Mukjizat Nabi berada di Tangan Orang Shaleh
Kisah Pemindahan Singgasana Bilqis dalam Sekejap Mata
Mukjizat Nabi berada di Tangan Orang Shaleh
Kisah Pemindahan Singgasana Bilqis dalam Sekejap Mata

ilustrasi singgasana Ratu Bilqis
Dalam sejarah kenabian, mukjizat seringkali dikaitkan secara langsung dengan para Nabi dan Rasul sebagai bukti kerasulan mereka. Namun, Surah An-Naml ayat 40 menghadirkan fenomena langka: sebuah mukjizat besar terjadi melalui seorang yang bukan Nabi, melainkan hamba Allah yang shaleh dan berilmu. Kisah pemindahan singgasana Ratu Bilqis dalam waktu sekejap mata atas permintaan Nabi Sulaiman AS bukan hanya menakjubkan, tetapi juga sarat dengan pelajaran mendalam tentang kekuasaan Allah, potensi ilmu yang diberkahi, dan hakikat syukur.
Cerita bermula ketika Nabi Sulaiman AS, pemimpin besar yang dikaruniai kekuasaan dan mukjizat oleh Allah, menerima kunjungan burung Hud-hud. Hud-hud melaporkan tentang sebuah kerajaan makmur di Saba’ (Yaman) yang dipimpin oleh Ratu Bilqis, namun mereka menyembah matahari. Sulaiman mengirim surat kepada Bilqis, mengajaknya menyembah Allah Yang Maha Esa. Merasa terancam namun penuh kecurigaan, Bilqis memutuskan mengirim utusan dengan membawa hadiah mewah untuk menguji Sulaiman. Nabi Sulaiman menolak hadiah itu dengan tegas dan mengeluarkan tantangan: sang Ratu harus datang menghadapnya. Lebih dari itu, Sulaiman bertanya kepada para pembesarnya:
“Wahai pembesar-pembesar! Siapakah di antara kamu yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?” (QS. An-Naml: 38)
Ifrit dari golongan jin menyanggupi untuk membawanya sebelum Sulaiman berdiri dari tempat duduknya. Namun, tantangan ini dijawab dengan lebih luar biasa oleh sosok lain.
Sang Pemegang Ilmu
Dialah Asif bin Barkhiya. Al-Qur’an menyebutnya sebagai ”orang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab” (عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ). Menurut tafsir Ibnu Katsir, Asif adalah seorang yang shaleh, jujur (shiddiq), dan masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Nabi Sulaiman. Ilmu yang dimilikinya bukanlah ilmu sihir, bukan pula ilmu kenabian. Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa itu adalah ilmu tentang Ismullah al-A’ẓam (Nama Allah Yang Paling Agung).
Ilmu ini adalah pemahaman mendalam tentang hakikat Allah, sifat-sifat-Nya, dan kekuasaan-Nya yang mutlak, yang jika digunakan dalam doa dengan penuh keyakinan, dapat menggerakkan kehendak Allah SWT di luar hukum alam biasa.
Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalil Qur’an menekankan bahwa ilmu ini adalah buah dari keimanan yang mendalam dan pemahaman hakiki terhadap hukum-hukum dan kekuasaan Allah di alam semesta.
Mukjizat yang Mengejutkan: Sebelum Mata Berkedip
Dengan doa dan keyakinan penuh kepada kekuasaan Allah, Asif bin Barkhiya menyatakan:
”Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” (QS. An-Naml: 40)
Dan benar! Dalam waktu yang sangat singkat, bahkan lebih cepat dari kedipan mata atau sebelum pandangan mata seseorang kembali (sebagaimana penjelasan Ibnu Katsir), singgasana Ratu Bilqis yang megah, yang berada di kerajaan Saba’ yang jauh (Yaman), telah berpindah dan terletak di hadapan Nabi Sulaiman AS di Palestina. Jarak ribuan kilometer ditempuh dalam sekejap. Ini adalah mukjizat nyata yang Allah perlihatkan melalui lisan dan doa seorang hamba-Nya yang shaleh dan berilmu, Asif bin Barkhiya. Mukjizat ini melampaui kemampuan jin Ifrit yang sebelumnya menyanggupi, menegaskan bahwa kekuasaan Allah jauh di atas segala makhluk dan bahwa mukjizat terjadi semata-mata atas kehendak-Nya, bisa melalui Nabi atau melalui hamba pilihan-Nya yang Dia kehendaki.
