← Back to list

Senin yang Panjang

#40: Perjalanan panjang dari Senin yang melelahkan namun menyenangkan

Adinis · 2025-11-10 18:31 · 37 claps · 6.4 min read
#senin #diary #friends #perempuan
Open on Medium ↗

Senin yang Panjang

#40: Perjalanan panjang dari Senin yang melelahkan namun menyenangkan

Dokumentasi Pribadi

Dokumentasi Pribadi

Hari ini, aku bangun seperti biasanya, namun dengan tujuan yang berbeda. Aku dan dua orang temanku merencanakan untuk bertemu di sebuah tempat, yaitu Perpustakaan Lontara yang terletak di dalam Bank Indonesia, cabang Sulawesi Selatan. Kami sudah merencanakan ini sejak dua malam sebelumnya. Dan akhirnya, hari ini pun tiba.

Aku menjauhkan diriku dari pembaringan, menarik napas dalam, lalu bangkit meminum segelas air putih, yang saat ini tengah rutin kulakukan setiap kali bangun pagi. Selepas meneguk air, aku beralih kepada ponselku, mengecek notifikasi yang kulewatkan saat tidur. Setelah itu, aku mengirim sebuah pesan dalam group chat yang di dalamnya ada aku dan kedua temanku, memastikan bahwa hari ini bukan hanya sekadar wacana.

Setelah mendapat balasan, aku bergegas untuk menyegarkan tubuhku dari buaian mimpi, mengenakan blus putih, serta jilbab dan rok berwarna ungu yang nampak lembut di mata. Aku memoles tipis wajahku dengan sedikit bedak, lalu mengoles setitik lipstick favoritku yang kini rutin kugunakan saat hendak bepergian. Kurasa, hari ini akan menyenangkan.

Berangkat dari Rumah

Semua yang perlu kubawa sudah kumasukkan ke dalam tas. Buku bacaan yang dipinjamkan temanku kepadaku, buku tulis, dan juga pulpen. Aku membuka kembali lokasi google maps yang disematkan dalam grup untuk memudahkanku menuju ke lokasi tujuan. Aku memastikan beberapa jalanan yang kuyakini sudah kuketahui arahnya. Setelah yakin, aku memasang helmku, lalu menyalakan mesin motor, kemudian menarik gas sedikit demi sedikit.

Aku menikmati semua suguhan di sepanjang perjalanan. Kicauan burung serta sawah yang membentang, hingga polusi kendaraan yang mulai membumbung saat aku memasuki wilayah perkotaan.

Kendaraan semakin padat. Aku baru teringat, kemarin adalah akhir pekan. Pantas saja kendaraan berlalu lalang dengan kemacetan yang sesekali turut menghias jalanan. Aku hanya berdoa, semoga saja perjalananku selamat sampai tujuan. Dan hujan, kumohon, jangan turun dulu hari ini. Kemarin langitmu seolah mengguyur bumi tanpa ampun hingga larut malam.

Sesampainya di persimpangan jalan, aku kembali mengecek notifikasi ponselku yang sempat berbunyi. Ada nama temanku di sana yang mengirimkanku lima pesan baru, memintaku untuk tidak terlalu buru-buru menuju lokasi. Aku segera membalas pesannya, menanyakan keberadaannya. Tanpa basi-basi, ia mengirim emoticon menangis kepadaku, meminta maaf karena kemungkinan besar akan terlambat.

Menunggu Teman

Mendapat balasannya, aku memutuskan untuk menepi di sebuah Alfamidi sembari menunggu kedatangannya agar bisa berangkat bersama ke perpustakaan. Aku membeli sebotol kecil air minum, sekotak susu full cream, dan sebungkus Sosis Kanzler untuk mengganjal perutku yang belum disuguhi sarapan.

Saat hendak meminum air, notifikasi dari temanku yang satunya muncul di layar ponselku. Katanya, ia sedang tidak enak badan, sehingga tidak bisa membersamai kami di perpustakaan. Ia hanya bisa menyusul kami saat kami tiba di tempat makan ayam geprek di depan kampus kami untuk bertemu sekaligus makan malam. Kami pun menyetujuinya.

Sayup-sayup suara radio dari masjid dengan lantunan surah-surah Al-Quran mulai terdengar, pertanda waktu shalat dzuhur sebentar lagi akan tiba. Aku menatap arlojiku, terhitung sudah sejam lamanya aku menunggu kedatangannya. Aku mulai bosan dan menarik napas panjang, mengapa waktunya terulur sejauh ini?

Setelah mengulur waktu yang cukup lama, kuputuskan untuk mengirim pesan singkat kepadanya, tanda bahwa aku sudah cukup lama menunggunya. Sesekali, aku menekan tombol panggilan, berharap mendapat jawaban darinya. Alih-alih mendapatkan jawaban, enam panggilan dan beberapa pesan yang kukirimkan sama sekali tidak dibalas.

