Jarak di Tengah Prahara
Menjelma sunyi di kala dentuman membentur prahara; tempat seluruh pinta sedang dilangitkan.
Jarak di Tengah Prahara
Menjelma sunyi di kala dentuman membentur prahara; tempat seluruh pinta sedang dilangitkan.

Di kala malam nan gelap gulita ini, udara terasa purba; pengap akan sarat yang hampa. Barangkali dengan membiarkan dentruman itu menyusup nan — meruah, di kala ruang-ruang hampa penuh akan lipatan kesadaran yang kian riuh.
Seolah dentruman; mampu mengucap di kala diri tak dapat lagi mengungkapkan.
Dalam keriuhan yang kian membisu — hanya ragamulah yang kian menjadi sekat di antara ribuan baris takdir yang carut-marut; selarik sembilu yang telah kukerahkan nan ku tanam habis dihadapanmu.
Namun, tepat di hadapanmu pula — seluruh diksi mendadak luruh. Seolah diriku hanyalah peziarah yang kehilangan petunjuk di balik tabir ragamu; tempat di kala seluruh pinta paling sunyi ku langitkan, nan meluruh — tanpa pernah terdengar akan insan mana pun.
Maka, biarlah waktu bekerja sebagaimana mestinya, ku relakan berbagai atma yang kian merana ini — menghilang dengan sendirinya; atas persetujuan semesta.
Pada akhirnya, ragamu adalah satu-satunya muara yang meruah gelap nan melekat akan kian ragaku; menjelajahi suluk-beluk hidupku.
메타데이터
- post_id
- fda81f1db505
- slug
- jarak-di-tengah-prahara-fda81f1db505
- url
- https://medium.com/@rrakhz/jarak-di-tengah-prahara-fda81f1db505
- canonical_url
- https://medium.com/@rrakhz/jarak-di-tengah-prahara-fda81f1db505
- author_url
- https://medium.com/@rrakhz
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-11 21:11:36