← Back to list

be a fool

Younghoon membuang nafasnya dengan berat. Enggan itu kembali singgah, tapi ia tak lagi punya kesempatan untuk sekedar berkilah apalagi…

devio rinjani · 2023-04-25 12:46 · 0 claps · 7.4 min read
#sangyeon #younghoon #the-boyz #tbz
Open on Medium ↗

be a fool

Younghoon membuang nafasnya dengan berat. Enggan itu kembali singgah, tapi ia tak lagi punya kesempatan untuk sekedar berkilah apalagi mengambil langkah seribu dari pertemuan agung yang sesungguhnya sangat teramat ingin ia hindari. Kalau saja ancaman Hyunjae -sang sahabat- tidak mengusik malam-malamnya, mungkin Younghoon tak akan berada di tempat ini, lebih tepatnya di pesta pernikahan Hyunjae dan kekasihnya Juyeon.

Sebenarnya apa sih yang membuat Younghoon begitu enggan datang ke hari istimewa sang sahabat?

Kalau ada yang menebak karena ia menaruh rasa suka pada sang sahabat tentu saja tidak. T I D A K!

Jadi, kenapa?

Jawabannya karena ada sosok yang ia yakini akan hadir juga di pesta pernikahan itu namun sangat teramat ingin ia hindari.

Kenapa?

Siapa?

Ada sebuah cerita yang sepertinya kelewat panjang untuk sekedar menjawab dua pertanyaan di atas dan Younghoon sedikit enggan membuka buku kenangan dalam memori ingatannya berisi alasan-alasan masuk akal yang mampu menjawab pertanyaan itu.

Tapi khusus untuk hari ini sepertinya dia memang harus kembali membuka buku kenangan itu karena Tuhan memang pada akhirnya menyuruhnya menghadapi seseorang yang sudah tiga tahun terakhir mati-matian ia hindari.

“Muka lo kusut amat?! Perasaan lo kok nggak ada bahagia-bahagianya liat gue nikah sih, Hoon?” celetukan itu Hyunjae suarakan begitu ia punya sedikit ruang untuk menghampiri sang sahabat yang duduk jauh dari tamu undangannya yang lain.

“Lo tau ya alasannya, Jae. Jangan bikin tambah badmood dah” gerutu Younghoon yang justru mengundang gelak tawa dari Hyunjae sampai membuat beberapa pasang mata menjatuhkan tatap pada keduanya yang memang sengaja duduk di bagian paling pojok ruangan.

“Jangan bilang lo dari tadi milih duduk di sini tuh buat menghindar dari dia ya? Padahal anak-anak yang lain pada di tengah nikmatin pestanya” ucap Hyunjae yang merupakan satu bentuk fakta bagi Younghoon karena kenyataannya dirinya memang sengaja menghindar dari riuh kawanannya semasa kuliahnya dalam merayakan hari bahagia Hyunjae karena satu penyebab pasti, menghindari seseorang.

Dan paham atas jawab pasti yang Younghoon punya atas tanya yang disuarakannya, kepala Hyunjae seolah baru saja berhasil menyalakan lampu ide untuk sekedar mengisengi sang sahabat. Dengan tanpa berdosa Hyunjae mengedarkan pandangan kepenjuru ruangan untuk setelahnya melambaikan tangan pada sosok belahan jiwa yang hari ini tampil begitu tampan dalam balutan jas berwarna putih seiras dengan miliknya.

“Sayang! Sini!” panggil Hyunjae lantang, menghadirkan satu sosok yang melangkah pasti menghampirinya dan Younghoon yang masih setia memasang wajah super kecut.

“Hai, Kak. Dari tadi di sini ternyata, kirain nggak dateng” sapa lembut itu dilantunkan oleh Juyeon saat menemukan eksistensi Younghoon yang memang tidak terlalu nampak dari arah pandang kerumunan di acara pesta mereka.

“Hai, Ju, mana mungkin gue nggak dateng, bisa dimutilasi Hyunjae yang ada. Selamat ya buat pernikahannya, semoga kalian berdua langgeng. Yang paling penting semoga kesabaran lo nggak habis-habis buat ngadepin kegilaan Hyunjae” ucap Younghoon sambil mengulurkan telapak tangan di hadapan Juyeon yang jelas disambut seiring kekehan tawa keduanya suarakan, sedikit berkebalikan dengan gerutu dan wajah tidak suka yang Hyunjae pasang.

