← Back to list

Runtuhnya Kedaulatan Meja Kayu

Tulisan kali ini melanjutkan kegelisahan saya tentang budaya mengobrol di warkop-warkop proletar di Surabaya yang terkikis. Rasanya gatal…

Chrizeva · 2026-04-08 06:36 · 0 claps · 1.7 min read
#social-media #social-psychology #indonesia #sociology #warkop
Open on Medium ↗
Wiki topics: PSY · Psychology SOC · Sociology & Politics 🔒 · Cybersecurity 🌐 · Society · General

Runtuhnya Kedaulatan Meja Kayu

Tulisan kali ini melanjutkan kegelisahan saya tentang budaya mengobrol di warkop-warkop proletar di Surabaya yang terkikis. Rasanya gatal untuk menuliskan kegelisahan ketika saya sering sekali mengerjakan sesuatu atau diskusi dengan teman di warkop tapi sekeliling saya justru sedang asik main game.

Lagi-lagi, dalam tulisan kali ini saya tidak ingin dipandang sebagai elitis. Namun, mau bagaimana lagi — saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menghela napas panjang ketika melihat keadaan di sekitar saya yang seperti itu.

Bukankah seharusnya di atas meja kayu panjang yang terdapat bercak noda ampas kopi dan abu rokok itu peradaban kecil sedang dibangun?

Saya membayangkan betapa indahnya ketika pesan kopi lalu telinga saya terdengar sayup-sayup seseorang dengan beberapa temannya membicarakan bagaimana seorang morgue vanguard yang ganas dengan lirik-lirik politisnya tiba-tiba membuat lagu yang judulnya “Membebaskan Hujan dari Tirani Puisi”.

Atau ketika di tengah-tengah diskusi dengan teman saya, terdengar orang di samping meja saya lagi berdebat asyik tentang isu lingkungan yang terjadi di kota-kota besar khususnya Surabaya. Perdebatan itu berkembang, mereka meneruskannya dengan menelaah faktor-faktor penyebabnya dari berbagai sudut pandang sosiologis, psikologis, dan ekonomi serta membicarakan dampak yang ditimbulkannya.

Oh, Betapa indahnya Tuhan. Betapa indahnya kondisi warkop-warkop proletar di Surabaya, jika di dalamnya mereka saling bersahutan bukan karena game di handphone-nya. Melainkan tentang strategi hidup, tentang dirinya, orang-orang di sekitarnya, masyarakat, hingga bangsanya.

Meja panjang warkop proletar harusnya menjadi wilayah diplomatik bagi pencari solusi hidup. Mereka yang bermain gim setiap kali di warkop itu pun sebenarnya sedang mengimplementasikan cara mereka sendiri dalam menghadapi permasalahan hidupnya. Tapi, bukankah lebih nikmat ketika kita benar-benar hadir, saling mendengar dan didengar, bukan sekadar obrolan singkat lewat game?

Kadang-kadang mikir gini, tapi ini suudzon saya ya, “Berharap apa ya sama kondisi yang kayak gini, yang anak-anak mudanya — usia 17 sampai 30 — lebih fokus main game ketimbang diskusi, ngobrol, belajar, apalagi sistem pendidikan di negara tercinta ini masih carut marut. Gimana ya, apa bisa sampai Indonesia emas 2045? Apa justru Indonesia Emas 2045 Hijriah?”. Ini hanya sebatas suudzon saya sih. Kadang saya juga tidak mau terus-terusan underestimate mereka juga.

Saya harap fenomena ini bukan diffusion of responsibility yakni fenomena sosio-psikologis yang mana kecenderungan individu untuk tidak atau kurang memberikan bantuan dalam situasi darurat ketika berada dalam suatu kelompok, dibandingkan ketika ia menjadi satu-satunya saksi. Mungkin mereka berpikiran kabeh wes ono sing ngatur atau semua sudah ada yang mengatur sehingga mereka tidak ikut andil dalam memikirkan, apalagi merumuskan persoalan-persoalan yang sebenarnya dekat dengan kehidupan mereka sendiri.

Akhir kata, semoga saya dan anda semua selamat dari krisis kehadiran seperti itu.


메타데이터
post_id
fcdb58cc5e55
slug
runtuhnya-kedaulatan-meja-kayu-fcdb58cc5e55
url
https://medium.com/@Chrizeva/runtuhnya-kedaulatan-meja-kayu-fcdb58cc5e55
canonical_url
https://medium.com/@Chrizeva/runtuhnya-kedaulatan-meja-kayu-fcdb58cc5e55
author_url
https://medium.com/@Chrizeva
status
ok
fetched_at
2026-07-13 20:52:00