When Allison Cry: Produktif Lewat Cincin Sendok
Bagi sebagian orang, barang bekas merupakan sampah yang tidak berguna, tapi di tangan personel When Allison Cry, barang bekas adalah karya…
When Allison Cry: Produktif Lewat Cincin Sendok
Bagi sebagian orang, barang bekas merupakan sampah yang tidak berguna, tapi di tangan personel When Allison Cry, barang bekas adalah karya seni.
When Allison Cry (selanjutnya disingkat WAC) adalah studio seni karya tiga orang mahasiswa kalcer yang merasa kurang produktif. Mereka tersebut adalah Riris, Mikael, dan Hoho.
“Sebenarnya kami punya kesibukan masing-masing, cuma masih merasa kurang produktif dalam hal menghasilkan karya seni. Jadi cincin yang kita buat ‘tuh kita anggap sebagai karya seni kita.” ucap Riris selaku owner WAC.
Berlandaskan kegelisahan tersebut, WAC memulai langkah pertamanya lewat cincin yang terbuat dari sendok bekas pada akhir 2023 lalu. Batch pertama dikeluarkan dengan enam model cincin yang berbeda-beda dengan membawa keunikan dari wujud mentahnya, sendok hasil ngawul area sekitar Yogyakarta.

Gambar 1: Akun Instagram When Allison Cry
Riris mendapat inspirasi cincin sendok dari video TikTok yang diposting orang luar negeri. Video tersebut menunjukkan pencarian bahan mentah, si sendok, sampai proses penyulapannya menjadi cincin. Menurutnya, usaha cincin sendoknya terbilang langka karena jarang dibahas dan dijual orang.
Riris senang hati membagikan cara pembuatan cincin sendoknya. Dimulai dari pencarian sendok bekas yang ia lakukan di area Yogyakarta, Klaten, sampai Solo. Kadang juga memanfaatkan lokapasar seperti Facebook dan Carousell. Ia tidak sembarang memilih sendok. Ada beberapa ketentuan yang wajib dipatuhi.
“Ketentuannya nyari model yang bagus. Kalau tebal tipisnya minimal 1mm. Kalau sampai bisa dibengkokkan tangan biasa, ya enggak diambil soalnya kita menjaga kualitas dari medium kita,” ujar Riris.
Sendok hasil ngawul kemudian diukur sesuai keinginan dan dipatahkan lebih dahulu menggunakan pemotong baja. Potongan gagang sendok kemudian diampelas sampai halus agar tidak melukai jari ketika dipakai. Setelah itu, gagang sendok dibengkokkan sampai menyerupai cincin menggunakan alat khusus. Terdengar mudah bukan?
Keterbatasan uang dan waktu cukup menyulitkan perjalanan seni mereka, namun hal itu bukan berarti kebuntuan kekal. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan.
Kekurangan dana memaksakan mereka untuk menjadi kreatif dengan memanfaatkan barang yang sudah ada, seperti halnya mesin bor yang dialihfungsikan menjadi pengamplas. Pencarian alat produksi lain yang tidak bisa diakali kreativitas akan dibantu e-commerce sambil menerka-nerka bagaimana kualitas dan fungsi barangnya, pun setelah ketemu alatnya juga masih ada persoalan lain: maintenance.
“Maintenance-nya sih yang lebih sulit. Kan itu dari besi toh. Kemarin kami sempat mengalami kebuntuan, yang bikin mesinnya karatan.” katanya.
Pilihan WAC untuk vakum selama tiga bulan dengan alasan kuliah tidak dapat dihindari. Di samping itu, kekurangan modal untuk membeli alat yang lebih baik juga ikut menghambat produktivitas mereka.
“Alasan yang membuat kita vakum karena ada motif sendok yang bagus dan tebal tapi susah buat ngebengkokke ne. Menurut saya itu jadi salah satu keterpurukan WAC. .”
Mungkin beberapa orang akan merasa aneh melihat gagang sendok yang sering mereka pakai malah dijadikan aksesoris, tetapi itulah yang membuat Riris merasa produk seni studionya istimewa.
“Nggak semua orang bisa menikmati karya seni ini. Motif-motifya juga terbatas. Memang ada beberapa artikel (model) yang per motifnya cuma 8 pieces, jadi kalau habis ya sudah nggak ada lagi.”
Studio WAC bagian cincin sendok sudah berjalan selama satu semester. Riris berharap ke depannya WAC bisa semakin berkembang sebagai tempat penyalur hobi kalcernya.
“Semoga lebih banyak yang berminat membeli cincin sendok, tapi kalau nggak ada yang beli juga tidak masalah. Maksute ki karena kita menganggapnya ini ‘tuh hobi, ora serius-serius amat. Nek nggolek duit yo ora kerja ngunu kui to, nek nggolek duit kerjone ning perusahaan. Ngene ki menyalurkan hobi,” kata Riris dengan logat Klatennya yang kental.
(artikel ini pernah dimuat di kisakata.co dengan judul yang sama pada tanggal 17 Mei 2024)
메타데이터
- post_id
- fd642f4c884e
- slug
- when-allison-cry-produktif-lewat-cincin-sendok-fd642f4c884e
- url
- https://medium.com/@sekarrespathi/when-allison-cry-produktif-lewat-cincin-sendok-fd642f4c884e
- canonical_url
- https://medium.com/@sekarrespathi/when-allison-cry-produktif-lewat-cincin-sendok-fd642f4c884e
- author_url
- https://medium.com/@sekarrespathi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 17:48:15