“Makasih kak, semoga lo juga cepet bisa nyusul” balas Juyeon kini menghadirkan tanggap berbeda dari sepasang sahabat Hyunjae dan Younghoon, karena kini giliran Younghoon yang tersenyum kecut sementara Hyunjae mulai memecahkan tawanya.

“Sayang, kamu tadi udah ketemu keluarga kamu belum?” tanya Hyunjae super duper manja sambil menggelantungkan lengannya pada lengan sang belahan jiwa yang sukses membuat Younghoon bergendik ngeri melihatnya.

“Udah kok, mereka ada disana. Kenapa?”

“Ada kak Sangyeon nggak, sayang? Aku tadi belum ketemu dia” ucap Hyunjae lengkap dengan kerlingan mata jahil melirik ke arah Younghoon membuatnya seketika tersedak ludah sendiri, Younghoon jelas tau apa yang sedang sang sahabat usahakan untuk membuat kehadirannya hari ini semakin perlu untuk disesali. Tentang nama yang terselip di ucap Hyunjae adalah salah satu saudara sepupu Juyeon yang sudah jelas hadir pada perhelatannya hari ini.

Hyunjae jelas lebih dari tau dan paham bagaimana nama seseorang yang ia selipkan pada dialog yang harusnya terdengar wajar dan sederhana dengan sang suami nyatanya punya efek tersendiri bagi Younghoon, terbukti dengan degup jantung yang mendadak menggila, apalagi ketika kalimat lanjutan berhasil keluar dari mulut Hyunjae dengan luwesnya.

“Boleh panggilin kak Sangyeon ke sini nggak, sayang? Aku mau ngobrol sama dia” pinta Hyunjae dengan raut memelas yang jelas nampak dibuat-buat di mata Younghoon namun mampu menghasilkan kepanikan luar biasa ketika Juyeon dengan mudahnya mengiyakan permintaannya itu. Dan dalam hitungan detik pria setinggi 181cm itu sudah melesat pergi masuk dalam kerumunan orang yang masih berpesta pora hanya untuk kembali sambil menarik satu bentuk raga yang menjadi alasan Younghoon begitu enggan untuk datang ke acara pernikahan Hyunjae dan Juyeon.

Tatap mata terkejut jelas menjadi yang pertama memasuki indra Younghoon untuk setelahnya digantikan dengan senyum simpul yang terasa begitu hangat dan ramah sama persis dengan kali terakhir Younghoon melihatnya tiga tahun silam. Lalu sapaan lembut itu hadir menggelirik rungu, membuat debaran dalam dada Younghoon makin tak terkendali dibuatnya.

“Hai, Younghoon”

“H-hai, K-kak Sangyeon” Demi Tuhan Younghoon saat ini tengah merutuk dalam hati bagaimana suaranya terdengat begitu bergetar dan ragu hanya untuk membalas sebuah sapa, belum lagi ketika tangannya dengan ragu membalas uluran tangan dari sosok yang ada di hadapannya.

“Nahhh, akhirnya udah ketemukan kalian berdua. Sekarang silahkan kalian ngobrol. Gue tinggal dulu. Please, kelarin urusan tiga tahun yang lalu ya” ucap Hyunjae seketika merubah suasana, membuat dua orang yang jelas menjadi subjek utama dalam kalimatnya menjadi canggung, terbukti dengan gerak kikuk tangan Sangyeon yang langsung mengusap tengkuknya yang bisa ditebak sama sekali tidak gatal sementara Younghoon tengah sibuk mengalihkan pandangan ke sembarang arah kecuali pada sosok di hadapannya.

“Loh, kok gitu? Katanya kamu tadi mau ketemu sama kak Sangyeon, sayang” ucap lugu yang disuarakan Juyeon itu terlantun begitu raganya ditarik sang suami pergi menjauh dari dua orang yang menjadi subjek keisengan Hyunjae hari itu.

“Huushhh, nanti aja aku ceritain. Sekarang biarin mereka berduaan dulu” ucap Hyunjae yang dilantunkan seiring gerak kakinya keduanya menjauh yang sebenarnya masih cukup jelas memasuki rungu Younghoon dan sepertinya begitu pula dengan Sangyeon yang jelas tau kemana arah keisengan Hyunjae meninggalkan keduanya begitu saja.

