Tulisan : Matinya Tuhan
Tuhan telah mati dan kita yang membunuhnya
Tulisan : Matinya Tuhan

Tulisanku kali ini terinspirasi dari pemikiran Friedrich Nietzsche. Seorang philosopher dari Jerman yang dikenal kontroversial karena karyanya yang menyentil Tuhan. Bahkan dia dikenal melalui ekspresinya yang menyatakan bahwa “Tuhan telah mati, dan kita telah membunuhnya”. Sebenarnya, pada masa kecilnya Nietzsche diasuh oleh orang tua yang sangat religius. Ayahnya seorang agamawan taat dan menginginkan Nietzsche kecil tumbuh besar menjadi seorang pendakwah. Oleh sebab dia selalu dipaksakan untuk menjadi pemuka agama, Nietzsche yang awalnya anak penurut perlahan memberontak dan mulai berani mengembangkan pemikirannya sendiri.
Aku merasa beberapa pemikiranya mewakili isi kepalaku dan juga menginspirasiku dalam konteks terbatas.
Standar Moralitas di Masyarakat
Moralitas merupakan penopang hidup dalam bermasyarakat. Tanpa moralitas bisa jadi sebuah peradaban akan jatuh dalam ketidakteraturan. tapi pernah gak kita berpikir, dari manakah standar moralitas tersebut tercipta? Mungkin sebagian akan menjawab dari tiga filsuf besar Yunani; Sokrates, Plato, dan Aristoteles yang telah berhasil membentuk peradaban Barat, sebagian akan menjawabnya ke tempo selanjutnya di Era Pencerahan (Enlighment Era) dimana ada Jean-Jacques Rousseau, John Locke, dan Thomas Hobbes. Bahkan kalau bertanya kepada seorang yang religius, pasti jawaban moralitas datangnya dari para Nabi melalui berbagai wahyu yang didapatkannya, walaupun para manusia terpilih tersebut mengatakan bahwa hukum baik dan buruk datangnya bukan dari mereka melainkan dari Sang Keabadaian (Yang Maha Absolut).
Jika dicari benang merahnya, maka standar moralitas yang terbentuk di masyarakat diciptakan oleh orang-orang besar. Apakah baik dan buruk yang menciptakan adalah manusia itu sendiri? Rasa-rasanya memang merekalah yang menyampaikannya, merekalah yang menggagasnya, dan dari merekalah moralitas tersebut lahir.
Standar moralitas dari mereka telah menjadi absolut di mata masyarakat dan justru melemahkan pikiran-pikiran umat manusia, maka ini adalah sebuah blunder. Manusia menjadi tidak bebas untuk mengembangkan pemikiran dan gagasanya karena ada hukum moralitas status quo yang membelenggu. Hal ini mengingatkanku pada Charles Darwin dalam teori Survival of the Fittes nya dalam buku The Origin of Species. Bahwa mereka yang terkuat adalah mereka yang menguasai. Dalam hal ini menguasai tataran moralitas.
Sebuah Konsekuensi
Standar moralitas yang sering menjadi acuan di sekelilingku adalah agama. Dalam beberapa hal, datangnya agama malah membuat peradaban menjadi berputar balik. Masyarakat sudah terlalu lama dijajah oleh keabsolutan agama sehingga tidak berani mempertanyakan kebenarannya. Agama terlalu bersifat dogmatis. Sejauh yang mayoritas percaya, kebenaran datangnya dari Tuhan, padahal masyarkat hanya sebatas mendengarnya dari sesama manusia yang membawa ‘wahyu’ tersebut.
Manusia tidak perlu takut ketika mempu membangun standar moralitasnya sendiri dan bertentangan dengan nilai-nilai yang sudah mapan. Jika moralitas yang dibangun oleh individu diyakini sebagai sebuah kebenaran bagi dirinya, maka dengan lantang dan berani katakan bahwa jalan tersebut benar. Stigma yang memaksa individu untuk berdiam diri ketika benar justru tindakan yang terklasifikasi tidak bermoral dan tidak alami karena tidak selaras dengan kebutuhan manusia untuk bereskpresi.
Konsekuensi atas keabsolutan sebuah moral membuat dunia ini defisit. Para inovator orang yang berani menemukan gagasan baru justru hilang ditelan bumi karena terjepit kanan kiri dan diapit atas bawah karena tidak bisa merumuskan nilainya. Inilah potret dunia di sekelilingku. Konsekuensinya : dunia mengalami defisit orang inovatif.
