U DESERVE BETTER
— Mungkin, seseorang bisa berhenti menjadi milik kita, tapi tidak pernah berhenti menjadi doa kita.
U DESERVE BETTER
— Mungkin, seseorang bisa berhenti menjadi milik kita, tapi tidak pernah berhenti menjadi doa kita.

Lantas, apakah doa-doa itu pernah benar-benar sampai?
“Dulu kamu berdoa semoga perempuan setelahmu bisa membahagiakannya. Lalu ketika kamu mendengar bahwa justru perempuan itu juga membuatnya terluka, kamu tidak merasa menang. Kamu justru ikut hancur.”
Aku kira, riuh perayaan cinta barumu adalah tanda semesta sedang menutup gerbang masa lalu kita rapat-rapat.
Aku kira, menyaksikanmu mekar lebih indah di bawah langit yang baru adalah tanda bahwa keputusan kita untuk saling merelakan bukanlah sebuah kekalahan. Bahwa setelah seluruh dingin yang gagal kuhangatkan, akhirnya ada lentera lain yang mampu memberimu benderang yang paling layak kamu dekap.
Aku pernah benar-benar percaya itu.
Percaya sampai aku menulis tentangmu dalam tulisan yang mendahului chapter ini. Sebuah tulisan yang seluruh isinya hanyalah doa-doa baik untukmu. Tidak ada harapan agar semesta mengembalikanmu kepadaku. Tidak ada penyesalan yang memohon kesempatan kedua. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa setelah kepergianku, hidup akhirnya mempertemukanmu dengan seseorang yang mampu mencintaimu lebih utuh daripada yang pernah kulakukan.
Aku menganggap diriku telah selesai dan cukup yakin bahwa aku benar-benar telah berdamai dengan segala riuh rasa bersalahku.
Sampai akhirnya, keberanian yang secuil ini menuntunku kembali ke teras rumah yang pernah terasa seperti rumahku sendiri. Bukan untuk mengulang cerita yang telah usai, melainkan sekadar memenuhi undangan seseorang yang pernah begitu baik menerimaku.
Aku datang bersama teman-teman lama. Kupikir, setelah dua tahun, semuanya telah menemukan tempatnya masing-masing. Kenangan tinggal menjadi kenangan, dan kami hanya akan menjadi sekumpulan orang yang sesekali mengenang masa SMA sambil tertawa pada hal-hal yang dulu terasa begitu besar.
Nyatanya, beberapa rumah memang menyimpan cara yang aneh untuk mengembalikan ingatan.
Kamu ada di sana.
Jarak kita hanya dipisahkan beberapa langkah, tetapi rasanya seperti berdiri di dua musim yang berbeda. Tidak ada sapaan. Tidak ada tatapan yang saling mencari. Kita sama-sama sibuk menjadi orang asing di tempat yang dulu menyaksikan begitu banyak tawa kita.
Aneh. Dua tahun ternyata cukup lama untuk menghapus kebiasaan, tetapi tidak cukup lama untuk menghapus rasa canggung.
Lalu, setelah kepulanganku, pikiranku terus memutar cerita yang kudengar dari sumber-sumber yang bahkan bukan berasal darimu.
Tentang hari-harimu yang belakangan terasa lebih kacau. Tentang semangatmu yang perlahan menghilang. Tentang seseorang yang kini berjalan di sisimu, namun entah mengapa justru dikisahkan turut meninggalkan luka yang baru.
Aku mendengar hal-hal yang sejujurnya tidak pernah ingin kudengar soal kekurangan dari cerita barumu.
Tentang permintaan-permintaan yang perlahan berubah menjadi tuntutan. Tentang kata-kata yang seharusnya tidak pernah diucapkan kepada seseorang yang sedang berusaha bertahan. Tentang seorang laki-laki yang lebih banyak diam daripada membela dirinya sendiri.
Aku tidak tahu seberapa banyak cerita itu adalah kenyataan. Dan mungkin, aku memang tidak berhak mengetahui seluruhnya.
Sebab setiap kisah yang berpindah dari satu mulut ke mulut lain selalu kehilangan sebagian kebenarannya, atau mungkin justru menambah bagian yang tak pernah benar-benar ada.
Tetapi, ada satu kilat yang tak siap kutepis. Menerima kabarmu lagi, setelah dua tahun aku tersesat mengasumsikan arah anginmu, rasanya seperti melihat seluruh rasi bintang yang susah payah kurangkai, mendadak lebur dihantam badai.
Dan bagian paling meremukkan dari runtuhnya langitku hari itu bukanlah fakta bahwa kamu telah berhasil memeluk cinta barumu. Namun, menyadari bahwa yang sudah benar-benar hilang dari sebuah perpisahan bukan hanya seseorang, melainkan hak untuk mengkhawatirkannya. Sebab ketika aku ingin memastikan semua cerita buruk itu tidak benar, aku tak lagi memiliki alasan yang pantas untuk mengirimkan satu pertanyaan paling sederhana: “Kamu baik-baik aja, kan?”
Tapi tak apa. Jika kemenangan belum juga menemukanmu hingga hari ini, izinkan aku tetap menjadi seseorang yang diam-diam menyebut namamu dalam doa. Yang menitipkan segala harapan baik kepada Tuhan, agar di mana pun hidup membawamu nanti, kamu akhirnya menemukan cinta yang tidak membuatmu lupa bagaimana rasanya menjadi bahagia.
Sebab, setelah semua yang terjadi, ada satu hal yang tak pernah berubah dalam doaku.
You deserve better.
메타데이터
- post_id
- fd3c2633112b
- slug
- u-deserve-better-fd3c2633112b
- url
- https://medium.com/@aca_ra2/u-deserve-better-fd3c2633112b
- canonical_url
- https://medium.com/@aca_ra2/u-deserve-better-fd3c2633112b
- author_url
- https://medium.com/@aca_ra2
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 18:30:51