GAK PUNYA WhatsApp = ANEH ?
Seorang teman wanita awal Maret lalu menghubungi saya via telepon. Saat itu saya tidak bisa langsung menjawab berhubung sedang tidak…
‘GAK PAKE WhatsApp = ANEH ?
Seorang teman wanita awal Maret lalu menghubungi saya via telepon. Saat itu saya tidak bisa langsung menjawab berhubung sedang tidak memegang henpon (hp). Bertubi-tubi ia menelpon saya, ada 7 missed call yang masuk sampai akhirnya ia mengirim sms, “ky angkat dong hp-nya”. Sebelumnya ia sudah menghubungi via facebook dan email tapi tidak juga ada respon. Ketika saya balik menelponnya, langsung ia menghujani saya secara beruntun pertanyaan-pertanyaan (dengan nada kesal) seperti, “kemana aja sih, koq gak ada kabarnya, ilang gitu aja, koq hp gak diangkat, sms, fesbuk sama imel gak dijawab, kenapa jadi susah dihubungi sih …..”.
Saya agak bingung dengan pertanyaannya, tapi saya coba jawab dengan sabar satu persatu. Saya bilang, saya masih ada koq di Jakarta, emang pocong ilang-ilangan, saya sudah tidak menggunakan alamat email yang dia kirimkan berabad lampau, fesbuk juga jarang buka, saya tidak dalam posisi pegang hp waktu dia telepon dan baca sms kan satu paket sama hp. Intinya: I am available (semoga tidak terkesan murahan). “Pan gue telpun balik,” ujar saya berargumen.
Dia tetap mempersoalkan tidak segeranya saya merespon secara cepat. Kebetulan saya memang menelponnya baru besoknya, saya pikir dia cuma mau ngajak ngobrol atau paling ngajak ketemuan. Ternyata ada hal lain. “Makanya….” ujar dia. Udah punya BB blum?. “Blum, ” jawab saya. “Ada Whatsapp (WA) gak?”. Dengan sekenanya saya bilang, “Gak…”.
Dari jawaban saya itulah muncul seketika kalimat dari mulutnya, “Ih … aneh loe ya ….!”.
Saya cuma tertawa mendengar komentarnya, tapi setelah obrolan kami selesai dan telepon ditutup, beberapa saat kemudian ada sesuatu yang terasa mengganjal di hati, terutama soal kata aneh tersebut. Maksud saya, bagaimana mungkin seseorang mendefinisikan orang lain berdasarkan punya atau tidaknya instant messaging service (IM)?. “It’s just profoundly silly,” begitu pikir saya. Tapi pada akhirnya saya segera sadar, berhubung saya dan dia berteman cukup lama ditambah rasa sebal dia saat itu, saya harus memaklumi komentar anehnya itu. Namanya juga cewek.

Yet, at some point, saya koq merasa di luar sana sepertinya memang ada orang-orang yang mendefinisikan orang lain berdasarkan bukan cuma perangkat lunak pun termasuk perangkat keras teknologi yang dimiliki — semoga saya salah.
Ketika Blackberry (BB) melejit menjadi henpon sejuta umat di Indonesia sekitar empat-lima tahun lalu, saya menerima komentar yang punya nuansa mirip utamanya waktu saya bilang gak punya ketika ada yang bertanya berapa pin BB saya. Komentarnya berupa, “Gak mungkin”, “Kenapa loe”, “Bohong loe”, ”Koq bisa”, “Serius”, “Masa sih”, “Jangan sok rahasia deh”, dan lain sebagainya. Memang tidak ada kata aneh yang keluar, tapi gesturnya menyiratkan demikian.
Pertanyaan yang mungkin timbul buat saya, apa saya tidak tertarik dengan kemajuan teknologi, atau mungkin saya begitu gapteknya?
