← Back to list

Alih-alih Menjadi Pendidik, Sekarang Guru Sekolah Malah Cuma Jadi Juri

Afif Yudi Kurniawan

Afif Yudi Kurniawan · 2026-04-29 19:02 · 1 claps · 2.5 min read
#problematika-keguruan #keguruan #sistem-pendidikan #indonesia
Open on Medium ↗

Alih-alih Menjadi Pendidik, Sekarang Guru Sekolah Malah Cuma Jadi Juri

Afif Yudi Kurniawan

Sumber gambar: Magnific/https://www.magnific.com/

Sumber gambar: Magnific/https://www.magnific.com/

(Sistem Pendidikan di Indonesia dari masa ke masa tidak berubah, yang berubah hanya masalah yang semakin bertambah dan kompleks)

Malang, kota tempatku melabuhkan diri

Mencari ilmu sebanyak mungkin

Atau gelar yang setinggi mungkin

Mecoba menutup telinga dengan segala stigma bahwa gelar tidak penting

Bahwa ilmu pengetahuan hanya isu jual beli semata

Usiaku dulu mungkin masih terlalu dini untuk mengambil keputusan yang begitu besar

Ya, bahkan sangat besar!

Bagaiaman tidak, anak sesusia SMA harus memilih lanjut sekolah atau kerja

Memilih kampus mana, jurusan apa, dan begitu rumit proyeksi ke depan seperti apa

Atau dibenturkan dengan satu pilihan, kerja apa? Kalau sekedar lulusan SMA

Aku tak sudi menyebut ini takdir

Ini murni pilihan! Titik

Dengan segala keterdesakan yang harus segera dituntaskan

“Guru, ” pikirku.

Satu-satunya yang ada dalam benakku adalah itu, menjadi guru

Aku juga bingung, kenapa itu yang ada ada dalam kepalaku

Seingatku, hanya karena satu pertanyaan yang mungkin hingga sekarang belum kutemukan jawabnya

“Guru ini adalah satu-satunya orang paling pintar di kelas, tapi kenapa mereka miskin-miskin?”

Itu pertanyaanku.

Sampai sekarang, ketika kutanyakan pertanyaan itu

Seakan semua jadi ilalang di tengah semak belukar yang tertiup angin

Menggeleng-nggeleng ngga jelas!

Tapi aku masih percaya, pendidikan ini adalah dunia yang indah

Entah esok atau lusa nanti

Aku harus menjadi bagian dari keindahan itu

Sampai di titik harapan itu rasanya hampa

Rasa kosong itu terus menghantui

Sunyi, senyap, gelap, meremukredam menjadi satu

Waktu kuliah, segala bentuk perubahan kurikulum habis kubedah

Melumat isi yang aslinya itu-itu saja

Tak lebih dari sekadar otak-atik ganti nama semata

KTSP, K13, Kurmer aku menolak lupa

Sekarang baru lagi?

Ampun Pak!

Dambaan menjadi orang paling pintar di kelas itu pupus seketika

Selepas rapor siswa dibagikan

Juara satu, dua, tiga sudah diumumkan

Para wali murid berhamburan

Entah pulang, lanjut kerja, atau ngerumpi tipis

Selepas kerja

Ku belokkan motorku ke warung kopi langgananku

Seperti biasa, kapal api tambah gula

Tukang warung sudah hafal itu

Bukan rahasia lagi

Kopi yang kupesan belum juga datang

Rokok tinggal sebatang belum sempet kubakar

Kudengar sayup-sayup bapak-bapak lagi ngobrol di meja sebelah

Njagong asik banget

Sampai kudengar “Nilai rapor Ridho (mungkin nama anaknya) Gimana?”

“Yo, joss lah. Juara dua dia,” jawabnya (sepertinya bapaknya)

“Wah yo mantep, Pak” sahut kawan lainnya

Hooh, toh. Wong tak les no nde bimbel (menyebut salah satu bimbel terkenal di kota Malang)

“Ya pantes pinter, juara. Bimbele larang, ” sambung kawannya

Mendengar obrolan itu

Tubuhku gemetar

Pikiranku berkecamuk

Rokok segera kubakar

Kopi kuseruput pelan

Mencoba menenangkan diri

Seolah pasrah

Napasku terus terengah-engah

Hatiku remuk redam

Pendidikan kita memang ampas

Hati dan pikiranku seolah setuju dengan kata-kata itu

Bayangkan kualifikasi guru harus sarjana, sertifikasi profesi (PPG) atau bahkan sampai harus lanjut S2

Aku paham, itu untuk menunjang pembelajaran di kelas

Tapi sekarang ruang kelas bukan tempat untuk belajar

Melainkan tempat lomba

Guru jadi juri setiap akhir semester

Menentukan siapa-siapa juaranya

Aku tidak pernah membayangkan bahwa menjadi murid harus berlomba

Berkompetisi dengan sesama murid dari tempat bimbel yang berbeda-beda

Bagaiamana dengan murid yang jangankan bimbel, kadang kantong pun kosong?

Untuk sekedar beli ciki aja harus penuh pertimbangan

Ini gimana? Atau aku harus bagaimana?

Mau marah tapi ke siapa?

Melihat guru soalah mengajar seenaknya

“kalau murid tidak paham, tenang. Pulang sekolah kan masih ada bimbel”

“Kalau saya ngajar seenaknya, yasudah. Negara ini juga tak kalah semena-mena kok”

“Murid sekarang sudah pintar-pintar, bimbelnya mahal”

“Itu membantu meringankan beban saya yang hanya terima gaji tujuh ratus ribuan sebulan”

Aku harus bagaimana?

Pakkk…

Bukkk…

Tolonggg…

Kisah ini akan berlanjut, jika negara mau menjawab.


메타데이터
post_id
fd1cfa50c050
slug
alih-alih-menjadi-pendidik-sekarang-guru-sekolah-malah-cuma-jadi-juri-fd1cfa50c050
url
https://medium.com/@afifyudik/alih-alih-menjadi-pendidik-sekarang-guru-sekolah-malah-cuma-jadi-juri-fd1cfa50c050
canonical_url
https://medium.com/@afifyudik/alih-alih-menjadi-pendidik-sekarang-guru-sekolah-malah-cuma-jadi-juri-fd1cfa50c050
author_url
https://medium.com/@afifyudik
status
ok
fetched_at
2026-07-14 16:16:25