← Back to list

Memanfaatkan Echo Chamber Media Sosial

Media sosial dan ruang gemanya, keburukan dan cara memanfaatkannya

Felicia Boen in Ruang Keluarga · 2020-03-07 05:41 · 32 claps · 3.5 min read
#bahasa-indonesia #bertumbuh #media-sosial #echo-chamber #ruang-gema
Open on Medium ↗

Memanfaatkan Echo Chamber Media Sosial

Media sosial dan ruang gemanya, keburukan dan cara memanfaatkannya

Photo by ROBIN WORRALL on Unsplash

Photo by ROBIN WORRALL on Unsplash

Kemunculan dan perkembangan media sosial sangat merubah kehidupan sosial kita. Kalau dulu, untuk tahu kabar teman-teman lama, kita harus secara langsung, personal menghubungi mereka. Tapi, sejak adanya media sosial, untuk mengetahui apa kabar mereka, kita cukup membuka profile mereka saja.

Lalu, pelan-pelan media sosial berevolusi. Mulai yang mulanya hanya berupa tulisan, lalu berkembang menjadi tukar-tukaran foto, video. Awalnya sebagai jembatan komunikasi, kemudian perlahan-lahan berubah menjadi sarana marketing dan iklan.

Lama-kelamaan demi meningkatkan efektifitas marketing and advertising, kemudian dibuatlah alogaritma-alogaritma tertentu. Dimana, saat penggunanya mengklik salah satu konten, maka kemudian konten sejenis lainnya akan terus bermunculan.

Fenomena ini kemudian disebut Echo chamber, atau ruang gema. Kita hanya melihat itu-itu lagi, informasi yang lagi-lagi itu, juga pertemanan dan cerita yang itu-itu aja. Seperti gema, bersuara sekali kemudian bergaung-gaung kemana-mana dan kita terus mendengar suara kita sendiri.

Echo Chamber, Bad Side

Banyak yang mengecam ruang gema ini, salah satunya karena mempermudah penyebaran Hoax. Masa sih? Contohnya di masa-masa kritis seperti sekarang karena adanya kemunculan virus baru yang masih belum ditemukan obatnya, a.k.a virus SARS-CoV-2, penyebab Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).

Terperangkap Hoax

Hingga saat story ini ditulis, sudah ada lebih dari 96 ribu kasus COVID-19, dengan 2 diantaranya di Indonesia. Sejak diumumkan oleh Presiden Joko Widodo, orang-orang langsung panik borong masker dan sembako. Kenapa? Salah satunya adalah kemudahan penyebaran informasi.

Mudahnya informasi tentang berapa jumlah korban yang terinfeksi, berapa korban jiwa, juga permasalahan yang bermunculan di negara-negara dengan jumlah pasien yang lebih tinggi, membuat warga kemudian tiba-tiba panik. Belum lagi hoax-hoax yang berkeluyuran dari group chat kemudian dengan mudahnya di copy-paste ke media sosial.

Berpikiran sempit

Dari sini sangat terasa imbas Echo chamber pada kasus Covid-19 ini. Misalnya, kelangkaan masker karena oknum-oknum nakal yang menyembunyikan dan menjual masker dengan harga sangat tinggi. Akibatnya? Teman-teman kita korban hujan abu merapi, mereka yang sedang sakit, tenaga medis dan relawan, yang paling membutuhkan masker malah kesulitan mencari masker bahkan tidak kebagian.

Memanfaatkan Echo Chamber, Mencari Celah Dalam Kesempitan

Setelah kita lihat bagaimana ruang gema memunculkan betapa banyak kerugian dan efek panik pada masyarakat. Apakah ini berarti kita tidak boleh menggunakan media sosial? Bukan. Tidak bisa dipungkiri media sosial sangat memudahkan kita terutama dalam interaksi sosial dan mengumpulkan informasi. Tapi, sebagaimana teknologi seharusnya disikapi, begitu juga dengan media sosial.