“Jadi apa kabar, Younghoon” tanya itu menjeda runtutan kalimat sumpah serapah yang Younghoon suarakan salam hati, membuatnya sedikit gelagapan saat membalas tatap lawan bicaranya yang masih setia memasang senyum ramah di wajahnya.

“Baik, kak. Kak Sangyeon sendiri apa kabar?” tanya Younghoon jelas terdengar ragu.

“Baik” balasan Sangyeon jelas menjadi timpanh dari ragu Younghoon karena lantun suaranya terdengar begitu tenang masih sama persis seperti beberapa tahun silam ketika Younghoon begitu sering menyengajakan diri untuk sekedar mengobrol hal-hal tidak penting dan cenderung sederhanan dengannya kakak tingkat yang dulu menjadi ketua himpunan mahasiswa fakultas yang ia ikuti. “Kakak jarang deh liat kamu ikut reuni himpunan, kenapa nggak pernah dateng?”

Demi apapun Younghoon ingin menjawab pertanyaan itu dengan jawaban lugas “GARA-GARA LO, KAK!” tapi tentu saja ia urungkan mengingat ia masih punya sedikit rasa malu menghadapi sosok dihadapannya setidaknya setelah tiga tahun silam stok rasa malunya sudah dengan berani ia habiskan.

“Lagi sibuk aja setiap diajakin, kak” kilah Younghoon persis sama seperti jawaban yang selalu ia beri setiap Hyunjae maupun teman angkatannya yang lain mengajaknya menghadiri reuni atau segala bentuk acara yang memungkinkannya bertemu dengan sosok dihadapannya.

“Ohhh, kirain ngehindarin kakak kayak yang dibilang Hyunjae”

Untung saja saat ini kondisi Younghoon sedang tidak meneguk setetes air pun, kalau sampai hal itu terjadi bisa dipastikan ia kini tengah tersedak sampai memuncratkan isi mulutnya itu berkat pemilihan kata yang baru saja diucapkan Sangyeon. Sehingga yang bisa ia berikan sebagai bentuk jawab atas ucapan itu hanya sebuah tawa sumbang yang sama sekali tidak jelas disuarakan untuk menertawakan apa. Dan tolong ingatkan Younghoon untuk nanti mengumpati Hyunjae atas segala bentuk keceplosan yang mungkin dilakukan sahabatnya itu ketika nanti bertemu.

“Padahal ada hal yang mau kakak obrolin loh kalau bisa ketemu kamu waktu reuni” ucap Sangyeon seketika merebut atensi Younghoon, matanya yang sedari tadi berusaha keras untuk mengalihkan pandangan kini justru sepenuhnya terpusat padanya.

“Ngobrol soal apa?”

“Soal kejadian waktu wisuda kakak”

Dan ketika jawab itu Sangyeon beri seketika itu juga Younghoon berniat untuk berlari kabur dari acara pernikahan sahabatnya. Tiga tahun lalu dan rasanya Younghoon masih bisa dengan jelas merasakan malu yang sama. Tiga tahun lalu ketika Younghoon hadir di wisuda Sangyeon tak hanya untuk mengucapkan selamat atas kelulusannya tapi juga untuk mengakui rasa yang diam-diam ia simpan selama kurang lebih dua tahun saling mengenal.

“Bisa nggak jangan bahas itu, kak. Gue masih malu banget” keluh Younghoon pada akhirnya setelah menghembuskan nafasnya berat. Tak lupa lengkap dengan gerak tangan sengaja menangkup wajahnya yang pasti sudah bersemu merah muda.

“Malu? Kenapa harus malu? Kakak bahkan masih nyimpen album foto yang kamu kasih di hari wisuda tiga tahun lalu” balas Sangyeon sambil dengan perlahan menurunkan telapak tangan Younghoon agar kedua manik mata keduanya kembali bertemu, dan saat itulah Younghoon bisa melihat kejujuran atas kata yang terlantun.