Refleksi Nabi Sulaiman: Ujian Syukur
Menyaksikan singgasana yang tiba-tiba muncul di hadapannya, Nabi Sulaiman AS tidak serta merta berbangga diri atas kekuasaannya. Beliau justru langsung menyadari hakikat sebenarnya:
”Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.” (QS. An-Naml: 40)
Sulaiman memahami bahwa mukjizat yang baru saja disaksikannya, termasuk seluruh kekuasaan yang dimilikinya, adalah nikmat dan ujian besar dari Allah. Ujian apakah dia akan tetap rendah hati, menyadari bahwa semua itu berasal dari Allah, dan menggunakannya untuk ketaatan (syukur), ataukah menjadi sombong dan lupa diri (kufur).
Beliau menegaskan prinsip abadi: syukur menguntungkan diri manusia sendiri (dengan tambahan nikmat dan pahala), sedangkan kekufuran hanya merugikan pelakunya, karena Allah Maha Kaya tidak membutuhkan syukur hamba-Nya dan Maha Mulia dalam pemberian dan hukuman-Nya.
Pelajaran Abadi
Kekuasaan Allah Mutlak. Allah mampu melakukan apa pun, melampaui hukum alam dan logika manusia. Mukjizat adalah bukti nyata atas hal ini.
Ilmu yang Memberkahi. Ilmu yang bersumber dari pemahaman mendalam tentang Allah dan Kitab-Nya, disertai keimanan dan ketakwaan, memiliki potensi yang luar biasa. Asif bin Barkhiya adalah bukti nyata bahwa Allah bisa mengangkat derajat dan memberikan karunia khusus melalui ilmu yang diiringi amal shaleh.
Mukjizat adalah kuasa Allah SWT. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Allah dapat menampakkan tanda-tanda kekuasaan-Nya (kauniyah) melalui hamba-hamba-Nya yang shaleh selain Nabi, sebagai bentuk karunia dan jawaban atas doa serta keyakinan mereka.
Nikmat adalah Ujian. Setiap karunia, terutama yang besar dan menakjubkan, adalah ujian keimanan. Kesadaran Nabi Sulaiman untuk segera bersyukur dan mengembalikan segala sesuatu kepada Allah adalah teladan utama bagi setiap pemimpin dan manusia beriman.
Esensi Syukur dan Kufur. Syukur berarti mengakui sumber nikmat (Allah) dan menggunakan nikmat sesuai jalan-Nya. Kufur berarti melupakan sumber nikmat dan menyombongkan diri. Manfaat syukur kembali pada diri sendiri, sementara kerugian kufur juga ditanggung pelakunya.
Kisah pemindahan singgasana Bilqis dalam waktu sekejap mata bukan sekadar dongeng masa lalu. Ia adalah catatan sejarah suci yang menegaskan bahwa kekuasaan mutlak hanya milik Allah SWT. Mukjizat itu terjadi bukan karena kehebatan Asif bin Barkhiya semata, tetapi karena ilmu, keimanan, dan ketawakalannya yang menghantarkan doanya dikabulkan oleh Allah. Melalui tangan seorang hamba shaleh yang bukan Nabi, Allah SWT memperlihatkan kebesaran-Nya kepada Nabi Sulaiman dan segenap kaumnya. Peristiwa ini menjadi pengingat abadi bagi kita semua: bahwa Allah senantiasa menguji hamba-Nya dengan nikmat, dan syukur adalah satu-satunya tanggapan yang benar dari hati yang mengenal Tuhannya. Wallahu a’lam bish-shawab
메타데이터
- post_id
- fccf9d138176
- slug
- mukjizat-nabi-berada-di-tangan-orang-shaleh-fccf9d138176
- url
- https://medium.com/@zariskhan.konglofamily/mukjizat-nabi-berada-di-tangan-orang-shaleh-fccf9d138176
- canonical_url
- https://medium.com/@zariskhan.konglofamily/mukjizat-nabi-berada-di-tangan-orang-shaleh-fccf9d138176
- author_url
- https://medium.com/@zariskhan.konglofamily
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-16 18:03:01