← Back to list

Membawa Rotter ke Dalam Ruang Mengaji: Dialektika Takdir dan Ikhtiar

Sedikit lanjutan Ulasan Pembuka untuk Buku “Jodoh di Tangan Tuhan, Selebihnya Hasil Lobian” Karya Ning Uswah

Affa Esens · 2026-05-20 11:01 · 11 claps · 3.1 min read
#islam #psychology #books
Open on Medium ↗
Wiki topics: PSY · Psychology 🕊️ · Religion

Membawa Rotter ke Dalam Ruang Mengaji: Dialektika Takdir dan Ikhtiar

Sedikit lanjutan Ulasan Pembuka untuk Buku “Jodoh di Tangan Tuhan, Selebihnya Hasil Lobian” Karya Ning Uswah

Setelah kemarin mengutip sedikit teori Locus of Control milik Julian Rotter pada ulasan pembuka, mendadak urat jari-jari saya terlempar pada fakta bahwa harusnya, terlebih dulu, saya menampilkan ruang dialog keilmuan islam. Menjadikannya udara dalam tiap tarik-embusan napas dari apa yang saya bahas. Tapi saya tidak benar-benar tahu apakah ini hanya perasaan saya saja atau bagaimana. Yang jelas, untuk kali ini, biarkan saya coba menuntaskannya disini.

[embed]Jangan Tertipu Sampul! Jangan Tertipu Sampul! Sebuah Ulasan Pembuka untuk Buku "Jodoh di Tangan Tuhan, Selebihnya Hasil Lobian" Karya Ning…affaesens.medium.com

Menarik sekali melihat bagaimana sebuah teori psikologi modern yang lahir di Barat pada tahun 1960-an, sebenarnya memiliki gaung yang sangat keras di dalam perdebatan teologi (akidah) Islam berabad-abad silam. Konsep kendali ini, dalam kacamata Islam, bermuara pada satu tema besar yang tidak pernah selesai diperdebatkan: dialektika antara takdir, kehendak bebas manusia, dan keadilan Tuhan.

Jika kita bedah lebih dalam, dua kutub ekstrem yang dipetakan oleh Rotter sebenarnya adalah representasi dari dua aliran teologi klasik dalam Islam.

Di kutub External Locus of Control, kita akan bertemu dengan aliran Jabariyah. Kaum Jabariyah memandang manusia secara fatalistik — bahwa manusia sama sekali tidak memiliki kendali atas hidupnya. Kita ibarat wayang yang gerak jemarinya mutlak diatur oleh sang dalang, atau selembar bulu ayam yang pasrah ditiup angin kesana-kemari. Dalam urusan jodoh, kaum Jabariyah versi modern mungkin akan memilih rebahan di kamar, mengunci pintu rumah yang kian usang itu, lalu pasrah, “Jodoh ndak akan ke mana, nanti pasti datang sendiri.” Sebuah kepasrahan yang, sayangnya, kerap menjadi topeng bagi kemalasan.

Sebaliknya, di kutub Internal Locus of Control, berdiri tegak aliran Qadariyah (yang belakangan dikembangkan secara rasional oleh kaum Mu’tazilah). Aliran ini adalah penganut libertarianisme radikal. Mereka percaya bahwa manusialah pencipta mutlak dari setiap tindakannya. Sukses atau gagal, kaya atau miskin, mendapat jodoh atau menjomblo seumur hidup, adalah 100% konsekuensi logis dari usaha manusia itu sendiri. Peran Tuhan seolah-olah “selesai” setelah menciptakan alam semesta dan membekali manusia dengan akal. Pandangan ini memang sangat memacu adrenalin kita untuk terus dan selalu bergerak, tapi ternyata menyimpan bom waktu psikologis yang sangat berbahaya: ia rentan melahirkan kesombongan akut saat keberhasilannya tercapai, dan depresi atau frustrasi yang destruktif saat yang ia temui adalah kegagalan. Sebab bagi mereka, tidak ada ruang untuk “faktor luar” atau intervensi Tuhan.

