Aku punya permintaan, tapi maaf kalau tak tahu malu
Aku punya permintaan, tapi maaf kalau tak tahu malu

10, 20, 30, 40, 50, … 58 ?
Oh ya, lima puluh delapan.
Angka yang cukup megah untuk bisa lulus jadi manusia berpengalaman.
Ibuku yang hebat, yang kuat, dan yang selalu bersemangat.
Kalau aku bisa bicara dengan bumi, biar kuberitahu ia kau sama besarnya.
Kalau aku bisa bicara dengan matahari, biar kuberitahu ia kau sama terangnya.
Kalau aku bisa bicara dengan ribuan tata surya, biar kuberitahu mereka kau sama berharganya
Tapi, mula-mula, ketahuilah dulu alasanku berkata melangit seperti itu.
Jadi begini, Bu.
Pada puluh usia pertama, aku sering merenungi bunyi gemerisik kepala soal realita yang sedang terjadi. Menilik-nilik sekeliling sambil bertanya di dasar ragu, “Apakah ini nyata?” atau suatu ketika saat aku sedang mengamati jari-jari dan wajah dalam pantulan cermin, aku bertanya, “Inikah aku?”. Namun, yah… seperti monolog pada umumnya, pertanyaan itu tak kunjung terjawab. Bahkan oleh senyap dan ketidakacuhanku di sela-sela kesadaran.
Barulah ketika mengenal dekat Si Sedih, pertanyaan-pertanyaan itu tak lagi hinggap.
Tahu, kan, bagaimana sedih? Rasanya seperti sesak merayap di rongga, pilu membabat dada, dan dikerubungi sesuatu yang raib, tapi tak sekejap bisa dilupa. Ya, memang begitulah Si Sedih, ada sesukanya. Bisa hadir sebelum senang, bisa juga menyusul setelahnya. Terkadang, sebab Si Sedihku bisa sekecil biji selasih dan tak melebihi kecambah, tapi ia akan tetap subur oleh curahan pengakuanku sendiri.
Akan kuperjelas. Dulu, aku biasa meromantisasi kesedihan, bahkan berteman dengan lagu-lagu renungan hidup yang katamu hanya akan memupuk tumor di hati. Untungnya, itu tak bertahan lama karena suatu ketika aku mulai menampung semua yang kubisa agar tak berceceran dilihat orang. Lantaran kau bilang khalayak tak butuh tahu muasal sedihku, maka ya, aku menyadari itu benar. Kau tidak memaksudkan itu agar anakmu menjadi pemendam yang merana. Alih-alih menuntut pemakluman sedunia, petuah itu lambat-lambat menatarku untuk jadi pemaaf—yang juga memaafkan diri sendiri.
Ingatkah kau itu?
Ya. Kau pasti ingat.
Tapi, cukupkah itu sebagai alasanku meletakkanmu bersama tata surya?
Benar, itu belum cukup.
Hal-hal tentangmu yang membersamaiku tak terlampau jumlahnya. Tak semata-mata menggenang dan memantulkan bayangan memori, mereka membentang seperti laut lepas dan merekat di dasar permukaan yang tak mampu kujangkau. Kendatipun sebegitu dalam dan luasnya, kuberdoa agar mereka senantiasa di tempatnya seiring ingatanku compang-camping digerogoti waktu.
Sebentar lagi, usiaku akan menapaki puluh kedua. Ia sedang bermain kejar-kejaran dengan waktu agar bisa menyamai milikmu. Tentu saja itu mustahil.
Tapi, kuharap bisa
Kuharap bisa.
Ini semua karena takut yang mencengkeram telah berbisik cemas padaku. Dia bilang bagaimana jika duniaku belum selesai bersiap saat kau justru mulai letih? Lantas, diriku bagian mana yang bisa kau tumpu? Diriku yang mana? Diriku yang diam-diam masih ingin bergelung di pangkuanmu? Bagaimana jadinya jemari yang masih gemetar ini bisa menggenggam seluruh lelahmu?
Oh, tidak, tidak. Tepat hari ini aku akan menyudahi kegelisahanku yang tidak bermuara. Pertanyaan-pertanyaan ini pasti akan usang bahkan sebelum waktu sempat menggerusnya. Ketakutan ini akan kuganti dengan hal hebat bernama kelayakan. Nantinya, kau bisa bersandar pada seluruh bagian diriku yang kokoh. Kau bisa mengait jemariku yang telah sigap. Kau bisa lihat pengejaranku yang terhenti. Aku akan melesat taklukkan waktu yang memburu. Di sinilah aku, yang akan melompati ketakutan demi berdialog dengan Sang Pemilik Waktu.
Kuberi tahu Dia
Aku punya permintaan
Tapi maaf kalau tak tahu malu.
Jika umur manusia adalah rencana yang bisa ditawar, aku ingin menukar sebagian milikku untuk disisipkan ke dalam sisa usiamu. Tolong tambahkan angka-angka yang lebih megah di belakang angka lima puluh delapanmu. Pinjamkan dirimu waktu sedikit lebih lama lagi, setidaknya sampai aku selesai bersiap menjadi utuh, sampai aku mampu menjelma rumah teraman yang kau singgahi.
Aku punya permintaan
Tapi maaf kalau tak tahu malu.
Jika hal ajaib terkehendaki pada suatu masa, aku ingin waktu bersamamu lebih panjang dari jarak yang bisa ditempuh tahun cahaya. Aku ingin cengkeraman sehat yang takkan mengendur untuk ragamu serta bahagia yang tak pernah surut untuk jiwamu.
Aku punya permintaan.
Tapi maaf kalau tak tahu malu
Jika Dia memperbolehkanku meminta satu mukjizat lagi, inginnya aku agar kau diberi keabadian yang cukup untuk bisa menyaksikanku solid. Merayakan kedewasaan tanpa perlu lagi kaulindungi. Kelak, jika waktunya tiba, bukan aku lagi yang melangit dan bercerita pada jagat raya tentangmu. Biar bumi mengetahui seberapa berartinya kehadiranmu, biar matahari melihat seberapa terangnya jiwamu, dan biar ribuan tata surya mengakui seberapa berharganya kau—Ibuku yang hebat.
Selamat ulang tahun, Ibu. Harapan yang terkesan melangit ini adalah janjiku yang paling membumi: aku akan kokoh, menyambut puluh-puluh usiaku yang baru dengan kesiapan penuh untuk merengkuh sisa usiamu. Bahagialah selalu di semesta ini bersamaku dan jika dunia paralel itu nyata adanya, kuharap di seluruh bentangan dimensi mana pun, jiwamu tetap didekap oleh bahagia yang sama besarnya.
Selamat menapaki usia yang baru, Ibu. Jagat rayaku yang abadi di relung hati.
메타데이터
- post_id
- fdce7dec061a
- slug
- aku-punya-permintaan-tapi-maaf-kalau-tak-tahu-malu-fdce7dec061a
- url
- https://medium.com/@janedoeyre/aku-punya-permintaan-tapi-maaf-kalau-tak-tahu-malu-fdce7dec061a
- canonical_url
- https://medium.com/@janedoeyre/aku-punya-permintaan-tapi-maaf-kalau-tak-tahu-malu-fdce7dec061a
- author_url
- https://medium.com/@janedoeyre
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-15 02:24:45