Berry Hitam
Saya melek internet sejak awal 2000-an dan dalam aktivitas ‘web hoping’, portal teknologi macam Gizmodo, Cnet, atau Wired menjadi yang teramat sering saya kunjungi … banget. Bukannya sok asing, tapi seingat saya waktu itu tidak ada situs khusus teknologi yang berbahasa Indonesia. Jadilah sekalipun nginggris saya pas aja tapi tetap saya baca, itung-itung belajar bahasa.
Dari situs-situs teknologi itulah sekitar tahun 2002 saya mengenal pertama kali perusahaan Research In Motion Limited alias RIM yang punya produk bernama Blackberry. Membaca dengan seksama teknologi, kemampuan, layanan dan fasilitas yang bisa disediakan sebuah BB , saya berketetapan hati saya musti punya hp ini waktu nanti masuk resmi. Tentu saja bukan buat gagah-gagahan, saya butuh (salah satunya) teknologi push email yang ditawarkan khususnya dalam kondisi mobile, kebetulan tahun-tahun itu saya sering ke luar kota.
Tahun 2004 saya girang bukan kepalang waktu Indosat bawa masuk Blackberry ke Indonesia, apalagi kartu saya juga Isat. Tapi kegembiraan saya berubah menjadi kegetiran (#lebay). Tidak seperti sekarang BB dijual secara eceran layaknya pisang goreng untuk pasar ritel, tahun pertama itu BB ditujukan untuk pasar korporat. Beberapa perusahaan yang tahu kemampuan gawai ini memberikan BB sebagai fasilitas untuk karyawannya. Sebagian yang sudah established malah membayarkan biaya langganan per bulannya. Apesnya, perusahaan tempat saya bekerja dulu tidak semapan dan tidak semurah hati begitu.
Misalnya pun bisa, saya sebenarnya agak ngeri membayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan setiap bulannya, maklumlah upah buruh … belum lagi harga handsetnya yang aduhai. Kalau sekarang jelas enak, paket data dijual secara gelondongan jadi lebih terjangkau, sementara dulu seingat saya (mohon koreksi kalau salah) biaya dihitung per kilobyte… Membuka satu halaman web saja sudah berapa kb, belum kalau harus unggah-unduh. Sebuah artikel menulis bahwa tarif langganan BB kala itu per bulannya mencapai antara 400–500 ribu rupiah. Untuk ukuran sekarang saja biaya tersebut mahal apalagi 10 tahun lalu. Sepertinya di tahun itu saya belum ditakdirkan mengunakan BB.
Tahun demi tahun berlalu minat saya terhadap BB menjadi surut. Saya justru agak kaget ketika melihat di tahun 2008 BB mulai banyak dipakai masyarakat. Eskalasi kepemilikannya bahkan cenderung ekstrem dari 2009 sampai 2011 sampai akhirnya Indonesia dibaptis menjadi Blackberry Nation. Anehnya, ketika orang berbondong-bondong beralih ke BB sampai ada yang rela nyicil asal punya, saya malah jadi tidak tertarik. Alhasil saya dapat komentar seperti tertulis di atas.
Selagi melakukan moonlighting untuk sebuah perusahaan publishing pada 2012, saya dipinjamkan sebuah BB oleh si bos yang resident di spore. Katanya supaya komunikasi kami tetap lancar. Hampir dua minggu kemudian henpon itu saya kembalikan hanya karena saya tidak punya waktu buat utak-atik plus aktivasi. Ke si bos saya bilang, tanpa BB toh komunikasi tetap lancar kan …
Teman wanita yang saya ceritakan di awal sebenarnya termasuk yang awalnya mati-matian tidak mau punya BB. Saya sempat menggodanya dengan bilang, “Pake BB dong, kan jabatan udah tinggi”. Ini jawabannya yang saya ingat sekali, “Iya nih, bos gue juga udah nyuruh-nyuruh. Tapi nggak ah, gue gak mau punya BB, ih.. amit-amit deh…!”.
Bahwa kemudian dia punya BB dan ponsel pintar lainnya plus terdaftar di berbagai media sosial, mungkin itu yang namanya perjalanan hidup. Seperti kata orang, “Life is full of surprises. You never know what may hit you ahead”.