Moralitas Hanyalah Sebuah Perspektif
Sadarkah bahwa standar moralitas yang ada di dunia hanyalah sebuah persepektif tergantung dari siapa standar tersebut diciptakan. Coba kita amati perbedaan moralitas yang ada di belahan dunia barat dengan timur, sudah pasti standar yang diterapkan pada masing-masing daerah tersebut berbeda. Bagaimana etika orang Jawa ketika berbicara dengan orang tua? menunduk dan tidak menatap mata secara langsung (bukti penghormatan). Berbeda dengan orang Barat ketika mengharuskan untuk berfokus menatap mata lawan bicaranya yang menandakan akan pengertian dan ketulusan.
Karena moralitas hanyalah sebuah perspektif, maka benar atau salah itu urusan sesama manusia, baik dan buruk juga urusan manusia, termasuk jika sumbernya berasal dari kitab suci, langit, pemuka agama, dan lain sebagainya. Perspektif manusia bergantung dari pengalamannya, sudut pandangnya, dan situasi sekitarnya.
Kemudian, perspektif bersifat terbatas dan tidak lengkap, dibatasi oleh pengalaman hidup, kedalaman analisa, serta tidak utuh karena pada dasarnya manusia sendiri tidak ada yang sempurna. Hasil yang sama dapat menghasilkan penafsiran yang berbeda, itulah perspektif.
Manusia tidak perlu sepenuhnya percaya pada moralitas yang datangnya dari transenden, yang berarti datangnya dari hal-hal diluar nalarnya, melampaui kekuatan alam semesta, karena sebenarnya itu hanyalah rekayasa sesama manusia. Jika moralitas tersebut datangnya dari ilmuwan maka asalnya dari laboratorium, jika datangnya dari agamawan maka dasarnya adalah kitab suci, semua penafsiran sesuai batasan mereka. Akan Ada satu titik dimana moralitas yang ada di masyarakat sudah ‘benar’ dan bersifat universal, tetapi coba kejar dan ungkap latar belakang pencipta moralitas tersebut. Aku ambil contoh Plato, coba usut apa sudut pandang Plato, apa kekecewaannya, apa ketakutannya, apa harapannya? ini yang Nietzsche sebut sebagai Genealogi, nafsu, ketakutan dan harapan yang terungkap pada sebuah pandangan moralitas. Kenapa Plato mengusung idealisme? karena dia pernah bertarung dengan corak idealisme lainnya. Kenapa dia begitu mengagungkan gurunya (Sokrates)? karena gurunya dihukum mati dan berharap ajaran kebenaran gurunya bisa lestari. Semakin berani manusia menggali, semakin dekat mansusia dengan kebenaran dirinya.
Menyadarkan Gerombolan
Jika semua standar moralitas datangnya bukan dari transenden melainkan dari manusia, maka kenapa manusia hanya mengikutinya tanpa berani mempertanyakan kebenarannya? seperti domba yang digembala menuju rumah pemotongan tanpa berani melawan. Diatas aku menulis bahwa manusia itu kuat, dan mereka yang terkuatlah yang akan menang. Manusia bukanlah domba yang mudah digembala karena manusia bebas melawan dan merumuskan gagasan moralitasnya sendiri.
Manusia harus sadar dan berani memilih moralitas kebenarannya sendiri. Pada titik itulah manusia akan menemukan refleksi diri : Siapakah aku? Apa yang aku butuhkan? Apa yang aku cita-citakan? Sistem moralitas seperti apa yang perlu aku kembangkan untuk mencapai cita-citaku?. Jadilah sosok manusia yang mandiri dan berdikari seutuhnya. Manusia harus memilih yang terbaik untuk dirinya agar menjadi manusia besar dan biarkanlah prosesnya alami. Manusia bercita-cita dan tidak membiarkan nasibnya berada di tangan manusia lain melainkan dirinya sendiri.
Manusia Bukan Budak
Sangat wajar jika muncul pertanyaan “kenapa manusia perlu memilih jalannya sendiri dan bukannya sudah ada pakemnya dari dulu (agama, sosial, dsb)?”. Namun bagi sebagian orang, dirinya bukanlah bagian dari manusia yang bisa diperbudak oleh moralitas orang lain, diperbudak oleh perspektif orang lain. Salah satunya termasuk agama yang telah menggantikan moralitas Tuan menjadi moralitas Budak karena membatasi dan membelenggu individu dalam mengembangkan standar moralitas dirinya. Moralitas budak bersifat was-was, ketakutan manusia akan hukuman ketika melakukan sesuatu yang melenceng dari kebenaran agama. Bak cambuk dari Tuan yang memecut Budak ketika tidak melayani dengan baik. Begitulah nasib budak yang tidak pernah memikirkan dirinya sendiri melainkan majikannya. Bagaimana bisa manusia selalu mengorbankan kepentingan dirinya demi kepuasan orang lain? Altruisme yang membuat manusia tidak tumbuh mencapai potensi maksimalnya. Jika manusia setiap hari mengikuti perspektif orang lain maka tidak ubahnya manusia hanyalah budak.
