Mereka yang Katanya Pandai
“Perubahan yang seharusnya membawa perkembangan justru sering kali menciptakan keputusasaan. Sebab tidak semua perubahan adalah…
Mereka yang Katanya Pandai
“Perubahan yang seharusnya membawa perkembangan justru sering kali menciptakan keputusasaan. Sebab tidak semua perubahan adalah perkembangan”.

Sumber: Pinterest
Banyak yang berpendapat bahwa manusia terlahir dengan cara berpikir yang unik. Namun, bagaimana pola pikir itu diterapkan akan sangat memengaruhi bagaimana tatanan sosial bekerja.
Generasi Z, atau yang dikenal sebagai Gen Z, adalah kelompok individu yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Generasi ini tumbuh di tengah pesatnya perkembangan era digital, menjadikan teknologi informasi dan komunikasi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mereka. Mereka dikenal sebagai generasi yang cerdas, inovatif, dan kritis.
Namun, di balik keunggulan tersebut, Gen Z juga menghadapi tantangan besar. Tekanan untuk selalu tampil sempurna di media sosial, serta beban informasi yang berlebihan, sering kali memengaruhi kesehatan mental mereka. Sayangnya, dalam perjuangan mereka untuk bertahan hidup di dunia yang serba cepat ini, banyak yang melupakan fakta sederhana: bahwa mereka tetaplah anak-anak.
Kemandirian yang sering dipuja, serta kebebasan yang dianggap sebagai wujud moralitas modern, justru kerap mengabaikan kebutuhan emosional Gen Z. Bahkan, orang tua pun kadang menganggap masalah yang dihadapi anak-anak mereka sebagai hal remeh. Padahal, mereka adalah generasi yang tumbuh dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan menuju kehidupan yang lebih baik.
Namun, apa yang terjadi?
Pendidikan, yang seharusnya menjadi pintu menuju masa depan yang cerah, terkadang berubah menjadi jebakan. Sistem pendidikan sering kali lebih fokus mencetak individu yang “siap bekerja,” tetapi melupakan esensi manusiawi dari para pelajar itu sendiri. Anak-anak ini akhirnya merasa asing dengan diri mereka sendiri, bahkan dengan orang-orang di sekitar mereka.
Orang tua, yang merasa bahwa hidup mereka dulu jauh lebih sulit, sering kali mengabaikan rasa sakit yang dialami anak-anak mereka. Pola pikir bahwa “kesulitan zaman dulu lebih berat” membuat banyak orang tua kehilangan empati, sehingga gagal memberikan dukungan yang dibutuhkan. Akibatnya, banyak anak menganggap pekerjaan dan perjuangan hidup hanyalah sebuah lelucon sosial, karena tekanan dari opini publik yang terus berkembang.
Di tengah arus globalisasi dan serangan budaya, anak-anak ini merasa terperangkap. Perubahan yang seharusnya membawa perkembangan justru sering kali menciptakan keputusasaan.
Sebab tidak semua perubahan adalah perkembangan.
Manusia, di antara makhluk lain yang tidak sempurna, memang memiliki kemampuan untuk berkembang. Namun, perkembangan ini sering kali dipaksakan oleh tekanan sejarah dan otoritas perubahan, bahkan hingga ke level yang paling personal. Pada akhirnya, terlepas dari semua ekspektasi dan tuntutan yang diberikan kepada mereka, kita perlu mengingat satu hal: mereka hanyalah anak-anak.
Mereka membutuhkan lebih dari sekadar pengakuan atas kecerdasan mereka. Mereka butuh dukungan, empati, dan ruang untuk menjadi diri mereka sendiri, tanpa tekanan yang membebani.
메타데이터
- post_id
- fdbc684b5875
- slug
- mereka-yang-katanya-pandai-fdbc684b5875
- url
- https://medium.com/@lailaaini60/mereka-yang-katanya-pandai-fdbc684b5875
- canonical_url
- https://medium.com/@lailaaini60/mereka-yang-katanya-pandai-fdbc684b5875
- author_url
- https://medium.com/@lailaaini60
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-21 06:43:43