← Back to list

Cerpen: 730 Km Terakhir ke Tembalang

(Foto penulis saat di bus, sumber: arsip pribadi)

I Gede Gohan Adiputra · 2026-05-27 14:28 · 5 claps · 2.5 min read
#perjalanan #semarang #cerita-pendek #masa-muda #undip
Open on Medium ↗

Cerpen: 730 Km Terakhir Sebagai Fresh Graduate

(Foto penulis saat di bus, sumber: arsip pribadi)

(Foto penulis saat di bus, sumber: arsip pribadi)

Aku selalu percaya bahwa beberapa perjalanan bukan hanya soal tujuan. Kadang, perjalanan hanyalah cara hidup memberi waktu agar seseorang siap berpisah.

Sore itu aku berdiri di pinggir Jalan Cokroaminoto dengan satu tas yang berisi sedikit baju dan sepasang sepatu. Langit Bali belum benar-benar gelap, kendaraan silih berganti lewat, dan orang-orang masih sibuk dengan urusannya masing-masing.

Bus tujuan Semarang belum juga datang. Aku memutuskan untuk duduk ‘ngemper’ di depan teras alfamart sembari melihat kendaraan lewat satu per satu. Aneh rasanya, setelah aku sadar bahwa ini mungkin jadi perjalanan terakhirku kembali ke Tembalang sebagai fresh graduate dengan tujuan Kos Bu Darto dan Kampus Undip.

Beberapa tahun lalu, aku datang ke Semarang dengan rasa penasaran yang tinggi. Sekarang aku kembali dengan perasaan yang tak karuan, juga sulit dijelaskan.

Mungkin karena kali ini aku tahu: ada hal-hal yang tidak akan bisa diulang lagi.

Bus akhirnya datang, aroma khas perjalanan jauh langsung terasa begitu naik. Aku duduk di dekat jendela dan bus perlahan bergerak menjauhi Bali.

Perjalanan panjang selalu memberi banyak ruang untuk berpikir.

Di tengah jalan yang gelap dan deru mesin bus yang stabil, pikiranku berjalan kemana-mana.

Tentang Tembalang, tentang kos kecilku, tentang orang-orang yang dulu begitu dekat lalu perlahan sibuk dengan hidupnya masing-masing.

Aku ingat pertama kali tinggal di Semarang. Semuanya begitu asing waktu itu. Cuacanya, makanannya, cara orang berbicara, bahkan suasana malamnya terasa berbeda dengan Bali.

Butuh waktu sampai akhirnya kota itu terasa seperti rumah. Dan lucunya, ketika sebuah tempat akhirnya berhasil menjadi rumah, justru saat itu kita harus pergi meninggalkannya.

Bus terus melaju melewati malam. Kadang aku tertidur sebentar, lalu terbangun ketika bus berhenti di SPBU. Di luar jendela hanya ada lampu-lampu jalan dan kota-kota kecil yang kulewati.

Perjalanan terasa panjang, tapi tidak melelahkan. Lebih seperti memberi waktu untuk pelan-pelan menerima bahwa satu fase hidup memang sudah selesai.

Pagi hari saat bus mulai masuk Semarang, langit terlihat mendung tipis.

Aku mengenali jalan-jalan itu dengan perasaan yang lagi-lagi sulit dijelaskan. Saat sampai Tembalang, semuanya masih sama. Warteg yang sering kudatangi masih buka, jalanan di sekitar kampus masih cukup ramai, dan beberapa mahasiswa masih sibuk dengan tugasnya di warmindo.

Sesampainya di kos, aku membuka pintu kamar kos perlahan. Ruangan itu masih menyimpan suasana yang sama. Kasur empuk di tengah kamar, kertas-kertas motivasi di dinding, tumpukan buku di atas meja, overthinking tengah malam, dan hangatnya video call dengan keluarga.

Aku duduk di lantai sambil memandangi kamar itu cukup lama. Ternyata manusia bisa meninggalkan banyak versi dirinya di satu tempat kecil.

Malam terakhir sebelum kembali ke Bali nanti, aku berjanji akan berkendara sendirian mengelilingi Tembalang karena aku sadar beberapa tahun terakhir aku menghabiskan masa mudaku di tempat ini.

Aku tumbuh di sini, belajar sabar, belajar bertahan, dan belajar kehilangan juga di sini. Dan tanpa terasa, semua itu sudah lewat begitu saja.

Tidak ada perkuliahan, kegiatan organisasi, canda tawa di Kos Bu Ipah, dan hangatnya obrolan bersama teman-teman di Burjo Bintang 6.

Hanya ada waktu yang berjalan pelan-pelan menyadarkan kita: oh, ternyata ini sudah selesai.

9 Juni nanti aku akan meninggalkan Tembalang.

Mungkin setelah itu aku tetap akan kembali ke Semarang suatu hari nanti. Tapi rasanya akan berbeda, kota ini tidak akan pernah lagi sama seperti ketika aku masih tinggal di kamar kos kecil itu.

Dan mungkin memang begitu cara hidup bekerja.

Kita berjalan jauh, bertemu dengan banyak hal dan orang, lalu suatu hari kita sadar bahwa saatnya tiba nanti, semuanya akan tersimpan menjadi sebuah kenangan.

Bagi orang lain, jarak Bali ke Semarang mungkin hanya sekitar 730 kilometer.

Tapi bagiku, itu adalah jarak antara seseorang yang datang dengan banyak harapan dan seseorang yang pulang dengan versi dirinya yang berbeda.


메타데이터
post_id
fd4f0c837896
slug
730-km-terakhir-ke-tembalang-fd4f0c837896
url
https://medium.com/@igedegohan/730-km-terakhir-ke-tembalang-fd4f0c837896
canonical_url
https://medium.com/@igedegohan/730-km-terakhir-ke-tembalang-fd4f0c837896
author_url
https://medium.com/@igedegohan
status
ok
fetched_at
2026-06-24 04:09:36