Hanya orang tidak waras yang mau dirinya diinjak, oleh sebab itu jadilah manusia dengan moralitas Tuan. Agama membuat manusia memiliki mentalitas budak, membonsai pikiran. Agama hanya melahirkan orang biasa yang tidak berani berpikir diluar pakemnya karena restriksi-restriksi dari dalam, dengan kata lain agama hanya melahirkan segerombolan jamaah (pengikut/subordinates).
Sekali lagi, manusia memiliki kekuatan untuk mengembangkan kebenarannya sendiri. Seandainya manusia terjatuh dalam sebuah lubang karena pemikirannya, itu atas dasar pilihannya sendiri, bukan atas perintah orang lain. Manusia memilih jalan pikirannya dan tidak menjadikan perspektif orang lain sebagai landasan utama.
Konstruksi Sosial
Agama merupakan konstruksi sosial yang sudah mendarah daging di masyarakat. Wahyu yang diturunkan (mungkin) bisa saja datangnya dari Tuhan, tetapi ketika sudah berada di tangan manusia, dibukukan menjadi kitab suci, dan dipraktekan kedalam sebuah institusi maka agama sudah menjadi konstruksi sosial. Ironisnya adalah ketika konstruksi sosial yang diciptakan manusia dianggap sebagai konstruksi Tuhan. Jika mengambil contoh dari agama Islam, maka Fiqih masyarakat Indonesia mengikuti Imam Syafi’i, Teologinya mengikuti filsuf Imam Asy’ari, dan Tasawufnya mengikuti Imam Ghazali, hingga gerakan Takbiratul Ihram yang memiliki beberapa variasi berbeda yang ada di masyarakat, itu adalah bentuk dari konstruksi manusia.
Hal yang bersifat transenden bisa jadi tidak ada, tetapi jikapun itu ada maka tafsirnya sudah dikontruksi oleh manusia. Contoh suatu ayat yang ada di kitab suci, para pemuka agama pun manfsirkannya bisa berbeda-beda, maka agama merupakan konstruksi sosial. Bahaya dari doktrin agama ketika will to power manusia dimatikan atas nama agama itu sendiri, sehingga proses manusia untuk menjadi mandiri dan besar akan tamat. Dalam beberapa kasus, agama mengajarkan jamaahnya untuk menerima takdir dan tidak mau bangun dari keterpurukan dengan alih-alih hadiah besar sudah menanti di kehidupan setelah mati.
Membunuh Tuhan
Secara empiris memang dunia sudah dipenuhi oleh orang-orang yang lebih nyaman dengan moralitas budaknya. Tetapi, jika ada solusi yang bisa dilakukan adalah dengan membunuh Tuhan. Sadarkah kita bahwa logika kita sudah terbalik? Pada dasarnya bukan Tuhan yang menciptakan manusia, melainkan manusia yang menciptakan Tuhan melalui perspektif orang lain yang secara absolut kita terima tanpa berani mempertanyakannya. Tuhan dengan berbagai jenis variannya adalah sebuah penjabaran dari manusia itu sendiri. Tuhan memang seharusnya mati jika manusia ingin merubah kondisi ini sehingga manusia bisa mengikuti will to power nya.
Pertanyaan atas pernyataan ini pun akan muncul, ‘bagaimana cara membunuh Tuhan?’, Tuhan akan mati sendiri ketika manusia mulai tersadar, dan bangun, serta semakin berkembangnya ilmu pengetahuan. Semua yang bersifat supernatural sudah terjawab dan manusia tidak lagi membutuhkan Tuhan. Tuhan perlahan akan mati sendiri karena tidak dibutuhkan. Segerombolan umat mempercayai perjalanan nabinya menuju langit tertinggi, mayoritas akan berfikir langit yang bisa dilihat adalah langit tingkat pertama, dan diatas langit tingkat pertama akan ada langit tingkat kedua dan seterusnya. Padahal itu hanyalah langit sejauh mata kita bisa memandang, sedangkan galaksi sendiri hanyalah sekumpulan gas, debu, dan bintang-bintang. Dahulu seorang nabi bisa menyembuhkan penyakit kusta, tetapi sekarang ilmu medis sudah ditemukan dan para dokter-pun bisa menyembuhkannya. Maka, manusia tidak perlu membuang tenaga untuk membunuh Tuhan karena Tuhan akan mati dengan sendirinya. Semakin ilmu pengetahuan berkembang maka akan semakin tersisih peran Tuhan dari kehidupan.