(be) Social (di) Media

Harus saya akui sejatinya saya bukan pengikut tren (dalam kasus ‘Kingsman’ sebenarnya itu menjadi berkah tersendiri). Saat berjuta rakyat Indonesia menggunakan Nokia, saya tetap setia dengan Siemens yang menurut saya manufaktur henpon terbaik yang pernah ada. Ketika Facebook mulai mewabah, saya sempat tidak tertarik untuk ikutan. Saya pikir, paling sama seperti Friendster (padahal saya juga gak punya akun friendster). Baru setelah seorang teman bilang, “Loe bisa ketemu temen-temen lama kayak temen SD”, disitu saya menjadi sangat penasaran bagaimana sistem fb bekerja, apa iya saya bisa ketemu temen lama?
Melihat kembali jejak sejarah di lini masa, ternyata saya mendaftar di facebook pada 23 Februari 2009. Ini komentar pertama dari seorang teman, “Huaaaaa… akhirnya temen gw yang satu ini punya FB juga setelah sekian lama, betapa dalam gapteknya.. hahaha..”. Berturut-turut komentar lainnya, “ky..mana fotonya” dan “pasang photo kenapa … enggak enak kan cuman ngeliatin siluete doang”.
Mungkin saya memang tidak pintar dalam bersosial di media. Sebelum facebook, saya lebih dulu mengenal Twitter pada tahun 2007 dan dalam posisi siap untuk mendaftar. Tapi kemudian saya batalkan. Keinginan saya saat itu untuk bergabung di twitter sebenarnya bukan dalam konteks jejaring sosial atau mengikuti hip media sosial. Saya cuma ingin ngeblog secara simpel, dan twitter menyediakan platform microblogging yang keren menurut saya.

Kalau kemudian baru tahun lalu saya mulai gabung twitter, itu bukan karena saya berubah pikiran ingin diikuti-mengikuti. Tapi lebih karena syarat untuk mendaftar di Medium harus pake akun twitter, jadi ya terpaksa bikin. Yang agak mengagetkan, begitu akun saya (@FeliksRT) selesai dibuat, sudah langsung ada satu orang teman yang otomatis follow. Jadilah saya folbek, sekalipun sebenarnya dari awal saya tidak berniat untuk ikut siapapun. Selanjutnya dua orang yang tidak saya kenal mengikuti saya. Terakhir teman wanita saya di atas jadi pengikut saya, dan ini membuat saya heran, tau dari mana dia? Bagi saya, sungguh lucu rasanya punya akun yang sleep mode tapi punya 4 orang follower. Beyond expectation…
Ketika pengguna facebook di Indonesia mulai beralih ke twitter, saya agak menyayangkan komentar-komentar nyinyir atau merendahkan fb dari mereka yang mungkin dulu user aktif. Sebuah artikel pernah menuliskan fb nasibnya akan sama seperti MySpace, bahkan ada yang meramal fb akan lenyap pada 2020.
Buat saya fb adalah fenomenal. Penggunanya tercatat lebih dari 1,3 milyar orang dan pendapatannya di kuartal ketiga tahun lalu mencapai 35 triliun! Saya tidak bermaksud menjadi pembela, faktanya fb punya pengguna aktif terbesar, cuma YouTube yang bisa mendekati. Twitter saja baru sampai 300 jutaan orang sama seperti Instagram. Pun begitu dengan pendapatannya yang super duper. Di luar soal facts & figure, bagi saya fb layak dihormati karena berhasil menciptakan produk yang revolusioner di bidang pertemanan. Karena itu saya menganggapnya sebagai salah satu dari beberapa website legendaris seperti Yahoo, Wikipedia, YouTube, Google Maps, ataupun Pirate Bay :p.