You are the average of 5 people you spent the most time with. -Jim Rohn-

Dulu, waktu kecil kita pernah diberitahu untuk baik pada semua orang dan jangan pilih-pilih teman. Padahal, pada kenyataannya pilih-pilih teman itu penting banget. Karena, salah-salah teman bisa menjerumuskan kita. Begitu juga dengan pertemanan media sosial.

Hayoo, siapa yang menghabiskan waktu senggangnya dengan menunduk melihat layar hp, scrolling media sosial, atau sambil chat melalui aplikasi di hp? Hampir semua orang sekarang ini melakukannya. Hp seakan-akan menjadi teman baik kita. Kemana-mana harus bawa hp, dan hanya diletakkan saat kita memang dipaksa untuk tidak melihat hp.

Unfollow akun-akun yang tidak berfaedah

Seperti yang sudah disebut diatas, karena kita adalah rata-rata dari 5 “orang” terdekat kita, juga kebetulan termasuk layar hp dan segala yang dimunculkannya. Maka, batasi diri kamu dari akun-akun “toxic”. Akun yang hanya pamer kekayaan, pranks yang berbahaya dan tidak mendidik, akun yang hanya menyebar keresahan, hoax, dan lainnya.

It was not easy. Aku sendiri belakangan ini meng-unfollow akun-akun dari Instagram (kebetulan ini juga satu-satunya media sosialku yang masih aktif). Mulai dari akun-akun olshop (demi hidup hemat & minimalis), akun-akun kosong, “pertemanan” yang tidak pernah terjadi interaksi, juga akun-akun yang kerjaannya marah-marah di story (demi mental health-ku).

Like konten-konten positif dan edukatif

Dikarenakan algoritma Instagram sendiri akan mengulang-ngulang jenis konten yang pernah kita like dan kunjungi. Sebisa mungkin aku hanya akan tap-tap konten-konten yang mengedukasi. Kenapa? Agar edukasi tersebut kemudian di-gema-kan.

Misalnya, setiap tap-tap dari akun yang membahas tentang rekomendasi buku, akan menimbulkan gema dan mendatangkan akun-akun lainnya yang juga membahas rekomendasi buku dalam explore. Intinya, if we cannot avoid the echo chamber, then why not take advantage of it?

Share konten informatif dan positif

If you have nothing nice to say, then shut up. That’s simple. Sebelum kamu membagikan berita atau konten yang sengaja ditampilkan oleh pembuatnya, algoritma, dan teman di chat group, coba berhenti sebentar. Pikirkan lagi, apakah orang lain yang kamu bagikan berita ini akan menjadi cemas dan panik? Ataukah ini akan menjadi tambahan informasi atau membawa kebaikan? Kalau tidak ada hal positif yang bisa kamu bagikan, mending tidak usah dibagikan.

Echo chamber dari media sosial tidak bisa kita hindari, tapi bisa kita manfaatkan. Stay curious and alert, membiasakan diri untuk search lebih dari apa yang kita terima di hp. Come on! Google is only one swipe away, kamu gak perlu jauh-jauh membongkar ensiklopedia demi mendapatkan informasi!

Terima Kasih sudah membaca ceritaku. Kalau kalian suka sama tulisanku, silahkan beri “Claps” dan Share tulisan ini di media sosial kalian. Let’s create a good echo chamber!

Come and say Hello👋 on: Instagram : @fellboend Hipwee: author/feliciaboen/


메타데이터
post_id
fe0a0935ac4e
slug
memanfaatkan-echo-chamber-media-sosial-fe0a0935ac4e
url
https://medium.com/ruang-keluarga/memanfaatkan-echo-chamber-media-sosial-fe0a0935ac4e
canonical_url
https://medium.com/ruang-keluarga/memanfaatkan-echo-chamber-media-sosial-fe0a0935ac4e
author_url
https://medium.com/@feliciaboen
status
ok
fetched_at
2026-07-27 00:11:27