Tepat lima menit setelah aku mengirimkan pesan terakhir untuknya, aku dapat melihat dirinya secara kasat mata dengan pakaian yang hampir senada denganku. Baju berwarna putih, serta rok dan jilbab berwarna coklat. Ia menghampiriku dengan wajah seperti merasa bersalah karena telah membiarkanku menunggu sangat lama.

Menuju Bank Indonesia dan Jam Istirahat

Setelah mendengar alasannya yang dapat membuatku menerima keterlambatannya, kami pun sepakat menuju Perpustakaan Lontara yang waktu tempuhnya sekitar tujuh menit lagi dari lokasi kami berada.

Ia sebagai penunjuk jalan, dan aku mengikutinya dari belakang. Setelah menempuh tujuh menit perjalanan, aku dapat melihat bangunan besar bertuliskan Bank Indonesia di depannya. Kami pun masuk melalui gerbang utama, dan segera memarkirkan kendaraan. Sebelum ke area parkiran, dua orang penjaga keamanan menyapa dan menanyakan tujuan kedatangan kami.

Entah nasib apa yang menghampiri, kami tiba tepat saat jam istirahat baru saja dimulai. Kami harus menunggu sekitar dua jam lagi untuk masuk ke dalam perpustakaan. Kedua orang penjaga keamanan tersebut menyarankan kami untuk menunggu di sekitar bank saja, mengingat cuaca yang sering kali berubah akhir-akhir ini.

Setelah memastikan kendaraan terparkir dengan aman, kami pun berjalan mencari tempat yang pas untuk menunggu, sesekali melihat ke kiri dan kanan apa saja fasilitas yang ada di gedung ini. Setelah mencari tempat duduk, akhirnya kami menemukan tempat yang pas juga. Aku segera mendudukkan bokongku, serta menaruh tas yang sejak tadi kukenakan. Begitu pula dengan temanku.

Bercengkerama dengan Penjaga Keamanan

Beberapa menit berselang saat kami duduk di tempat itu, seorang penjaga keamanan menghampiri kami. Beliau memberikan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang dilontarkan kepada kami saat hendak memasuki gerbang utama.

Setelah menanyakan asal daerah dan almamater kami, akhirnya kami larut dalam interaksi yang tercipta. Beliau sangat ramah, ditambah lagi dengan cerita-cerita beliau dan berbagai pengalaman hidup yang sempat dijalaninya, turut beliau ceritakan.

Bukan hanya beliau. Beberapa orang teman beliau juga turut berbaur dengan kami. Bahkan salah seorang di antara mereka yang ternyata adalah tetanggaku sendiri, namun tidak kuketahui keberadaannya. Lucu saja, bahkan temanku sempat berceletuk “dunia ternyata sesempit itu.”

Menyenangkan juga dapat berdiskusi dengan mereka, hitung-hitung menemani waktu kami sampai jadwal kunjungan perpustakaan kembali dibuka. Topik ringan hingga topik lintas agama yang menurutku cenderung berat juga tidak luput dari diskusi kami. Tapi, tidak masalah. Toh, kami juga memperoleh ilmu gratis dari mereka.

Bukankah memperoleh ilmu tidak harus dari orang yang bergelar? Setiap orang dan tempat dapat dijadikan guru untuk berburu pengalaman baru, bukan?

Tidak terasa, waktu berjalan beriringan dengan diskusi kami. Kami sampai tidak ingat waktu bahwa jam istirahat sudah selesai. Jika bukan karena diingatkan oleh bapak penjaga keamanan ini, mungkin kami akan semakin larut dalam diskusi. Kami pun berpamitan kepada mereka untuk masuk ke dalam perpustakaan.

Perpustakaan Lontara dan Buku The Alpha Girl’s Guide

Sudah lama aku mendamba menginjakkan kaki di ruangan ini. Namun, apa daya? Setiap orang yang kuajak selalu tidak punya waktu untuk ke sana. Lagi-lagi, tidak masalah. Karena pada episode ini, seorang temanku sudi untuk berhibernasi bersamaku di tempat ini.

Aku mengeluarkan buku yang kubawa dari rumah, berjudul The Alpha Girl’s Guide, oleh penulis bernama Henry Manampiring. Aku berniat melanjutkan bacaanku setidaknya setengah dari jumlah halaman buku ini. Sementara temanku, ia tengah sibuk mencari buku yang cocok dengan perjalanan studinya.

Halaman demi halaman berganti. Aku berhasil membaca setengah dari jumlah halaman buku yang kubawa. Benang merah dari buku ini mulai nampak jelas dalam kepalaku.

