Sebelum Tunas Sempat Berakar, Penggerak Sudah Pergi
Pagi itu, di tengah kopi yang masih panas, saya mendapat kabar bahwa salah satu kawan yang juga penggerak pendidikan berpulang. Kabar…
Sebelum Tunas Sempat Berakar, Penggerak Sudah Pergi

Pagi itu, di tengah kopi yang masih panas, saya mendapat kabar bahwa salah satu kawan yang juga penggerak pendidikan berpulang. Kabar tersebut bukan sekadar berita duka, melainkan juga menjadi sebuah pengingat bahwa proses perjuangan ini membentur satu masalah pelik, “keberlanjutan.” Sebuah kecemasan kolektif yang hari ini menyelimuti ruang-ruang diskusi para aktivis, guru, dan penggerak sosial: kita sedang krisis “calon penerus.”
Krisis ini terjadi lewat dua jalur yang sama-sama cepat: sebagian dari mereka telah berpulang secara biologis, dan sebagian lagi terpaksa “tumbang” karena kehabisan energi akibat melawan arus sistem yang telanjur berkarat. Di sisi lain, tunas-tunas baru yang memegang nilai kolektif ini tak kunjung tumbuh. Kita tidak punya waktu yang cukup untuk mengejar ketertinggalan ini: para penggerak tumbang dalam hitungan hari, sementara menumbuhkan penerusnya butuh waktu bertahun-tahun.
Kerja Barengan, Nilai Lama yang Belum Selesai Kita Hidupi
Bagi saya, ini alarm. Bahwa kita perlu bergerak lebih cepat dalam menumbuhkan, dan salah satu caranya adalah dengan benar-benar menghidupkan nilai Kerja Barengan, nilai yang sebetulnya sudah lama ada di akar kita.
Bukan tanpa dasar. Ki Hajar Dewantara sudah lama bicara soal ini lewat Tri Pusat Pendidikan, bahwa mendidik bukan urusan satu pihak, melainkan tanggung jawab yang dibagi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Urie Bronfenbrenner, dari belahan dunia yang berbeda, sampai pada kesimpulan yang serupa lewat Teori Ekologinya: bahwa seseorang tumbuh bukan dalam ruang hampa, melainkan dalam jaringan relasi yang saling memengaruhi. Dua pemikir, dua konteks, satu benang merah, bahwa tidak ada yang bisa tumbuh sendiri.
Tapi saya juga tidak mau berpura-pura ini mudah. Ini proses yang panjang, dan jujur saja, melelahkan.
Menumbuhkan seorang penggerak pendidikan baru bukan soal mengisi formulir atau lulus pelatihan bersertifikat kilat. Nilai seperti ketulusan dan empati tidak lahir dari seminar dua jam, dan kita semua tahu itu. Ia tumbuh dari benturan langsung dengan realitas, dari ketekunan yang diuji bertahun-tahun, dari kerelaan untuk melepas ego demi sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.
Masalahnya, dunia hari ini bergerak ke arah yang berlawanan.
Anak-anak muda tumbuh dalam sistem yang lebih suka menghitung angka daripada menghitung dampak. Sekolah mengejar peringkat, orang tua terjebak dalam kecemasan yang kompetitif, dan murid-murid didorong untuk saling sikut demi angka di atas kertas. Dalam atmosfer seperti ini, gagasan untuk bekerja bersama, bukan untuk menang, tapi untuk menumbuhkan, terasa seperti kemewahan yang tidak banyak orang mampu beli.
Maka wajar kalau tunas-tunas muda yang mau memegang estafet ini masih sangat sedikit. Bukan karena mereka tidak peduli. Tapi karena sistem kita belum cukup mengajari mereka cara peduli dengan cara yang benar.
Sebelum Tunas Berakar, Penggerak Gugur Satu Persatu
Kopi yang tadi panas, kini sudah menghangat. Saya meminumnya perlahan, sambil membiarkan kabar tadi benar-benar meresap.
Para penggerak yang jumlahnya sudah tidak banyak, satu per satu meninggalkan gelanggang perjuangan. Ada yang berpulang. Ada yang energinya habis di tengah jalan, lalu memilih menepi untuk memulihkan diri. Dan ketika kita menoleh ke belakang, mencari siapa yang akan melanjutkan, yang sering kita temukan hanyalah kekosongan. Tunas-tunas itu belum siap. Atau belum sempat disemai.
Jujur saja, kita sedang goyah. Tapi goyah bukan berarti kalah. Masih ada yang percaya. Bukan satu, bukan dua. Dan mungkin itu yang perlu kita pegang dulu sebelum bicara soal strategi atau percepatan.
Menjadi Tanah yang Subur
Kopi di cangkir saya sudah habis. Yang tersisa hanya ampasnya, hitam, pekat, dan diam. Tapi justru ampas itu yang mengingatkan saya: sesuatu yang sudah habis pun masih meninggalkan jejak. Perjuangan para penggerak yang telah pergi bukan hilang begitu saja. Ia mengendap, dan menunggu seseorang yang mau meneruskannya.
Tugas kita hari ini mungkin bukan yang paling heroik, bukan memimpin gerakan besar atau melahirkan kebijakan. Cukup menjadi tanah yang subur. Agar ketika tunas-tunas muda itu akhirnya tumbuh, mereka punya tempat untuk berakar.
메타데이터
- post_id
- fd499c2ed31a
- slug
- sebelum-tunas-sempat-berakar-penggerak-sudah-pergi-fd499c2ed31a
- url
- https://medium.com/@lordmecca/sebelum-tunas-sempat-berakar-penggerak-sudah-pergi-fd499c2ed31a
- canonical_url
- https://medium.com/@lordmecca/sebelum-tunas-sempat-berakar-penggerak-sudah-pergi-fd499c2ed31a
- author_url
- https://medium.com/@lordmecca
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-16 08:39:55