Album foto, tentu saja bagaimana Younghoon lupa tentang album yang berisi puluhan cetak foto Sangyeon yang diam-diam ia abadikan dalam bidik lensa kameranya, foto-foto yang harusnya ia selipkan di antara puluhan foto di laporan kegiatan himpunan mereka, foto-foto yang cukup bisa menggambarkan bagaimana Younghoon selama ini memandang sang senior dengan tatap memuja di setiap kesempatan dari setiap sudut semesta, foto-foto yang harusnya sudah bisa membuat Sangyeon menarik kesimpulan atas rasa yang ada.

Dan butuh lebih dari hanya sekedar nyali bagi Younghoon kala itu untuk memberikannya pada Sangyeon di hari wisudanya, berserta secarik surat tentang cerita singkat bagaimana Younghoon diam-diam menaruh perhatian pada yang lebih tua.

“Kenapa masih disimpen? Harusnya dibuang aja, itu cuma album foto biasa”

“Album foto biasa? Padahal menurut kakak itu hadiah paling istimewa di hari itu, apalagi yang ngasih juga orang yang diam-diam kakak jadikan teristimewa di hati kakak”

Younghoon termenung mendengar tutur Sangyeon, lagi-lagi ia beranikan diri menatap iris mata yang lebih tua hanya untuk meyakinkan diri bahwa ucap yang menyapa rungu itu bukan ilusi semata. Lalu hadir sebuah senyum dari yang menjadi objek matanya dijatuhkan, membuatnya meyakinkan diri bahwa dirinya sedang tidak gila sendiri.

“Kamu nggak tau gimana hari itu kakak nyariin kamu di antara ribuan orang di rektorat cuma buat ngomong kata-kata barusan”

“Ta-tapi hari itu kakak cuma diem waktu aku bilang aku suka kakak”

“Kakak diem karena kaget ternyata kamu juga punya perasaan yang sama terlebih karena kamu punya keberanian yang lebih besar buat mengakui itu duluan” terang Sangyeon menjadi bentuk olokan atas aksi menghindar Younghoon tiga tahun belakangan.

“Kak bercandanya nggak lucu!” hardik Younghoon yang masih menolak percaya akan segala bentuk yang Sangyeon tuturkan meski mata sudah saling mengunci untuk sekedar berbagi kejujuran.

“Kakak nggak bercanda, Hoon. Kamu nggak tau sefrustasi apa kakak yang nggak bisa ketemu kamu di kampus sampai akhirnya harus pindah ke luar kota karena kerjaan, diikutin ke frustasian lain ketika nggak bisa nemuin kamu di setiap reuni himpunan, sampai yang bisa kakak lakuin cuma tau kabar kamu lewat cerita-cerita Hyunjae yang nggak sengaja ketemu”

Lagi-lagi Younghoon termenung menyadari kenyataan bahwa sosok yang selama ini ia hindari nyatanya justru mencari diri.

“Beruntung kakak hari ini karena pada akhirnya bisa ketemu kamu dan jujur sama semuanya” sambung Sangyeon yang jelas melipatgandakan hangat dalam rongga dada Younghoon.

Nyatanya bukan hanya rongga dada yang menghangat karena gerak telapak tangan Sangyeon yang bergerak meraih dan meremas telapak tangan Younghoon pada akhirnya juga memicu hangat di pipi dan juga sela jemari.

“Jangan lari menghindar lagi ya, Younghoon. Ada banyak hal yang harusnya bisa kita bagi sama-sama selain perasaan yang kakak harap masih sama” ucap Younghoon seketika melelehkan segala bentuk pertahanan Younghoon.

Hari ini nyatanya bukan hanya menjadi hari bahagia Hyunjae dan Juyeon yang dipersatukan dalam ikat janji suci sehidup semati, tapi juga menjadi hari bahagia bagi Younghoon yang sepenuhnya memilih untuk berhenti berlari, kenyataannya menghadapi yang sekiranya membuat malu diri ternyata justru menghadirkan yang selalu dinanti tentang isi hati yang nyatanya sama-sama saling menyayangi.

End…


메타데이터
post_id
fcc5bc3e1064
slug
be-a-fool-fcc5bc3e1064
url
https://medium.com/@bubbleehjy_/be-a-fool-fcc5bc3e1064
canonical_url
https://medium.com/@bubbleehjy_/be-a-fool-fcc5bc3e1064
author_url
https://medium.com/@bubbleehjy_
status
ok
fetched_at
2026-08-18 03:46:47