Apakah fb bisa lenyap? Bisa saja, kan tidak ada yang abadi di dunia. Tapi sekalipun lenyap toh fb sudah punya instagram dan WA, belum lagi messenger-nya. Oculus VR mungkin bakalan jadi ‘the next big thing’ dari facebook. Cuma waktu yang bisa membuktikan sampai kapan fb bertahan. Mungkin salah satu cara supaya fb musnah kalau minimal 1 milyar penduduk dunia yang terdaftar benar-benar meninggalkan fb.

Harus diakui banyak yang bilang bosan bermain fb, tapi apakah siap untuk menghapus akunnya? Jujur saja, saya sendiri termasuk yang merasa bosan setelah hampir dua tahun menggunakan fb. Tapi saya tidak pernah berpikir untuk mendeaktivasi akun saya. Di penghujung 2010 saya malah menemukan jejaring sosial baru, namanya: Path. Yang membuat saya tertarik adalah pertemanan di dalamnya dibatasi hanya sampai 50 orang saja (belakangan ditambah menjadi 150, malah sekarang kabarnya bisa punya 500 teman).
Saya sempat mengajak seorang teman untuk ikutan, dia mengiyakan asalkan saya lebih dulu mendaftar. “Loe duluan yang daftar ya, abis itu kasih tau, nanti gue gabung,” begitu kata dia. Setelah hampir satu bulan berlalu, sama seperti pengalaman twitter pertama, akhirnya saya putuskan batal mendaftar di path. Kepada teman itu saya beralasan, “Fb aja gak terlalu aktif apalagi ikut yang baru. Tapi loe daftar aja, siapa tau gue jadi”. Nyatanya dia tetap tidak mau daftar, sampai sekarang.
Tadinya saya pikir path tidak akan sukses di Indonesia, ternyata saya salah. Dari tahun 2012/2013 saya lihat mulai banyak yang menggunakan path, dan lebih terkejut lagi karena path menjadi jejaring sosial yang sangat disukai di kalangan anak muda karena dianggap eksklusif. Di saat path harus berjuang keras untuk eksis di negara asalnya, Indonesia menjadi penyumbang terbesar pengguna media sosial ini. Dari total 25 juta orang di seluruh dunia yang terdaftar di path, kabarnya 4 juta datang dari bumi nusantara. Luar biasa memang Indonesia …
Judge not, that ye be not judged
Path seperti juga media sosial baru lainnya jelas merasakan, apa yang populer di suatu negara belum tentu populer di negara lainnya. Tapi satu hal yang pasti, media sosial, apapun itu dan berapapun jumlah penggunanya, telah memberikan pengaruh sangat besar ke milyaran orang di berbagai belahan dunia. Lansekap media sosial 2015 memperlihatkan ada begitu banyak platform yang tersedia yang bebas dipilih dan tentu saja gratisss. Apa itu berarti perlu terdaftar di semua media sosial?

Katanya, punya banyak akun media sosial terutama yang ngehits menandakan seseorang itu eksis, gaul, keren, ikut perkembangan jaman, blah.. blah.. blah.. Kalau saya generasi z mungkin saya akan menerapkan resep itu, ikut di f-t-p-in-g+-y! sampai vine, snapchat, instagram dll. Tapi saya cukup bahagia punya 1 akun jejaring sosial, 1 akun IM, 1 akun blog, dan 1 akun microblog. Mungkin bakal nambah karena ada satu dua media sosial yang sepertinya menarik.
Mungkin saya memang aneh karena tidak punya banyak akun media sosial yang lagi ngetrend di Indonesia. Pada akhirnya itu adalah pilihan saya. Saya cuma mau memilih mengikuti media sosial yang relevan buat saya, sesuai kebutuhan, atau minat. Lagipula saya pikir, hampir tidak mungkin seseorang mengikuti semua media sosial yang ada.
