← Back to list

LANTAI TIGA KALI EMPAT

Malam perlahan menyelimuti kawasan Dago. Setelah hiruk-pikuk mahasiswa yang memenuhi jalanan sejak sore mulai berkurang, suasana di sekitar…

Not Here · 2026-06-23 15:54 · 0 claps · 9.6 min read
#bandung #local #campus
Open on Medium ↗
Wiki topics: CUL · Culture & Media 😂 · Humor & Satire

LANTAI TIGA KALI EMPAT

Institut Teknologi Bandung

Institut Teknologi Bandung

Malam perlahan menyelimuti kawasan Dago. Setelah hiruk-pikuk mahasiswa yang memenuhi jalanan sejak sore mulai berkurang, suasana di sekitar rumah kos Raka berubah jauh lebih tenang. Sesekali hanya terdengar suara sepeda motor yang melintas di jalan depan gang atau percakapan pelan penghuni kos lain yang baru kembali dari kampus.

Sekitar empat puluh menit sebelumnya, Raka dan Damar sempat mampir ke warung makan langganan mereka setelah pulang kuliah. Kebiasaan itu mulai terbentuk tanpa mereka sadari. Alih-alih langsung kembali ke kos, mereka lebih sering mengisi perut terlebih dahulu sebelum berpisah menuju kamar masing-masing. Malam itu pun tidak berbeda. Setelah makan, keduanya kembali ke kos, membersihkan diri, lalu berjanji bertemu lagi di kamar Raka untuk melanjutkan pembahasan proyek Pengantar Rekayasa dan Desain.

Di kamar kos, Raka menggelar tikar tipis di tengah kamarnya, lalu meletakkan laptop, modul PRD, buku catatan, dan beberapa alat tulis di atasnya. Meja belajar kecil yang berada di dekat jendela sengaja ia biarkan kosong. Dengan ukuran kamar yang tidak terlalu besar, duduk melingkar di lantai terasa jauh lebih nyaman dibanding memaksakan diri menggunakan satu meja belajar.

Saat semuanya hampir siap, pintu kamar terbuka pelan.

Suara Damar terdengar bersamaan dengan tubuhnya yang sudah lebih dulu melangkah ke dalam, “Gue izin masuk ya, Rak.”

Raka mengangkat kepala sambil menggelengkan kepalanya, “Kalau udah masuk duluan terus baru ngomong mau masuk, itu namanya bukan izin.” Ucap Raka santai.

Damar hanya terkekeh kecil kemudian berucap “Ya formalitas doang itu, inikan kamar gue juga sebenarnya.” Setelahnya, Damar meletakkan ranselnya di dekat dinding, mengeluarkan laptop beserta chargernya, lalu langsung duduk selonjoran di atas tikar.

“Hari ini lumayan nguras tenaga juga ya,” gumam Damar sambil meregangkan bahu yang terasa pegal.

Raka menutup layar laptopnya sejenak dan mengangguk pelan kemudian berucap “Iya. Baru beberapa minggu kuliah aja rasanya udah mulai kebiasa sama beginian.”

Damar menghembuskan nafasnya berat, “Besok pasti ada lagi.” Ucapnya lalu memejamkan matanya. Damar kemudian melanjutkan, “Gue dulu mikir kuliah tuh paling masuk kelas, pulang, selesai doang.”

Raka melihat ke arah Damar sambil menyandarkan punggungnya di dinding kos, ia pun berucap “Sekarang masih sama perkiraan lo itu?”

Damar tertawa kecil kemudian berucap “Sekarang ya pulang kampus lanjut kuliah lagi di kos lah.”

Ucapan itu membuat Raka ikut tertawa. Meski terdengar seperti keluhan, keduanya tahu bahwa rutinitas seperti itu perlahan mulai menjadi bagian dari kehidupan mereka sebagai mahasiswa.

Beberapa menit kemudian terdengar ketukan singkat di pintu. Raka pun berdiri membukakan pintu kemudian terlihat Alvaro yang sudah berdiri sambil membawa ransel hitam yang sama seperti sore tadi.

“Malam.” Ucap Alvaro pada saat sudah melangkah masuk ke dalam kamar kos Raka.

“Malam Al.” Jawab Damar kemudian mempersilahkan Alvaro untuk duduk di tikar yang telah di siapkan oleh Raka.

Tanpa banyak berbicara, ia langsung duduk bersila di atas tikar dan mengeluarkan laptop beserta buku catatannya.