Pada intinya, perempuan sejatinya tidak boleh menggantungkan kebahagiaan pada orang lain. Perempuan yang cerdas adalah ia yang mampu mengendalikan dirinya, tidak mudah jatuh dalam keterpurukan, dan pandai mengelola emosi yang ia rasakan.

Perempuan tidak hanya diciptakan untuk menimba air di sumur atau hanya untuk memeriahkan dapur dengan pisau dan panci, apalagi menjadi pelayan nafsu pasangan semata. Perempuan lebih dari itu. Ia juga berhak menempuh pendidikan tinggi, agar lahir generasi cemerlang dari rahim yang dititipkan dalam tubuhnya.

Itulah beberapa kesimpulan yang bisa kutarik sejauh ini. Buku yang sangat sesuai untuk diriku yang masih mudah terombang-ambing oleh gelombang kehidupan.

Energi yang Terkuras

Setelah menghabiskan waktu sekitar dua jam di dalam perpustakaan, kami mulai merasa lapar. Kami memutuskan untuk menutup episode kunjungan perpustakaan kami hari ini dan bergegas merapikan kembali buku-buku yang sudah dibaca, serta mengambil barang-barang kami di dalam loker.

Kami mampir di sebuah warung makan untuk mengisi perut kami yang mulai berdemo ingin dimerdekakan. Kami makan ditemani rintik hujan yang perlahan berubah semakin deras. Alhasil, kami berdiam diri sejam lamanya di tempat itu guna menunggu hujan reda sekaligus menunggu rujak pesanan temanku yang katanya sudah ia pesan dari temannya yang lain.

Hujan mereda, kami pun bergegas menuju lokasi selanjutnya sebelum hujan benar-benar mengguyur kami. Rujak pesanan temanku juga sudah selesai, dan kini rujak itu sudah berada di tangannya. Tidak lupa juga segelas kopi kekinian anak muda yang temannya berikan kepadaku sebagai tanda perkenalan.

Hari Senin adalah awal pekan yang sering kali membuat jalanan di perkotaan menjadi padat, baik pagi maupun sore hari. Seperti hari ini, kedua kakiku tidak pernah benar-benar bertengger di atas motorku. Keduanya mengayun sembari mengantisipasi kendaraan yang tiba-tiba berhenti di depanku. Kakiku baru benar-benar nyaman di atas motor saat titik kemacetan perlahan kutinggalkan menjauh.

Reuni Singkat

Tersisa satu agenda pada hari ini, yaitu makan malam bersama kedua temanku. Setelah berhasil melalui kemacetan panjang, akhirnya kami tiba di tempat makan ayam geprek andalan sebagian kalangan mahasiswa, Golqy Chicken. Aku kembali membuka grup dan menekan tombol panggilan karena sudah cukup lelah jika harus bertele-tele mengirim pesan kepada temanku yang berjanji akan menyusul kami di tempat ini.

Setelah menghubunginya, kami pun memesan makanan masing-masing. Saat makanan kami siap, teman kami yang menyusul juga sudah tiba. Sebelum duduk bersama kami, ia juga langsung menuju waiters untuk memesan makanan.

Seperti biasa, teman kami yang satu ini memang sangat khas dengan dirinya yang paling terakhir selesai saat makan bersama. Bagaimana tidak? Hampir setiap suapan yang masuk ke dalam mulutnya sama dengan menceritakan sebuah kisah yang menarik untuk didengar. Kami juga menceritakan hal-hal yang kami peroleh selama berada di perpustakaan tadi.

Pertemuan kami berlangsung selama kurang dari satu jam. Setelah itu, kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Setiap langkahku yang keluar meninggalkan tempat ini, ada segelintir harapan yang terngiang dalam doaku. Semoga setelah hari ini, masih ada hari selanjutnya untuk kami kembali bersua.

Refleksi

Sama seperti perkiraanku di awal, hari ini menyenangkan, walaupun ada beberapa bagian yang sedikit menggugah ledakan di kepala.

Namun demikian, kurasa tidak perlu berlarut-larut menyesali apa yang terjadi hari ini. Karena faktanya, hari ini ada banyak pelajaran baru yang kudapatkan.

Dari bapak-bapak penjaga keamanan, dari buku yang kubaca, dari segelas kopi tanda perkenalan, serta reuni singkat di penghujung hari ini.

Suaradinis (10/11/2025)


메타데이터
post_id
fded909d8fa9
slug
senin-yang-panjang-fded909d8fa9
url
https://medium.com/@suaradinis/senin-yang-panjang-fded909d8fa9
canonical_url
https://medium.com/@suaradinis/senin-yang-panjang-fded909d8fa9
author_url
https://medium.com/@suaradinis
status
ok
fetched_at
2026-07-15 12:57:07