← Back to list

Resensi Novel “Ibukota Lama” Karya Kawabata Yasunari

Identitas Buku

Alfina Mutiara Ramidan · 2025-08-12 14:31 · 0 claps · 2.9 min read
#sastra-jepang #klasik #resensi #novel #yasunari-kawabata
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative

Resensi Novel “Ibukota Lama” Karya Kawabata Yasunari

Image: “Yasunari Kawabata at work, c.1946” via Wikimedia Commons, Public Domain

Image: “Yasunari Kawabata at work, c.1946” via Wikimedia Commons, Public Domain

Identitas Buku

Judul : Ibukota Lama

Pengarang : Kawabata Yasunari

Diterjemahkan : Nurul Hanafi

Jumlah Halaman : 192 halaman

Penerbit : Kakatua

Tahun Publikasi : 2021

Orientasi

Ibukota Lama karya Kawabata Yasunari mengangkat tema keluarga, identitas, cinta, dan kerinduan yang terjalin dalam keindahan serta kesunyian kota Kyoto, yang merupakan ibukota lama Jepang sebelum berpindah ke Tokyo. Berlatar pada tahun 1960-an, novel ini membawa pembaca menelusuri lorong-lorong kota tua, festival-festival tradisional, dan musim-musim yang berganti dengan lembut di kota Kyoto. Melalui kisah gadis kembar yang terpisah sejak lahir, Kawabata mengajak kita merenungkan takdir, kehilangan, dan keterikatan yang tak lekang oleh waktu. Sebuah perjalanan batin yang lirih namun memikat.

Sinopsis

Ibukota lama menceritakan tentang gadis muda bernama Chieko yang merupakan anak angkat dari Tuan Takichiro dan Nyonya Shige. Ayah Chieko merupakan seorang pedagang grosir dan juga designer kimono. Novel ini pada dasarnya bercerita tentang kehidupan sehari-hari yang dijalani oleh Chieko sebagai anak tunggal dari keluarganya. Tanpa disangka, ternyata Chieko pun tak tahu di mana dirinya berasal. Orang tuanya pun hanya bercerita kepada Chieko bahwa ia ditemukan di bawah pohon Sakura yang terletak di Maruyama, yang kala itu Chieko masih seorang bayi.

Chieko tumbuh menjadi gadis yang penurut dan suka membantu pekerjaan orang tuanya. Meskipun Chieko bukan merupakan anak kandung, tetapi orang tuanya sangat menyayangi Chieko, begitu pun dengan Chieko yang juga sangat menyayangi orang tuanya. Chieko yang masih berusia remaja sempat kebingungan dan ragu ketika ayahnya menanyakan tentang pernikahan dirinya nanti. Chieko merasa masih belum siap untuk menikah, terlebih lagi ketika ia mendengar akan dijodohkan dengan anak dari rekan bisnis ayahnya. Hal tersebut membuat Chieko merasa tidak yakin, pasalnya karena ia lebih menyukai teman semasa kecilnya yang bernama Shin’ichi.

Selain menceritakan tentang kehidupan Chieko, ada pula sisipan cerita yang menceritakan tentang saudari kembar Chieko yang bernama Naeko. Cerita tersebutlah yang menjadikan novel ini menjadi lebih seru. Chieko yang tidak tahu sama sekali akan asal-usul dirinya, tidak disangka ternyata memiliki saudari kembar yang membuatnya pun sangat terkejut. Kisah kehidupan mereka berdua yang terpisah pun sangat berbeda satu sama lain.

Analisis

Kawabata Yasunari menerbitkan novel “Ibukota Lama” pada tahun 1962, merupakan novel yang ia tuliskan empat tahun sebelum ia mati bunuh diri. Tak disangka-sangka novel tersebut berhasil menerima Penghargaan Nobel Kesusastraan pada tahun 1968 menjadikannya sebagai orang Jepang pertama yang menerima penghargaan tersebut. Walaupun Kawabata sendiri menyatakan bahwa novel “Ibukota Lama” bukanlah karya terbaiknya, akan tetapi Kawabata berhasil membawa pembaca menjelajahi keindahan Kyoto ibukota Jepang yang telah berusia seribu tahun itu.

Pembawaan cerita pada novel ini terbilang cukup lambat atau slow pace, tetapi mengingat latar yang diambil adalah suasana Jepang tahun 60-an, jadi memang Kawabata menuliskannya seperti apa yang ia rasakan juga di tahun tersebut. Dapat dikatakan juga fokus utama pada novel ini adalah memperlihatkan keindahan baik dari segi alam dan orang-orangnya di sebuah kota tua yang sudah lama ada. Dari novel ini juga kita dapat melihat bagaimana sifat yang dimiliki oleh seorang wanita Jepang di masa tersebut, yang memang pada dasarnya kaum mereka hanya mengerjakan pekerjaan rumah serta secara tidak langsung harus menuruti segala perkataan dari kaum lelaki.

Evaluasi

Novel “Ibukota Lama” merupakan salah satu novel klasik Jepang yang masih populer hingga saat ini. Pembawaannya sangat amat mendetail seperti layaknya kebanyakan novel Jepang yang terbit di masa yang sama. Pembaca akan dapat merasakan suasana menelusuri kota Kyoto mulai dari penduduknya, festivalnya, ritualnya, kondisi kotanya, keindahan alamnya, serta segala perubahan yang dialami Jepang pasca perang.

Hanya saja kelemahan yang dimiliki oleh novel “Ibukota Lama” ini yaitu, untuk para pembaca pemula atau mereka yang belum pernah sama sekali membaca karya sastra klasik Jepang, tentunya akan merasa sangat bosan dengan jalan ceritanya. Belum lagi, novel ini juga tidak mempunyai klimaks yang ekstrim karena memang fokusnya hanya pada kehidupan sehari-hari yang dijalani oleh Chieko. Maka dari itu, penulis menyarankan kepada para pembaca untuk memahami terlebih dahulu unsur-unsur yang dimiliki oleh sastra klasik Jepang.

Di Kyoto, tampaknya hampir setiap hari ada festival, baik yang besar maupun yang kecil. Dengan melihat kalender festival, orang bisa melihat betapa selalu ada sesuatu yang terjadi di bulan Mei. — Kawabata Yasunari

Referensi:

Hanafi, Nurul. 2021. Ibukota Lama. Yogyakarta: Kakatua Pustaka Klasik.

Nanda, Salsabila. 2025. 18 Contoh Resensi Buku, Novel, Film, Cerpen & Strukturnya. https://www.brainacademy.id/blog/contoh-resensi. Diakses pada 12 Agustus 2025 pukul 21.27


메타데이터
post_id
fdddde00feca
slug
resensi-novel-ibukota-lama-karya-kawabata-yasunari-fdddde00feca
url
https://medium.com/@alfina.mutiara18/resensi-novel-ibukota-lama-karya-kawabata-yasunari-fdddde00feca
canonical_url
https://medium.com/@alfina.mutiara18/resensi-novel-ibukota-lama-karya-kawabata-yasunari-fdddde00feca
author_url
https://medium.com/@alfina.mutiara18
status
ok
fetched_at
2026-07-18 06:59:57