Ruangan itu kembali hening seperti di perpustakaan sore tadi.

Bedanya, tidak ada lagi yang merasa canggung dengan keheningan itu. Justru suasana seperti itulah yang mulai terbentuk setiap kali mereka berkumpul. Masing-masing membuka laptopnya sendiri, sesekali membaca kembali modul PRD yang telah dipenuhi garis bawah dan catatan kecil hasil diskusi di perpustakaan beberapa hari sebelumnya.

Raka memulai pembicaraan lebih dulu. “Kalau ngikutin pembahasan tadi sore, kita udah sepakat kalau tahap pertama proyek ini cuma identifikasi masalah.”

Raka pun menatap kedua temannya bergantian sebelum melanjutkan. “Berarti malam ini target kita sederhana. Kita harus pulang dengan satu masalah yang jelas buat diobservasi.”

Alvaro pun mengangguk kecil tanda setuju. “Dan masalahnya jangan terlalu luas karena nanti kita yang repot sendir.” Lanjutnya.

Damar mengusap dagunya pelan sambil berfikir, “Mhm berarti yang kayak sampah di kampus tuh langsung gugur ya?” Tanya Damar.

“Gugur, soalnya udah terlalu umum.” jawab Raka.

“Tapi kalau masalahnya terlalu besar, kita bakal susah nentuin data apa yang harus dikumpulin.” Timpal Alvaro.

Mereka bertiga pun kemudian mulai bertukar ide.

Kemacetan di depan gerbang kampus.

Parkiran motor yang sering penuh.

Antrean kantin saat jam makan siang.

Bahkan Damar sempat mengusulkan tentang kursi-kursi belajar yang selalu dipenuhi mahasiswa menjelang ujian. Namun setiap usulan selalu berakhir pada kesimpulan yang sama. Terlalu luas dan sulit diamati atau membutuhkan waktu yang jauh lebih lama daripada durasi proyek yang telah ditentukan.

Diskusi kembali menemui jalan buntu. Damar yang sejak tadi memegang botol air mineral kosong akhirnya melemparnya ke tempat sampah kecil di sudut kamar kos Raka.

Botol itu melayang pelan, namun sayangnya lemparannya sedikit meleset. Botol plastik tersebut membentur bibir tempat sampah lalu memantul kembali ke lantai membuat Damar meringis pelan dan mau tidak mau beranjak dari duduknya menuju botol itu kemudian memungut kembali sampah itu dan memasukkannya ke dalam tempat sampah.

Raka yang sedari tadi memperhatikan kejadian itu tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya pada laptop. Tatapannya beralih pada botol plastik yang kini telah berada di dalam tempat sampah.

“Dam.” Panggil Raka. Damar menolehkan kepalanya dan berdehem pelan sebagai jawaban atas panggilan Raka.

“Kita hampir tiap hari beli air mineral ya?” Lanjut Raka bertanya. Damar yang mendengar itu menganggukkan kepalanya tanda membenarkan pertanyaan Raka.

Alvaro yang melihat itu ikut menimpali dengan pertanyaan, “Kenapa?”

Raka pun berpikir beberapa detik sebelum menjawab. “Gue sama Damar selalu beli air di kemasan plastik, padahal di kampus udah ada tempat isi ulang air minum dan sisa bawa tumbler.”

Kalimat itu membuat Damar dan Alvaro terdiam.

Mereka berdua sontak memandang kembali tempat sampah, lebih tepatnya botol yang telah berada di dalam tempat sampah itu, seolah baru menyadari sesuatu yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.

“Iya juga ya.” Jawab Damar.

Alvaro yang sejak tadi lebih banyak mendengarkan perlahan ikut menyampaikan pengamatannya. “Waktu gue nunggu kelas di GKU minggu lalu, tempat sampah depan gedung penuh sama botol plastik. Bahkan itu bisa dibilang belum jam makan siang.”

Raka langsung mengangguk paham kemudian berucap “Gue juga pernah lihat dan bukan cuma di GKU doang. Di beberapa kantin kayak kantin asrama dan CC Barat juga lumayan banyak sampah plastik.”

Keheningan kembali memenuhi kamar, namun kali ini rasanya berbeda. Tidak lagi karena kehabisan ide, melainkan karena ketiganya sedang memikirkan hal yang sama.