Seorang teman yang sudah menjajal hampir segala jenis hp, dalam satu waktu pernah punya akun di semua IM yang sedang terkenal. WA, BBm, FBm, Line, WeChat, KakaoTalk, BeeTalk, entah apa lagi, sampai akhirnya dia memutuskan untuk menghapus seluruh akun yang ada dan kembali ke fungsi dasar hp, telepon & sms. Saya kontan tertawa mendengar alasannya, “Ribet ternyata ngurusin kayak gituan semua…”
Di luar sana saya percaya ada orang-orang, dari orang biasa sampai pesohor, yang memilih untuk tidak punya sama sekali akun media sosial apapun. Itu belum seberapa, yang lebih mencengangkan untuk kondisi jaman sekarang, seorang figur publik di harian Kompas mengaku tidak punya hp. Tentu saja bukannya tidak mampu, tapi memang dia tidak mau! Kalau ingin buat janji bertemu, dia mengaturnya dari telepon rumah atau mencari telepon umum. Kalau gagal bertemu, “Ya jadwal ulang….,” ceritanya.
Saya lupa apa alasannya tidak mau punya hp tapi saya acungkan jempol untuk keberaniannya, berani tidak populer di saat popularitas sangat dicari. Memang menjadi trendi di bidang teknologi kadang overrated. Toh jaman dulu ketika belum ada hp, internet dan media sosial, hidup berjalan baik-baik saja. Ibu kita Kartini tidak punya twitter, cuma mengandalkan kertas surat buat menulis, tapi tetap harum namanya.
Saya pernah tinggal di desa selama hampir 6 bulan, belum ada internet dan hiburan termewah cuma tv. Tapi saya sangat menikmati kehidupan saat itu yang lebih simpel, ketika waktu terasa berjalan lambat dan kesederhanaan menjadi cara hidup sehari-hari. Kalau sekarang kejadiannya diulang saya tidak tahu berapa lama bisa bertahan. Bagaimanapun juga saya masih amat sangat menyukai segala sesuatu yang berkaitan dengan teknologi, namun tetap berusaha memegang prinsip KISS! (Keep It Simple ……!)

Karena itu, saya akan sangat takjub kalau bertemu orang-orang yang menjalani hidup secara sederhana dan tidak terpengaruh dengan godaan serta gaya hidup teknologi, terutama yang tinggal di kota-kota besar. Tapi saya tidak akan pernah menilai orang-orang seperti ini. Saya tidak berani mendefinisikan seseorang berdasarkan kaca mata teknologi, punya atau tidak — pakai atau tidak. Bagi saya, seseorang itu sewajarnya dinilai berdasarkan tutur kata dan perbuatannya, dengan atau tanpa teknologi.
Start-Up
Saya mengagumi kemajuan teknologi sekalipun sering tidak seimbang dengan kemampuan manusia untuk mengadopsinya. Teknologi menghasilkan banyak hal yang tidak terbayangkan sebelumnya, dari analog menjadi digital, dari konvensional menjadi state-of-the-art.
Bermain game dari konsol Atari 2D menjadi PS 3D, menonton di format video VHS setebal buku menjadi cakram tipis Bluray (sayang Toshiba kalah), menggunakan ponsel yang dulu segede gaban kemudian mengecil sampai bisa digenggam dan kembali membesar selebar talenan, menyaksikan TV tabung yang cembung dan berat menjadi TV LED yang ringan setipis papan, dan masih banyak lagi yang terus dikembangkan, asisten virtual, drone, kontrol gestur, nano robot ala transformer atau bahkan teleportasi ala star trek.
Saya tidak bisa membayangkan bagaimana lompatan teknologi di masa depan. Sekarang saja hampir setiap hari selalu ada berita teknologi, tentang inovasi terkini diperkenalkan, gadget baru terus ditawarkan, aplikasi bermunculan, start-up berkembang, penawaran jasa berbasis teknologi, sampai belanja online yang laris manis.
Teknologi pada dasarnya dibuat untuk membantu manusia. Dalam perkembangannya teknologi disesuaikan untuk memudahkan dan memanjakan penggunanya secara personal. Ujung dari itu semua pada akhirnya adalah memancing orang untuk mengkonsumsi. Dan saya adalah bagian dari konsumen yang dimaksud.