Lalu, di mana posisi buku Ning Uswah ini berdiri?

Nah! di sinilah letak keindahan teologi mayoritas umat Islam, yaitu Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah dan Maturidiyah), yang secara cerdas mengambil jalan tengah (tawasuth). “Jodoh di Tangan Tuhan, Selebihnya Hasil Lobian” menemukan akar teologis yang paling kokoh melalui konsep yang disebut Al-Kasb atau ikhtiar.

Islam tidak membenarkan kita menjadi manusia fatalis ala Jabariyah yang pasif, tidak pula mengizinkan kita menjadi manusia arogan ala Qadariyah yang menafikan Tuhan. Ning Uswah mempertemukan kedua kutub ini dengan sangat intim ke dalam ruang pranikah.

Kalimat “Jodoh di Tangan Tuhan” adalah pengakuan iman yang paling jujur atas batas kemanusiaan kita. Itu adalah wilayah External Locus of Control kita sebagai makhluk yang fana. Ada takdir mubram dan muallaq yang berjalan di atas skenario Tuhan. Kesadaran ini penting agar ketika pintu rumah kita yang usang itu belum juga diketuk oleh sang jodoh, kita tidak lantas frustrasi dan menyalahkan diri sendiri secara gila-gilaan. Kita tahu, ada wilayah transendental yang sedang bekerja mengatur waktu terbaik untuk kita. Ha-ha.

Namun, iman tidak boleh mandek menjadi dogma yang melumpuhkan. Di sinilah frasa “Selebihnya Hasil Lobian” bertindak sebagai mesin penggerak Internal Locus of Control kita. Dalam konsep Al-Kasb, Allah memang pemilik mutlak hasil akhir, tetapi manusia diberi kehendak bebas (free will) yang dibatasi untuk memilih jalannya. Manusia dinilai dan diganjar oleh Tuhan berdasarkan proses ikhtiarnya, bukan hasil akhirnya.

Maka, “lobi” dalam konteks ini bertransformasi menjadi sebuah manifestasi ibadah dan penghambaan yang total. Kita mengetuk pintu langit dengan lobi doa dan tirakat, kita memperbaiki lobi internal dengan memantaskan akhlak dan kapasitas diri, dan kita melakukan lobi sosial dengan ikhtiar mencari serta mengetuk pintu rumah calon pasangan dengan cara yang terhormat.

Pada akhirnya, sintesis antara teori Rotter dan teologi Islam di dalam bab pranikah buku ini bermuara pada satu kata yang sangat indah: Tawakal. Tawakal itu bukan pasrah di awal tanpa perbuatan (Jabariyah), tapi lebih kepada tindakan aktif buat mengerahkan seluruh kemampuan internal agar ikhtiarnya maksimal (Qadariyah), lalu melepaskan semua hasilnya dengan damai ke dalam genggaman kendali eksternal, yaitu takdir Allah SWT.

Buku ini sukses meruntuhkan ego saya, karena ia memaksa saya sadar: bahwa selama ini, mungkin saya terlalu banyak menuntut kepasrahan pada takdir, sementara “lobi-lobi” terbaik belum sepenuhnya saya usahakan! Ha-ha,

wallahu a’lam bish-shawab


메타데이터
post_id
fcc2f6d1b072
slug
membawa-rotter-ke-dalam-ruang-mengaji-dialektika-takdir-dan-ikhtiar-fcc2f6d1b072
url
https://medium.com/@affaesens/membawa-rotter-ke-dalam-ruang-mengaji-dialektika-takdir-dan-ikhtiar-fcc2f6d1b072
canonical_url
https://medium.com/@affaesens/membawa-rotter-ke-dalam-ruang-mengaji-dialektika-takdir-dan-ikhtiar-fcc2f6d1b072
author_url
https://medium.com/@affaesens
status
ok
fetched_at
2026-07-14 16:11:24