Alvaro perlahan menarik laptopnya lebih dekat. “Coba kita lihat dari sisi lain. Mungkin masalahnya bukan botol plastiknya. Tapi kenapa mahasiswa tetap memilih membeli air minum kemasan meskipun fasilitas isi ulang sudah disediain sama kampus?”

Kalimat dari Alvaro langsung membuat Raka mengambil pulpennya. Ia mulai menuliskan sebuah kalimat di buku catatannya dengan perlahan, memastikan setiap kata mewakili apa yang sedang mereka pikirkan.

Identifikasi faktor yang menyebabkan tingginya penggunaan botol plastik sekali pakai oleh mahasiswa di lingkungan Kampus Ganesha meskipun telah tersedia fasilitas air minum isi ulang.

Raka mendorong buku catatan itu ke tengah agar bisa dilihat oleh Damar dan Alvaro.

“Gimana menurut kalian?” Tanya Raka.

Damar membaca kalimat tersebut beberapa kali. Sesekali bibirnya bergerak pelan mengikuti setiap kata yang tertulis sebelum akhirnya ia mengangguk mantap. “Menurut gue ini lebih jelas dan gak terlalu luas.” Ucap Damar mantap.

Alvaro kembali mencocokkannya dengan modul PRD yang terbuka di layar laptopnya. Beberapa saat kemudian ia menutup laptop tersebut perlahan.

“Udah sesuai dan masalahnya spesifik. Bisa diobservasi dan datanya realistis buat kita kumpulin.” Ucap Alvaro.

Mendengar itu, Raka mengembuskan napas lega. Sejak satu jam yang lalu mereka hanya berkutat dengan berbagai kemungkinan tanpa benar-benar menemukan arah. Kini, setidaknya mereka sudah memiliki satu pijakan yang jelas untuk melanjutkan proyek tersebut.

Malam itu mereka tidak berbicara mengenai rancangan alat atau solusi apa pun. Mereka justru mulai menyusun rencana observasi agar data yang nantinya dikumpulkan benar-benar mampu menjelaskan mengapa kebiasaan tersebut masih sering terjadi.

Mereka kemudian mulai menyusun cara paling sederhana untuk memperoleh data.

Alvaro mengambil alih laptop di depannya dan mulai membuat sebuah tabel observasi. Isinya tidak rumit, hanya beberapa kolom yang menurutnya cukup untuk membantu mereka menyusun identifikasi masalah secara sistematis. Ada kolom lokasi, waktu pengamatan, jumlah mahasiswa yang membawa tumbler, jumlah mahasiswa yang membeli air minum kemasan, serta ruang kecil untuk mencatat temuan-temuan lain yang dianggap menarik.

Btw, kita gak perlu bikin survei besar,” ujar Alvaro sambil memutar layar laptopnya agar dapat dilihat bersama. “Yang penting observasinya itu konsisten.”

Raka memperhatikan tabel tersebut dengan saksama. Formatnya sederhana, tetapi cukup mudah dipahami.

“Kalau ketemu mahasiswa yang lagi santai, kita bisa tanya beberapa pertanyaan singkat,” tambah Alvaro. “Bukan kayak wawancara resmi, tujuan kita cuma buat melengkapi tabel observasi ini.”

Damar mengangguk pelan, “Misalnya kenapa mereka beli air mineral?” Tanya Damar.

“Iya,” jawab Alvaro. “Atau kenapa mereka gak bawa tumbler. Terus jangan terlalu lama juga kalian nanya ke mereka. Takut malah ganggu.” Lanjut Alvaro.

Raka yang sedari tadi diam ternyata sedang sibuk mencatat beberapa poin penting di buku kecilnya.

“Berarti data kita nanti gabungan, observasi sama percakapan singkat. Jadi kesimpulannya gak asal nebak alias buat data manipulatif, kan?” Tanya Raka akhirnya setelah selesai mencatat.

“Tepat,” balas Alvaro singkat.

Mereka kemudian membagi lokasi pengamatan. Damar memilih area Gedung Kuliah Umum karena hampir setiap hari ia melewati kawasan tersebut sebelum masuk kelas. Raka mengambil area kantin kampus dan jalur menuju Saraga, sementara Alvaro memilih sekitar perpustakaan serta beberapa titik fasilitas air minum isi ulang yang berada di sekitar gedung perkuliahan.

Pembagian itu terasa alami. Tidak ada yang saling berebut lokasi karena masing-masing memilih tempat yang memang paling sering mereka lewati dalam aktivitas sehari-hari.

