” ujarnya, menggabungkan langit spiritual dan tanah kebangsaan dalam satu tarikan napas.

Setiawan Djodi mungkin menanggalkan mahkota lahiriah, tetapi dalam kesunyian sikapnya, ia mengenakan mahkota nurani. Tak bertakhta di singgasana, tapi menapaki jalan sunyi bersama rakyat—membawa pesan Islam yang teduh, merawat Indonesia yang damai. (WSLife)

Sumber: republika.co.id

Re-Write : Wahyu Santoso a.k.a Cak Santos


메타데이터
post_id
fca911c8b02a
slug
setiawan-djodi-menyepi-dari-tahta-merapat-ke-rakyat-fca911c8b02a
url
https://medium.com/@life_lintasfenomena/setiawan-djodi-menyepi-dari-tahta-merapat-ke-rakyat-fca911c8b02a
canonical_url
https://medium.com/@life_lintasfenomena/setiawan-djodi-menyepi-dari-tahta-merapat-ke-rakyat-fca911c8b02a
author_url
https://medium.com/@life_lintasfenomena
status
ok
fetched_at
2026-07-24 16:32:53