Dengan matinya Tuhan manusia bebas dari belenggu karena hilangnya rasa takut untuk bereksplorasi dan berinovasi. Semua dapat dilakukan sesuai standar moral yang ditentukan manusianya sendiri. Seperti contoh dimana umat Islam tidak lagi takut untuk melakukan sebuah tindakan karena dinilai bid’ah. Ciptakanlah sistem nilai sendiri dan keluarkan energi kreatif sehingga manusia bisa berkembang, dan tidak ada lagi manusia pengecut yang melarikan diri dari dirinya sendiri dengan berlindung dan mengatasnamakan Tuhan. Jika ada anggapan bahwa manusia yang berpakaian tidak sesuai itu buruk, kemudian dihina dan dicaci dirinya atas nama Tuhan, penghina tersebut yang patut disebut sebagai manusia pengecut. Jika ada rasa keberatan karena manusia berpakaian tidak sesuai, katakan keberatannya datangnya dari dirinya sendiri.
Hidup Itu Nihil
Setelah Tuhan mati, lalu apa…? Kemerdekaan mutlak atas kehidupan manusia.
Pada hakekatnya hidup itu nihil. Baik dan jelek, indah dan buruk, salah dan benar adalah ciptaan manusia sendiri dan biarkan manusia lain juga menciptakannya. Manusia harus menikmati keindahan akal dalam nihilisme dimana semua sistem kebenaran dan kemutlakan direlatifkan karena pilihan disesuaikan dengan kebutuhan manusianya. Itulah nihilisme karena hidup selalu berputar dalam siklus yang sama. Senang kemudian sedih kemudian senang kembali dan sedih kembali tanpa tau kapan siklus tersebut berakhir. Begitulah kehidupan, maka dari itu jangan ada yang dimutlakkan karena terkadang hari ini yang dianggap benar besok bisa menjadi salah.
Bunuhlah Tuhan, Bunuhlah semua sumber moralitas yang membelenggu dan manusia akan sampai pada situasi nihil dimana semua hal bersifat relatif, dan salah serta benar akan tergantung dari konteksnya. Daripada manusia disetir oleh persepsi orang lain, lebih baik manusia menentukan kebenarannya sendiri.
Berdikarilah.. Berdiri Di Atas Kakimu Sendiri!
Hanya manusia-manusia super yang bisa bertahan disaat moralitas dinihilkan. Mayoritas manusia akan mengalami sebuah krisis karena tidak ada standar moral yang berani mereka ciptakan, mereka yang lemah adalah mereka yang tidak memiliki kemandirian untuk menciptakan sebuah nilai kehidupannya sendiri. Orang yang besar adalah orang yang memiliki kehendak untuk berkuasa, setiap orang pada dasarnya pasti ingin menang, dan menguasai sesuatu, awali dengan menguasai diri sendiri. Manusia harus berani untuk mengutarakan pendapat mengenai kebenaran, sejatinya jika ada sesama manusia yang mengkritik, maka sesungguhnya manusia tersebut juga memiliki keinginan untuk menang dan berkuasa, maka bertandinglah. Jangan membuang dorongan untuk tidak bertanding karena itu tidak natural, ketika sesuatu menjadi tidak natural maka orang idiot lah yang akan mengatur, niscaya akan semakin rusak peradaban manusia. Manusia kuat perlu mengikuti kehendak dirinya untuk berkuasa.
Sebuah Kesimpulan
Tujuan manusia lahir di bumi bukan menjadi manusia biasa, tetapi manusia super yang berani mengekspresikan dirinya. Jangan menjadi manusia yang akeh tunggale, namun jadilah pribadi yang spesial dan berbeda diantara gerombolan. Bukankah para orang besar pencipta kebenaran adalah ubermensch (manusia super) yang berani mengutarakan kebenaran atas genealoginya. Manusia super bukan berarti bersifat imoral, tetapi bisa menciptakan nilai moralnya sendiri tanpa mengikuti kerumunan manusia lain. Mereka juga yang bisa bertahan dalam cobaan apapun tanpa lari dari dunianya karena mereka bisa menguasai dirinya sendiri.
Manusia super tidak memiliki ciri-ciri karena mereka bersifat khas, dan jika ada cirinya maka tak ada bedanya dengan standar moralitas yang diciptakan oleh manusia lain.
“Kamu memiliki jalanmu, aku memiliki jalanku, karena jalan yang benar dan jalan yang satu-satunya itu tidak ada”
메타데이터
- post_id
- fdfaf68b9f24
- slug
- matinya-tuhan-fdfaf68b9f24
- url
- https://medium.com/@fariznugro/matinya-tuhan-fdfaf68b9f24
- canonical_url
- https://medium.com/@fariznugro/matinya-tuhan-fdfaf68b9f24
- author_url
- https://medium.com/@fariznugro
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 08:43:10