Menjelang pukul sebelas malam, diskusi akhirnya mereka akhiri. Laptop ditutup, modul kembali dimasukkan ke dalam tas, dan tidak ada laporan yang selesai malam itu serta belum ada presentasi yang dibuat.

Namun mereka pulang dengan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar lembar kerja, mereka berhasil pulang dengan arah yang jelas.

Hari-hari berikutnya berjalan lebih cepat daripada yang mereka sadari. Rutinitas sebagai mahasiswa TPB perlahan membentuk pola yang sama hampir setiap minggu. Pagi dimulai dengan kuliah, siang berpindah dari satu gedung ke gedung lain, lalu sore hari diselingi pengamatan singkat sesuai lokasi yang telah mereka bagi.

Pada awalnya, melakukan observasi terasa sedikit canggung. Raka beberapa kali merasa kikuk ketika harus mencatat sesuatu di bangku kantin sambil memperhatikan kebiasaan mahasiswa yang berlalu-lalang. Ia bahkan sempat khawatir orang lain mengira dirinya sedang mengamati mereka tanpa alasan yang jelas. Namun rasa canggung itu perlahan menghilang. Semakin sering mereka turun ke lapangan, semakin banyak pola yang mulai terlihat.

Di sela-sela observasi, mereka juga sesekali berbincang singkat dengan beberapa mahasiswa yang bersedia meluangkan waktu beberapa menit. Pertanyaannya sederhana. Mengapa memilih membeli air minum kemasan? Apakah memiliki tumbler? Apakah mengetahui lokasi fasilitas isi ulang air minum di kampus? Dan jawaban yang mereka terima ternyata cukup beragam.

Sebagian mahasiswa mengaku lupa membawa tumbler karena terburu-buru berangkat kuliah. Sebagian lainnya memang membawa tumbler, tetapi lupa mengisinya sebelum berangkat sehingga memilih membeli air minum kemasan saat berada di kampus. Ada pula yang mengaku belum mengetahui letak fasilitas isi ulang terdekat, sementara beberapa mahasiswa lain merasa membeli air mineral jauh lebih praktis daripada membawa botol minum sepanjang hari.

Temuan-temuan kecil itu mulai memenuhi tabel observasi mereka. Setiap dua atau tiga hari sekali, mereka kembali berkumpul di kos Raka untuk menggabungkan hasil pengamatan masing-masing ditemani oleh segelas kopi yang hampir selalu menemani diskusi mereka.

Suasana kamar perlahan berubah menjadi ruang belajar yang sederhana. Di sanalah mereka saling membandingkan data, memperbaiki cara pencatatan, hingga berdiskusi mengenai temuan-temuan yang menurut mereka cukup menarik. Walaupun sesekali muncul perbedaan pendapat.

Suatu malam, Damar merasa data yang mereka kumpulkan sudah cukup banyak untuk menyusun kesimpulan. Namun Alvaro memiliki pendapat yang berbeda.

“Kalau kita berhenti sekarang, datanya masih terlalu sedikit.” Alvaro menunjuk tabel observasi yang memenuhi layar laptopnya. “Belum tentu juga pola yang kita lihat minggu ini sama dengan minggu depan.” Lanjutnya.

Raka memandangi kedua temannya bergantian. Menurutnya, keduanya sama-sama memiliki alasan yang masuk akal. Akhirnya ia berkata pelan, “Kalau memang masih sempat, mending kita tambah beberapa hari lagi aja.”

“Kenapa?” Tanya Damar.

“Soalnya kalau nanti Pak Setyo nanya kenapa jumlah datanya segini, kita bisa jawab dengan yakin.” Jawab Raka.

Damar pun mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya tersenyum kecil lalu berucap “Iya juga ya. Daripada disuruh ngulang.”

Percakapan sederhana seperti itu mulai menjadi hal yang biasa, tidak ada yang merasa paling benar. Ketika berbeda pendapat, mereka selalu berusaha mencari jalan tengah tanpa harus memperdebatkannya terlalu lama.

Tanpa disadari, proyek kelompok pertama mereka telah mengajarkan sesuatu yang bahkan tidak tertulis di dalam modul. Bahwa bekerja dalam tim bukan hanya soal membagi tugas, tetapi juga belajar mendengarkan cara berpikir orang lain.

Tiga minggu berlalu dan hari presentasi akhirnya tiba.

