Alih-alih Menjadi Pendidik, Sekarang Guru Sekolah Malah Cuma Jadi Juri
Afif Yudi Kurniawan
Alih-alih Menjadi Pendidik, Sekarang Guru Sekolah Malah Cuma Jadi Juri
Afif Yudi Kurniawan

Sumber gambar: Magnific/https://www.magnific.com/
(Sistem Pendidikan di Indonesia dari masa ke masa tidak berubah, yang berubah hanya masalah yang semakin bertambah dan kompleks)
…
Malang, kota tempatku melabuhkan diri
Mencari ilmu sebanyak mungkin
Atau gelar yang setinggi mungkin
Mecoba menutup telinga dengan segala stigma bahwa gelar tidak penting
Bahwa ilmu pengetahuan hanya isu jual beli semata
…
Usiaku dulu mungkin masih terlalu dini untuk mengambil keputusan yang begitu besar
Ya, bahkan sangat besar!
Bagaiaman tidak, anak sesusia SMA harus memilih lanjut sekolah atau kerja
Memilih kampus mana, jurusan apa, dan begitu rumit proyeksi ke depan seperti apa
Atau dibenturkan dengan satu pilihan, kerja apa? Kalau sekedar lulusan SMA
Aku tak sudi menyebut ini takdir
Ini murni pilihan! Titik
…
Dengan segala keterdesakan yang harus segera dituntaskan
“Guru, ” pikirku.
Satu-satunya yang ada dalam benakku adalah itu, menjadi guru
Aku juga bingung, kenapa itu yang ada ada dalam kepalaku
Seingatku, hanya karena satu pertanyaan yang mungkin hingga sekarang belum kutemukan jawabnya
“Guru ini adalah satu-satunya orang paling pintar di kelas, tapi kenapa mereka miskin-miskin?”
Itu pertanyaanku.
…
Sampai sekarang, ketika kutanyakan pertanyaan itu
Seakan semua jadi ilalang di tengah semak belukar yang tertiup angin
Menggeleng-nggeleng ngga jelas!
Tapi aku masih percaya, pendidikan ini adalah dunia yang indah
Entah esok atau lusa nanti
Aku harus menjadi bagian dari keindahan itu
…
Sampai di titik harapan itu rasanya hampa
Rasa kosong itu terus menghantui
Sunyi, senyap, gelap, meremukredam menjadi satu
Waktu kuliah, segala bentuk perubahan kurikulum habis kubedah
Melumat isi yang aslinya itu-itu saja
Tak lebih dari sekadar otak-atik ganti nama semata
KTSP, K13, Kurmer aku menolak lupa
Sekarang baru lagi?
Ampun Pak!
…
Dambaan menjadi orang paling pintar di kelas itu pupus seketika
Selepas rapor siswa dibagikan
Juara satu, dua, tiga sudah diumumkan
Para wali murid berhamburan
Entah pulang, lanjut kerja, atau ngerumpi tipis
Selepas kerja
Ku belokkan motorku ke warung kopi langgananku
Seperti biasa, kapal api tambah gula
Tukang warung sudah hafal itu
Bukan rahasia lagi
…
Kopi yang kupesan belum juga datang
Rokok tinggal sebatang belum sempet kubakar
Kudengar sayup-sayup bapak-bapak lagi ngobrol di meja sebelah
Njagong asik banget
Sampai kudengar “Nilai rapor Ridho (mungkin nama anaknya) Gimana?”
“Yo, joss lah. Juara dua dia,” jawabnya (sepertinya bapaknya)
“Wah yo mantep, Pak” sahut kawan lainnya
“Hooh, toh. Wong tak les no nde bimbel (menyebut salah satu bimbel terkenal di kota Malang)
“Ya pantes pinter, juara. Bimbele larang, ” sambung kawannya
…
Mendengar obrolan itu
Tubuhku gemetar
Pikiranku berkecamuk
Rokok segera kubakar
Kopi kuseruput pelan
Mencoba menenangkan diri
Seolah pasrah
Napasku terus terengah-engah
Hatiku remuk redam
…
Pendidikan kita memang ampas
Hati dan pikiranku seolah setuju dengan kata-kata itu
Bayangkan kualifikasi guru harus sarjana, sertifikasi profesi (PPG) atau bahkan sampai harus lanjut S2
Aku paham, itu untuk menunjang pembelajaran di kelas
Tapi sekarang ruang kelas bukan tempat untuk belajar
Melainkan tempat lomba
Guru jadi juri setiap akhir semester
Menentukan siapa-siapa juaranya
…
Aku tidak pernah membayangkan bahwa menjadi murid harus berlomba
Berkompetisi dengan sesama murid dari tempat bimbel yang berbeda-beda
Bagaiamana dengan murid yang jangankan bimbel, kadang kantong pun kosong?
Untuk sekedar beli ciki aja harus penuh pertimbangan
Ini gimana? Atau aku harus bagaimana?
…
Mau marah tapi ke siapa?
Melihat guru soalah mengajar seenaknya
“kalau murid tidak paham, tenang. Pulang sekolah kan masih ada bimbel”
“Kalau saya ngajar seenaknya, yasudah. Negara ini juga tak kalah semena-mena kok”
“Murid sekarang sudah pintar-pintar, bimbelnya mahal”
“Itu membantu meringankan beban saya yang hanya terima gaji tujuh ratus ribuan sebulan”
Aku harus bagaimana?
Pakkk…
Bukkk…
Tolonggg…
…
Kisah ini akan berlanjut, jika negara mau menjawab.
메타데이터
- post_id
- fd1cfa50c050
- slug
- alih-alih-menjadi-pendidik-sekarang-guru-sekolah-malah-cuma-jadi-juri-fd1cfa50c050
- url
- https://medium.com/@afifyudik/alih-alih-menjadi-pendidik-sekarang-guru-sekolah-malah-cuma-jadi-juri-fd1cfa50c050
- canonical_url
- https://medium.com/@afifyudik/alih-alih-menjadi-pendidik-sekarang-guru-sekolah-malah-cuma-jadi-juri-fd1cfa50c050
- author_url
- https://medium.com/@afifyudik
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 16:16:25