Masalahnya, buat saya yang katanya aneh ini, saya ingin lebih dari sekedar jadi konsumen. Saya misalnya, pingin memanfaatkan texting, calling, gaming atau streaming yang ‘gratis’ itu bisa ‘menghasilkan’. Saya tidak sanggup ganti gawai tiap bulan. Saya tidak minat punya banyak akun med-sos. Saya tidak berharap punya teman atau pengikut hingga jutaan orang (kecuali untuk kepentingan komersil ;-). Atau yang paling konyol, saya tidak suka adu komentar soal os mana yang paling stabil, hp mana yang paling bagus, atau merek apa yang paling keren. Di atas segalanya, saya tidak mau cuma jadi penggembira di era Internet of Things. Saya berharap, selain mengkonsumsi saya juga bisa memproduksi.
Saya kepingin membangun start-up. Saya ingin memberikan layanan digital yang ‘belum ada’ sebelumnya. Saya tahu ide saya, pada layanan yang ingin ditawarkan, saya percaya ada pasarnya, dan yang paling penting saya juga percaya bisa memonetisasi layanan ini. Saya punya konsep pengembangan bisnis yang berkelanjutan dan menguntungkan. Yang saya tidak punya adalah resources nor money slash investor. Sejujurnya saya belum pernah cuap-cuap tentang ide saya ini kepada siapapun, jadi frankly speaking, saya juga belum tahu dari perspektif pihak lain apakah ide saya ini betul-betul feasible, executable, & yang paling penting: bisakah profitable ? Karena itulah, yang saya tidak tahu, apakah ide ini suatu saat bisa terwujud ? But hey … life is full of surprises, right … :-)
Ngaku hayo …
Saya memang berbohong ke teman wanita saya waktu bilang gak punya WA. Tentu saja ada. Saya menggunakan nomor lain yang belum dia ketahui. Terlalu bodoh rasanya saya yang kebetulan punya ponsel pintar dan berlangganan paket data kalau tidak mengaktifkan layanan im WA, apalagi fitur halo-halonya sudah muncul.
Tapi saya tidak bohong waktu bilang gak punya bbm. Layanan ini memang tidak saya aktifkan di ponsel android. Saya berniat mengaktifkannya di ponsel BB. Di saat banyak orang mulai meninggalkan BB, saya memang mempertimbangkan untuk mulai menggunakan. Kalau itu membuat saya terlihat aneh, again, I’ll take it… with smile.
As for my lovely dearest friend, saya tidak marah koq sama dia. Justru karena dia inspirasi tulisan ini. Setelah percakapan telepon itu, kami berdua bersama beberapa teman lainnya berkumpul di sebuah restoran melewati akhir pekan yang menyenangkan. Waktu ketemu, dia kembali bertanya soal WA. Saya tersenyum mendengarnya.
Sebenarnya tidak ada jaminan pesan yang dikirim via im seperti wa atau bbm akan secepatnya dibalas. Bisa saja pesan belum terbaca atau kalau sudah dibaca belum sempat untuk membalas, atau ternyata koneksi data belum diaktifkan atau malah paket data sudah habis! Tapi saya tidak mau menghabiskan waktu menjelaskan masalah teknis begitu di saat sedang kumpul bersama. Saya cuma berikan nomor WA saya.
Saya sadar, di lain kesempatan dia bisa kembali menghubungi saya sambil ngomel-ngomel. Tapi saya tahu dia bukannya lagi marah, dia cuma kangen sama saya ☺

메타데이터
- post_id
- fd57e0d2c2a1
- slug
- aneh-loe-fd57e0d2c2a1
- url
- https://medium.com/@FeliksRT/aneh-loe-fd57e0d2c2a1
- canonical_url
- https://medium.com/@FeliksRT/aneh-loe-fd57e0d2c2a1
- author_url
- https://medium.com/@FeliksRT
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-30 20:23:11