Suasana ruang kelas pagi itu terasa sedikit lebih tegang dibanding biasanya. Hampir setiap kelompok sibuk memeriksa kembali slide presentasi, memastikan tidak ada bagian yang tertinggal sebelum nama mereka dipanggil.

Raka duduk sambil membaca ulang catatan kecil yang ia pegang. Di sampingnya, Damar terlihat jauh lebih santai. Sesekali ia masih sempat bercanda, meskipun dari cara kakinya yang terus bergerak pelan, Raka tahu bahwa temannya itu juga sedang gugup. Sementara Alvaro masih fokus menatap layar laptop, memastikan seluruh data yang mereka tampilkan telah sesuai dengan hasil observasi.

“Kelompok tujuh, silahkan.” Suara Pak Setyo memecah keheningan kelas.

Mereka bertiga pun berdiri hampir bersamaan kemudian jalan menuju ke arah depan. Damar mulai menghubungkan laptop Alvaro dengan proyektor dan kemudian slide pertama presentasi atau judul proyek mereka muncul di layar proyektor.

Identifikasi faktor yang menyebabkan tingginya penggunaan botol plastik sekali pakai oleh mahasiswa di lingkungan Kampus Ganesha meskipun telah tersedia fasilitas air minum isi ulang.

Presentasi pun dimulai. Raka membuka pemaparan dengan menjelaskan latar belakang pemilihan masalah. Kemudian Damar melanjutkan pada bagian metode observasi dan proses pengumpulan data. Sementara Alvaro menutup presentasi dengan memaparkan hasil temuan serta pola yang berhasil mereka identifikasi berdasarkan data lapangan.

Selama hampir lima belas menit, tidak ada interupsi berarti dari Pak Setyo. Beliau hanya sesekali mencatat sesuatu di lembar penilaiannya sambil mengangguk pelan ketika melihat data yang ditampilkan.

Presentasi pun berakhir. Raka menutup laptop, lalu mereka bertiga berdiri menunggu tanggapan dari Pak Setyo.

Beberapa detik terasa begitu lama, Pak Setyo akhirnya menutup map penilaiannya dan memandang mereka bertiga bergantian.

“Baik.” Ucap beliau lalu berhenti sejenak. “Pemilihan masalahnya cukup spesifik. Metode observasi yang kalian gunakan juga sudah sesuai dengan tujuan tahap identifikasi masalah dan data yang kalian kumpulkan mampu mendukung analisis awal yang kalian buat” Lanjut beliau.

Raka tanpa sadar menahan napas.

Pak Setyo kemudian mengangguk pelan dan berucap “Tidak ada revisi. Silakan lanjut ke tahap pengembangan konsep pada pertemuan berikutnya.”

Kalimat sederhana itu langsung membuat ketiganya saling menoleh. Senyum Damar muncul paling dulu. Raka hanya mengembuskan napas lega. Sementara Alvaro menutup laptopnya perlahan dengan wajah yang tetap tenang, meski sorot matanya memperlihatkan rasa puas yang sulit disembunyikan.

“Terima kasih, Pak.” ucap mereka bertiga kemudian kembali ke tempat duduk masing-masing.

Di tengah perjalanan menuju kursinya, Damar menepuk pelan bahu Raka. “Kayaknya begadang kita kemarin gak sia-sia.” Ucap Damar.

Raka tersenyum kecil. “Bukan begadangnya, Dam tapi kerja samanya.”

Alvaro yang berjalan di samping mereka ikut mengangguk kemudian berucap “Perjalanan kita masih panjang. Tapi setidaknya langkah pertama kita udah selesai.”

Raka menoleh ke arah dua orang yang kini berjalan bersamanya. Beberapa minggu lalu, mereka hanyalah tiga mahasiswa TPB yang dipertemukan secara acak dalam sebuah kelompok tugas. Kini, tanpa pernah mereka sadari, proyek kecil itu telah menjadi awal dari sebuah persahabatan yang kelak akan menemani perjalanan mereka selama bertahun-tahun di Bandung.


메타데이터
post_id
fe099f8de4f9
slug
lantai-tiga-kali-empat-fe099f8de4f9
url
https://medium.com/@RakaMahendra/lantai-tiga-kali-empat-fe099f8de4f9
canonical_url
https://medium.com/@RakaMahendra/lantai-tiga-kali-empat-fe099f8de4f9
author_url
https://medium.com/@RakaMahendra
status
ok
fetched_at
2026-07-09 20:10:33