Target 5 Persen: Mission Impossible di Tengah “Gunting Fiskal”
Di balik lembar-lembar draf RPJMD yang sedang kita susun, terselip sebuah angka yang memancing perenungan mendalam: target pertumbuhan…
Target 5 Persen: Mission Impossible di Tengah “Gunting Fiskal”

Infografis Pertumbuhan Ekonomi Barito Utara
Di balik lembar-lembar draf RPJMD yang sedang kita susun, terselip sebuah angka yang memancing perenungan mendalam: target pertumbuhan ekonomi 5 persen. Di satu sisi, angka ini mencerminkan optimisme dan semangat pembangunan yang patut diapresiasi. Namun, jika kita menelaah lebih jauh ke dalam ruang kendali data objektif, muncul pertanyaan besar yang sulit diabaikan: Sejauh mana realitas ekonomi kita mampu memikul ambisi setinggi itu?
Melihat kondisi fundamental saat ini, menetapkan target 5 persen terasa seperti sebuah Mission Impossible. Tanpa landasan yang realistis, angka tersebut dikhawatirkan bukan lagi menjadi pemacu kinerja, melainkan justru berisiko membenturkan kredibilitas perencanaan daerah pada krisis fiskal yang nyata.
1. Mesin Utama yang Sedang Mogok
Kita harus jujur melihat cermin data yang menunjukkan tren penurunan konsisten: mulai dari 6,24% (2022), melandai ke 5,49% (2023), menyusut ke 5,03% (2024), hingga mendarat di 3,12% (2025). Angka 3,12% (dari target 6,5%) ini berada jauh di bawah rata-rata pertumbuhan Provinsi Kalimantan Tengah yang mencapai 4,80%.
Sektor pertambangan, yang memegang kendali 35,53% ekonomi kita, menyumbang 83% dari total perlambatan tersebut. Saat ini kita berada di fase “Bust” (titik rendah) di mana harga tambang telah terkoreksi tajam sebesar -34,04 poin sejak masa puncaknya. Berharap ekonomi melompat ke 5 persen tanpa pemulihan harga komoditas global ibarat memaksa mesin yang sedang mogok untuk balapan di jalur cepat.
2. Jebakan “Gunting Fiskal” dan Kemandirian yang Semu
Kekhawatiran ini semakin beralasan jika kita melihat postur APBD 2026. Target Pendapatan Asli Daerah (PAD) kita hanya dipatok sebesar Rp154,23 Miliar, atau hanya menyumbang 4,92% dari total pendapatan daerah yang mencapai Rp3,13 Triliun. Dengan kata lain, 95,08% napas pembangunan kita bergantung sepenuhnya pada Transfer ke Daerah (TKD) dari pusat.
Dalam teori ekonomi, menetapkan target tinggi tanpa dukungan fiskal mandiri yang kuat disebut sebagai Fiscal Illusion. Padahal, defisit APBN nasional di Kuartal I 2026 melonjak 140,5% (mencapai Rp240,1 Triliun), yang berdampak pada pemangkasan TKD nasional sebesar Rp146 Triliun. Kita harus belajar dari nasib Kabupaten Kepulauan Meranti. Akibat kegagalan menyelaraskan target ambisius dengan realitas fiskal, pemerintah di sana terjerat krisis likuiditas parah. Hingga saat ini, Pemkab Meranti masih dipaksa "mencicil" utang tunda bayar yang menembus angka Rp105 Miliar. Ini adalah bukti nyata bahwa kesalahan dalam menetapkan target di atas kertas berujung pada beban utang tahunan yang melumpuhkan pelayanan publik di dunia nyata.
3. Ilusi Angka: Saat Rakyat Menjadi Lebih Miskin
Bahaya terbesar dari target yang tidak realistis adalah pengabaian terhadap nasib rakyat. Data menunjukkan pertumbuhan penduduk kita berada di angka 1,2% — 1,3% per tahun. Jika ekonomi dipaksakan tumbuh di atas kertas namun secara riil hanya berada di kisaran 0% — 1% (Skenario Baseline), maka secara matematika PDRB per kapita kita tumbuh negatif.
Artinya, setiap warga Barito Utara secara rata-rata menjadi lebih miskin karena pendapatan mereka tidak mampu mengejar penambahan jumlah penduduk dan kenaikan biaya hidup. Ini menjelaskan mengapa Indeks Gini kita melonjak ke 0,328 — tertinggi di Kalimantan Tengah. Menetapkan target 5 persen di tengah angka ketimpangan yang lebar hanya akan memperparah jurang sosial antara pemilik modal dan rakyat kecil.
Kesimpulan: Plafon Realistis di Bawah 3 Persen
Melihat fakta lapangan — mulai dari 53,66% jalan yang rusak berat hingga rendahnya Harapan Lama Sekolah kita yang berada di peringkat ke-10 se-Kalteng — angka pertumbuhan di atas 3 persen adalah target yang sangat berisiko.
Kita harus ingat satu kaidah mendasar dalam teknokrasi: “Gagal merencanakan artinya merencanakan kegagalan.” Memaksakan target 5 persen mungkin akan membuat dokumen RPJMD kita terlihat “bagus”, namun itu adalah persiapan matang menuju kegagalan pembangunan yang nyata. Wallahu a’lam bish-shawab…
메타데이터
- post_id
- fcb493ff2cf2
- slug
- target-5-persen-mission-impossible-di-tengah-gunting-fiskal-fcb493ff2cf2
- url
- https://medium.com/@lkpstudia/target-5-persen-mission-impossible-di-tengah-gunting-fiskal-fcb493ff2cf2
- canonical_url
- https://medium.com/@lkpstudia/target-5-persen-mission-impossible-di-tengah-gunting-fiskal-fcb493ff2cf2
- author_url
- https://medium.com/@lkpstudia
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 20:20:52