Berani Menulis (12)
Prinsip 10: Istiqomah dalam Kebaikan Meskipun Sedikit
Berani Menulis (12)
Prinsip 10: Istiqomah dalam Kebaikan Meskipun Sedikit
Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillah, kita kembali dipertemukan. Kembali lagi dengan saya Muhammad Fakhri Fadhlillah yang masih belajar, masih berproses, dan masih berusaha mengambil pelajaran dari setiap ayat Al-Qur’an agar tidak hanya berhenti sebagai bacaan, tetapi benar-benar menjadi petunjuk dalam menjalani kehidupan.
Pada tulisan sebelumnya kita telah belajar tentang pentingnya kedisiplinan dan ketepatan waktu sebagai salah satu ciri kepribadian unggul. Kali ini, kita melanjutkan perjalanan dalam buku 30 Prinsip Hidup dari Al-Qur’an karya Nor Kandir, yaitu prinsip kesepuluh: istiqomah dalam kebaikan meskipun sedikit.
Ada satu hal yang sering saya renungkan. Memulai ternyata tidak sesulit mempertahankan.
Banyak orang mampu memulai membaca Al-Qur’an satu juz dalam sehari, tetapi hanya bertahan beberapa hari. Banyak yang bersemangat menghadiri kajian di awal tahun, kemudian perlahan menghilang. Banyak yang bertekad memperbaiki sholat, menjaga lisan, memperbanyak sedekah, atau meninggalkan kebiasaan buruk, namun semangat itu sering kali memudar seiring berjalannya waktu.
Barangkali memang tantangan terbesar dalam perjalanan menuju pribadi yang lebih baik bukanlah bagaimana kita memulai, tetapi bagaimana kita tetap bertahan.
Inilah yang diajarkan oleh Alloh Swt. dalam firman-Nya:
“Maka tetaplah kamu (pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112)
Ayat ini merupakan salah satu ayat yang memiliki makna sangat mendalam. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Surat Hud telah membuatku beruban.” Salah satu sebabnya adalah karena beratnya perintah untuk tetap istiqomah.
Istiqomah bukan sekadar melakukan kebaikan sesekali. Istiqomah adalah kemampuan untuk tetap berada di jalan yang benar, meskipun tidak ada yang melihat. Tetap taat ketika semangat menurun. Tetap beribadah ketika suasana hati sedang tidak baik. Tetap menjaga prinsip meskipun lingkungan mulai berubah.
Justru di situlah letak ujian yang sebenarnya.
Kita hidup di zaman yang serba cepat. Semua orang ingin hasil yang instan. Bahkan dalam urusan memperbaiki diri, terkadang kita berharap perubahan besar bisa terjadi dalam waktu singkat. Ketika hasil yang diharapkan belum terlihat, kita mudah menyerah.
Padahal Islam mengajarkan sesuatu yang berbeda.
Islam tidak menuntut kita melakukan semua hal sekaligus. Islam lebih menghargai amal kecil yang terus dijaga daripada amal besar yang hanya sesekali dilakukan.
Rasulullah Saw. bersabda bahwa amalan yang paling dicintai oleh Alloh adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.
Hadis ini terasa begitu menenangkan.
Artinya, mungkin hari ini kita hanya mampu membaca satu halaman Al-Qur’an. Tidak mengapa, selama kita menjaganya setiap hari.
Mungkin kita baru mampu bersedekah dengan jumlah yang kecil. Tidak mengapa, selama kita tidak berhenti.
Mungkin kita baru mampu menjaga sholat berjamaah beberapa waktu. Tidak mengapa, selama kita terus berusaha memperbaikinya.
Karena dalam pandangan Alloh, konsistensi jauh lebih berharga daripada ledakan semangat yang hanya sesaat.
Saya pun menyadari bahwa istiqomah bukan berarti perjalanan yang selalu mulus. Akan ada hari ketika rasa malas datang tanpa diundang. Ada waktu ketika ibadah terasa berat. Ada masa ketika lingkungan tidak lagi mendukung. Bahkan terkadang kita terjatuh pada kesalahan yang sama.
Namun istiqomah bukan berarti tidak pernah jatuh.
Istiqomah adalah selalu memilih untuk bangkit setiap kali terjatuh.
Istiqomah adalah kembali mengetuk pintu taubat setiap kali tergelincir.
Istiqomah adalah terus melangkah meskipun langkah itu terasa kecil.
Karena yang dinilai oleh Alloh bukan seberapa cepat kita sampai, melainkan seberapa sungguh-sungguh kita bertahan di jalan-Nya.
Prinsip ini juga mengingatkan bahwa kepribadian unggul dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari.
Kejujuran yang terus dijaga.
Sholat yang terus diperbaiki.
Lisan yang terus dikendalikan.
Ilmu yang terus ditambah.
Niat yang terus diluruskan.
Semuanya mungkin terlihat biasa. Namun ketika dilakukan bertahun-tahun, kebiasaan kecil itu akan membentuk karakter yang luar biasa.
Sebaliknya, semangat yang besar tetapi tidak konsisten sering kali hanya meninggalkan penyesalan.
Mungkin itulah mengapa Alloh tidak meminta kita menjadi sempurna dalam sekejap. Yang diminta hanyalah tetap berada di jalan yang benar.
Sedikit demi sedikit.
Hari demi hari.
Sampai akhirnya kita dipanggil kembali kepada-Nya.
Bukankah pohon besar pun tumbuh dari benih kecil yang terus disiram setiap hari?
Begitu pula keimanan.
Ia tidak tumbuh karena satu kajian, satu buku, atau satu amal besar.
Ia tumbuh karena ribuan langkah kecil yang terus dijaga sepanjang kehidupan.
Hikmah yang dapat kita renungkan dari prinsip ini adalah bahwa istiqomah merupakan bukti ketulusan seorang hamba dalam mencintai jalan Alloh. Amal yang terus dijaga, meskipun kecil, akan memiliki nilai yang besar di sisi-Nya karena menunjukkan kesungguhan, kesabaran, dan keikhlasan. Kepribadian unggul bukan dibentuk oleh pencapaian sesaat, melainkan oleh kebaikan-kebaikan sederhana yang dilakukan secara konsisten hingga akhir hayat.
Semoga Alloh memberikan kepada kita hati yang teguh, langkah yang istiqomah, serta kekuatan untuk terus memperbaiki diri tanpa lelah. Semoga setiap amal kecil yang kita lakukan menjadi pemberat timbangan kebaikan di hari ketika tidak ada lagi yang bermanfaat selain amal yang diterima oleh-Nya.
Wallāhu a’lam bish-shawāb.
Sampai jumpa pada pembahasan prinsip berikutnya, insyaAllah. Semoga setiap langkah kecil yang kita usahakan menjadi jalan menuju pribadi yang lebih baik di sisi Alloh Swt.
메타데이터
- post_id
- fd9a1ec9b9fe
- slug
- berani-menulis-12-fd9a1ec9b9fe
- url
- https://medium.com/@muhammadfakhrifadhlillah/berani-menulis-12-fd9a1ec9b9fe
- canonical_url
- https://medium.com/@muhammadfakhrifadhlillah/berani-menulis-12-fd9a1ec9b9fe
- author_url
- https://medium.com/@muhammadfakhrifadhlillah
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-08 23:38:59